CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Nadzor dan Khitbah


__ADS_3

Julia duduk di tepi kasur sambil mengamati Sarah yang sedang merias wajahnya dengan make up. Ia memulas wajahnya tipis-tipis agar terlihat natural. Meskipun begitu Sarah tetap terlihat cantik dan luar biasa. Gamis syar'i berwarna biru muda berhiaskan bordir bunga-bunga kecil bertabur mutiara membuatnya seperti Princess Elsa.


"Bagaimana sudah oke nggak aku?" Sarah nyengir memandang Julia lewat kaca.


"Banget, beautiful as always .… " Jawab Julia tulus dari lubuk hati yang terdalam.


Dari luar mereka mendengar suara mobil-mobil berdatangan memasuki halaman rumah Sarah yang luas. Julia dan Sarah mengintip dari jendela. Ada dua mobil yang datang, mobil pertama sepertinya Ikhwan yang akan menadzor Sarah ditemani oleh orangtua dan sosok Ustadz. Mobil kedua berisi kerabat dekat si Ikhwan, mungkin kakak adik si Ikhwan.


Ikhwan tersebut memakai kemeja panjang berwarna putih dan bercelana panjang  gantung di mata kaki berwarna krem. Ada jambang dan janggut tipis membingkai wajah putihnya. Rambut lurus yang disisir rapi ke arah belakang. Ikhwan itu terlihat tampan sangat sepadan berdampingan dengan Sarah yang cantik.


Papa dan Mama Sarah menyambut  mereka dan mempersilahkan masuk ke ruang tamu. Tante Sarah meminta Sarah untuk duduk di ruang tengah. Dengan sigap Tante Sarah menutup hijab antara ruang tamu dan ruang tengah.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," terdengar suara Papa Sarah membuka pertemuan.


Hadirin mendengarkan dengan seksama. Takut ada yang terlewat dari pertemuan penting ini.


"Nama saya adalah Ruslan, saya ayah kandung Sarah Fadhliati. Dan ini isteri saya, Zubaidah mamanya Sarah. Sungguh kehormatan besar bagi kami menerima kunjungan dari keluarga bapak. Akan tetapi keluarga kami juga ingin mengenal keluarga bapak. Sudilah bapak memperkenal kan diri." Papa Sarah terdengar tegas dan berwibawa.


"Walaikumsalaam warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan saya Ali Khairan dan ini istri saya Romlah. Dan yang ini adalah putra pertama saya, Hasan Saputro. Sedangkan beliau ini adalah Ustadz Abu Uwais, guru kami belajar mengaji. Insya Allah Ustadz Abu Uwais ini yang akan mendampingi, memastikan proses yang dijalankan anak saya sesuai dengan tuntunan syariat," Ayah si Ikhwan memperkenalkan diri dan keluarganya.


Sarah menunduk dan meremas jemarinya saat mendengar nama Hasan Saputro. Tampaknya Sarah sudah jatuh hati sebelum bertemu muka. Julia tertawa kecil melihat kegugupan Sarah.


"Adapun maksud kedatangan kami ke keluarga bapak adalah untuk suatu tujuan, yang baiknya saya serahkan pada tuan yang punya badan untuk menyampaikan maksudnya." Lanjut beliau memberi kesempatan pada Kak Hasan.


Hadirin segera memasang telinga, penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh kak Hasan.


"Baiklah Bapak Ibu semua tanpa bermaksud lancang. Sebelumnya saya dan Sarah berta'aruf melalui perantara seorang jamaah masjid tempat kami kajian. Dari biodata dan foto yang saya dapat, Alhamdulillah saya merasakan ada kecocokan dengan anak Bapak …. " Kak Hasan berhenti sejenak, mengambil nafas dan melanjutkan bicara.


"Bukan karena tampilan fisiknya, tapi karena kesamaan visi dan misi kami untuk membangun rumah tangga Islami. Kehadiran saya disini adalah untuk menadzhor. Atau melihat anak, putri tercinta dari bapak Ruslan. Walaupun tanpa saya lihat pun hati saya sudah mantap untuk memilih Sarah." Jelas Kak Hasan panjang lebar.


Hadirin yang mendengar kata-kata tegas dan lantang dari Kak Hasan mengangguk-angguk tanda puas. Sementara itu pipi Sarah bertambah merah.


"Baiklah saya mengerti maksud dan tujuan Nak Hasan dan keluarga, jadi selanjutnya saya perlu memanggil Sarah kemari Pak Ustadz?" tanya Papa Sarah.


