
Jika rumah biasanya adalah surga, tempat istirahat yang paling nyaman. Kali ini semua terasa amat berbeda. Suasana di rumah terasa bagai neraka untuk Julia.
Malam terasa panjang dan mencekam. Hening yang memuakkan. Hanya isak tangis Julia sebagai pertanda ada kehidupan.
Julia memeluk kedua lututnya. Entah berapa banyak gulungan tisu berserakan di lantai. Diantara deraian air mata ia menepuk-nepuk pundaknya sendiri. Mencoba menguatkan diri.
"Semangat kamu bisa melalui ini. Semangat!" Julia bicara sendiri.
Julia mengambil sehelai tisu lagi, mengusap air mata yang menetes dan cairan bening yang menyumbat hidungnya. Meski dadanya sesak dan masih sesenggukan ia menyibak rambut yang berjatuhan di dahinya.
Julia bangkit menuju cermin rias. Ia menatap sosok kurus pucat pasi di pantulan cermin. Mata bengkak, hidung merah, wajah yang sembab. Rambut yang berantakan tak beraturan. Betapa menyedihkannya sosok itu.
Sekelebat bayangan Septian yang penuh amarah memukul dinding dan menyudutkannya membuat ketegarannya kembali runtuh.
Air matanya tumpah lagi. Betapa dalam waktu sekejap cinta bisa berubah jadi benci. Ia benci pada Septian yang bahkan tidak bertanya bagaimana perasaannya, bagaimana bingung dan kalutnya ia menghadapi masalah yang menghantamnya tiba-tiba.
"Teganya kamu menyuruhku menyelesaikan semua ini sendiri Mas. Dari mana aku harus melakukannya?" Julia terisak.
Ia marah pada skenario hidupnya. Kenapa kebahagiaan dalam pernikahan ini hanya sebentar saja. Tak cukupkah ia diuji dengan kehilangan calon buah hati?
"Ibu … Julia rindu Ibu. Ibu tolong peluk aku."
Ia menjatuhkan diri ke ranjang , telungkup membenamkan wajahnya ke bantal. Ia bungkus tubuhnya dengan selimut rapat, berharap tak ada sedikitpun celah udara masuk.
"Aaaaaaaaarrrghhhhhh!"
Ia menjerit sekuat tenaga. Mengeluarkan segala kemarahan lewat paru-parunya yang sesak, ia lontarkan sebentuk keputusasaan dalam diri.
Julia terus menjerit hingga seluruh energinya terkuras habis. Dengan lunglai ia lepaskan bantal yang menutup wajahnya, selimut yang menyelubungi dirinya.
"Astaghfirullah hal adziiim." Julia diam termangu.
"Ya Allah … Ya Allah. Tolonglah aku, dekaplah aku disaat ia meninggalkan aku. Berilah aku kekuatan saat ia membuatku lemah. Berilah aku kesabaran saat dunia bersikap keji padaku, menggesek hatiku hingga berdarah." Pinta Julia dengan nafas tersengal-sengal.
"Apa yang akan terjadi pada kita berdua Mas. Tidak bisakah kamu memaafkan kesalahanku. Tidak bisakah kamu peduli sedikit saja."
Air matanya kembali meleleh. Meskipun tubuhnya teramat lelah, ia tak yakin bisa memejamkan mata malam ini.
***
__ADS_1
Jemari Septian bergerak mengetik kode-kode di keyboard laptopnya dengan kasar. Ia menyalurkan amarahnya dengan kembali bekerja. Otaknya terasa mendidih setiap kali mengingat kesalahan Julia.
Septian terus bicara dengan dirinya sendiri. Ia merasa benar-benar gila malam ini.
"Seekor cicak mati dalam kue? Bagaimana bisa kau kecolongan. Teledor sekali!"
"Bahkan karyawan sakit TBC kau tidak tahu? Apa saja yang kau kerjakan disana Julia!"
"Sudah kubilang tak perlu susah payah memproduksi barang sendiri. Pakai jasa orang lain untuk memasok produk. Tapi kau gila dengan branding-mu. Kau gila dengan ide-ide visioner-mu. Tapi kau sendiri tak becus mengelolanya!"
"Lihatlah bagaimana ambisimu malah menghancurkanmu. Bukan hanya dirimu saja, kamu juga merusak nama baik keluargaku."
"Kehilangan uang ratusan juta untuk sebuah kesalahan memang sakit. Tapi buatku bukan masalah besar. Aku bisa mencarinya lagi. Tak sulit bagiku mengumpulkan uang. Tapi reputasi keluargaku yang telah hancur, bagaimana kau akan mengembalikannya!"
"Arrrghhh!" Septian menutup laptopnya dengan keras.
Ia bangkit tiba-tiba dari kursi dengan kasar hingga kursi itu terbalik menghantam lantai. Septian menghempaskan tubuhnya ke karpet di lantai. Tangannya mengepal kencang di atas kepala.
