CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Tercipta Untukmu


__ADS_3

Hari itu dimulai seperti biasanya. Julia sholat subuh berjamaah dengan Mala, kemudian melakukan tilawah pagi. Setelah matahari mulai menghangat mengusir suhu dingin Bukittinggi barulah Julia beraktivitas membersihkan rumah komunitas itu. Sementara Mala pergi ke warung terdekat untuk membeli bahan-bahan segar untuk dimasak.


Usai menyapu dan mengepel seluruh ruangan. Ia bergerak menuju halaman untuk membersihkan dedaunan kering yang rontok. Setelah daun-daun kering dikumpulkan untuk dibakar nanti sore, ia berjongkok untuk mencabuti rumput liar yang mulai tinggi mengganggu pemandangan.


Melakukan pekerjaan rumah seperti ini membuat pikiran Julia fokus. Karena, jika ia memiliki waktu kosong sedikit saja otomatis otaknya akan berkelana memikirkan Septian nun jauh disana. Kadang Julia heran, kenapa setelah disakiti hatinya masih tetap saja dipenuhi dengan cinta untuk suaminya itu. Secara lisan ia mengaku benci tapi jiwanya tak bisa dibohongi. Ia rindu pada pria itu.


"Tak adakah jalan bagi mereka untuk bisa bersama lagi? Jikalau kita benar-benar berpisah ... Maka, aku tak akan pernah bisa mencintai orang lain, sebesar aku mencintaimu." Batin Julia, tanpa ia sadari kristal bening telah meleleh di pipinya.


"Jul, aku beli lontong nih buat sarapan. Makan sama-sama yuk!" Sapa Mala dari luar pagar membuyarkan lamunan Julia.


Julia refleks menghapus lelehan air matanya dan berdiri dari posisi jongkoknya. Namun sekonyong-konyong pandangannya menjadi buram dan gelap. Ia terduduk tak mampu berdiri. Gejolak rasa mual menyeruak dari dalam lambungnya. Ia berusaha menahan mual dengan mendekap mulutnya. Julia mengatur nafas pendek-pendek agar rasa mual itu mereda.


"Ya Allah sudah kedua kalinya aku mendadak mual seperti ini. Aku ini kenapa?"


Mala yang melihat Julia terduduk lemas buru-buru mendekat.


"Jul … kenapa? kamu sakit ya? Mukamu pucat."


"Aku mual, pusing. Seperti masuk angin." Ucap Julia masih menutup mulutnya.


"Ayo aku bantu masuk ke dalam." Mala mengulurkan tangan yang segera disambut Julia.


"Pegang aku kuat-kuat ya La. Aku bener-bener lemas."


Mala mengangguk. Ia memapah Julia hingga ke kamar. Dibantunya Julia duduk bersandar ke dinding. Setelah Julia tampak stabil, ia menuju dapur untuk membuatkan teh jahe hangat dan sepiring lontong.


"Minum dulu teh-nya Jul." Mala menyodorkan hidangan.


Julia mendekat untuk meraih teh-nya, namun aroma santan dari kuah gulai dari lontong tercium begitu menyengat, memicu gejolak di perutnya. Julia menguatkan diri untuk tegak, setengah berlari ia menuju wastafel.


Mala dengan sigap mengikuti langkah Julia yang gemetar. Ia mendampingi Julia yang kepayahan mengeluarkan isi lambungnya. Ia memijat leher dan punggung Julia dengan penuh kasih dan kelembutan.


Julia melorot ke lantai, kerongkongannya terasa perih dan pahit. Tenaganya habis tak bersisa. Samar-samar ia mendengar Mala memanggil namanya, menepuk-nepuk pipinya. Namun ia tak kuasa menjawab. Kesadarannya perlahan menghilang.


***


"Pokoknya Abang harus kesini. Julia pingsan, aku nggak kuat angkat dia ke rumah sakit." Tuntut Mala setengah menjerit pada Faqih lewat sambungan telepon.


"Astaghfirullah. Waduh … Abang sedang ada kelas nih La. Tunggu sebentar, Abang kasih tugas dulu ke mahasiswa-ku. Kamu minta tolong tetangga, bawa Julia ke rumah sakit dulu. Takutnya dia kenapa-napa. Pokoknya Abang segera nyusul." Perintah Faqih dengan nada tinggi. Hatinya tak karuan mendengar kabar tak sedap dari Mala pagi itu.


"Iya Bang, Mala cari bantuan dulu. Nanti kalau sudah sampai rumah sakit Mala kabari lagi." Pungkas Mala sambil mematikan panggilan. Ditatapnya Julia yang terkapar dengan perasaan bingung. Tak mungkin ia menggendong Julia keluar rumah dengan tubuh kurusnya itu.


Segera Mala berlari keluar, ditemuinya Bu Inur -- tetangga sebelah rumah yang memiliki mobil. Beruntung saat itu Rusli, anak bujang Bu Inur sedang ada di rumah. Ia bersedia membantu Mala mengantar Julia ke IGD rumah sakit terdekat.

__ADS_1


***


"Tensinya rendah dan juga anemia. Apa teman kamu pernah mengeluh pusing-pusing sebelum ini?" Tanya dokter berambut klimis pada Mala.


"Tidak pernah dok. Yang saya lihat wajahnya selalu pucat. Saya pikir karena kulitnya yang putih." Sahut Mala.


