CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Kesepakatan


__ADS_3

"Apa lagi tuduhanmu kali ini?!" Gertak Bu Kades nyalang. Bahunya naik turun mengatur nafas yang menyesakkan dada.


Pak Kades mengamati istrinya dengan tatapan bingung. Sementara Dian membisu di kursinya. Udara yang mengambang di antara mereka terasa sesak dan panas. Septian melonggarkan kerah kemeja yang terasa menusuk lehernya. 


"Kenapa Ibu lakukan itu pada kami, apa salah kami sampai Ibu memfitnah begitu keji?" Tanya Septian dengan suara pelan, namun matanya yang tajam jelas memancarkan amarah.


Bu Kades mengatur nafas, jelas ia sadar dalam posisi tertuduh. Namun kesombongannya masih meraja. Ia mendongakkan dagunya tinggi-tinggi, menatap Septian dengan tatapan sinis.


"Kesalahanmu adalah salah memilih istri. Istrimu adalah biang segala kebencian yang menumpuk di dadaku. Istrimu itu wanita lancang, tidak tahu menempatkan diri sebagai pendatang di desa ini." Bu Kades mengacungkan telunjuk ke arah lantai yang di pijaknya.


"Astaghfirullah …. " Pak Kades memalingkan wajah dari istrinya, ia teramat malu dengan ucapan istrinya yang menilai orang lain begitu dangkal.


"Saya tidak ingin membalas fitnah Ibu dengan dugaan-dugaan yang tak berdasar. Saya punya bukti rekaman yang valid dan saksi atas kejahatan yang Ibu lakukan. Silahkan Bapak Kades dengar dan nilai sendiri apa yang sudah dilakukan istri Bapak. Saya tidak suka mengada-ada."


Septian memutar rekaman percakapan di ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Baru saja rekaman itu berbunyi, Bu Kades dengan gerakan tiba-tiba merangsek maju untuk mengambil ponsel seakan hendak menerjang Septian. Beruntung Pak Kades bereaksi cepat menangkap istrinya dan menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi.


"Lepaskan aku Pak. Singkirkan ponsel itu! Aku tidak mau mendengarnya." Jerit Bu Kades melotot ke arah suaminya.


Riska dengan sigap mengambil ponsel Septian dari atas meja, mengamankan barang bukti. Ia melirik ke arah Septian, haruskah mereka meneruskan memutar rekaman atau menghentikannya. Septian memberi kode pada Riska untuk mematikan rekaman itu.


"Bu, jangan begini. Malu Bu …. " Dian memeluk lengan Ibunya. Wajahnya semerah tomat menahan segala rasa. 


"Diam kamu! Malu kamu bilang, aku berbuat begini demi kamu. Kamu malah bilang malu! Anak kurang ajar!" Pekik Bu Kades menepis tangan Dian yang melingkar di lengannya. Dian menunduk dipojok tak berani sekalipun menatap ke arah Septian.


Riska terpana melihat adegan yang terpampang di hadapannya. Ia tak berani membuka suara sedikitpun. Riska tak ingin terlibat dalam konflik mereka. Ia segera menyelipkan ponsel dipegangnya ke tangan Septian yang menghela nafas berat, menunggu Bu Kades tenang.


"Kita selesaikan urusan ini baik-baik atau saya lepas tangan atas Ibu. Saya serahkan saja urusan kita pada penegak hukum. Bagaimana?" Ujar Septian di tepi kesabarannya.


Pak Kades terbelalak dengan pernyataan Septian. Wajahnya menyiratkan kepanikan, ia merasa terbodohi. Istrinya membuat masalah besar sedangkan ia sebagai kepala keluarga tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Apa seserius itu masalahnya, kenapa harus ke polisi segala?" Ujar Pak Kades kebingungan.


"Istri Bapak adalah dalang dari insiden yang menghancurkan nama baik toko saya. Beliau memfitnah kami dengan kue berisi bangkai cicak dan membayar orang untuk menebar rumor kalau karyawan kami sakit TBC di sosial media. Praktis segala fitnah itu membuat konsumen mengamuk. Kami jadi bahan olok-olok netizen. Akibatnya istri saya Julia harus menanggung segalanya sendiri karena saya salah satu orang yang termakan fitnah itu. Saya menuduh istri saya tidak becus berbisnis, saya mengabaikan segala kerja kerasnya!" 