"Boleh Pak, silahkan diperlihatkan kepada Nak Hasan," tutur Ustadz Abu Uwais.


"Ma ... tolong suruh Sarah kemari menghidang teh," bisik Papa Sarah pada istrinya.


Mama Sarah bangkit dan menyibak hijab sedikit, memerintahkan Sarah untuk ke ruang tamu mengantarkan teh kepada tamu.


Disinilah Julia baru mengerti dengan cara ini Sarah akan dilihat oleh calon suaminya. Tidak dilihat dengan cara dipajang seperti dalam khayalannya.

__ADS_1


Sarah berhati-hati membawa nampan berisi teko dan cangkir keramik berisi teh panas ke ruang tamu. Sementara Julia mengatur gamis Sarah agar tidak mengganggu saat berjalan. Julia membantu menyibak hijab agar Sarah leluasa berjalan ke ruang tamu.


Tangan Sarah sedikit gemetar saat menghidangkan teh, mungkin dia grogi. Julia terkikik kecil melihatnya.


Ustadz Abu Uwais menundukkan pandangan, beliau mengamati karpet saat Sarah datang. Sementara kak Hasan melempar curi-curi pandangan ke arah Sarah. Hanya Ayah dan Ibu kak Hasan yang dengan semangat menatap Sarah dari ujung kaki ke kepala lekat-lekat.


Hanya sebentar saja, tidak sampai satu menit Sarah sudah menyelesaikan tugasnya mengantar teh. Sarah segera kembali ke ruang tengah. Julia menutup hijab. Sarah menggenggam tangan Julia untuk meredakan cemas. Tangan Sarah putih pucat sedingin es.


"Gila, aku nervous banget. Tanganku sampai gemetar …. " Sarah berbisik pelan sekali ke telinga Julia.


Julia tersenyum geli dan mengelus punggung Sarah agar tenang.


"Silahkan diminum Bapak Ibu tehnya," Papa Sarah mempersilahkan.


Tamu-tamu menikmati hidangan dan teh yang terhidang. Ayah dan Ibu kak Hasan tampak manggut-manggut pertanda puas hati. Sementara kak Hasan terlihat gelisah, memutar-mutar cangkirnya.


"Jadi bagaimana Hasan?" Ustadz membuka percakapan.


"Masya Allah … seperti yang sudah saya katakan tadi Ustadz tampilan fisik bukan masalah untuk saya. Saya sudah mantap dari awal," ucap kak Hasan tegas tanpa ragu.


"Alhamdulillah … kami sebagai orang tua Sarah setuju-setuju saja. Saya sebagai Papanya bersyukur dengan keseriusan Nak Hasan. Tapi kami menyerahkan semua keputusan pada Sarah, karena ia sudah dewasa," jawab Papa Sarah penuh kewibawaan.


"Setelah ini proses apa yang harus dijalani pak Ustadz?" Tanya mama Sarah.


"Alhamdulillah," Mama Sarah tersenyum lega.


"Tanda seorang wanita setuju bisa ditunjukkan dengan diamnya. Karena ada beberapa wanita pemalu yang sulit menunjukkan isi hati. Tapi ibu bisa tanyakan kepada Sarah bagaimana kelanjutannya," jelas Ustadz sekali lagi.


"Apakah untuk lamaran harus dilakukan dipertemuan lain atau boleh sekaligus saat ini ya Ustadz?" tanya Kak Hasan.


"Tergantung kesepakatan keluarga, kalau menurut pak Ruslan. Apakah bapak bersedia anak bapak dilamar hari ini?" tanya Ustadz.


"Bagaimana Ma?" Pak Ruslan balik bertanya ke istrinya.


"Saya tidak tahu Pa … Kalau di adat saya acara lamaran harus disiapkan jauh-jauh hari Pak Ustadz. Saya harus undang keluarga besar, harus menghidangkan jamuan makan. Kalau dilamar hari ini saya takut dianggap tidak menjamu tamu dengan baik karena saya tidak menyiapkan apa-apa," jelas mama Sarah bingung.


"Masya Allah, mulia sekali niat ibu dalam menghormati tamu. Tapi dalam Islam menikah adalah urusan yang urgent dan mendesak. Apalagi di zaman penuh fitnah ini. Bukankah lebih cepat prosesnya, lebih baik. Islam agama yang mudah ibu," Ustadz menenangkan hati mama Sarah.


"Kalau begitu, saya tanya anak saya dulu ya Bapak Ibu … keputusan sebesar ini tidak bisa diputuskan sepihak oleh kami orangtuanya," Mama Sarah minta izin.


