
Kau tahu aku lelaki biasa
Tiada istimewa
Wahai anak dara
Mohon lapangkan dada
Aku si lelaki biasa
Tak bisa janjikan apa-apa
Kecuali membuatmu bahagia
***
Ibu mematikan panggilan telepon seulas senyum muncul di bibirnya yang sudah dihiasi kerutan. Julia tidak sanggup menahan rasa penasaran yang membuncah.
"Apa kata Kak Septian tadi Bu?"
"Katanya dia mau nazhor kamu minggu depan."
"Masya Allah cepat sekali ya Bu." Julia memegang dada yang berdebar.
"Baguslah itu tandanya dia gentleman. Memang serius mau sama kamu." Ibu menyisir helaian rambut yang jatuh di dahi.
Langkah berderap dari arah kamar menghentak lantai. Lucy muncul di hadapan mereka dengan mata berair. Wajahnya merah menahan gusar.
"Jadi juga kamu lanjut ta'arufnya Jul?" Suaranya tercekat di tenggorokan.
"Iya Kak … Jangan marah ya," jawab Julia lirih.
"Aku tidak marah tapi aku kecewa karena kamu tidak pernah melibatkan aku dalam keputusan penting dihidupmu!" Rahangnya mengeras.
"Bukannya kemarin aku sudah minta pendapat tapi kakak malah marah-marah, mendiamkan aku. Makanya aku putuskan sendiri. Lagipula Ibu sudah mengizinkan!" Emosi Julia tersulut dengan tuduhan Lucy.
"Terserahlah Jul kamu memang tidak pernah menghargai aku sebagai kakak!" suara Lucy nyaring melengking.
"Bukan begitu kak cobalah pahami keadaannya. Jodoh Allah yang atur kalau memang jodoh Julia sudah datang kenapa harus ditunda? Memangnya aku salah kalau ingin segera menikah? Aku sudah dewasa kak!"
Rasanya Julia ingin menggebrak meja saking emosinya. Bagaimana cara menyadarkan kakaknya yang sedang tidak rasional. Namun demi kesopanan ia tahan gejolak amarah. Ia tetap menahan suaranya agar tetap rendah.
"Tapi aku tidak terima dilangkahi! Ini sama saja dengan mencoreng wajahku di lingkungan kita!" Jerit Lucy lagi ke lebih keras.
"Ibu juga tidak memikirkan perasaanku, teganya Ibu mengizinkan dia menikah duluan. Lalu bagaimana dengan aku?!" Emosi Lucy tumpah, air mata membanjiri wajahnya.
Ibu terdiam menutup wajahnya dengan kedua tangan, frustasi.
"Kak, Julia mohon jangan seperti ini. Ikhlaskan keadaannya. Dari dulu aku doakan kakak segera dapat jodoh. Tapi kakak malah menunggu laki-laki yang tidak pasti!" Julia mengingatkan.
"Jangan pernah kau singgung urusanku. Kalau aku menghabiskan umur untuk menunggu dia memangnya kenapa? Toh, aku tidak merugikanmu. Baiklah, aku izinkan kau menikah duluan. Tapi jangan harap aku akan ada disini saat calonmu datang. Anggap aku tidak ada!" Hardik Lucy pada Julia.
"Lucy! Tidak baik bicara seperti itu pada adikmu sendiri. Masuk ke kamar Ibu, kita harus bicara empat mata!" Titah Ibu dengan suara bergetar menahan emosi.
__ADS_1
Air mata Julia akhirnya jatuh juga melihat wajah tua Ibu yang nelangsa melihat kedua anak gadisnya bertengkar di depan mata.
Lucy melangkah gontai mengikuti Ibu masuk ke dalam kamar. Julia duduk menunggu di kursi makan. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam.
***
POV Julia
Sudah hampir satu jam Kak Lucy dan Ibu ada di dalam kamar. Aku tidak bisa mendengar apa yang Ibu katakan hanya ada suara Kak Lucy menangis terisak-isak.
