
Rasa malu adalah mahkotanya wanita
Meski kau berselubung rapat dalam lembaran tabir sutra
Permai pribadimu tersiar hingga ke telinga
Tetaplah terselubung wahai anak dara!
Bahkan ujung jarimu teramat berharga
Mustahil kata mereka
Engkau di Pulau Sumatera
Aku di Pulau Jawa
Raga tak jumpa apalagi netra
Namun imanku percaya
Jika Sang Pencipta telah bersabda
Kau dan aku bersatu jua
***
POV Septian
Septian Syaifullah, itulah nama yang diberikan oleh orang tuaku. Bukan kehendak diri ini memiliki sifat pemalu dan introvert. Aku tidak bisa banyak bicara, aku memilih jadi pendengar.
Karena itu aku tidak cocok bekerja di lingkungan yang ramai. Aku merasa energi tersedot habis jika berada diantara hiruk pikuk manusia. Karena itu aku resign dari kantorku dan memilih bekerja sebagai freelancer.
Alhamdulillah penghasilan bekerja lepas sebagai programmer cukup lumayan. Meskipun begitu aku sering dipandang sebelah mata oleh lingkungan. Mereka beranggapan aku adalah pengangguran karena selalu dirumah.
Tapi aku tidak sepenuhnya di rumah saja kok. Aku aktif di pengajian, disana aku memiliki banyak teman yang sepemahaman. Benar kata pepatah, burung akan terbang bersama dengan kawanannya.
Karena sifatku yang pemalu inilah aku tidak pernah bisa menjalin kasih dengan wanita. Aku pria normal, aku suka wanita. Tapi aku tidak memiliki urgensi untuk pendekatan, pacaran atau apalah namanya.
Ada beberapa wanita yang menaruh hati padaku semasa sekolah dan kuliah. Tapi aku menarik diri dan menghindar dari mereka. Aku tidak nyaman dengan gadis yang agresif. Anehnya mereka malah menganggap aku cool dan misterius. Hingga di suatu titik mereka mundur sendiri, bosan dan lelah mungkin. Aku tidak tahu.
Berkali-kali aku akan dikenalkan dengan wanita oleh teman, kerabat dan orang tuaku. Tapi dari cerita mereka semua tidak ada wanita yang memberi "percikan" di hatiku. Entah apa sebabnya.
Lalu aku tersadar, usiaku sudah 27 tahun. Ada dorongan naluriah bergejolak setiap malam yang harus diarahkan pada tempatnya. Sebelum aku terjatuh pada dosa. Sudah sepantasnya aku mencari pendamping hidup.
Aku berdo'a pada Allah semoga aku dipertemukan pada gadis shalihah yang tepat. Yang menjadi teman hidup, selimut sekaligus pakaian bagiku. Menerima kekuranganku, menghargai kelebihanku.
Aku ingin seperti orang tuaku bersama hingga menua. Buatku menikah cukuplah sekali saja walau secara kodrat aku mampu mendua.
__ADS_1
Disaat aku mulai melancarkan aksi pencarian, tiba-tiba Bulekku yang nun jauh di Pulau Sumatera menawarkan aku untuk berkenalan dengan seorang gadis yang menjadi guru les anaknya.
Mungkin Ibuku yang putus asa melapor pada Bulek. Awalnya aku mendengarkan sekilas saja, tidak terlalu aku tanggapi. Kelamaan aku tertarik dengan kisah kepribadian gadis ini. Aku suka gadis yang sederhana, mandiri dan tidak manja.
Sebagai laki-laki sudah saatnya aku memulai duluan. Aku menyatakan niatku untuk berta'aruf dengan gadis itu lewat perantara Bulekku. Tak lupa aku sertakan CV yang apa adanya.
Jujur aku tidak tahu apakah CV-ku masuk dalam kriterianya. Harap-harap cemas menyelimuti hatiku. Waktu berjalan hampir sebulan, tak kunjung ada kabar kejelasan proses perkenalan ini.
Beberapa teman sesama Ikhwan pengajian sudah banyak menawarkan diri untuk membantu aku yang terlihat gelisah mencari calon istri. Namun aku meminta waktu pada mereka setidaknya aku selesaikan dulu urusanku dengan gadis dari Pulau Sumatera itu. Apakah akan berlanjut atau berhenti.
Di saat harapan hampir pupus. Tanteku mengirim CV balasan dari gadis yang ia bicarakan. Aku membaca CV-nya dengan teliti. Seketika aku merasa hatiku telah terpaut. Ada percikan yang muncul bagai kembang api.
Gadis itu bagaikan kekuatan dan kelembutan yang berpadu jadi satu. Susah dijelaskan dalam wujud kata. Apalagi setelah aku melihat fotonya. Ia jauh lebih mempesona dari yang aku harapkan.
Karena aku tidak sanggup bicara secara langsung, aku menghubungi gadis itu lewat WhatsApp. Takut hatiku yang lemah ini terbuai dengan suara wanita yang belum menjadi hak-ku. Langkah terbaik adalah langsung meminta izin kepada ibunya.
Berulang kali aku menyusun kata, semoga kalimat yang teruntai cukup sopan untuk diterima.
"Bismillah. Assalamualaikum, saya Septian keponakan Bu Tati yang berta'aruf dengan saudari. Untuk melanjutkan niat baik saya bolehkah saya bicara dengan Ibumu?"
Tidak butuh waktu lama hingga aku mendapat balasan darinya.
