
Julia dan Septian duduk di sebuah resto masakan khas Melayu yang termahsyur di kota itu. Julia memesan gulai ikan patin dan asam pedas selais untuk makan siang. Ia sengaja memesan jus pinang muda untuk Septian, yang konon katanya baik untuk stamina pria. Untuk dirinya, Julia memesan jus terong Belanda untuk penambah darah. Ia agak sedikit pusing hari ini karena tadi malam kurang tidur dan istirahat.
Julia senyum-senyum sendiri mengenang malam yang ia habiskan dengan Septian. Diliriknya Septian yang sibuk mengipasi tubuh yang gerah karena udara Pekanbaru yang panas menyengat. Kipas angin yang tergantung di langit-langit restoran tidak membantu menyejukkan udara. Tidak menunggu waktu lama, pelayan menghidangkan makanan di atas meja. Julia sigap mengambil piring dan menyendokkan nasi untuk suaminya.
Septian yang sudah lapar tak sabar mencuil daging ikan patin, mencicipi nya.
"Bismillah!" Ia bergumam. Septian mengunyah ikan patin perlahan.
"Enak, lembut!" Ia mengangguk-anggukan kepala tanda puas.
"Enak kan? Ikan patin ini favoritku Mas. Lembut berlemak, paling nikmat dimasak gulai," Julia mengambil sepotong ikan. Ia juga mencampur kuah gulai dan sambal bawang ke nasinya, sebagai penambah nikmat cita rasa.
"Kamu bisa masak seperti ini? " tanya Septian ke arah Julia yang menikmati suapan makanannya.
"Bisa, kenapa Mas?"
"Kayaknya ini bakal jadi makanan favoritku juga. Tapi kan jauh kalo harus ke Pekanbaru hanya untuk makan ini," kembali menyuap potongan ikan yang lumer itu.
"Tenang, percayalah padaku. Aku bisa masak seperti ini," Julia menepuk dada percaya diri.
"Bagus, jadi nggak sabar makan masakan istri," senyum Septian terkembang.
"Cobain asam pedas selaisnya juga mas," Julia menyodorkan piring ikan selais.
"Wow yang ini enak juga, pedas asam semriwing, top lah masakan Melayu," Septian kembali menggangguk-angguk.
Julia tersenyum puas, senang suaminya makan dengan lahap. Kalau gulai patin dan asam pedas selais ya ... pasti tidak bisa tidak enak. Ia meminjam jargon seorang YouTuber kuliner asal Korea.
"Kalau aku minta kamu masak makanan Jawa kira-kira bisa nggak dek?" tanya Septian.
"Hmmm bisa InsyaAllah, resep kan banyak di internet. Nanti kalau kurang lihai aku berguru sama si Mbok … " jawab Julia santai. Buatnya urusan dapur bukan hal yang sulit, semua orang bisa masak asal mau belajar.
"Bagus, bagus. Mas soalnya lebih suka makan masakan rumahan daripada beli lauk matang di luar." ujar Septian.
"Tadinya Mas pikir adek tidak bisa masak karena sibuk kerja," lanjutnya lagi.
"Salah kalau Mas mikir begitu, dari kecil Ibu sudah mengajari aku dan kakak masak. Ibu itu orangnya cerewet untuk urusan makanan. Semua harus enak dan pas, walau bahan makannya sederhana."
"Syukurlah … " Septian merasa ia beruntung mendapatkan istri seperti Julia.
"Setelah ini kita kemana lagi Mas?" tanya Julia.
__ADS_1
"Setelah ini kita berkunjung ke rumah bulek Tati ya. Silaturahmi."
"Oke, setuju. Ohya cobain deh ini jus pinang muda nya … " Julia menyodorkan segelas jus berwarna coklat muda berbusa.
"Hmmmmm … " alis Septian terangkat ke atas, ia tidak tahu kalau pinang muda bisa di jus. Ragu-ragu ia menyesap minuman itu dengan sedotan.
"Hmmmm, sepet dek. Nggak suka aku sama rasanya." Alisnya mengernyit.
"Abisin Mas, itu bagus buat kamu," bujuk Julia sambil terkikik.
"Bagus untuk apa?" wajah Septian menyiratkan rasa enggan untuk menghabiskan.
"Untuk vitalitas pria di ranjang," bisik Julia pelan.
"Oh … " respon Septian singkat namun dalam beberapa kali teguk ia menghabiskan minuman itu licin tandas. Cepat-cepat ia minum air putih untuk menghilangkan rasa sepat dan kelat di lidah.
"Pesankan satu lagi dek, dibungkus untuk nanti malam," Septian nyengir kuda.
Julia hanya geleng-geleng kepala melihat respon suaminya.
