
"Alhamdulillah project Mas sama mister bule itu cair dek." Lapor Septian berbinar-binar dari ambang pintu kamar.
"Alhamdulillah …. " Julia mengusap wajahnya lega. Mengingat betapa keras usahanya melobi mister bule agar project mereka deal.
"Berkat bantuan kamu jadi penerjemah, komunikasi jadi lancar wuss … wuss!" Septian memperagakan gerakan pesawat terbang dengan tangannya.
"Hehehehe, kita kirim uang ke Ibu yuk untuk DP beli rumah." Lanjut Septian.
"Beneran Mas. Serius?" Kebahagiaan di hati Julia membuncah.
"Iya serius bukan prank!" Sahut Septian jahil.
"Alhamdulillah. Nanti aku tambahin pake uang tabunganku ya." Usul Julia.
"Nggak usah lah. Mas pikir-pikir uang tabungan simpan saja untuk kebutuhanmu. Mas sudah niatkan kalau project ini cair mau langsung kasih ke Ibu." Septian merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Iya tapi adek nggak enak kalau pakai uang Mas semuanya. Tabungan adek memang nggak banyak tapi lumayan kan bisa nambah-nambah."
"Ya sudah terserah adek saja, itu kan duit kamu. Mas nggak ada hak ngatur cuma bisa kasih masukan aja. Oh ya … Doakan ada proyek besar lagi biar bisa kita lunaskan rumah untuk Ibu."
"Makasih banyak Mas. Adek juga mulai sekarang akan gencar promosikan usaha kita biar semakin banyak yang pakai jasa Mas … Nanti adek hubungi Kak Lucy minta nomor rekeningnya." Julia membuka pesan WhatsApp dari ponselnya. Ia ingin segera mengabarkan berita gembira ini pada kakaknya.
"Oke deh. Adek atur aja gimana baiknya. Mas percaya sama kamu." Septian mengusap tangan Julia lembut.
Septian tersenyum senang menatap langit-langit kamar. Semenjak menikah usahanya makin lancar. Mungkin benar janji Allah, menikah akan membuka pintu rezeki.
***
"Assalamualaikum Ibu, lagi apa?" Sapa Julia dari telepon.
"Walaikumsalam, lagi santai aja nak. Ada apa tu?" Sahut Ibu lembut.
"Ini Mas Septian mau kasih ibu rezeki sedikit untuk bantu bayar DP rumah." Suara Julia begitu riang.
"Alhamdulillah … Bilang terima kasih sama Septian ya nak." Sahut Ibu tak kalah riang.
"Ibu sudah ada gambaran mau beli rumah di mana?" Tanya Julia.
__ADS_1
"Rencana Ibu mau ambil rumah di komplek perumahan dekat kampus. Disana kan banyak anak kos, jadi Ibu tetap bisa jualan sarapan pagi sekalian buka konter jual pulsa dan paket data internet." Jawab Ibu menjelaskan planning untuk masa depan.
"Bagus sekali rencana Ibu. Mau beli baru atau bekas Bu?"
"Yang bekas saja lah nak. Ibu sudah tanya-tanya, untuk rumah tipe 36 bersubsidi harganya sekitar 140 jutaan. Itu sudah di renovasi tambah dapur dan garasi. Mudah-mudahan nanti Ibu bisa nego biar harganya turun sedikit." Jelas Ibu.
"Alhamdulillah, kata Mas Septian nanti di transfer 60 juta dulu. Terus Julia ada tabungan 8 juta, sudah Julia niatkan untuk Ibu. Nanti kalau ada rezeki lagi, dikirim lagi ya Bu."
"Masya Allah, banyak betul tu Jul. Ibu ada simpanan emas batangan kecil-kecil, kalau dijual mungkin adalah sekitar 50 jutaan. Tinggal sedikit lagi yang dicicil. Terima kasih banyak ya Nak. Apa ndak apa-apa Septian transfer sebanyak itu. Ibu segan sama orang tuanya." Kata Ibu terdengar khawatir. Ia takut keadaan dirinya menjadi beban untuk menantunya.
"Ndak apa-apa Bu. Orang tua Mas Septian hidupnya sudah lebih dari cukup. Kadang kami malah dibantu untuk kebutuhan bulanan. Untuk kehidupan kami jangan Ibu pikirkan ya." Jelas Julia.
"Ya Allah, semoga makin di berkah dan dilancarkan usaha Septian. Doa Ibu tak putus-putus untuk kalian."
"Terima kasih Ibu. Jaga kesehatan ya. Nanti Julia kabari kak Lucy lagi kalau sudah dikirim uangnya. Julia tutup telepon dulu ya Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Nak." Ibu meletakkan ponselnya di dada seakan-akan sedang memeluk Julia. Hatinya amat tenteram.
Senyum Julia masih mengembang. Membayangkan Ibu tidak akan lagi pusing memikirkan urusan tempat tinggal di hari tua. Semoga ada rezeki lebih agar ia bisa membantu melunasi sisanya.
