
Septian mengetuk-ngetuk permukaan layar ponselnya. Ada rasa bimbang yang menjalari hati. Bagaimana cara menyampaikan kabar buruk ini pada Ibu mertuanya. Ia sudah berjanji akan menjaga dan membahagiakan putrinya. Tapi benih yang ia tanam malah mengkhianati tubuh Julia. Ia merasa dirinya punya andil atas musibah ini.
"Astaghfirullah!"
Septian mengusap wajahnya. Ia menyadarkan diri dari kekeliruannya menyalahkan takdir Allah. Dibukanya layar ponsel untuk mencari nomor kontak ibu mertuanya itu. Ibu Julia harus tahu apa yang terjadi pada anaknya.
"Bismillah."
"Halo. Assalamualaikum." Sapa Septian dengan suara berat.
"Walaikumsalam. Apa kabar Nak?" Sapa Ibu Julia riang.
"Baik Bu. Ibu dan Lucy gimana kabarnya?" Sahut Septian berbasa-basi.
"Sehat, alhamdulillah. Julia mana?"
"Mmmmm, ini Bu mohon tenang dan jangan panik ya. Saya mau mengabarkan kalau Julia sekarang sedang menjalani operasi." Ujar Septian pelan.
"Hah, operasi apa? Julia itu tidak pernah punya sakit berat selama hidupnya Tian." Suara Ibu Julia panik.
"Julia hamil ektopik Bu. Janinnya tumbuh di luar rahim hingga menyebabkan saluran buluh rahimnya pecah. Julia pendarahan." Jelas Septian lugas.
"Ya Allah Julia … Pantas dari kemarin hati Ibu tidak tenang. Tidak biasanya Ibu mimpi Julia datang kesini minta dipeluk!" Tangis Ibu tumpah.
"Tian mohon Ibu tenang dan bersabar. Julia sedang ditangani oleh tim dokter yang sudah ahli. Insya Allah dia akan segera pulih. Apa ibu bisa kemari untuk menemui Julia?" Tanya Septian.
"Bisa nak. Bisa! Ibu akan pergi bersama Lucy." Jawab Ibu tanpa ragu.
"Baik, saya pesankan tiket pesawat dulu untuk penerbangan malam ini. Ibu siap-siap ya. Nanti kakak saya yang jemput ibu di Bandara."
"Baik Nak. Ibu siap-siap sekarang. Tolong jaga Julia sampai kami tiba."
"Baik Bu. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Septian menghela napas dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Ia mendekati kursi tunggu dan duduk di antara Bapak dan Si Mbok yang menemaninya.
Bapak duduk merenung sambil bertopang dagu. Sorot matanya kosong, walau Bapak tak banyak bicara. Dalam hati ia sangat khawatir dengan keadaan menantunya. Si Mbok mengusap punggung Septian yang merosot. Lelah dan duka bercampur jadi satu.
"Sabar ya Le." Si Mbok menguatkan.
"Iya Bu. Insya Allah."
"Tetaplah tegar dan kokoh. Saat ini Julia bersandar pada dirimu. Tunjukkan kalian bisa melewati masa sulit ini." Pesan si Mbok mengusap wajah murung putra bungsunya.
__ADS_1
Septian mengangguk. Ditatapnya netra tua si Mbok yang secara ajaib memberinya kekuatan.
Seorang perawat keluar dari ruangan operasi.
"Bapak Septian, Ibu Julia sudah selesai operasi. Sekarang beliau sudah sadar dan ada di ruang observasi untuk pemulihan. Bisa dijenguk bergantian ya." Ujar Perawat itu memberi tahu.
Septian bangkit dari duduknya mengikuti arah yang ditunjukkan perawat. Dilihatnya Julia terbaring lemah dan pucat di matras beroda.
"Sayang .… " Sapa Septian lembut.
"Hmmm." Mata Julia nanar tidak fokus efek anestesi.
"Tabah ya." Diusapnya rambut Julia hati-hati. Takut jika sentuhannya menyakiti Julia yang amat rapuh.
"Iya, manusia bisa apa selain tabah menjalani takdirnya?" Sahut Julia lemah.
"Mas tahu ini tidak mudah buatmu. Kita bisa melewati ini bersama." Septian menatap mata Julia penuh keyakinan.
"Terima kasih." Julia mengangguk.
"Tadi Mas disuruh masuk ruang operasi waktu kamu tidak sadar. Dokter menunjukkan janin dan saluran buluh rahim kamu yang rusak. Memang harus dibuang untuk menyelamatkan nyawa kamu. Pendarahannya cukup parah, hampir satu setengah liter darahmu terbuang. Dokter bersyukur kita datang tepat waktu. Terlambat sedikit saja pasti berakibat fatal."
Septian bergidik mengingat luka bedah menganga bergenang darah di perut istrinya yang terbuka. Andaikan ia diposisi Julia belum tentu ia kuat menghadapinya.
"Mas dingin." Gigi Julia gemeletuk melawan efek bius yang mulai menghilang.