Aku memutuskan untuk berbaring di kasur, menyelimuti tubuh yang lelah dan gemetar karena amarah. Ya Allah batinku lelah dipermainkan perasaan, sebentar aku melambung bahagia sedetik kemudian aku jatuh terbanting dalam nestapa.
Mungkin aku salah, aku egois mementingkan kebahagiaanku sendiri ketimbang perasaan kakakku. Tapi seperti yang pernah aku jelaskan dulu, kakakku adalah tipe orang yang hidup untuk dinikmati saat ini. Ia tidak berpikir jauh kedepan. Ia juga kekanakan dan gampang sekali marah.
Sudah bertahun-tahun ia bekerja tapi tidak bisa menyisakan uang untuk tabungan. Malah ia tak pernah peduli dengan pengeluaran rumah tangga. Karena selama ini hanya Ibu dan aku yang saling membantu untuk memenuhi semuanya. Setiap gajian ia selalu mengutamakan dirinya sendiri, bersenang-senang dengan temannya.
Termasuk dalam percintaan, aku heran kenapa dia bisa se-buta dan se-bodoh itu digantung tanpa ada kejelasan hubungan. Selama ini dia tidak sayang pada umur dan waktu yang ia habiskan hanya untuk menunggu orang yang hanya memberi harapan palsu. Jika aku memberi nasihat, pasti aku didampratnya.
Aku memang masih muda dan pernah merasakan gagal dalam menjalin cinta. Tapi aku paham laki-laki mana yang serius, mana yang tidak. Karena itu aku berani untuk putus hubungan dan berhijrah.
Sekarang, saat sudah ada pria yang serius padaku, dia malah marah. Tantrum seperti anak kecil. Aku tidak mengerti dengan pola pikirnya.
Kadang aku bertanya dalam hati, apa benar kami saudara kandung?. Kenapa sifat kami sangat bertolak belakang. Satu-satunya yang membuat aku yakin dia adalah saudaraku hanyalah kemiripan wajah kami.
Brak!
Pintu kamar dibanting dengan keras. Aku terkejut dan lamunanku buyar.
"Geser, aku mau tidur!" dengan kasar Kak Lucy menyodok tulang rusukku dengan sikunya untuk menepi ke dinding. Matanya bengkak dan hidungnya merah.
"Segalanya bisa berjalan mudah, tapi kenapa kakak mempersulit keadaan?" gumamku pelan.
"Aku tidak mau membahas ini dek. Aku sudah mengikhlaskan kamu mendahului aku. Aku memberikan restu tapi hatiku masih sakit. Jangan bicara dulu denganku. Nanti seiring waktu semuanya akan berjalan seperti biasa lagi." Jawabnya sesenggukan.
"Terima kasih Kak, maafkan Julia …. "
Aku ikut larut dalam tangis. Aku ingin sekali memeluknya, tapi aku takut ia malah makin marah.
"Tidak perlu minta maaf, aku sadar ini salahku. Sudahlah cepat tidur. Aku tidak mau pergi kerja dengan mata bengkak seperti ini," ujarnya sambil menyelimuti selimut ke kepalanya.
Kami tidur saling membelakangi. Sungguh aneh disaat raga kita bersama tapi hati tidak bisa menyatu. Setidaknya bebanku terasa ringan karena restu darinya.
Aku yakin ini terjadi karena pembicaraan antara dia dan Ibu di kamar tadi. Sungguh aku penasaran kalimat ajaib apa yang dikatakan Ibu hingga dapat meluluhkan hatinya. Biarlah itu jadi rahasia mereka.
***
POV Septian
Aku menceritakan kronologi proses ta'aruf-ku kepada Bapak dan Si Mbok. Bagaimana awalnya aku bisa tahu keberadaan si gadis Sumatera itu. Tak lupa kubacakan riwayat hidup gadis itu agar Bapak dan si Mbok sama-sama tahu.
"Ya baguslah kalau kamu mengenalnya dari si Tati, Mbok jadi lega. Aku awalnya khawatir kamu kenalan dengan wanita yang nggak jelas latar belakangnya," tutur Mbokku dengan senyum dikulum.
