
"Astaghfirullah!"
Mata Septian seakan hendak lepas dari sarangnya melihat Julia terduduk lemas bergenang darah.
"Kok bisa begini dek …. " Suaranya gemetar.
Julia menggigil menahan sakit, wajahnya seputih kapas, tubuhnya sedingin es, bulir keringat mengucur deras dari dahinya.
Septian menyambar ponsel dan dompet di nakas, kerudung instan di kapstok dan sarung yang teronggok di kursi rias untuk membungkus aurat Julia. Dengan sigap digendongnya Julia yang lunglai menuruni tangga ke lantai bawah.
"Bapak … Tolong!" Jerit Septian membahana seisi rumah.
Bapak keluar dari kamar tergopoh-gopoh, Si Mbok dan Mbok Par yang sedang berada di dapur terlonjak saking kagetnya.
"Ada apa, ada apa?!" Sahut Bapak kaget campur panik.
"Tolong keluarkan mobil, Julia berdarah banyak sekali. Harus di bawa ke rumah sakit." Septian melapor.
"Astaghfirullah!" Si mbok menutup mulut melihat darah menetes dari kaki Julia.
"Mbok Par, cepat cari plastik untuk perlak dan kain sarung yang banyak." Perintah Si Mbok.
Bapak sekonyong-konyong berlari ke garasi mengeluarkan mobil dan membuka pagar. Si Mbok hanya sempat menyambar mukena dan dompet untuk ikut mengantar Julia.
"Cepat-cepat plastiknya dibentangkan di kursi belakang." Ujar si Mbok tergesa-gesa pada Mbok Par.
Septian membaringkan Julia di kursi belakang, ia menopangkan kepala Julia yang terkulai di pahanya.
"Dek … Tahan sebentar ya." Ujar Septian tercekat. Ia menepuk-nepuk pipi Julia agar tetap sadar.
Si Mbok melompat duduk di kursi depan bersama Bapak yang hanya memakai kaos oblong yang bolong-bolong dan celana pendek lusuh. Mereka sama sekali tidak peduli penampilan disaat kepanikan melanda.
"Bu ini jangan lupa dibawa!" Mbok Par menyelipkan plastik kresek berisi beberapa sarung pada Si Mbok.
"Terima kasih, kami pergi dulu. Kamu jaga rumah ya." Pesan si Mbok singkat pada Mbok Par.
Mobil meluncur melewati jalanan desa menuju rumah sakit terdekat. Mbo Par meremas dasternya, ia ikut panik dengan keadaan Julia yang tiba-tiba sakit parah tanpa sebab.
"Ya Allah semoga Mbak Julia tidak apa-apa." Doanya pelan.
***
Julia dilarikan ke IGD dan diperiksa sejenak sebelum dibawa ke bagian kebidanan dan kandungan.
"Bapak Ibu tunggu diluar ya. Yang menemani cukup satu orang saja." Ujar perawat kepada Bapak dan Si Mbok.
__ADS_1
Septian memberi kode semua akan baik-baik saja pada Bapak dan Si Mbok.
"Septian temani Julia dulu, nanti kalau diagnosanya sudah keluar akan segera Tian kabari. Bapak dan Si Mbok tunggu disini dulu ya."
Bapak dan Si Mbok mengangguk patuh. Bibir Si Mbok tak lepas berdzikir untuk menenangkan dirinya.
Julia tergolek lemah saat dibawa ke sebuah ruang bersalin yang terdapat banyak matras. Tiap matras diberi sekat kain pemisah.
"Ibu istirahat dulu ya. Sebentar lagi dokternya datang." Ujar seorang bidan muda dengan lembut.
Julia mengangguk lemah, samar-samar ia mendengar suara wanita di sebelahnya mengerang bertaruh nyawa. Setiap helaan nafas wanita itu tersebut nama Allah yang Maha Kuasa. Satu-satunya tempat bergantung saat kematian di ujung mata.
Tak lama ia mendengar suara tangisan nyaring bayi membelah ketegangan.
"Selamat Bu, anaknya laki-laki." Ujar bidan di balik tirai.
"Alhamdulillah …. " Julia tersenyum turut bahagia. Ia lupa bahwa dirinya pun saat ini sedang bertaruh nyawa. Septian menatap wajah istrinya dengan senyum getir.
"Insya Allah giliran kita menimang buah hati akan tiba."
Tak lama bidan muda tadi datang bersama seorang dokter wanita yang berwajah dingin dan tampak lelah. Mereka membawa berbagai macam peralatan untuk melakukan pemeriksaan pada Julia.
"Halo Ibu, sudah berapa lama terlambat haidnya?" Sapa dokter itu berusaha ramah namun tidak bisa menyembunyikan sirat lelah dan kuyu di wajahnya.
"Sekitar dua minggu dok, saya sudah tes tapi hasilnya negatif." Jawab Julia lemah.
"Aduh … sakit Dok!" Julia menggigit bibirnya. Ia merasa sakit yang menyengat syaraf di titik yang tersentuh transducer.
"Tahan ya Bu. Ini hasilnya nggak jelas. Kita cek dengan USG vaginal saja." Kata dokter.
Dokter melakukan pemeriksaan di bagian bawah Julia. Julia mengernyit menahan rasa sakit dan tak nyaman di bawah sana.
Septian menggenggam tangan Julia untuk meringankan sakitnya.
"Ini yang gumpalan putih adalah kantung kehamilan, letaknya tidak pas. Hamil ektopik alias di luar kandungan." Ujar dokter singkat sambil menunjuk ke arah monitor.
"Maksudnya dok? Apa janinnya masih bisa dipertahankan?" Septian bingung mencerna.
Dokter menatap kedua pasangan muda itu dengan penuh simpati. Ia menjelaskan perlahan pada Julia dan Septian dengan bahasa yang mudah di pahami.