Septian mengulur selimut menutupi tubuh gemetar Julia.
"Malam ini Ibu dan Lucy akan datang. Kamu harus cepat pulih ya."
"Ohya, senangnya bisa bertemu mereka." Sinar mata Julia memancarkan semangat.
"Tapi kasihan Ibu lihat keadaanku seperti ini." Tiba-tiba wajahnya menjadi redup.
"Tidak apa-apa, Ibu sudah tahu kamu sakit. Mereka datang untuk menghibur kamu. Jangan sedih lagi ya sayang."
"Insya Allah."
Air mata Julia menggenang. Dalam hati ia menjerit. Bohong apabila ia tidak sedih. Bohong ia tidak merasa kehilangan. Namun ditahannya lidah agar kesedihannya tidak sampai menjadi ratapan yang mengundang murka Allah.
Septian terdiam ia ingin menghibur istrinya tentang pahala orang yang bersabar. Tapi ia menahan diri. Saat ini bukan waktu yang tepat. Dibiarkannya Julia larut dalam rasa untuk sementara. Butuh waktu bagi istrinya menerima kehilangan dalam waktu mendadak.
"Duhai cinta mungkin tubuhmu menderita dipecut luka menganga. Tapi disini ... di dalam dada sakit tak terperi melihatmu tak berdaya. Aku merasa tak berguna, hanya bisa memandang dan menyemangati. Andaikan sakitmu bisa dibagi … berikan saja padaku seluruhnya."
Septian menangis pilu dalam hati, rahangnya mengeras menahan rasa sesak di dada. Sebagai laki-laki ia tak terbiasa menitikkan air mata. Bahkan di momen sulit seperti ini pun ia masih bisa mengontrol air matanya agar tidak tumpah.
__ADS_1
Waktu observasi selesai. Operasi Julia dianggap sukses. Dua orang perawat laki-laki datang untuk memindahkan Julia ke ruang rawat inap. Si Mbok dan Bapak mengikuti dari belakang.
Tak lama seorang perawat muda berwajah teduh datang mengecek keadaan Julia.
"Untuk malam ini Ibu berbaring saja ya. Tidak usah banyak bergerak. Esok pagi baru boleh belajar duduk. Nanti di hari ketiga kateter urin akan kami lepas. Dimohon Ibu mengusahkan untuk belajar berdiri dan ke toilet sendiri. Meskipun Ibu habis operasi sangat dianjurkan untuk sesegera mungkin melakukan aktivitas ringan. Agar tidak terjadi pembekuan darah di bagian yang luka." Jelas perawat itu dengan sabar.
"Baik mbak. Terima kasih banyak." Jawab Julia.
"Ada yang mau ditanyakan Ibu?"
"Tidak ada, sudah cukup jelas." Julia mengangguk.
"Baik, nanti satu jam sekali saya akan datang mengecek keadaan Ibu. Jangan sungkan memberi tahu kalau ada sesuatu yang tidak nyaman." Ujar perawat sopan sebelum pergi.
Si Mbok menatap wajah lesu Julia dengan wajah prihatin.
"Istirahat ya Nduk. Biar si Mbok temani kamu disini. Septian dan Bapak pulang sebentar ke rumah mengambil pakaian dan barang-barang."
Julia mengangguk lemah pada si Mbok.
"Mas pulang sebentar, kalau ada apa-apa minta si Mbok lapor ke perawat ya." Ujar Septian sambil mencium kening Julia sekilas sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Ia harus bergegas pulang untuk memandikan dan menguburkan janinnya yang telah wafat. Meskipun janin itu masih berbentuk gumpalan darah belum ditiupkan ruh. Septian tetap ingin mengurusnya secara layak. Janin itu adalah bagian dari dirinya. Buah cinta antara ia dan Julia.
Julia menatap langit-langit kamar yang putih pucat seperti dirinya. Ia mengumpulkan potongan kejadian hari ini yang berserakan. Semua terjadi begitu cepat berkelebat dalam ingatannya. Ah betapa manusia adalah makhluk tak kuasa. Dalam satu hantaman ia terkapar tak berdaya. Sedangkan Allah lah Yang Maha Perkasa. KepadaNya lah Julia berserah diri.
"Anakku, tunggu Umma di pintu surga."
Bisik Julia menghapus lelehan kristal bening dari pelupuk matanya.
***
Hadith dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ كَانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ ، أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang ditinggal mati tiga anaknya yang belum baligh, maka anak itu akan menjadi hijab (tameng) baginya dari neraka, atau dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari – bab 91)
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنَّ السِّقْطَ لَيَجُرُّ أُمَّهُ بِسَرَرِهِ إِلَىْ الجَنَّةِ إِذَا احْتَسَبَتْهُ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa ibunya ke dalam surga dengan ari-arinya APABILA IBUNYA BERSABAR (atas musibah keguguran tersebut).”
(HR Ibnu Majah 1609 dan dihasankan al-Mundziri serta al-Albani)
__ADS_1