Suara Septian bergetar memuntahkan amarah. Ia berusaha menahan nada suaranya tetap rendah, meskipun dalam beberapa kalimat suaranya pecah menahan sakit di hati. Ia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


"Bu Kades, tidak hanya membuat usaha yang saya rintis dengan susah payah hancur dalam waktu satu malam. Beliau juga akar dari kekacauan rumah tangga saya. Apa Ibu puas dengan kehancuran yang saya alami?" 


Septian menatap Bu Kades dengan tatapan penuh kekecewaan. Ada rasa puas setelah menumpahkan rasa yang ia pendam pada si biang keladi. 


"Apa salah Julia sampai Ibu sebenci itu padanya?" Tanya Septian menutup penjabaran yang ia berikan.


Suasana hening sejenak. Semua mata terpaku pada Bu Kades, menunggunya memberi jawaban, penjelasan, pembelaan atau apapun itu.


"Kalau saja kamu memilih Dian sejak awal, tentu tidak akan begini kejadiannya. Aku membenci istrimu karena dia mengambil posisi yang tidak seharusnya dia ambil. Jika kamu memilih Dian sebagai istrimu, saat ini kita bisa hidup rukun bersama sebagai menantu dan mertua." Jawab Bu Kades menatap kosong ke arah meja tamu. 


"Ya Allah Bu …. " Pak Kades bersandar lemas di kursi. Ia tak habis pikir bahwa ambisi istrinya menjadikan Dian -- Putri mereka sebagai menantu di keluarga Pak Rahmat Segoro akan menjadi seonggok borok di hati. Membusuk di dalam tanpa ada yang menyadari.


"Jodoh adalah kehendak Allah. Kami dua orang yang terpisah jarak, tidak saling mengenal sedikit pun sebelumnya. Namun Allah yang menggerakkan hati kami untuk bersatu. Jika Allah menakdirkan Dian untuk saya, pastilah kami sudah bersama sejak awal. Sayangnya hati saya sudah Allah tautkan pada Julia. Bagaimana saya bisa menolak? Jika Ibu benci karena saya memilih Julia, maka Ibu sudah menggugat takdir Allah yang mengatur jalan hidup kami." Ucap Septian penuh kesungguhan.


Dian meneteskan air mata mendengar ucapan Septian. Ia sadar sampai kapanpun ia tak akan bisa lagi mengambil hati pria itu. Hati pria itu diluar kuasanya. Ditambah lagi dengan kejadian ini, ia begitu malu dan ingin sekali pergi selamanya dari kehidupan Septian.


Riska mengamati wajah Dian dengan tatapan kasihan. Ia berdoa dalam hati semoga Dian bisa berjumpa dengan lelaki yang baik di kemudian hari untuk melupakan kasih tak sampainya pada Septian. Bagaimanapun cinta yang tak terbalas adalah rasa yang paling membuat jiwa seorang pecinta menjadi lara. Hilang akal.


"Tian, sebagai kepala keluarga saya mohon maaf atas tindakan istri dan anak saya.. Bagaimanapun buruknya kesalahan mereka, saya tidak tega jika mereka harus berurusan dengan polisi." Ujar Pak Kades mengiba. Sorot mata tuanya membuat siapapun yang melihat tak sampai hati.


Berbanding terbalik dengan Bu Kades yang masih memasak wajah ketat, kaku, seakan tak berbuat salah. Riska geram sekali melihat sikapnya.


"Bapak jangan minta maaf pada saya. Saya akan memberi waktu pada Bu Kades dan Dian untuk menilai ulang tindakan mereka. Saya mohon sadarlah dengan perbuatan kalian. Kemudian minta maaflah dengan tulus pada Julia. Sebab, dia orang yang paling terluka atas kejadian ini. Urusan ini berakhir di ranah hukum atau tidak ... akan saya serahkan pada Julia. Saya harap Bapak dan Ibu tidak bersikap pengecut. Hadapi saja akibat dari masalah yang sudah istri Bapak ciptakan." Jawab Septian diplomatis.