***
Ditunjukkannya foto rumah baru Ibu pada Septian. Berkali-kali dihujaninya pipi suaminya dengan ciuman saking bahagia dan berterima kasih atas kebaikan suaminya.
Drrrrrrttt drrrrrrttt!
Ponsel Julia bergetar ada pesan masuk dari kak Lucy.
"Terima kasih banyak kirimannya dek. Sudah kami pakai untuk membayar rumah. Sudah seminggu kami pindahan. Alhamdulillah dagangan Ibu laris disini. Sekarang Ibu sudah ada yang bantu-bantu untuk jualan. Tak usah dipikirkan biaya melunasi rumah. Insya Allah kami bisa mencicilnya tiap bulan. Sekarang adek fokus lah menabung untuk kehidupan adek sendiri ya."
Julia segera mengetik balasan untuk kakaknya.
"Sama-sama kak. Semoga rumah baru memberikan kedamaian buat penghuninya. Julia sudah tak sabar menunggu berita bahagia dari kakak."
Tak lama muncul pesan baru dari Lucy.
"Makasih doanya tapi kayaknya masih lama dek. Kakak mau nabung dulu. Baru sadar uang kakak selama ini habis untuk foya-foya. Hahaha. Kakak juga menunggu kabar gembira dari adek. Biar kakak bisa ke Yogya lihat keponakan yang comel."
__ADS_1
Julia membalas pesannya lagi, kali ini ditambahkan emoticon wajah sedih.
"Aamiin kak, mohon doanya ya Kak. Tapi belum ada tanda-tanda hamil kak."
Julia menunggu balasan dari Lucy.
"Ndak apa dek. Disuruh pacaran dulu itu. Insya Allah ndak lama lagi itu. Sabar." Jawab Lucy menenangkan hati Julia.
"Iya kak. Adek sabar insya Allah." Balas Julia lagi.
***
Septian dan Julia semakin giat bekerja. Berkat doa orang tua usaha web developer Septian semakin maju. Ia semakin dikenal pelaku digital marketing untuk membuat online shop dan aplikasi. Septian membuka CV dan merekrut karyawan yang bekerja secara remote. Julia sudah tidak lagi ikut turun membantu usaha suaminya.
Ia kini dipercaya mengelola toko online yang menjual obat-obatan herbal ala thibbun nabawi, madu dan kurma. Julia memasarkan dagangannya lewat marketplace dan Instagram. Julia juga merambah pasar baru dengan menjual daster rumahan kesukaannya dengan model-model yang cantik dengan harga yang terjangkau.
Usahanya perlahan memiliki pelanggan tetap dan terus berkembang. Julia sibuk bekerja untuk melupakan kegundahan hati. Sudah hampir setahun ia menikah namun belum ada tanda kehadiran buah hati. Namun Julia percaya Allah akan memberikannya anak disaat yang tepat.
***
Sedari kemarin Julia sangat kelelahan, perutnya sakit dan kram. Rasanya seperti akan menstruasi tapi lebih sakit lagi. Tidak seperti biasanya. Jadwal menstruasinya memang sudah terlambat dua minggu. Tapi test kehamilan tidak menunjukkan dua garis merah. Julia memutuskan tidak melakukan aktivitas apa-apa sampai sakitnya reda.
"Perut adek sakit Mas, ada flek seperti mens tapi nggak banyak." Julia mengadu pada Septian yang sedang berada di ruang kerjanya.
"Mukamu pucat sekali dek. Ke rumah sakit yuk. Periksa." Septian khawatir, namun ia tidak beranjak dari meja kerjanya. Ia sedang diburu waktu untuk merevisi proyek pembuatan aplikasi android.
"Nggak usah lah, adek mau tidur saja. Mungkin kurang istirahat." Julia paham suaminya sedang sibuk. Ia tidak ingin mengganggu.
"Ya sudah tidurlah dulu. Nggak usah masak nanti pesan lauk di luar aja. Kalau semakin sakit kita ke dokter. Jangan ditahan-tahan." Pesan Septian yang tahu Julia paling suka menahan diri saat sakit dan susah diajak berobat.
Julia mengangguk dan meringkuk di kasur menahan sakit di perutnya hingga tertidur.
***
Julia terbangun dikejutkan dengan rasa sakit yang amat sangat menusuk perut bawahnya seperti dicabik-cabik.
"Kok sakit sekali ya? Biasanya kalau mens tidak sesakit ini." Batin Julia memeluk perutnya.
__ADS_1
Keringat dingin mengucur di dahi Julia. Saat ia turun dari kasur dan berdiri tiba-tiba cairan merah kehitaman mengucur deras di antara kedua kakinya. Seketika kepalanya berputar, tubuhnya limbung jatuh terduduk di genangan darah.
"Mas … tolong." Desis Julia lirih.