
..."Kau bisa bersembunyi dari pandanganku, tapi tidak dari pikiranku - Asma Nadia."...
***
"Bismillah. Mas, aku sudah berada di tempat yang aman dalam keadaan sehat walafiat. Tak usah mencari ke Pekanbaru karena aku tidak ada disana. Tak usah memberi tahu Ibu karena itu hanya akan membuat beliau stress dan panik. Maaf atas segala kesalahanku hingga membuatmu rugi banyak. Selamanya aku berhutang padamu dan entah bagaimana caraku menggantinya. Mari kita gunakan waktu ini untuk saling menelaah diri masing-masing. Jika memang masih ada jodoh, kita akan bersatu kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik, Insya Allah.Tapi jika kamu memang hendak melepaskan aku. Aku menerimanya dengan ikhlas. Kirimkan surat cerainya ke alamat Ibuku. Sekian.
By : Julia."
Wajah Septian memucat membaca pesan masuk dari nomor asing yang ia yakini seratus persen adalah Julia. Jarinya begerak cepat melakukan panggilan pada nomor asing yang berakhir sia-sia. Nomor itu sudah tidak aktif lagi.
"Permainan apa yang kau lakukan Julia. Apa kau mencoba untuk membalas aku. Cepatlah kembali!" Ucap Septian kesal sambil meremas ponselnya geram.
Septian lantas membanting tubuhnya ke ranjang menatap kosong ke langit-langit kamar. Ia bergerak untuk meringkuk memeluk bantal guling untuk menghidu aroma tubuh Julia yang masih melekat. Aroma itu membawa segala kenangan indah, seketika rasa rindu pada Julia menyeruak menghujam hatinya begitu dalam.
"Kemana aku harus mencarimu?" Desis Septian putus.
***
Flashback
Pesawat yang ditumpangi Julia mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Dengan perasaan gamang dan langkah gemetar Julia mencari mushola Bandara. Hari sudah merangkak hampir tengah malam, ia berniat untuk istirahat di mushola sambil memikirkan kemana dan bagaimana ia akan melanjutkan hidup di tanah baru ini.
Julia lantas mengambil wudhu untuk menjamak sholatnya. Seusai melaksanakan kewajiban, Julia termenung menatap ke arah sajadah sambil mengingat apa yang telah ia lewati hari ini. Bahkan untuk menangis meratapi nasib pun ia sudah tak mampu.
Tubuhnya terlalu lelah dan perutnya terasa kembung karena melewatkan makan malam. Didorong rasa ingin pergi secepat mungkin ia tak sempat membeli makanan dan minuman selama perjalanan. Hanya semangat untuk pergi yang membuatnya kuat menjelajah melintasi pulau. Sejujurnya perutnya sudah kenyang karena terlalu banyak menelan kekecewaan.
Ditengah lamunan hati kecilnya menjerit.
"Aku berdosa ya Allah. Aku meninggalkan suamiku dalam keadaan marah. Jikalau aku mati malam ini, akankah ridho-nya hadir untukku?"
Julia bergidik ngeri membayangkan dosanya. Dan jika ia mati dalam pelarian ini bisa jadi ia akan dilempar ke neraka karena durhaka pada suami. Tapi apa boleh buat, harga dirinya tak sudi mengemis maaf dari Septian.
__ADS_1
Julia menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk membuang pikiran buruk.
"Aku sibuk memikirkan dosaku. Sedangkan suamiku entah sadar atau tidak telah berbuat dosa juga atasku. Aku tahu Engkau Maha Adil ya Allah!" Gumam Julia melipat tangannya di dada, kesal.
Suasana di mushola kosong, hanya dia satu-satunya jamaah yang tersisa. Udara juga begitu dingin mencekam. Dalam kondisi normal mungkin Julia akan takut harus tidur di tempat asing sendirian. Tapi kali ini ia sudah tak takut apapun lagi. Ketegangan yang ia rasakan selama perjalanan dari Yogyakarta ke Padang sudah membuat mentalnya terbangun kokoh. Lagipula ia sudah pasrah dan menyerahkan nasibnya pada Allah.
"Yang terjadi … terjadilah."
Julia membaringkan tubuhnya di pojok mushola dan mepet ke dinding. Karena udara begitu dingin menusuk tulang ia sengaja tidak melepas mukenanya. Ia menjadikan mukena sebagai pengganti selimut untuk mendekap tubuh lelahnya. Dengan beralaskan ransel sebagai bantal ia meringkuk memeluk lengan, mencoba memejamkan mata untuk sekejap.
***
Sayup-sayup suara langkah kaki membangunkan Julia dari tidur ayamnya. Matanya mengerjap cepat untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menyilaukan. Julia melirik arlojinya untuk memastikan waktu.
"Hmmmmmm … sudah hampir subuh." Gumam Julia sambil menggeliat. Seluruh sendi dan ototnya terasa kaku karena tidur di lantai keras. Meski kepalanya pusing karena kurang istirahat, Julia menguatkan diri untuk bangun.
Jamaah mushola yang telah hadir kebanyakan adalah staff dan pekerja di Bandara meliriknya dengan pandangan heran. Julia sadar, hanya sekali lihat orang-orang akan tahu kalau dia dalam kondisi menyedihkan, seperti orang linglung yang diabaikan.