Sementara kak Hasan tampak meremas jemarinya dengan gelisah dan gugup.

__ADS_1


"Sarah, bagaimana ini si Hasan bertanya apakah kamu mau dilamar sekarang?" wajah Mama Sarah serius.


Mata Sarah membulat dan menghela nafas. Julia juga ikut merasakan ketegangan dan rasa gugup yang menyelimuti sahabatnya.


"InsyaAllah, Sarah mau Ma," jawab Sarah sungguh-sungguh.


"Baiklah kalau itu keputusanmu, insting mama berkata nak Hasan dan keluarganya orang baik-baik. Mama ridho dan ikhlas Sarah memilih dia."


"Terimakasih ma, sudah percaya pada pilihan Sarah," Sarah menatap Mamanya penuh kasih.


"Baiklah, Mama sampaikan dulu ke keluarga Hasan," beliau kembali menuju ruang tamu.


Semua tamu menunggu dalam hening, kak Hasan tampak harap-harap cemas.


"Alhamdulillah anak saya bersedia untuk dilamar Pak, Bu …. " Tutur Mama Sarah, melegakan hati semua hadirin yang datang.


"Alhamdulillah … " kompak semua tamu mengucapkan hamdalah, termasuk kak Hasan.


Kak Hasan mengeluarkan sebuah kotak beludru warna biru tua sebesar buku tulis dari dalam tas selempang yang dibawanya.


"Bapak ... Ibu ... dari jauh hari saya sudah mempersiapkan ini. Sebagai bukti keseriusan jika bertemu dengan perempuan yang akan saya nikahi. Ini bukan mahar, tapi ini wujud penghargaan saya terhadap calon istri saya. Mohon jangan dilihat dari nilainya. InsyaAllah saya akan mencukupi kebutuhan Sarah kelak. Semoga Sarah berkenan." Kak Hasan meletakkan kotak itu di hadapan orangtua Sarah.


"Masya Allah, terimakasih ya nak Hasan. Telah menghargai anak saya sedemikian baiknya. Orang tuamu telah mendidik dan membesarkan dengan baik." suara Papa Sarah bergetar karena haru.


"Terimakasih pujiannya Pak, semua ini atas petunjuk Allah. Saya dan Ibunya Hasan hanya mendidik dia sesuai perintah agama. Semua atas kehendak Allah," ujar Ayah Kak Hasan bijak.


"Untuk biaya mahar, seserahan dan pelaksanaan walimah, mohon beritahu saya pak. Insya Allah saya akan mengusahakannya," ucap Kak Hasan mantap.


"Kalau urusan mahar dan seserahan, baiknya Nak Hasan yang langsung tanyakan ke Sarah. Apa maunya dia. Kalau untuk biaya walimah, karena ini adalah majelis dua keluarga. Saya rasa biaya walimah kita bagi dua agar tidak memberatkan keluarga Nak Hasan," tawar Papa Sarah.


"Baiklah Pak, kami ikut saja keputusan Bapak. Yang penting anak kita sudah sama-sama setuju," Ayah kak Hasan tampak puas.


"Mah, tolong berikan hadiah ini pada Sarah .… " Papa Sarah meletakkan kotak biru tua ke tangan istrinya.


Mama Sarah kembali masuk ke ruang tengah, beliau memeluk dan mencium pipi Sarah berulang-ulang. Rona bahagia memancar dari keduanya. Sarah membuka kotak biru tua tersebut, berisikan sebuah kalung dan giwang emas bertahtakan permata berkilauan. Sarah membisikkan hamdalah berulang-ulang. Julia pun takjub dengan keindahan perhiasan itu.


"Sepertinya kita sudah bisa menentukan tanggal pernikahan, lebih cepat lebih baik!" Ustadz Abu Uwais tersenyum lega.


Orangtua Sarah sibuk mengambil kalender, berdiskusi ini dan itu untuk persiapan pernikahan. Sementara itu Sarah memeluk Julia begitu erat seakan ingin menularkan bahagia yang ia rasakan.


Dari luar terdengar ucapan hamdalah berkali-kali, sepertinya keputusan sudah final.

__ADS_1


"Alhamdulillah, pernikahannya akan dilangsungkan bulan depan. Tiga minggu dari sekarang!" ucap Mama Sarah berbinar-binar dari balik tabir.


Air mata Sarah mengalir jatuh membasahi kerudung biru muda-nya, air mata bahagia. Sang putri akan segera dijemput pangerannya.


__ADS_2