
Selang infus dan transfusi darah sudah dilepas. Julia mengelus pembuluh darahnya yang bengkak dan membiru bekas tusukan jarum.
"Tahan ya Bu. Ini memang agak sakit." Ujar Perawat muda berwajah lembut pada Julia.
Julia mengangguk, ia menggigit bibirnya dan memejamkan mata bersiap menahan deraan rasa pedih.
"Hmmmph …. " Erang Julia saat kateter urin ditarik dari bagian intimnya. Titik keringat bermunculan di dahi.
"Sudah selesai Bu. Hari ini belajar turun dari kasur dan ke toilet sendiri ya. Kalau belum kuat minta tolong ditemani. Karena Ibu kehilangan banyak darah jadi mungkin nanti agak pusing saat berdiri." Kata Perawat memberi arahan.
"Baik mbak. Terima kasih penjelasannya." Sahut Julia sambil menyeka titik keringat.
"Sama-sama, saya pamit dulu. Kalau ada apa-apa silahkan panggil saya." Perawat undur diri.
Septian yang sedari tadi mengamati tindakan Perawat juga ikut meringis.
"Sakit banget ya dek?" Mata Septian menyipit seakan ikut merasakan sakit.
"Iya, banget. Mas jangan sampai deh ngerasain dioperasi kayak aku. Sakit banget. Setelah bius habis, lukanya perih panas. Kalau nggak ingat aku sudah tua rasanya pengen meraung-raung." Ujar Julia tersenyum, keceriaannya telah kembali.
"Dek, dek … Belum sempat aku buat kamu bahagia sudah menderita kayak begini." Septian mengelus-elus rambut Julia penuh kasih.
"Hush! nggak boleh ngomong begitu. Ini adalah bentuk jihadku sebagai seorang wanita. Mungkin dengan musibah ini Allah mau menghapus dosa-dosa adek di masa lalu." Julia menyanggah kata Septian.
"Masya Allah betul sekali. Memang harusnya kita berpikir positif menyikapi musibah." Septian mengangguk setuju.
"Kata si Mbok kamu harus banyak makan makanan berprotein tinggi seperti putih telur dan ikan gabus. Biar lukanya sembuh dengan bagus." Ujar Septian melanjutkan obrolan.
"Hmmm, dokter juga menyarankan itu. Adek udah nggak sabar beraktivitas seperti biasa. Aku sekarang kepikiran dengan paket-paket pelanggan yang belum sempat di packing dan dikirim. Aku sudah minta maaf atas keterlambatan, tapi tetap aja nggak enak hati. Moga mereka nggak kecewa." Julia menerawang ke arah langit-langit kamar.
"Nanti sampai di rumah Mas bantu packing, tenang saja. Toko di marketplace sudah mas buat statusnya libur. Biar kamu istirahat dulu." Jelas Septian menenangkan Julia.
"Ohya, kata dokter karena ini adalah operasi besar, kita diminta mengontrol kehamilan dulu Mas. Kalau bisa sampai tunggu sekitar tiga bulanan hingga lukanya benar-benar sembuh baru kita bisa konsultasi lagi untuk memulai program hamil." Arah perhatian Julia kembali pada Septian.
"Sebaiknya kita tunda dulu sampai kamu benar-benar pulih. Mas nggak bisa lihat kamu kesakitan parah seperti kemarin." Sahut Septian pelan dan berat.
"Yakin?" Julia menaikkan alisnya tak percaya.
"Yakin sekali. Punya anak itu harus siap fisik dan mental. Mungkin fisikmu sudah pulih. Tapi mentalku belum. Aku nggak sanggup melihatmu antara hidup dan mati." Septian menekuri ubin.
"Eleh eleh segitunya." Goda Julia.
__ADS_1
"Benar dek, aku takut kamu meninggalkan aku." Septian mengarahkan pandangan tajam meyakinkan Julia.
"Kalau aku mati Mas tinggal cari istri lagi. Tuh Dian siap menunggu." Jawab Julia melempar canda.
"Duh tolong ya jangan sembarangan. Seluruh hatiku sudah kamu ambil. Kalau kamu mati, yang tersisa di tubuhku cuma jantung. Tak punya hati lagi untuk merasa. Mungkin aku akan menikah lagi. Tapi cinta untuk wanita lain tidak akan pernah ada." Septian menunjuk dadanya, wajahnya masam karena tersinggung.
Julia terpana menatap suaminya, kata-kata Septian menyentuh relung yang terdalam.
"Aaah Mas so sweet. Jangan marah lah." Julia terkikik geli melihat Septian ngambek, ia menetralisir suasana tegang di antara mereka.
"Udah ya, aku nggak mau kita bahas soal kematian." Septian mengibaskan tangan di udara tanda kesal.
"Oke … oke … Ngomong-ngomong Ibu dan Kak Lucy kemana Mas?" Kata Julia mengalihkan pembicaraan serius tadi.
