CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Gadis Bernama Dian


__ADS_3

Dengan wajah muram Julia meninggalkan Mbok Par menuju kamar suaminya. Berhubung lantai dua sedang direnovasi untuk menambah dapur, Septian beristirahat di kamar lantai bawah. Julia ikut berbaring di sebelah suaminya yang sedang serius menonton video ceramah dari ponselnya.


"Nanti malam habis Isya kita belanja ya dek." Ujar Septian kepada Julia. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Belanja apa Mas?"


"Apa saja yang kamu butuhkan untuk kelengkapan di lantai dua."


"Oh iya. Kita perlu beli jemuran besi lipat dan alat-alat masak."


"Di catat ya. Kita beli yang penting-penting dulu. Tidak usah semua di beli. Untuk alat makan biasanya banyak yang ngasih sebagai kado pas acara ngunduh mantu," jelas Septian.


"Betul juga kata Mas. Nanti adek list lagi apa saja yang perlu dibeli."


"Beli skincare sekalian. Biar wajahmu nggak belang lagi." Septian mengeluskan jemarinya yang panjang ke arah pipi Julia yang berbeda warna.


"Hehehe, makasih udah mengingatkan. Adek selama ini emang nggak rajin merawat wajah." Julia menikmati sentuhan dari suaminya.


"Mulai sekarang usahakan rutin merawat diri, pakai parfum. Aku ini laki-laki makhluk visual suka lihat yang indah-indah. Karena kamu dirumah saja aku mau cantikmu hanya Mas yang menikmati." Kali ini Septian memainkan anak-anak rambut Julia yang jatuh di keningnya.


"Cantik mana aku sama si Dian itu?"


"Hmmm … Tau dari siapa tentang Dian?


"Ya pokoknya adek tau!"


"Cantik kamu lah, seneng?"


"Kok gitu, kayak terpaksa aja!" Julia mendelik kesal.


"Dian cantik, kamu cantik. Tapi cantiknya beda kalau kamu ada teduh-teduhnya gitu. Hehehehe." Septian nyengir lebar.


Julia manyun tak suka mendengar suaminya mengakui kecantikan wanita lain walau memang begitulah faktanya.


"Jangan cemburu. Aku nggak pernah berhubungan sama si Dian. Aku kenal karena dia anak Pak Kepala Desa. Ibunya Dian teman baik si Mbok."


"Bener begitu?"


"Ya iyalah bener. Buat apa jauh-jauh cari istri sampai ke Sumatera kalau bukan ada sesuatu yang spesial dari kamu."


Julia tersipu, ia memandang mata Septian yang bulat dan bening. Ia yakin tidak ada yang disembunyikan suaminya.


"Sekarang ayo kita tidur siang dulu biar badan segar menjelang sholat Ashar. Tidur siang itu termasuk bagian dari sunnah lho," ajak Septian.


Julia mengangguk, tubuhnya memang sudah lelah terlebih lagi setelah perutnya kenyang. Kantuk langsung merayapi mata, tak menunggu lama ia dan suaminya sudah terlelap.


***

__ADS_1


Setelah pulang dari sholat Isya di masjid Septian langsung berganti pakaian. Ia memakai kemeja panjang kotak-kotak dan celana panjang semata kaki. Dengan sabar ditunggunya Julia yang sedang merapikan kerudung lebarnya. Ia mengamati istrinya dari belakang dengan tatapan takjub.


"Kamu kalau pakai kerudung cantiknya beda ya," lontar Septian mengagumi Julia.


"Makasiiih" Julia melempar senyum.


"Udah selesai?"


"Udah yuk!"


"Mas turun dulu mau pinjam kunci mobil ke Bapak."


"Oke …. " Julia menyusul suaminya dari belakang.


Tak lupa Julia pamit pada si Mbok dan Mbok Par yang sedang bersantai menonton sinetron di ruang keluarga. Julia keluar dan menunggu suaminya di teras depan.


Septian muncul dari garasi, ia menghidupkan mesin mobil untuk dipanaskan sebentar. Kemudian ia keluar dari mobil untuk membuka pintu pagar lebar-lebar. Ia memberi kode pada Julia untuk mendekat. Dibukanya pintu kursi depan dengan gestur mempersilahkan naik. Julia naik dan mendaratkan tubuhnya di jok mobil yang empuk.


"Ready?"


"Yes, for sure!"


Septian mengeluarkan mobil dari garasi, begitu mobil sudah keluar dari halaman Septian turun untuk menutup pagar. Dengan kecepatan sedang ia membawa Julia ke sebuah swalayan khusus alat rumah tangga.


Setelah mendapat tempat parkir, mereka berdua turun dari mobil. Septian menggandeng tangan istrinya memasuki swalayan.


Julia mengeluarkan secarik kertas berisi daftar belanjaan dari tas selempangnya.


Septian mengintip kertas itu.


"Lho, kok hanya skincare?"


"Ya kan mas bilang belanja kebutuhan rumah nunggu selesai ngunduh mantu. Daripada kita beli sekarang malah nanti dapat barang yang sama. Untuk sementara kan bisa pakai kepunyaan si Mbok dulu."


