CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Kejutan Untuk Septian


__ADS_3

"Percayalah padaku dek. Tidak ada yang kusembunyikan. Bu Kades hanya mengada-ada. Aku saja nggak habis pikir dia ngomong begitu ke kamu."


Septian membujuk Julia yang masih marah dengan ucapan Bu Kades saat acara ngunduh mantu. Julia bukan tipe wanita yang pandai menyembunyikan rasa di dalam hati. Setelah acara berakhir Julia langsung minta penjelasan dari suaminya. Bagaimana peristiwa sebenarnya sampai Bu Kades berani mengusik ketenangan hidupnya.


"Ada ya orang kayak gitu? Heran aku!" Gerutu Julia menghempaskan bokong ke kasur.


"Sabarlah, di dunia ini ada banyak jenis manusia yang ajaib kelakuannya. Jangan terpengaruh." Septian menyusul duduk ke kasur dan memeluk Julia dari belakang.


"Pokoknya kalau si Dian dan Bu Kades berani macam-macam. Aku datangi mereka. Aku buat perhitungan kalau perlu kutatar tiga hari tiga malam!" Julia menggeram hatinya masih meradang.


Septian mengelus-elus pundak istrinya yang sedang cemburu. Ia pun bingung bagaimana membujuk Julia agar kembali ceria. Selama ini Julia terlihat kalem dan sabar. Gara-gara masalah ini keluar sifat keras kepala istrinya. Ia senyum-senyum sendiri mengamati bibir Julia yang terus mengomel ceriwis.


"Biarlah … cemburu tanda cinta. Ku nikmati saja dulu marah-marahnya. Anggap saja bumbu pernikahan."


Septian membatin sambil mengangguk-angguk manut mendengarkan omelan istrinya yang terbakar emosi.


"Awas aja pokoknya!" Desis Julia lagi.


"Sudah lah marah-marahnya. Mas yakin mereka tidak akan berbuat aneh-aneh. Mereka orang terpandang di desa ini. Nggak mungkin lah! Sekarang ayo kita kelonan!" Bujuk Septian merebahkan Julia ke kasur.


"Mas ini … Aku marah dan sedih lho diperlakukan seperti itu!" rengek Julia.


"Iya Mas paham dek. Tapi ya sudahlah tidak usah diperpanjang. Benahi saja hati kita, jangan sampai pahala kita hangus karena ngomongin Bu Kades dan Dian. Anggap aja mereka khilaf." Septian menasehati.


Julia refleks menghentikan ghibahnya, ia tahu suaminya benar. Walaupun ghibah itu enak buat menyalurkan emosi tapi kan sayang kalau pahalanya di transfer ke Bu Kades dan Dian.


"Iya maaf, aku kebawa perasaan. Efek mau mens kayaknya." Sahut Julia merebahkan diri ke kasur.


"Yaaah kok mens sih, aku kan belum dikasih jatah!" Septian cemberut.


"Belum … belum mens. Mungkin bentar lagi." Julia mengecek kalender menstruasi dari ponselnya.


Septian meletakkan tangannya di perut Julia, mengelus-elusnya lembut.


"Jadi penasaran pengen lihat perut ini buncit hamil anakku."


"Aku juga. Hamil rasanya kayak apa ya? Ngomong-ngomong kamu mau punya anak berapa Mas?" Julia turut mengelus perutnya yang lepes.


"Maunya sih tiga."


"Kenapa tiga?"


"Nggak tahu, suka aja membayangkan punya tiga anak. Dua terlalu sedikit, lima kebanyakan. Kasihan kamunya nanti capek ngurus anak."

__ADS_1


"Hihihihi. Moga Allah segera kasih kita rezeki anak ya Mas."


"Emang adek nggak pengen pacaran dulu? Buru-buru amat pengen punya anak."


"Aku sih tidak mau menunda. Terserah Allah aja. Semua yang ditakdirkan Allah pasti baik."


"Pintar kamu. Udah ah ngobrolnya, Mas mau main nih takut kamu besok mens!"


Septian menerjang dan menarik kaos Julia hingga kulit di sekitar perutnya yang mulus terekspos. Septian dengan nakal menggelitiki pinggang Julia. Sementara itu Julia menggeliat menahan rasa geli.


"Ampun! Jangan mas geli!" Julia cekikikan.


"Nggak ada ampun. Rasakan nih … nih!" Septian terus mencolek-colek pinggang istrinya.


Julia dan Septian tertawa bersama menikmati momen bercanda mesra. Lama kelamaan deraian tawa berubah menjadi erangan halus. Mereka sudah melayang ke surga dunia, tak menjejak bumi.


***


Dian masih tertelungkup di kasur merana meratapi pernikahan Septian. Ditatapnya foto profil Septian di sebuah sosial media. Walau hanya gambar siluet cukup baginya untuk melepas rindu.


"Awalnya aku tertarik denganmu atas dasar materi. Tapi setelah melihat kesopananmu, kesholehanmu, tatapanmu yang penuh cinta saat bersanding dengan Julia. Aku juga ingin memiliki kebahagiaan yang sama."