"Ga enak, tapi pesan lagi. Doyan dong!" sahut Julia..
***
Usai makan siang, Septian memesan taksi online untuk menuju rumah bulek Tati, tantenya. Walaupun hubungannya tidak terlalu akrab karena terbentang jarak, tapi ia merasa harus berkunjung kesana. Ia berhutang budi atas jasa bulek-nya. Kalau bukan karena bulek, ia tidak akan berkenalan dengan istrinya yang cantik.
"Selamat datang pengantin baru. Masuk, masuk …. ," sambut Tante Tati pada mereka ramah.
"Ah Tante … " jawab Julia malu-malu. Sementara Septian hanya tersenyum simpul.
Tante Tati memanggil semua anggota keluarganya untuk menyambut pasangan muda itu. Adib, anak bungsu Tante Tati girang sekali menyambut kedatangan Julia.
"Sekarang, kak Julia beneran jadi kakaknya Adib ya ma. Kan udah nikah sama Mas Tian," ujarnya bersemangat.
"Iya, tapi bentar lagi kak Julia mau pindah tuh. Ikut Mas Tian ke Yogya," jelas Tante Tati.
"Yaaaah, nggak ada yang nemenin Adib belajar lagi dong. Kalau belajar sama Mama nggak enak, marah-marah terus. Kalau sama kak Julia enak. Kalau tidak mau belajar malah diajak main quiz," jawab Adib polos.
Kompak mereka tertawa. Adib memang lucu.
"Mulai sekarang Adib harus rajin belajar ya. Adib itu pintar, belajar sedikit saja sudah paham. Tapi kalau tidak sering dilatih nanti bisa lupa. Orang pintar itu bisa kalah sama orang yang rajin," Julia menasehati Adib.
__ADS_1
"Iya kak. Nanti Adib rajin belajar, tapi nggak janji yaaa!" Adib terbahak-bahak.
"Memang anak ini, sontoloyo!" Tante Tati berdecak gemas melihat anaknya.
Julia dan Septian kompak tersenyum melihat kelakuan Adib. Tante Tati merasa puas melihat dua pasangan muda di depannya. Cantik dan tampan, sepadan. Ia merasa ia sudah melakukan hal yang benar menjodohkan dua insan yang sangat serasi. Dalam hati ia mendoakan keberkahan untuk pernikahan keponakannya itu.
Setelah sholat Maghrib, Septian dan Julia pamit pulang.
"Makasih ya bulek, atas kebaikan bulek menjodohkan kami. Semoga dicatat sebagai pahala yang besar sama Allah," Septian mencium tangan bulek-nya.
"Iya sama-sama ya Tian, salam untuk Bapak dan Mbok-mu. Maaf Tante belum bisa berkunjung ke Yogya. Anak-anak belum libur sekolah," jawab Tante Tati mengelus rambut keponakannya itu.
"Iya Bulek, nanti saya sampaikan."
Mata Tante Tati berkaca-kaca menatap Julia dan memeluknya.
"Baik-baik ditempat yang baru ya Jul. Tante senang kamu sudah berada di tangan yang tepat," ia memeluk Julia erat-erat.
"Makasih banyak ya Tante atas semuanya, Julia tidak bisa membalas kebaikan Tante," ia membalas pelukan itu tak kalah eratnya.
"Dijaga, disayang, diayomi si Julia ini ya Tian. Jangan disia-siakan," pesan Tante Tati pada Septian.
"Iya Tante, pasti!" jawab Septian penuh keyakinan.
"Kami permisi dulu ya Tante, Om, semuanya …. " pamit Septian pada keluarga Tantenya sebelum memasuki taksi online yang sudah menjemput.
"Iya hati-hati, sampai jumpa lagi." Kompak keluarga Tante Tati melambaikan tangan perpisahan.
Julia menyandarkan punggung pada kursi mobil. Diam-diam ia menghapus air matanya yang sedih berpisah dengan Tante Tati. Beliau adalah salah satu orang yang paling tulus dan baik hati yang pernah ia temui. Septian menangkap gelagat istrinya yang sedih. Ia mengambil tangan Julia dan mengusap penuh kasih.
"InsyaAllah nanti kita ketemu mereka lagi, jangan nangis ya. Malu sama pak supir," bisik Septian.
Julia manyun ke arah suaminya. Orang lagi sedih kok tidak boleh berekspresi.
"Eh, jus pinang muda-ku tadi mana?" Septian celingukan mencari-cari.
"Ini ada di dalam tas tote-ku, kenapa Mas?" Julia menunjukan isi tasnya ke Septian.
"Karena aku mau perkasa malam ini … " bisik Septian pelan sekali ke telinga Julia.
Julia tergelak mendengarnya. Dasar laki-laki!
__ADS_1