CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Kata Sambutan


__ADS_3

...**Aku sedang belajar menguatkan hati agar kelak jika kita dipertemukan kembali tidak ada lagi air mata dan rasa sesak di dada....


...- Unknown**....


***


Pagi itu ruang produksi toko disulap menjadi ruang pertemuan darurat, penuh dengan karyawan harian yang telah mendaftar ulang untuk kembali bekerja. Mereka duduk berjajar di kursi plastik yang telah disiapkan. Septian dan Riska hadir mengundang mereka untuk makan siang bersama.


Suara derap langkah Septian yang beralaskan sepatu pantofel menarik minat karyawan untuk menolehkan kepala menunggu sosok owner yang selama ini jarang terlihat kehadirannya.


Septian memasuki ruang produksi dengan sedikit canggung. Sudah nasibnya menjadi seorang introvert, ia tidak pernah bisa nyaman dalam suasana ramai. Ditambah lagi dengan sorot puluhan pasang mata yang sedang menantinya. Hatinya diliputi rasa gugup yang menyebalkan. Namun ia berhasil menutupinya dengan memasang wajah serius.


Mata karyawan menatap Septian dengan pandangan mengagumi. Septian hari itu memang terlihat begitu gagah dengan kemeja lengan panjang biru tua yang digulung hingga ke siku. Celana panjang hitam yang menggantung hingga ke mata kaki malah memberi kesan stylish. Rambutnya disisir rapi ke arah belakang. Menonjolkan wajahnya yang tegas berhiaskan surai tebal yang menutupi dagu dan rahang.


Septian berdiri di depan semua karyawannya dan memulai memberi kata sambutan. Ia melempar senyum tipis untuk memecah ketegangan.


"Assalamualaikum. Terima kasih atas kesediaan ibu-ibu untuk hadir dan kembali bergabung mendukung saya. Seperti yang ibu-ibu tahu toko sempat tutup hampir sebulan ini karena ada beberapa masalah. Perihal penyebabnya … Saya rasa sedikit banyak ibu-ibu sudah mengetahuinya."


Ibu-ibu saling melempar pandangan dan berbisik-bisik. Mereka tahu benar gosip yang beredar. Termasuk Julia yang menghilang entah kemana.


"Saya amat sangat bersyukur, toko kita ini dari segi produksi dan penjualannya tergolong sangat bagus untuk usaha yang baru berdiri. Namun, ada dua kejadian yang membuat toko ini terpaksa tutup sementara. Pertama, pelanggan komplain karena menemukan bangkai cicak dalam kue. Kedua, pelanggan menyebar hoax di media sosial yang membuat seolah-olah toko kita mempekerjakan karyawan yang sakit TBC."


Septian menghela nafas berat dan menatap ke arah mata karyawannya yang menunggu kelanjutan kalimatnya.


"Tuduhan karyawan sakit TBC itu tidak benar. Karena saya sudah mengantongi bukti dan hasil tesnya dari rumah sakit."


Septian mengangkat kertas yang berisi surat keterangan dari Rumah Sakit dengan sebelah tangannya.


"Alhamdulillah …. " Desis ibu-ibu mengucapkan hamdalah. Sebuah rasa lega hadir, kini mereka tidak lagi bekerja dengan rasa ragu dan was-was akan tertular penyakit berbahaya.


Septian menunggu hingga suasana tenang dan kembali melanjutkan arahan.

__ADS_1


"Nah, sekarang saya ingin memberi pengarahan. Saya mohon ibu-ibu bekerja dengan penuh integritas. Kebersihan dan ketelitian harus diutamakan. Saya harap kasus kue berisi bangaki cicak cukuplah terjadi untuk pertama dan terakhir kalinya. Toko ini milik kita bersama dibangun atas asas kekeluargaan. Mari kita saling menjaga dan mendukung. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Apa ada ibu-ibu disini yang ingin memberi masukan?"


Septian mengedarkan pandangannya ke arah ibu-ibu.


Seorang wanita paruh baya mengangkat tangannya ragu-ragu. Septian mengenal sosok itu.


"Ya silahkan Bu Jum …. " Ucap Septian memberi kesempatan.


"Mmmm … anu. Saya minta untuk kedepannya yang boleh keluar masuk area produksi hanya karyawan saja. Jangan ada dari orang luar. Karena bisa jadi masalah kue cicak itu bukan berasal dari karyawan tapi disebabkan dari orang luar. Karena kalau karyawan ... saya yakin semua bekerja sesuai standar. Jadi kecil kemungkinannya untuk melakukan kesalahan separah itu." Ujar Bu Jum secara tidak langsung mengeluarkan isi hatinya yang telah lama tertahan. Ia meremas ujung kaosnya gelisah.


"Terima kasih masukannya Bu Jum. Usulan yang sangat berharga, hal itu memang sudah saya pertimbangkan. Mulai besok ruang produksi hanya boleh dimasuki oleh karyawan, saya dan Bu Riska saja untuk mengawasi. Sebenarnya saya tidak yakin kasus kue cicak itu disebabkan oleh kelalaian karyawan. Tapi saya juga tidak berani menuduh pihak manapun sebagai dalang masalah ini. Jadi saya anggap ini memang ujian naik kelas untuk usaha kita." Jelas Septian.