"Walaikumsalam ini saya Julia. Boleh Kak, tapi sekarang saya sedang bekerja. Nanti malam saja ya kak sehabis Isya."
"Baiklah mohon kabari jika saya sudah boleh menelpon," balasku lagi.
"Baik kak. Nanti saya kabari lagi."
***
POV Julia
"Ibu, boleh minta waktunya sebentar?" tanyaku setelah Ibu menyelesaikan doa di akhir sholat Isya.
"Iya boleh, ada apa nak?" Ibu melipat mukenanya.
"Ibu masih ingat kan kalau Julia sedang dalam proses Ta'aruf dengan laki-laki yang namanya Kak Septian. Dia mau menelpon Ibu sekarang. Ada yang perlu disampaikan secara langsung. Ibu mau bicara dengannya?" aku menjelaskan hati-hati.
"Ada perlu apa dia ya? Baiklah minta dia telepon Ibu sekarang." Titah Ibu.
Aku mengirimkan nomor kontak Ibuku ke kak Septian. Serta sebuah pesan untuk menelponnya saat ini saja.
***
POV Septian
Sebuah pesan berisikan nomor kontak masuk ke dalam pesan WhatsApp. Menyusul pesan berikutnya dari gadis di pulau Sumatera itu.
__ADS_1
"Ibu saya sedang ada waktu luang, kalau kakak tidak sibuk … Kakak boleh menelponnya sekarang."
Kebetulan sekali aku baru saja menunaikan sholat Isya. Pikiranku sedang jernih dan jiwa dalam keadaan tenang. Ini adalah momen yang tepat. Aku menekan tombol-tombol angka, menuliskan nomor tujuan.
Tuuut tuuut tuuut ….
Nada tunggu mengisi kekosongan, suasana terasa begitu hening.
"Halo, Assalamualaikum." Sapa suara berat khas Ibu-ibu diseberang sana.
"Halo, Waalaikumsalam. Apa betul ini dengan Bu Diana ... Ibu dari Juliana Rahmayanti?" Aku balas menyapa.
"Betul sekali, boleh saya tahu dengan siapa ini?"
"Saya Septian Syaifullah. Apakah saya mengganggu aktivitas Ibu. Karena ada hal penting yang mau saya sampaikan." Jantungku mulai berdebar-debar.
"Oooh tidak mengganggu sama sekali. Saya sedang bersantai. Boleh saya tahu apa yang akan Nak Septian mau sampaikan?" suara itu terdengar lembut namun tegas.
"Pertama, saya ingin menyampaikan bahwa saya sedang proses ta'aruf dengan putri Ibu. Saya ingin melanjutkan ke tahap berikutnya Bu yaitu nazhor. Sekalian bersilaturahmi dengan keluarga Ibu disana." Aku mengutarakan tujuanku.
"Apa maksudnya nazhor ya? saya kurang paham. Maklum saya orang awam yang tidak paham istilah-istilah Arab."
"Maaf kalau membuat ibu bingung, nazhor maksudnya saya minta izin untuk bertemu melihat langsung anak Ibu, tapi ditemani oleh wali-nya agar hati saya semakin mantap untuk menuju proses berikutnya Bu," jawabku berhati-hati agar tidak terkesan menggurui.
"Oooh begitu. Baik saya mengerti sekarang. Jadi kapan Nak Septian akan kemari?" Ujar Bu Diana tanpa basa-basi.
"Insya Allah Minggu depan tepat di hari Minggu. Bolehkah Bu?" Jawabku sambil mengecek kalender.
"Hmmm boleh, boleh … Tapi Nak Septian ini asalnya dari mana ya? Julia belum ada cerita banyak tentang kamu. Dia sibuk bekerja dari pagi sampai malam jadi saya pun tidak sempat bertanya."
"Saya dari Yogyakarta Bu." Jawabku mantap.
"Masya Allah jauh sekali! Apa tidak apa-apa Nak Septian kemari? Pekanbaru itu jauh lho. Kamu sudah pernah kesini sebelumnya?" Bu Diana terdengar kaget.
"Tidak apa-apa Bu. Walau saya belum pernah ke Pekanbaru tapi saya punya Bulek dan saudara yang tinggal disana. Jadi Ibu tidak perlu khawatir." Aku menenangkan.
"Baiklah kalau begitu Nak. Kamu kesini sendirian atau dengan keluargamu?"
"Saya akan datang sendiri dari Yogyakarta, tapi saya akan ditemani saudara saya untuk menemui Ibu," aku memastikan.
"Baik … baik. Semoga lancar perjalanannya Nak, selamat sampai disini. Ohya, tadi Julia berpesan jika ada keperluan atau ada yang mau disampaikan bisa lewat Ibu saja."
"Baik Ibu, untuk saat ini cukup ini saja yang mau saya sampaikan. Terima kasih do'anya. Insya Allah kita akan bertemu minggu depan."
"Baik, saya tunggu kehadirannya."
"Terima kasih Bu. Saya tutup telepon-nya dulu ya. Assalamualaikum." Aku mengakhiri pembicaraan ini.
__ADS_1
"Walaikumsalaam .… " Ibu Diana memutuskan panggilan.
Dengan suka cita aku berlari menuruni tangga bergegas menyampaikan niatku untuk berangkat ke Pekanbaru pada Bapak dan si Mbok. InsyaAllah jika segalanya lancar. Anak bungsu mereka tidak lagi jadi bujangan. Aku akan membawa istri ke rumah ini. Istri yang cantik dari pulau Sumatera.