CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Selamat Datang!


__ADS_3

"Dek bangun, sebentar lagi kita mendarat," Septian mengguncang pelan tubuh Julia.


Julia mengerjapkan mata, kesadarannya belum kembali penuh. Ia tertidur selama perjalanan. Sejenak ia menggeliat untuk melemaskan otot yang kaku. Setelah rasa kantuknya hilang, ia memandang keluar jendela pesawat. Julia tersenyum melihat hamparan awan putih yang bergulung-gulung lembut. 


"Selamat datang di langit Jogja," Julia berbisik pada dirinya sendiri.


Mereka menjejak Bandara Internasional Yogyakarta pukul setengah lima sore. Setelah mengambil koper dan barang-barang, Septian sibuk membalas pesan lewat ponselnya.


"Yuk, lewat sini. Bapak sudah menunggu  di luar," Septian mengarahkan Julia.


Tidak sulit menemukan sosok Bapak yang kurus tinggi. Beliau memakai kemeja batik dan berkopiah. Bapak ditemani kakak tertua Septian -- Mas Kuncoro. Senyum Bapak mengembang lebar menyambut anak ragil dan menantunya. 


"Bagaimana perjalanannya nduk, capek?" tanya Bapak sigap mengambil kardus yang ditenteng Julia.


"Lumayan pak," Julia mengangguk sopan.


Mas Kuncoro tipe orang yang pemalu. Ia hanya melempar senyum pada Julia sebagai ucapan selamat datang. Dengan sigap Mas Kuncoro membantu Septian mengangkat barang bawaan dan memasukkannya ke dalam mobil. 


Perjalanan dari Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo menuju desa tempat tinggal Septian memakan waktu sekitar sejam lebih. Mas Kuncoro mengendarai mobil dengan santai. Sesekali mereka ngobrol dengan bahasa Jawa. Sepanjang jalan Julia menikmati pemandangan sawah yang membentang luas.


"Selamat datang di desa Timbulharjo Kabupaten Bantul!" seru Bapak bangga.


"Oh sudah sampai … " batin Julia.


Tak lama mobil memasuki daerah pemukiman warga dan berhenti di sebuah rumah besar berlantai dua, berpagar ukiran besi tinggi, berhalaman paving block. Ada taman dan kolam ikan kecil di bagian samping rumah. 


Di garasi terdapat dua buah mobil, satu mobil jenis SUV berwarna hitam dan satu mobil pick up. Semua orang bisa menebak kalau si empunya rumah adalah orang yang makmur. Julia terperangah melihat rumah yang menurutnya sangat luas itu. Tapi ia menahan di agar tidak bersikap norak.


Julia tidak menyangka kalau keluarga suaminya cukup berada. Karena dari segi penampilan, Septian dan keluarganya tampak bersahaja. Tidak mengenakan pakaian dan aksesoris branded mahal seperti orang kaya pada umumnya.


"Yuk turun, kita sudah sampai di rumah." Septian tersenyum lebar.


"Baik Mas," Julia mengangguk, ia merasa aliran darahnya mengalir kencang. Gugup dengan sambutan keluarga Septian.


Ibu dan saudara-saudari Septian telah menunggu di teras. Dari wajah mereka sudah tak sabar menyambut pengantin baru. Ibu langsung memeluk Septian dan Julia, membawa mereka masuk ke dalam rumah. Sementara saudara Septian sibuk membantu menurunkan dan membawa masuk barang-barang ke lantai dua.


"Mbak tolong buatkan teh panas untuk mereka berdua ya. Kasihan mukanya pada lesu kelelahan," perintah Ibu pada seorang wanita paruh baya. Sepertinya beliau adalah orang yang dipercaya Si Mbok untuk bantu-bantu di rumah.

__ADS_1


Ibu tersebut langsung melesat ke dapur untuk membuat teh. Sementara, anggota keluarga yang lain sibuk menyambut pengantin baru dengan wajah sumringah.


Mereka tersenyum-senyum mendengarkan dialek khas Melayu Julia saat berbicara. 


"Cara ngomongnya bulek Julia lucu, mirip kak Ros-nya Upin Ipin!" celetuk keponakan Septian yang bertubuh tambun bermata bulat.


Spontan Julia dan anggota keluarga yang lain tertawa terbahak-bahak. Julia memaklumi, dialeknya yang mendayu-dayu terdengar asing di telinga orang Jawa. Tapi dia sendiri pun menahan bingung ketika mendengar keluarga Septian asyik berceloteh menggunakan bahasa Jawa yang belum ia pahami.


Si Mbok dan kakak perempuan Septian sibuk menyajikan banyak makanan, semua orang berkumpul di dapur yang luas. Mereka makan secara lesehan, karena kursi makan yang tersedia tidak mencukupi. Untuk pertama kalinya Julia mencicipi gudeg.


"Terlalu manis," gumam Julia yang tidak bisa hidup tanpa cabai. Lidah Sumatera-nya sudah terbiasa dengan cita rasa pedas sebagai penambah selera.


"Ini cabe rawit-nya, biar pedes," Septian menyodorkan piring plastik kecil berisi cabe rawit. Seakan ia paham yang ada di pikiran Julia. 