"Ada lagi yang ingin menyampaikan masukannya?" Septian kembali mengedarkan pandangan.


Bu Wati dengan semangat mengangkat tangannya. Septian mengangguk sambil tersenyum mempersilahkan.


"Sebenarnya saya mau bertanya Pak. Karena saya penasaran dan tidak baik kalau membicarakannya di belakang. Bu Julia kemana ya Pak? Jujur saya sangat senang bekerja dibawah arahan Bu Julia. Beliau sangat mengayomi dan mau menerima uneg-uneg dari kami. Saya harap kedepannya arahan dari Bapak sama baiknya seperti Bu Julia."


Septian berdehem dan memandangi ujung sepatunya sejenak. Ia menyusun kalimat yang enak didengar dan tidak terlalu mengungkap urusan privasi-nya.


"Saat ini Bu Julia sedang beristirahat. Masalah yang menimpa toko membuatnya sedikit tertekan. Karena itu ia rehat dari urusan bisnis untuk sementara. Insya Allah dibawah bantuan Bu Riska kita bisa menjalankan toko sama baiknya dengan Bu Julia." Jawab Septian diplomatis.


Ibu-ibu saling berpandangan dan berbisik.


"Kasihan ya … Padahal bukan salahnya Bu Julia. Sampai stress …. " Gumam mereka.


Septian menjadi gelisah dengan suara dengungan dan tatapan mata karyawannya yang mengasihaninya. Ia tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan itu. Ia ingin segera menyudahinya.


"Baiklah karena hari sudah semakin siang. Saya akhiri kata sambutan dari saya. Selanjutnya saya serahkan pada Bu Riska. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya. Wassalam."


Septian bergegas meninggalkan ruangan dan memberi kode pada Riska agar karyawan segera diarahkan untuk makan siang bersama. Sementara ia melarikan diri sejenak dari keramaian. Septian menuju lantai dua, ruang kerja Julia.

__ADS_1


Riska mengambil tempat Septian dan memberi arahan selanjutnya.


"Sudah siang ibu-ibu, ayo silahkan dinikmati hidangannya. Makan yang banyak karena mulai besok kita akan bekerja dengan giat."


Ucapan itu disambut suka cita oleh ibu-ibu. Dengan semangat mereka bergerak menuju meja prasmanan tempat aneka lauk-pauk dan sayur terhidang.


***


Septian duduk di kursi milik Julia. Ia menatap meja kerja yang berlapis kaca, ada seulas debu terhampar disana. Pertanda meja kerja itu sudah tak tersentuh untuk beberapa lama. Septian menyandarkan punggungnya dengan segenap rasa gundah di dada.


"Aku mengecilkan kerja kerasmu. Aku mengabaikan perjuanganmu. Orang lain bisa melihat kebaikanmu, sementara aku menilaimu dari sisi terburukmu. Kali ini aku merasa pantas ditinggalkan. Tapi bagaimanapun kamu masih isteriku. Maka aku masih layak untuk mengharapkanmu kembali. Aku ingin memperbaiki segalanya."


Septian memutar kursinya menghadap ke arah jendela memandangi jalan raya. Ia malah mendapatkan pemandangan pahit. Banyak pasangan tua dan muda berboncengan berdua diatas sepeda motor. Hatinya terasa ngilu bercampur rasa iri.


Dulu ia juga pernah bahagia seperti itu. Dulu ia juga merasakan getaran-getaran indah saat Julia melingkarkan pelukan di pinggangnya. Dulu ia juga pernah merasakan sentuhan lembut seorang wanita. Dulu ia pernah sedekat itu dengan kekasih yang ia cintai.


Kini ia begitu hampa dan merana. Ia ingin memecahkan teka-teki keberadaan Julia. Tapi tak satupun petunjuk ia dapati. Apalagi Julia dengan tega tidak memberi kabar apapun lagi. Dari mana ia harus mulai mencari keberadaan sang Juita hati.


Ia sudah mulai tak sabar. Rasa marah karena diabaikan Julia mulai bertunas memberi rasa meriang yang membuat hidupnya tak nyaman. Ditambah lagi rindu yang menggerogoti hati mulai menjalar ke anggota tubuh yang lain. Menebar sakit dan nestapa. Makan tak nikmat, tidur tak lelap. Sedikit sentilan saja mungkin bisa membuatnya jatuh terpuruk.


"Aku pikir aku jahat, ternyata ia sama kejamnya seperti aku. Ia menyiksa aku sampai sesakit ini. Memang pantas kita berjodoh. Karena kita amat lihai saling menyakiti!" Bisik Septian meremas dadanya dengan geram.


Note :


Dear readers. Maaf sekali baru up ceritanya. Saya benar-benar sedang sibuk dengan urusan keluarga sebulan ini hingga tidak sempat melirik handphone. Lirik sih, tapi sekedar untuk balas WhatsApp saja.


Maaf kalau merasa dianggurin. Saya tidak bermaksud begitu. Doakan saya bisa ngebut nulis kelanjutannya ya.


Untuk rekan sesama Author, maaf belum sempat mampir ke novel kalian. Insya Allah aku akan datang menebar jempol untuk mendukungmu kalian.


Terima kasih pengertiannya. Luv!

__ADS_1


__ADS_2