"Andai saja dulu aku tidak semudah itu melepaskanmu. Andai saja dulu aku bisa meyakinkanmu untuk menerima perjodohan kita."


Dian berbaring di kasur dan memeluk bantal gulingnya erat-erat membayangkan jika benda itu adalah Septian.


"Aku ingin merasakan dicintai dengan tulus."


"Kenapa dia memilih wanita yang nggak jelas asal usulnya."


"Aku ingin merasakan dekapan tubuhnya yang tegap. Aku ingin sentuhannya. Pria yang kalem seperti dia pasti sangat berbeda sensasinya."


"Ya Allah dosakah aku mencintai suami orang?"


Dian sibuk berbicara sendiri. Agaknya kewarasannya berkurang karena mabuk cinta. Kembali ia membenamkan kepalanya ke bantal. Sedih, marah, rindu, kasih tak sampai menghajar batinnya yang lemah.


"Dua puluh empat September adalah hari kelahiranmu. Aku akan memberimu hadiah yang sulit untuk kamu lupakan. Meskipun ini akan sedikit gila, setidaknya aku harus mencobanya sekali saja. Agar aku tahu apakah kamu memang tidak punya rasa sama sekali padaku." Dian membatin.


Dian tak sabar menunggu tanggal itu tiba. Dalam otaknya ia sudah mengatur sebuah rencana. Apakah Septian sealim yang ia bayangkan? Apakah Septian mampu melawan godaan darinya.


Dian tertawa nyaring membayangkan apa yang akan terjadi. Puas dilepaskannya beban yang menumpuk di hati. Ditariknya selimut dan dipeluknya bantal guling lebih erat. Ia ingin segera tidur dan bertemu Septian dalam khayalan.


***

__ADS_1


"Pakeeeeeet!"


Teriak kurir jasa pengiriman di siang bolong dari luar pagar. Mbok Par tergopoh-gopoh keluar untuk menerima paket tersebut.


"Titip ya Bu untuk Septian Syaifullah." Kata kurir.


"Baik, beliau anak majikan saya. Nanti saya sampaikan." Jawab Mbok Par sambil menandatangani bukti tanda terima.


Kurir pamit dan Mbok Par langsung naik ke lantai dua mengantar paket untuk Septian. Ia letakkan dua buah paket misterius di atas meja ruang tamu. Mbok Par mengetuk ruang kerja Septian untuk memberi tahu.


Tok … tok … tok!


"Eh ada apa Mbok?" Septian mengalihkan perhatiannya dari layar monitor.


"Ada paket mas, saya letak di meja depan TV."


"Baik Mbok, makasih ya." Septian beranjak untuk mengambil paket tersebut.


Mbok Par langsung turun ke lantai bawah setelah menyampaikan amanah.


"Dari siapa ya? Perasaan aku nggak ada belanja online …. " Gumamnya dalam hati.


Diambilnya dua paket itu untuk dibawa ke ruang kerjanya. Tanpa menunggu waktu diraihnya gunting untuk membuka paket pertama berbentuk kotak berukuran besar.


"Kue tart … Lho kok tahu sekarang hari lahirku." Septian semakin heran menatap kue tart coklat bertuliskan "Happy birthday Mas Septian terlove."


"Ini dari siapa sih? Apa Julia yang ngirim buat surprise. Tapi dia kan tau aku nggak ngerayain ulang tahun." Alisnya berkerut semakin heran.


Segera dibukanya kotak paket kedua. Perasaannya semakin tidak enak saat melihat isinya. Sekotak celana dalam pria model brief dan satu set singlet pria. Apa maksudnya?


Dadanya serasa dihantam batu saking kagetnya saat melihat secarik foto gadis cantik yang dikenalnya berpakaian seksi dengan pose melempar ciuman jarak jauh. Buru-buru dibaliknya foto itu agar tak lagi terlihat. Tangannya gemetar saat mengambil secarik kertas bercap lipstik merah yang berisi pesan bertuliskan tangan.


*Selamat ulang tahun Mas Septian. Semoga suka hadiahnya. Aku rasa bakalan cocok dan pas sekali di tubuh Mas. Seperti yang selalu aku bayangkan. Aku minta maaf atas kelancanganku. Tapi aku benar-benar mencintai Mas. Setulus hatiku. Aku menyesal tidak ikut kamu merantau ke Sumatera. Aku larut dalam kebodohan dan ketakutan. Maafkan aku yang belum dewasa.


Mas, tahukah kamu aku menanggung derita memikirkanmu siang-malam. Hatiku cemburu membayangkan kamu memadu kasih bersama Mbak Julia. Jika Mas mau memberiku kesempatan. Temui aku. Aku rela jadi istrimu yang kedua. Aku yakin orang tuaku akan setuju dan mereka pasti membantu untuk merahasiakan hubungan kita dari Mbak Julia.


P.s


Ini rahasia kita berdua.


Dari : Dian Ayuningtyas


0813 xxxx xxxx*

__ADS_1


"Sinting!" Desis Septian geram meremuk surat itu dengan kepalan tangannya.


__ADS_2