Julia tersenyum malu dengan perhatian kecil namun berarti dari Septian.


Setelah makan malam bersama, Septian minta izin undur diri kepada si Mbok, Bapak dan saudara-saudaranya untuk naik ke lantai dua. Ia melihat mata Julia sudah sayu menahan lelah. Si Mbok mengangguk-angguk tanda setuju, sesaat kemudian saudara Septian turut minta izin pulang ke rumah masing-masing.


Julia mengikuti langkah kaki Septian menaiki tangga menuju lantai dua. Ruangan di lantai dua tidak seluas ruangan di lantai satu, mungkin hanya sepertiga-nya. Septian mengajak Julia house tour.


"Disini ada dua kamar bersebelahan, dulunya ini kamar kakak perempuanku. Sekarang sudah menjadi ruang kerjaku." 


"Inilah kamar kita jeng jeng! Silahkan masuk tuan putri."


Septian melempar senyum jahil saat membuka pintu kamar kedua yang luasnya sama dengan kamar pertama.


Julia memasuki kamar yang menurutnya sangat nyaman. Kamar terbaik yang ia pernah punya.


Kamar itu sudah dilengkapi penyejuk udara, kasur spring bed king size yang empuk memendam bokong saat diduduki. Julia menyentuh bed cover lembut dengan wangi khas laundry sehabis dicuci. Ada sebuah lemari berpintu sliding dengan empat ruang berwarna kayu natural. Di sebelah lemari terdapat meja rias minimalis dengan warna senada dengan lemari.


"Tema kamar kita adalah back to nature, aku suka warna kayu mentah seperti ini. Bagimana menurut kamu dek?" Septian menunggu respon istrinya.


"Bagus, aku suka. Cantik. Pada dasarnya aku bukan wanita yang terlalu feminim. Aku suka sesuatu yang unisex bisa dipakai wanita dan pria bersamaan," jawab Julia jujur.


"Syukurlah kalau kamu suka, ayo aku tunjukkan ruangan yang lain!" Septian menggandeng Julia keluar kamar.


Di depan kedua kamar terdapat ruang kosong yang cukup luas.

__ADS_1


"Ruang ini nantinya akan aku isi sofa, meja tamu dan televisi. Ruang ini akan merangkap jadi ruang makan kita juga. Intinya ruang serba guna." Jelas Septian lagi.


Langkah Septian berderap semangat menunjukkan arah menuju balkon belakang. 


"Ini kamar mandinya," Septian menunjuk ruangan berukuran dua meter tepat di depan kamar kedua.


Lalu Septian membuka pintu menuju balkon.


"Rencananya balkon ini akan aku tutup untuk alih fungsi menjadi dapur dan tempat cuci jemur."


"Disini untuk tempat mesin cuci. Diatasnya kita pasang jemuran besi untuk menghemat ruang. Yang atap bagian ini akan ku pasang atap fiberglass bening. Agar cucian kena terik matahari langsung tapi aman dari hujan." Jelasnya sambil mengamati setiap sudut balkon.


"Bagian ini cukup luas, nanti aku buat kitchen set. Dan disini kita letakkan kulkas," tunjuk Septian ke sisi balkon.


Julia mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan suaminya. Otaknya sudah agak lambat mencerna informasi karena lelah dan ngantuk setelah makan malam banyak sekali.


Septian menangkap gelagat aneh istrinya yang kebanyakan bengong.


"Sudah capek ya, maaf aku terlalu bersemangat menunjukkan semua ini."


"Nggak apa-apa, aku juga heran kok tiba-tiba ngantuk sekali," jawab Julia lempeng.


"Ya sudah kamu mandi dulu. Setelah itu jangan lupa sholat Isya dulu sebelum tidur. Mas mau ke bawah dulu bahas masalah renovasi balkon sama Bapak." Jelas Septian sambil mengunci pintu balkon.


"Baik Mas, aku mau bersih-bersih dulu ya," pamit Julia menuju kamar. Ia hendak mengambil handuk dan pakaian ganti.


Septian kembali turun ke lantai satu untuk membahas masalah renovasi dengan orang tuanya. Selain itu Septian juga ingin ngobrol santai dengan mereka. Dua minggu tak bertemu Bapak dan Si Mbok membuat hatinya rindu. Sebagai anak bungsu, Septian memang jadi kesayangan di keluarga. Saking asyiknya ngobrol tak terasa malam kian beranjak larut.


"Sudah malam, kamu nggak tidur? Masa istrimu ditinggal sendiri di atas!" Si Mbok mengingatkan putranya.


"Hehehe iya …. " Septian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah Septian naik dulu ya Mbok, Pak …. " yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Bapak dan Si mbok.


Septian bergegas naik ke lantai dua. Begitu Septian membuka pintu kamar tampak istrinya sudah meringkuk memeluk bantal guling, tenggelam dalam mimpi.


"Hmmm dasar, bukannya nungguin malah tidur duluan!" gumam Septian memperbaiki selimut Julia

__ADS_1


Ditatapnya wajah damai istrinya yang terlelap. Diciumnya pipi halus itu dengan kasih sayang.


"Selamat tidur, cinta …. " Bisiknya.


__ADS_2