"Oh Ibu dan Lucy ikut si Mbok pulang ke rumah untuk istirahat. Sekalian mau cuci baju katanya. Padahal sudah Mas bilang laundry saja biar nggak repot."
"Hmmm … Ibu memang selalu begitu. Apa yang bisa dikerjakan sendiri nggak akan beliau alihkan ke orang lain."
"Mudah-mudahan sore ini kamu sudah diizinkan pulang. Udah kangen tidur sambil kelonan." Septian nyengir lucu.
"Dih masih sakit susah bangun gini mana bisa kelonan." Bibir Julia cemberut.
"Ya nggak kelonan pun setidaknya kita tidur berdampingan. Bersamamu aku merasa lengkap." Septian memainkan jemari lentik Julia.
"Ayo, aku bantu bangkit pelan-pelan."
Septian menarik satu tangan Julia dan tangannya yang lain mendorong punggungnya perlahan sampai ia bisa duduk tegak. Bulir-bulir keringat kembali menitik di dahi Julia karena menahan sakit.
"Bentar istirahat dulu. Kepalaku berputar."
Septian segera duduk disebelah Julia membiarkan istrinya bersandar. Julia menarik dan membuang nafas pelan-pelan untuk beberapa saat.
"Yuk, bantu adek turun dari kasur." Julia bersiap. Tangannya berpegangan erat pada pinggiran kasur. Sementara Septian memindahkan posisi kaki Julia untuk menjejak lantai.
"Adududuh sakit Mas, pelan-pelan." Keluh Julia manja.
"Aduh dek, Mas bingung ni gimana cara nurunin kamu. Apa Mas gendong aja?"
"Jangan Mas, badanku sekarang udah gembul nanti jatuh, takutnya malah penyakit yang lain datang." Julia sadar semenjak menikah tubuh gadisnya yang kurus perlahan muncul lemak dan daging tebal dimana-mana.
"Segini kok gembul, ini namanya bohay. Aku malah suka yang begini enak dipeluk. Kemarin juga kan aku gendong. Tenang Mas kuat kok." Septian menunjukkan otot lengannya.
__ADS_1
"Terserah deh, yang penting aku nggak mau digendong. Sekarang keadaannya beda, nggak darurat seperti kemarin. Tolong bantu geser-geser badanku aja." Tolak Julia.
"Kalau begitu tahan sedikit sakitnya ya. Kamu pasti bisa."
Julia mengangguk pasrah, butuh beberapa saat agar Septian berhasil memindahkan posisi tubuh Julia agar ia siap untuk berdiri sendiri. Setelah dirasa mantap, Septian melingkarkan tangan Julia di bahunya, dan tangannya mendekap rusuk Julia. Hati-hati Julia menjulurkan kakinya menyentuh dan menjejak lantai.
"Alhamdulillah … tapi pusing Mas, mau muntah rasanya." Tangan Julia berpegangan erat-erat di leher Septian seperti bergantung di pohon.
"Iya sabar ya. Ini Mas bantu tuntun ke toilet." Pelan-pelan Septian mengambil tangan Julia menuntunnya berjalan.
"Jalanku lucu oglek-oglek." Ujar Julia geli.
Di dalam keadaannya yang tak berdaya Julia bersyukur Septian selalu siap siaga untuknya. Termasuk urusan membantu ke toilet seperti saat ini. Dengan telaten Septian membantu menyeka tubuhnya yang kotor. Hingga membersihkan dan memasang pembalut baru untuknya. Julia merasa ia benar-benar seperti bayi yang semua urusannya harus dilayani.
"Habis ini adek mau jalan-jalan keliling kamar. Dua hari berbaring saja sangat nggak enak. Bokong dan punggungku sampai panas." Ujar Julia mengusap punggungnya.
"Iya latihan semampunya aja. Nggak usah dipaksakan." Sahut Septian tersenyum, ia memilih duduk di sofa mengamati Julia yang semangat berlatih jalan tertatih-tatih.
Septian merenung menatap tubuh Julia. Pengalaman melihat istrinya ada di antara hidup dan mati menancapkan trauma di jiwa. Pikirannya berkelana.
"Keberadaanmu saja untukku sudah cukup.
Jika kita tak ditakdirkan memiliki anak di bumi ini, aku ikhlas.
Tugasku membimbingmu menggapai syurga.
Kelak kita 'kan bertemu anak yang telah menunggu kita disana.
Jika Allah berkehendak menitipi kita buah hati lagi.
Maka kuanggap itu sebagai sebuah keajaiban.
Yang amat sangat kusyukuri.
Namun saat ini, yang kumohon hanya satu. Kembalilah sehat dan menemaniku seperti sedia kala.
Karena itu saja sudah cukup."
***
"Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan. Bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya."
__ADS_1
(HR. Muslim No. 2573).