
Julia membuka kiriman dari Riska lewat DM. Muncul sebuah postingan dari akun bernama @nabelle, ia membagikan beberapa foto perihal sekotak bolu tape keju yang telah dipotong beberapa bagian. Foto itu diambil dari berbagai sudut.
Yang mengejutkan terdapat bangkai cicak yang telah terbelah dua di dalam kue. Beserta caption yang bernada amarah dan menyudutkan toko Julia.
"Kecewa berat dengan Gerai oleh-oleh Mbak Jul. Aku tertarik karena toko ini hits banget dan banyak yang bilang enak. Tapi yang kudapat malah bolu tape isi cicak. Sangat menjijikkan! Ini kotor dan sumber penyakit. Untung belum sempat aku makan. Memangnya kalian tidak menerapkan quality control ya? Makan tu duit pelanggan!!!
#boikotmbakjul #tutupmbakjul."
Belum lagi rasa kaget Julia hilang. Muncul lagi sebuah postingan dari @nabelle.
"Selain kue isi cicak. Toko ini pakai karyawan yang lagi sakit TBC gaes. Fix owner toko ini emang gila sih. Parah! #boikotmbakjul #tutupmbakjul."
Dalam waktu beberapa menit postingan @nabelle menjadi viral. Akun Instagram toko Julia diserang dari berbagai arah menjadi bulan-bulanan. Komen bernada caci-maki, hingga ancaman datang menyerbu.
Julia terpaku. Tak bisa bergerak, bahkan air mata yang biasa mewakili hatinya ikut membeku. Seketika otot jemarinya lemah, tak mampu menahan bobot ponselnya hingga terjun bebas menghempas lantai.
"Astaghfirullah hal adziiim. Ya Allah berilah aku kekuatan." Ucap Julia lirih.
"Sepertinya ini kabar buruk." Gumam Septian dalam hati.
Ia memungut ponsel Julia dari lantai. Ia menghidupkan layarnya dan mendapati penyebab keterkejutan Julia. Berita itu dengan cepat menyulut kemarahannya.
Dari awal ia kurang setuju dengan ide bisnis Julia. Tapi demi cinta dan kebahagiaan Julia, ia mengerahkan seluruh materi yang ia punya untuk mewujudkannya.
Terbayang nama baik keluarga yang ia pertaruhkan. Terbayang dana yang hampir menyentuh lima ratus juta akan terbuang sia-sia. Lenyap tak berbekas.
Bugggggh!
Septian meninju dinding sekeras-kerasnya.
Tubuh Julia terlonjak kaget, ia menutup kedua telinga dengan telapak tangan. Refleks tubuhnya meringkuk. Seluruh tubuhnya gemetar.
Mulutnya terkunci, ia tak mampu menjerit. Matanya tak ingin mempercayai apa yang dilakukan Septian. Kemana sosok lembut yang baru saja bersamanya tadi?.
"Bagaimana caramu berbisnis hah?! Kenapa bisa begini?!"
Tatap Septian tajam. Suaranya berat menahan emosi. Rahangnya menggeretak. Amarah mengalir deras ke seluruh nadinya. Buku-buku jarinya memar terkepal.
"M-maaf Mas ... aku tidak tahu kenapa bisa begini. A-aku sudah melakukan semua sesuai prosedur."
Julia tergagap wajahnya pucat, seakan tubuhnya kehilangan pasokan darah.
"Arrrrrghhh kacau!" Septian menggeram menjambak rambutnya frustasi.
Julia berpaling ketakutan. Ia memejamkan mata kuat-kuat. Meski lelah ia belum sempat tidur sedetikpun. Tapi mengapa ia menjumpai mimpi seburuk ini.
Berita tadi cukup membuatnya terpukul, namun sikap Septian menancapkan luka. Seumur hidupnya belum pernah ada yang mengasari dirinya. Julia tak mampu membendung kesedihan. Tangannya menghapus kristal bening yang meleleh.
__ADS_1
"Ck!" Septian berdecak marah melihat Julia.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Septian benci melihat air mata wanita. Ia kini menganggap lelehan bening itu hanya senjata untuk melemahkan hati pria.
"Jangan cengeng! Tunjukkan tanggung jawabmu. Urus dan selesaikan masalah yang sudah kamu buat!" Ucap Septian garang.
Brakkk!
Septian membanting pintu sekuatnya. Ia pergi meninggalkan Julia dengan luka di hati, berdarah. Menganga.
***
Flashback.
Saat Julia sedang sibuk membantu produksi gudeg kering. Bu Kades mengatur sebuah siasat. Ia mendekati Bu Jum seorang janda tua yang hidupnya kekurangan. Ketika toko Julia membuka produksi di Balai PKK, ia mendaftar untuk ikut jadi karyawan produksi sebagai tambah-tambah uang dapur.
Bu Kades menyelipkan selembar uang seratus ribuan di saku kaos Bu Jum.
"Untuk apa uang ini Bu?" Tanya Bu Jum pada Bu Kades pelan.
"Saya ngiler sama bolu tapenya Julia. Kalau beli yang sudah matang harus antri di toko. Jadi saya booking adonan mentahnya seloyang saja. Bisa kan bantu saya?" Bu Kades tersenyum.
"Maaf saya tidak berani Bu. Nanti Mbak Julia marah." Bu Jum menyodorkan uang itu kembali pada Bu Kades.
"Ayolah Bu. Saya tadi sudah minta izin pada Julia. Dia mengizinkan kok. Makanya saya datangi kamu." Ujar Bu Kades meyakinkan, ia menolak uang yang disodorkan.