Jantungnya berdegup menghentak seakan minta keluar dari rongga dada. Rasanya ia ingin menghancurkan sesuatu untuk menyalurkan semua energi negatif yang terkumpul di dirinya.
"Bagaimana caraku memaafkan kekacauan yang kau ciptakan Julia?" Desah Septian.
Nalurinya ingin memeluk dan membenamkan wajah Julia di dadanya. Menghirup aroma lembut rambut Julia bisa menjadi obat penenang untuknya. Tapi kali ini sakit hati yang bercokol di dada membuatnya abai.
"Teruslah menangis kalau itu bisa membuatmu lega." Jemari Septian membelai dinding pembatas antar kamar.
"Jauh lebih mudah bagi kita untuk saling menjauh sesaat. Aku tidak yakin bisa mengendalikan kemarahanku jika ada didekatmu. Aku takut melukai fisikmu duhai juitaku."
Septian menutup matanya membayangkan hari-hari bahagia yang terlewati bersama Julia. Semua begitu indah dan manis. Semua berjalan sesuai dengan yang ia harapkan.
"Aku telah gagal. Aku telah menyakitimu. Kau gagal menjaga kepercayaanku. Apa yang harus kita lakukan setelah ini?"
"Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya?"
Ia mencoba untuk tidur, namun semua itu sia-sia. Hatinya yang gelisah terus terjaga.
***
Tepat setelah azan berkumandang Julia bergerak untuk menunaikan sholat subuhnya. Kepalanya berdenyut nyeri karena belum tidur sama sekali. Tubuhnya juga menghangat seperti demam.
__ADS_1
Ia ingin membangunkan Septian untuk sholat subuh. Ia lihat lampu ruang kerja Septian masih menyala, ia yakin suaminya tak akan lupa mengerjakan kewajibannya. Julia urung mengetuk pintu itu. Ia biarkan Septian memberi jarak pada hubungan mereka.
Usai sholat subuh, Julia menghubungi Riska untuk menjemputnya ke toko pukul delapan pagi. Ia merasa tak kuat untuk berkendara sendirian menuju toko. Julia bertekad untuk menghadapi masalah ini dengan berani.
Sebelum berangkat, Julia menyempatkan diri untuk memasak nasi goreng dan telur ceplok untuk sarapan. Ia letakkan sepiring nasi goreng dan secangkir teh untuk Septian di bawah tudung saji.
Sengaja ia siapkan satu buah termos berisi kopi susu panas untuk asupan kafein agar darah mengalir kencang ke otaknya, untuk menghilangkan kantuk yang mendera akibat tidak tidur sepanjang malam.
Riska datang kurang dari setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Julia hanya memakai gamis dan khimar instan bahan kaos yang terjulur hingga menutupi tangan. Ia melapisi tubuh dengan jaket dan bergegas keluar. Tak lupa ia membawa tas ransel.
Diliriknya ruang kerja Septian yang telah padam lampunya. Julia menarik napas dalam, ia harus meminta izin pada suaminya sebelum melangkah keluar rumah.
Tok tok tok!
Julia mengetuk pintu. Ditunggunya beberapa saat. Tak ada jawaban.
"Mas, aku minta izin pergi ke toko dulu. Jangan lupa sarapan." Ucap Julia.
"Bicaralah padaku Mas, marah pun tak apa. Aku tahu ini salahku." Julia terbata-bata.
Pintu ruang kerja Septian tetap tertutup, tak ada suara sedikitpun seakan tanpa penghuni. Julia menghapus setitik air matanya. Ia merasa lebih baik pergi dan memberi waktu pada Septian untuk menyendiri.
"Assalamualaikum …. " Ucap Julia sebelum benar-benar pergi.
Ia sengaja melangkah pelan-pelan, berharap Septian melunak, mau keluar dari ruang kerjanya. Ia berharap Septian menjawab salam dan mengizinkannya mencium punggung tangan seperti hari biasanya.
Semenit dua menit, pintu itu tetap tertutup. Julia begitu sakit hati dan putus asa. Seandainya ia tidak serumah dengan mertua, ia ingin sekali memukul pintu itu, menggedornya. Memaksa Septian untuk keluar dan berkonfrontasi langsung.
Julia masih mematung menatap pintu yang menghalangi mereka berdua.
"Jika kamu membuka pintu dan bicara padaku. Maka aku akan memaafkan perbuatan kasarmu padaku tadi malam." Batin Julia.
"Tapi jika kamu terus menutup pintu hingga aku pergi. Maka kuanggap itu sebagai sebuah pernyataan bahwa aku bukanlah orang yang penting untukmu. Dan ... aku juga bisa melakukan hal yang sama. Tak peduli padamu lagi." Gumam Julia berat.
Drrrrrt drrrrt drrrrt!
Ponsel Julia bergetar. Panggilan masuk dari Riska, mungkin mengingatkan bahwa ia telah menunggu di bawah cukup lama.
Julia sadar ia harus segera pergi. Ia tegakkan bahunya. Dengan langkah tegas ia menuruni tangga.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak akan peduli lagi padamu Mas."