"Hmmmm, ya sudah." Septian manggut-manggut.


"Mau skincare yang seperti apa. Kamu pilih sendiri ya, Mas nggak paham." Lanjutnya lagi.


"Siaaaap, percayalah padaku!" sahut Julia.


Septian mengikuti Julia yang bersemangat menuju counter kosmetik. Ada banyak jenis dan merek skincare sesuai kebutuhan. Julia selama ini tidak punya masalah berarti pada kulitnya. Ia merasa kulit wajahnya seperti kulit badak yang tidak perlu dirawat pun baik-baik saja. Hanya belang karena terpapar matahari. Karena itu ia fokus mencari skincare untuk mencerahkan kulit dan sunblock.


Ia melihat-lihat dan membaca kandungan yang ada di setiap skincare. Sesekali diliriknya Septian yang sibuk mengendus aroma dari botol-botol skincare. Ia tersenyum geli melihat pemandangan itu. Kini ia sadar betul Septian suka sesuatu yang wangi. Sepertinya ia memang harus menambahkan parfum ke dalam daftar belanjanya.


Pilihan Julia jatuh pada skincare natural produk lokal dari Bali. Ia meyakini sesuatu yang berbahan dasar alami tidak akan menimbulkan reaksi yang ekstrim pada kulitnya. Ia membeli sabun pencuci wajah, toner, serum, masker dan lip balm. Kecuali untuk peeling, Julia sengaja memilih yang berbahan dasar retinol agar seluruh kulit matinya terangkat dengan baik.


"Sudah cuma ini saja?" Alis Septian terangkat.

__ADS_1


"Belum, ini baru skincare saja. Adek perlu beli make up juga untuk dandan dirumah."


"Hmmmm … banyak juga perintilan perempuan." Gumam Septian.


"Kan tadi Mas yang nawarin. Nggak boleh protes!"


"Iya, Mas nggak melarang kok. Tapi wajib dipakai sampai habis, nggak boleh mubazir." Septian mengingatkan istrinya.


"Siaaaap!"


Julia asyik memilih foundation, bedak, lipstik, maskara, pensil alis, eyeliner, blush-on dan kawan-kawannya. Septian dengan setia mengekorinya dari belakang. Membantu Julia memilih warna yang cocok untuk kulitnya. Tiba-tiba Septian dikagetkan dengan tepukan halus dipundaknya.


"Lho, Mas apa kabar. Lama nggak kelihatan!"


Spontan ia berbalik untuk melihat sosok yang menyapanya dengan suara halus lembut. Tampak dihadapannya seorang gadis berkulit putih bersih, bermata bulat, menyunggingkan senyum hingga terlihat giginya yang gingsul. Siapapun yang memandang pasti berkomentar kalau gadis berambut ikal cokelat tebal dengan dress bunga-bunga selutut itu amat sangat cantik.


"Eh, dek Dian!" Septian cukup kaget karena tepukan dipundaknya.


"Apa kabar Mas. Kok baru kelihatan sekarang lama nggak jumpa," Gadis bertubuh mungil itu terus menyunggingkan senyum merekah ke arah Septian.


Mendengar nama Dian, darah Julia spontan berdesir. Ia bergeser untuk melihat sosok gadis yang pernah dijodohkan dengan suaminya. Diliriknya Septian yang terpaku gugup.


"Baik, Alhamdulillah. Bagaimana kabar Bapak Ibumu?" Septian menjawab sopan.


"Mereka baik-baik saja. Kok kabarku tidak ditanya?" sahut Dian manja.


"Kamu ada disini sehat walafiat, tentu kamu baik-baik saja. Untuk apa aku bertanya lagi." Jawab Septian datar.


"Hehehehe iya Mas bener. Ngapain Mas disini, sendirian aja?" tanya Dian.


"Ini nemenin istriku," Septian menarik lengan Julia dan merangkulnya.


"Oooooo, jadi benar kabar yang beredar. Kalau Mas Septian menghilang karena pergi nyari istri." Dian berseloroh dengan matanya yang bulat ia menatap tajam ke arah Julia. Ia mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Julia.


"Kenalkan Mbak, nama saya Dian."


"Julia …." Julia mengangguk kecil menjabat tangan Dian. Dian menjabat tangannya sesaat dan segera dilepaskan.


"Kalau nikah bikin acara dong mas, jangan diam-diam aja. Nanti dikira masih lajang sama warga desa!" Mata Dian mengerling ke arah Septian.


"Hmmmm, Insya Allah acaranya ada kok. Tunggu aja undangannya ya!" Jawab Septian sekadarnya.


"Oke deh Mas, sekali lagi selamat ya. Saya duluan." Gadis itu berpamitan pada Septian.


Septian langsung mengalihkan perhatiannya dari gadis itu. Digenggamnya tangan Julia erat-erat. Dengan ekor matanya Julia mengamati Dian yang sedang mengibaskan rambut ikal cokelatnya berjalan penuh percaya diri. Sosok itu meninggalkan rasa tidak nyaman di hati Julia.


"Kok nyebelin ya anak itu, auranya nggak enak!" gumam Julia dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2