"Menurutmu saya berbohong hmmm …. ?"
Bu Kades mengangkat dagunya tinggi.
Bu Jum menggeleng lemah, ia terlalu takut.
"Simpan uang itu. Mana loyang adonan yang belum di panggang, saya mau lihat." Perintah Bu Kades.
Bu Jum buru-buru memasukkan uang dalam sakunya. Ia mengambil loyang bolu yang berisi adonan kental dan menyerahkannya pada Bu Kades.
Bu Kades mengeluarkan sebungkus plastik dari saku roknya berisi seekor cicak mati. Mata Bu Jum membulat terbelalak. Spontan ia menutup mulutnya yang terbuka, hampir saja ia kelepasan menjerit saking kagetnya.
Dengan satu gerak cepat Bu Kades menuang isi plastik itu ke dalam adonan. Ia meraih sendok dan menekan cicak kedalam. Dihentak-hentaknya pelan loyang ke meja hingga cicak tenggelam bercampur rata dengan adonan tanpa meninggalkan jejak.
"Bu jangan begini. Saya takut dipenjara." Ujar Bu Jum lirih, tubuhnya gemetar ketakutan.
"Tidak akan ada yang masuk penjara kalau kamu tidak buka mulut." Ujar Bu Kades tersenyum bengis mengintimidasi.
"Sekarang panggang ini, setelah itu langsung packing dan serahkan pada saya. Jangan sampai ada yang tahu." Titah Bu Kades dingin.
Bu Jum gemetar membuka oven. Tubuhnya dingin karena takut. Mau tak mau diikutinya perintah Bu Kades.
__ADS_1
"Ya Allah ampuni kelemahanku tak mampu melawan kedzaliman. Lindungi Mbak Julia." Batin Bu Jum menangis dalam hati.
Setelah matang ia segera mengemas bolu dalam kotak. Dan memasukkannya ke dalam plastik berlabel toko. Ia serahkan pada Bu Kades yang sudah menunggu di luar balai PKK.
"Sudah sesuai dengan yang saya mau?" Tanya Bu Kades memastikan.
Bu Jum mengangguk dan menyerahkan bungkusan kue pada Bu Kades. Ia lantas menyingkir tak ingin berurusan lagi dengan Bu Kades.
Bu Kades menuju mobilnya, menyimpan kotak kue itu kursi penumpang. Sebelum pulang ke rumah ia akan membuat satu skenario lagi untuk menghancurkan Julia.
Ia teringat tadi di balai PKK ada Bu Karti yang ikut menjadi karyawan produksi. Bu Karti terkenal punya alergi terhadap serbuk bunga. Ia tidak memelihara tanaman yang berbunga. Hanya tanaman daun-daunan saja yang menghiasi pekarangan rumahnya.
Bu Kades memetik sekuntum bunga raya di halaman balai PKK. Dengan langkah santai ia menghampiri Bu Karti yang tengah membuat adonan peyek udang rebon.
Tanpa rasa bersalah Bu Kades menjentikkan bunga diatas kepala Bu Karti. Membuat serbuknya berhamburan di sekitar wajah Bu Karti. Tangan Bu Kades lihai menyelipkan bunga ke dalam saku baju. Bu Kades tersenyum penuh kemenangan menunggu apa yang akan terjadi.
Bu Kades menjauh, ia duduk mengambil posisi nyaman untuk merekam adegan yang akan terjadi. Semenit dua menit ia menunggu reaksi.
"Uhuk … uhuk … huatchiii!" Bu Karti terbatuk-batuk dan bersin.
Awalnya hanya batuk pelan, makin lama semakin keras sehingga terdengar bunyi lendir dahak memenuhi tenggorokannya. Karyawan lain saling berpandangan melihat Bu Karti yang mendadak sakit. Bu Kades lantas dengan santai merekam adegan itu dengan ponsel.
Adegan seorang wanita paruh baya kepayahan menahan batuk, satu tangan menutup mulut yang terbungkus masker dengan kerah kaus. Satu tangan sibuk mengaduk adonan peyek.
Bu Kades tersenyum puas, ia mendapatkan apa yang ia butuhkan. Ia menekan tombol stop pada fitur perekam. Ia menyimpan ponsel dalam saku. Dengan wajah yang sengaja dibuat prihatin ia mendekati Bu Karti.
"Kalau sakit pulang saja Bu. Daripada menulari rekan yang lain." Bujuk Bu Kades menepuk bahu Bu Karti.
"Uhuk uhuk! Iya Bu, saya heran kok tiba-tiba kumat. Uhuk!" Bu Karti bicara sambil kepayahan. Ia megap-megap kesusahan menarik nafas.
"Sudah minta izin pulang sana. Nih uang untuk ongkos. Hitung-hitung sodaqoh." Bu Kades menyelipkan uang seratus ribuan pada Bu Karti.
"Terimakasih Bu. Saya permisi dulu. Sudah tidak kuat." Bu Karti berlalu meninggalkan adonan. Bahunya turun naik tak beraturan, tangan menepuk dadanya yang sakit.
Senyum bahagia Bu Kades tersungging lebar.
"Satu langkah lagi saya menang. Pergilah kamu dari desa ini." Desisnya.
***
Kepada pembaca tercinta, terimakasih sudah setia mengikuti kisah Mbak Jul dan Mas Septian.
Dukung kisah mereka lewat like, komen dan vote ya.
Untuk sesama author, maaf kalau saya belum bisa mengunjungi novel kalian satu persatu.
Saya lagi ada keperluan di desa. Mohon pengertiannya ya.
__ADS_1
Tetap saling dukung, semangat!