__ADS_1


Pak Kades mengangguk-angguk takzim. Ia memahami apa yang disampaikan Septian.


"Baik Tian ... saya paham. Sebagai korban, tidak mudah memaafkan kesalahan mereka. Saya sebagai suami merasa gagal mendidik dan mengawasi istri dan anak saya. Sekali lagi saya mohon maaf. Dan … tolong jangan sampai warga tahu tindakan mereka. Saya mohon jagalah harga diri kami di lingkungan ini."


"Saya tidak akan pernah membuka mulut saya pada siapapun. Tapi saya yakin dengan istri Bapak. Kemungkinan besar beliau yang akan membuka masalah ini pada warga, mengarang cerita dan menyebarkan gosip. Seakan-akan beliau adalah korban." Ucap Septian menganalisa tindakan Bu Kades selanjutnya. Bagaimana pun dua kali bermasalah dengannya membuat Septian bisa membaca sifat Bu Kades yang manipulatif.


Wajah Bu Kades seakan tertohok. Ia mencengkram dasternya kuat-kuat. Betapa geramnya ia dengan analisa Septian yang tepat sasaran. Pak Kades menghela nafas putus asa. Ia sadar betul yang Septian ucapkan kemungkinan besar akan terjadi.


"Kamu menilai istriku dengan begitu jeli. Saya tidak bisa menjanjikan apapun. Namun sebagai kepala keluarga, saya akan mengawasi istri dan anak saya agar tidak membuat masalah dengan keluarga kalian lagi. Insya Allah." Kata Pak Kades sungguh-sungguh.


Septian diam sesaat, matanya melirik ke arah Bu Kades dan Dian sekilas. Ia kembali mengarahkan tatapan ke Pak Kades yang tampak loyo dan letih. Sungguh tak tega melihat orang terpandang di lingkungan mereka harus dipusingkan dengan kelakuan anak istrinya.


"Baik. Saya menanti kesungguhan ucapan Bapak. Saya menunggu permintaan maaf secara resmi dan perjanjian di atas hitam dan putih jika Julia sudah kembali. Atau saya tidak akan lagi berbaik hati dan menyerahkan urusan ini pada hukum." Ucap Septian tegas penuh wibawa.


"Terima kasih Tian. Saya sungguh berterima kasih atas keringanan yang kamu berikan." Sahut Pak Kades sendu.


"Kalau begitu kami pamit dulu." Septian bangkit dan menjabat tangan Pak Kades diikuti Riska. Ia tak berlama-lama di ruangan yang sama dengan orang yang menghancurkan kebahagiaannya.


Bu Kades dan Dian tak beranjak dari kursi. Mereka diam mematung sibuk dengan pikiran masing-masing. Dengan langkah gontai Pak Kades mengantar Septian dan Riska hingga ke teras. Begitu Septian memasuki mobilnya, Pak Kades cepat-cepat menutup pintu rumah, bersiap memberi pelajaran pada istri dan anaknya.


***


Septian menyandarkan tubuhnya di jok kemudi. Mengamati ruang tamu rumah Pak Kades yang dipadamkan. Samar-samar ia mendengar suara Pak Kades meninggi diiringi isak tangis. Entah itu suara Bu Kades atau Dian, ia tak peduli. Mereka pantas mendapat pelajaran, didikan keras.


Septian menutup matanya sejenak. Betapa hari ini teramat melelahkan untuknya. Di satu sisi ia lega telah menemukan dalang dari segala masalah. Ia berhasil membuktikan bahwa Julia tak bersalah. Ia yang terlalu gegabah menyimpulkan dari awal. Kepergian Julia hukuman yang pantas untuknya.


Septian menunduk terisak. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya tak kuat lagi membendung segala rasa. Ia rindu Julia. Rindu yang teramat sangat, hingga terasa sakit.


"Lalu setelah ini apa Mas?" Tanya Riska hati-hati. Sedih rasanya melihat sepupunya itu begitu rapuh dan terpuruk.

__ADS_1


"Mencari juita-ku." Sahut Septian menatap kosong keluar jendela.


__ADS_2