"Istri Bapak mengalami kehamilan yang tidak normal. Kondisi ini terjadi ketika telur yang telah dibuahi tertanam di luar rahim. Telur yang telah dibuahi tidak akan bisa bertahan hidup di luar rahim. Jika dibiarkan tumbuh, kondisi ini dapat merusak organ reproduksi dan menyebabkan kehilangan darah yang mengancam jiwa istri anda."
"Dari yang saya lihat, janin ini tumbuh di saluran indung telur yaitu tuba fallopi alias buluh rahim. Sekarang kondisi saluran itu sudah pecah dan menyebabkan pendarahan. Solusinya, kita lakukan Salpingektomi. lni adalah operasi ini untuk mengangkat tuba fallopi yang rusak akibat peregangan pada saat kehamilan ektopik terjadi. Sedangkan tuba fallopi yang sehat akan tetap dibiarkan. Untuk kebaikan sebaiknya operasi dilakukan secepatnya. Hari ini juga." Sambung dokter itu lagi menjelaskan pelan-pelan.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun."
__ADS_1
Spontan Julia dan Septian mengucap kalimat istirja. Seperti disambar petir di siang bolong berita itu sangat mengejutkan Julia dan Septian. Julia masih menguatkan diri untuk tidak menangis meski batinnya sangat terpukul.
"Jadi nanti saya hanya punya satu tuba fallopi saja dok?" Bulu kuduk Julia meremang membayangkan nasibnya di masa depan.
"Apa saya masih bisa hamil?" Tanya Julia sekali lagi untuk meyakinkan diri.
"Kemungkinan bisa jika saluran tuba fallopi yang satu lagi berfungsi normal. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak." Jawab dokter itu memenangkan.
Septian termangu, sungguh ini bukan fakta yang enak didengar.
"Jadi bagaimana Bapak Ibu? Apakah setuju untuk melakukan prosedur operasi?" Tanya dokter.
Septian menatap manik bulat Julia yang berembun, ia mencari jawaban disana. Ini adalah keputusan berat bagi mereka berdua.
"Janinnya sudah tidak bisa diselamatkan. Sebaiknya kita fokus untuk menyelamatkan nyawa istri Bapak. Sekarang beliau sudah pendarahan. Telat sedikit saja bisa berujung kematian." Ujar dokter tegas.
Julia mengangguk tanda setuju pada suaminya. Bagaimana pun ia harus melanjutkan hidup, perjuangan membersamai suaminya tidak boleh terhenti sampai disini. Septian menandatangani surat persetujuan untuk tindakan operasi.
Seorang perawat mengarahkan Septian untuk mengurus administrasi.
"Mas urus surat-surat sebentar ya. Ikhlas dan sabar. Adek kuat. Kamu bisa melewatinya." Septian mencium kening Julia sebelum pergi.
Sementara Julia dipersiapkan untuk menjalani operasi. Begitu Septian meninggalkannya, tangis Julia meledak. Dilepaskannya rasa yang menghimpit dadanya. Sungguh kesabaran manusia diuji saat pukulan pertama. Julia kalah, ia mencoba sabar tapi batinnya tak mampu menahan sakitnya pukulan takdir. Air matanya berderaian.
"Astaghfirullah ampuni aku ya Allah. Jangan jadikan tangisku sebagai bentuk kekufuran atas nikmat-Mu yang banyak. Jadikan sakit dan duka laraku sebagai penggugur dosa. Sesungguhnya kami adalah kepunyaan-Mu dan kepada-Mu jugalah kami kembali." Batin Julia menggumamkan doa.
Dua orang bidan datang untuk membantu Julia melepaskan perhiasan, mencukur bulu pubis,mengganti baju, memasang infus dan transfusi darah. Seorang bidan tua dengan baik hatinya menghibur hati Julia yang lara.
"Sabar ya Mbak, Insya Allah diganti dengan yang lebih baik. Banyak wanita hidup dengan satu indung telur tapi bisa hamil." Ujar bidan itu mengusap lengan Julia.
Tiba-tiba tirai disebelah Julia tersingkap, kesibukan terjadi. Tampak seorang Ibu berperut buncit dengan wajah kuyu terbalut pakaian operasi.
"Ibu itu juga akan di operasi. Sudah di induksi tetap saja pembukaannya tidak ada kemajuan." Ujar bidan tua itu menjelaskan.
"Tapi bedanya Ibu itu operasi untuk melahirkan bayi yang masih hidup. Sementara saya operasi untuk mengeluarkan janin yang sudah tiada." Isak Julia nelangsa.
"Tabah ya Bu …. " Sahut bidan muda ikut merasakan kepedihan hati Julia.
Tak lama menunggu Julia didorong menuju kamar operasi. Ruangan itu begitu dingin dan mencekam, Julia menatap ke arah lampu besar menyilaukan diatas kepalanya. Julia menghela nafas menghalau rasa takut yang menjalari kulitnya. Dengan tubuh tak berdaya Julia dipindahkan ke meja operasi oleh dua orang operator.
Ia didudukkan membungkuk rendah untuk disuntik bius di bagian tulang belakang. Julia menggeliat menahan ngilu yang melecut syarafnya. Beberapa detik kemudian rasa dingin dan kebas menjalari kaki hingga ke perut.
"Coba digerakkan atau diangkat kakinya Bu." Ujar dokter anestesi.
Julia mencoba menggerakkan kaki namun tak mampu, artinya bius sudah bekerja. Kedua tangan Julia direntangkan. Dokter menyuntikkan perut bagian kanan dan kiri. Julia menelan ludah, kini ia benar-benar merasa sendiri.
__ADS_1
Seketika kesadarannya menghilang. Melayang.