"Teman kamu ini, sudah menikah?" Tanya dokter itu sedikit ragu-ragu.


"Sudah dok. Apa jangan-jangan dia hamil?" Jawab Mala.


"Saya tidak bisa membuat diagnosa sebelum ada pemeriksaan. Kita tunggu sampai teman kamu siuman. Setelah itu baru kita bisa lihat hasil tes urinnya. Ditunggu saja ya." Pesan dokter.


"Baik dok, terima kasih." Ucap Mala ke dokter yang disambut senyuman tipis.


Dokter meninggalkan mereka, sementara Mala duduk di sebelah ranjang Julia. Perasaannya sedikit lega, Julia tidak sakit serius. Diamatinya Julia yang terbaring lemah dengan selang infus menancap di nadinya.


Selang dua puluh menit, Julia mendapatkan kesadarannya. Ia mengerjapkan mata, berusaha beradaptasi dengan cahaya yang terang benderang. Ia menyadari ia berada di ruangan yang serba putih dan dingin menusuk tulang.


"Mala …. " Panggil Julia lirih.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar. Masih pusing Jul?" Mala bergerak mendekat.


"Masih. Aku haus La." Desah Julia serak.


"Aku di rumah sakit ya? Maaf merepotkan." Tutur Julia.


"Nggak lah, merepotkan apanya. Yang penting kamu ditangani orang yang tepat."


"Makasih ya La."


"Sama-sama. Kamu istirahat dulu ya. Rileks. Nanti dokter mau periksa air seni kamu." Sahut Mala enteng.


Deg!


Darah Julia berdesir, jantungnya seakan jatuh ke pangkuan.


"Periksa air seni? Tidak. Ya Allah. Jangan bilang kalau aku hamil." Mata Julia menyiratkan kecemasan.


Segala masalah yang ia hadapi membuatnya lupa dengan siklus menstruasi. Ia pasti tak sadar jika sudah periode-nya sudah terlewat. Apalagi pasca operasi tempo hari menstruasinya memang kacau balau. Kemungkinan ia hamil dalam keadaan luntang-lantung di tempat asing menimbulkan kekhawatiran di batinnya.


"Kenapa Jul? Kok kamu kelihatan panik?" Mala menangkap kekhawatiran di mata Julia.


"Nggak, nggak apa-apa." Julia tersenyum mengendalikan diri.

__ADS_1


Tak lama perawat muda berwajah ramah datang membawa nampan.


"Alhamdulillah sudah siuman. Nanti kalau sudah kuat turun dari kasur. Tolong di cek urinnya ya. Sudah tahu kan cara mengetes kehamilan?" Ujar perawat menyerahkan sebuah tabung plastik dan sebungkus rest pack.


"Iya, saya sudah tahu." Sahut Julia lemah.


"Nanti kalau sudah selesai test, panggil saya ya." Pesan perawat sebelum pergi.


"Baik." Julia mengangguk.


"Kamu yang mau test, kok aku yang deg-degan ya. Penasaran sama hasilnya." Mala tersenyum girang, mata bulatnya berkilat-kilat.


Julia tak merespon. Ia bingung, haruskah senang atau sedih dengan keadaan ini. Ia berusaha mengulur-ulur waktu, ia takut dengan kenyataan jika ia hamil. Hamil dalam keadaan pernikahan yang diujung tanduk. Dimana letak kebahagiaannya?


"Astaghfirullah …. " Julia mengusap wajahnya. Diusirnya pikiran bodoh yang berkelebat dalam benaknya. Ia merasa bersalah dengan perasaannya tadi. Tak ada gunanya menolak takdir jika memang itu sudah ditetapkan Allah. Kalaupun ia mengandung, ia akan berusaha menerimanya dengan senang hati. Dengan atau tanpa Septian, ia akan membesarkan calon bayi itu.


"La, tolong bantu aku turun. Aku mau ke toilet." Ucap Julia.


Dengan sigap Mala membantunya, membantu merapikan dan mendorong tiang selang infus. Hati-hati ia memapah Julia menuju toilet.


"Perlu aku temani sampai ke dalam?"


"Gak usah. Aku udah kuat kok. Insya Allah." Julia meyakinkan.


"Ya udah .. Kalau gitu aku ke depan sebentar. Bang Faqih sudah sampai. Aku mau nemuin dia. Nanti kalau sudah selesai tunggu aku disini. Jangan ke ruangan periksa sendirian. Okay!" Pesan Mala.


"Oke-oke. Bawel." Gerutu Julia sambil tersenyum geli.


Julia menutup pintu toilet. Untuk sesaat ia mengulur waktu. Namun suara ketukan di pintu toilet membuatnya sadar bahwa ia tak boleh berlama-lama.


"Sebentar masih ada orang!" Ucap Julia lantang mengusir pengunjung yang tidak sabaran.


Ia mengumpulkan air seni-nya ke dalam tabung. Dengan rasa gugup ia mencelupkan testpack. Menunggu.


Semenit.


Dua menit.


Tiga menit.


Terasa begitu lama.


Julia menarik nafas dalam, berusaha menerima apapun hasilnya. Ia mengangkat testpack itu keluar dari tabung, mendekatkannya ke penglihatan.

__ADS_1


Dua garis merah.


__ADS_2