"Ini dia gadisnya mbok, cantik ya …. " Aku menunjukkan foto gadis itu bibirku tak berhenti terkembang.
__ADS_1
"Iya, ayu tenan. Semoga sifatnya juga baik." Mbok mengangguk-angguk.
"Mbok, tidak masalah kan kalau dia bukan orang Jawa?" Tanyaku menyelidik.
"Nggak masalah, tidak boleh menilai orang dari sukunya. Prinsip saya itu Bhineka Tunggal Ika." Si mbok terkekeh.
Bapak hanya tersenyum simpul memandangi gerak-gerikku yang tak lazim, banyak bicara tidak seperti biasanya.
"Jadi kapan kamu akan menemui gadis itu?" Bapak membuka suara.
"Insya Allah hari Sabtu minggu depan aku berangkat Pak. Tadi sudah nge-cek jadwal penerbangan," jawabku.
"Baiklah, duitmu ada nggak untuk beli tiket? Apa perlu bapak bayarin?" Ia mengeluarkan dompet dari sakunya.
"Nggak usah pak, aku punya uang sendiri kok. Walau aku dirumah saja, aku punya pekerjaan lho pak," tolakku sambil mengingatkannya.
"Yasudah, bapak cuma memastikan saja. Bapak minta kamu jaga adab dan sopan santun di daerah orang. Jangan kelihatan terlalu menggebu-gebu, tahan dirimu!" pesan Bapak.
"Tapi saya sudah mantap dengan gadis ini Mbok, apa yang harus saya bawa saat bertemu dengannya nanti?" tanyaku bingung pada si Mbok.
"Kalau kamu memang sudah yakin baiknya kamu bawakan cincin emas sebagai tanda jadi. Biar kamu memang dianggap serius, punya tujuan datang kesana. Tidak sekedar berkenalan saja," usul si Mbok.
"Tapi saya nggak tahu ukuran jarinya ... " Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal..
"Dikira-kira saja, yang penting tidak kesempitan. Orang toko emas pasti tahu," jawab Mbok santai. Dalam hati ia terkekeh dengan kepolosan anak ragilnya.
"Inggih pak … mbok ... saya mohon doa dan restunya," aku memandang mereka lekat-lekat.
"Bapak dan Mbok merestui pilihanmu. Kami yakin kamu tahu yang terbaik untuk dirimu."
Bapak dan si Mbok saling berpandangan tanda sepakat dengan keputusan anak bungsu kesayangan mereka.
***
"Saya berangkat ke Pekanbaru sekarang. Penerbangannya akan makan waktu dua jam lebih, Insya Allah sore saya sudah sampai."
Begitu pesan yang Julia terima dari Kak Septian pukul 2.30 siang ini.
"Baik Kak, saya doakan penerbangannya lancar dan selamat sampai tujuan. Fii amanillah," balasnya.
"Terimakasih …. "
Julia menyimpan ponselnya di kamar dan bergegas menuju dapur untuk membantu Ibu memasak rendang daging untuk menyambut kedatangan Septian besok. Rendang yang nikmat harus dimasak dalam waktu yang lama, semakin hitam bumbunya akan semakin sedap.
Sambil menunggu rendang matang, Ibu sudah selesai memasak ayam goreng bumbu lengkuas dan puding mangga sebagai makanan penutup. Ibu benar-benar cekatan.
"Semoga makanan ini cocok dengan selera Kak Septian." Gumam Julia.
Ponsel Julia kembali bergetar, pesan masuk baru. Tak sabar ia membacanya.
"Saya sudah sampai di Bandara Sultan Syarif Kasim. Sekarang sedang menunggu ojek online untuk ke rumah Bulek Tati."
Senyum lega terkembang di bibir Julia membaca kabar dari Kak Septian. Segera ia balas dengan pesan singkat.
__ADS_1
"Alhamdulillah …. "
Julia semakin tak sabar menanti hari esok.