***
Matahari merangkak naik, Julia menyeret kopernya menuju kantin Bandara untuk mengisi perut. Ia memilih sarapan dengan mie instan rebus dengan telur setengah matang. Ia juga memesan teh hangat dan sebotol air mineral untuk bekal perjalanan. Kehangatan mengisi lambungnya yang kosong, mendorong gas naik melewati kerongkongannya.
"Eeeeeeeeeghhhh!" Julia bersendawa besar sekali memecah kesunyian.
Ibu penjaga kantin melongok ke arahnya sambil tersenyum geli.
"Ups!" Julia menutup mulutnya yang kelepasan.
"Aduh bikin malu saja!" Gumam Julia menundukkan wajahnya sambil terus menyeruput kuah. Cepat-cepat ia menghabiskan mie instan-nya dengan lahap.
Usai sarapan Julia melanjutkan langkah untuk mencari counter ponsel. Ia memutuskan untuk mengganti nomor ponsel. Sebelum mengganti nomor Julia menghidupkan ponselnya yang ia matikan sejak kemarin malam. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Septian dan saudara-saudaranya. Julia menghela nafas berat untuk mengabaikan rasa bersalah di sudut hatinya.
__ADS_1
"Yang membuatku kepikiran adalah Si Mbok dan Bapak, mereka pasti sedih sekali." Desah Julia.
"Tapi untuk apa pula Mas Septian repot-repot menghubungiku. Bukankah kemarin aku telah diusir? Jangan bilang kamu menyesal. Kali ini aku tidak akan memaafkan dengan mudah." Gumam Julia memendam amarah.
Usai mengganti nomor ponsel Julia menimbang sejenak apa yang harus ia lakukan. Pikirannya masih melayang pada Si Mbok, rasanya ia tak tega jika Si Mbok mengkhawatirkan keadaannya. Dengan rasa enggan bergelayut di hati Julia mengirimkan pesan untuk mengabarkan kondisinya saat ini pada Septian.
Setelah SMS itu terkirim Julia membeli satu nomor SIM baru lagi untuk menghilangkan jejak. Kemudian ia bergegas keluar dari Bandara dan mencari ojek yang mangkal. Beruntung ia segera mendapatkannya. Ia meminta diantar ke loket bus yang akan membawanya menuju tanah leluhur, Bukittinggi.
Bukittinggi adalah tempat ayahnya dilahirkan. Namun seperti tradisi lelaki Minang pada umumnya, ayah menghabiskan masa muda dan hidupnya dengan merantau ke berbagai kota. Setelah memiliki anak ayah menetap di sebuah kota pinggiran daerah Jawa Barat hingga meninggal dan dimakamkan disana. Sebulan setelah ayahnya meninggal barulah Julia diboyong Ibunya untuk menetap di Pekanbaru.
Rasanya sudah lama sekali ia tak menjejakkan kaki kesana. Terakhir kali ia berkunjung ke Bukittinggi saat darmawisata SMA. Bahkan ia tak tahu lagi dimana rumah pusaka peninggalan leluhurnya. Yang ia tahu Bukittinggi yang bersuhu dingin akan menjadi tempat pelarian yang aman untuk menenangkan diri.
Jika ia nekad pulang ke Pekanbaru, terbayang sudah betapa sedih dan kecewanya hati Ibu. Ia tak mau memberi beban pada Ibunya. Ibu dan kakaknya tidak perlu tahu masalah dan keadaannya saat ini. Pulang ke Pekanbaru juga akan membuatnya amat sangat mudah ditemukan oleh Septian. Jika Septian berniat untuk untuk mencarinya.
Setelah menghabiskan dua jam melewati jalan berkelok dan curam akhirnya bus yang ia tumpangi tiba di Bukittinggi. Berbekal saran yang ditemukannya di mesin pencari, Julia melangkahkan kaki ke sebuah homestay syariah dengan tarif ekonomis yang cukup dekat dari jantung kota Bukittinggi.
Julia mendapatkan kamar yang luas berjendela besar dengan kamar mandi di dalam. Tanpa mengulur waktu ia bersegera mandi, menghapus segala kotoran yang melekat dari kemarin malam. Mandi memang obat lelah paling mujarab, tubuhnya seketika terasa ringan dan segar kembali.
Karena ia tidak ingin kemana-mana Julia memilih untuk mengenakan piyamanya dan merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Julia larut dalam kesendirian dan rasa nyaman. Rasa lelah tiba-tiba datang lagi. Membawa kantuk ke pelupuk mata hingga tanpa sadar ia telah jatuh ke alam mimpi.
***
Note :
Maaf jika author nulisnya sangat selow sungguh selow santai santai ~~~
Karena author tu tipe yang harus nulis dalam keadaan tenang, kalau sambil direcoki anak duh idenya terbang entah kemana. Hihi.
Kalau suka kisah ini, plis like, komen, vote seikhlasnya dan rekomendasikan ke teman atau sosmed-mu yaaaa. Terimakasih banyak dear readers 🙏🙏🙏
__ADS_1