
"Assalamualaikum …. " Sapa Riska lewat ponselnya.
"Walaikumsalaam Mbak Riska." Sahut Bu Karti riang dan ceria. Suatu hal yang langka manager toko menelponnya di siang bolong.
"Sedang apa sekarang Bu Karti, sibuk nggak?" Tanya Riska.
"Enggak sibuk mbak. Lagi santai habis makan siang aja nih. Ada apa ya?" Jawab Bu Karti. Dalam hati ia bertanya-tanya, ada keperluan apa sang manager itu dengannya.
"Ini, saya mau minta bantuannya. Kemarin kan Ibu sempat batuk-batuk waktu lagi kerja. Berhubung usaha kita wajib bersih dan steril, kami mau coba periksakan ke dokter, khawatir ada penyakit serius. Boleh Bu?" Tanya Riska hati-hati.
"Mmmmm … waktu itu saya hanya batuk biasa saja Mbak. Tapi untuk lebih yakin saya mau kok periksa." Jawab Bu Karti ragu-ragu. Sesungguhnya ia takut diperiksa tapi tidak berani menolak ajakan dari managernya.
"Alhamdulillah. Bu Karti santai saja. Kami jemput sekarang bisa ya?" Tanya Riska untuk meyakinkan Bu Karti sekali lagi.
"Bisa Mbak, saya tunggu." Sahut Bu Karti pelan.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Riska mematikan panggilannya dan melempar senyum lega ke arah Julia.
"Alhamdulillah Bu Karti kooperatif. Kita jemput sekarang yuk Mbak." Ajak Riska sembari bangkit mengambil tasnya untuk bersiap-siap.
"Baik Ris. Motor kamu masukin ke dalam toko aja. Kita ke rumah sakit pake taksi online biar cepat." Usul Julia ikut bersiap.
"Siap mbak."
Riska kembali membuka ponselnya dan memesan taksi online. Beruntung, kurang dari sepuluh menit taksi jemputan sudah tiba. Mereka lantas bergegas menjemput Bu Karti untuk menuju sebuah rumah sakit besar.
***
Kurang lebih butuh waktu setengah jam untuk mencapai rumah sakit. Riska dengan sigap mendaftarkan pemeriksaan Bu Karti ke dokter spesialis Paru.
Tuhan memudahkan urusan mereka dengan minimnya antrian. Sehingga Bu Karti bisa cepat dilayani. Meskipun begitu Bu Karti terlihat sedikit cemas. Berulang kali ia menggosok lengannya untuk mengurai resah. Ia takut ditemukan penyakit serius di tubuhnya.
Awal pemeriksaan Bu Karti di foto Rontgen Thorax untuk melihat keadaan paru-parunya. Hasilnya bersih, tidak ada bercak ataupun flek. Selanjutnya dokter meminta Bu Karti untuk tes dahak agar lebih akurat.
"Sebelum mengumpulkan sampel dahak, Ibu tidak boleh makan atau minum terlebih dahulu pada pagi hari setelah bangun tidur ya. Setelah bangun tidur, Ibu diharuskan menggosok gigi. Perlu diingat setelah menggosok gigi Ibu tidak boleh menggunakan obat kumur." Ujar seorang dokter tua berkacamata. Kulit dokter itu putih pucat seperti sudah lama tidak disinari mentari.
"Pengambilan dahak tidak hanya dilakukan satu kali, melainkan tiga kali. Sampel dahak pertama diambil sewaktu dokter meminta sampel. Dahak kedua diambil pagi hari keesokan harinya dan dahak ketiga diambil saat mengantarkan sampel dahak yang kedua ke laboratorium. Paham Ibu?" Tanya dokter itu lagi.
__ADS_1
"Baik dok, saya paham." Bu Karti mengangguk.
"Kalau begitu kita bertemu dua hari lagi ya Bu. Semoga hasilnya bagus, karena saya lihat paru-paru Ibu bersih dan fisik Ibu sehat. Tes ini agar lebih meyakinkan lagi." Ujar dokter itu tenang, memberikan harapan positif pada Bu Karti.
Julia dan Riska berpandangan, ternyata mereka harus menunggu dua hari lagi sebelum hasil pemeriksaannya keluar. Dalam lubuk hati Julia ia sudah tidak sabar ingin mendapatkan kepastian. Ia ingin membuktikan pada orang-orang bahwa isu yang sedang viral itu tidak benar. Ia ingin membungkam mulut-mulut netizen jahat yang telah mencaci maki tokonya.
Setelah beberapa penjelasan dan konsultasi singkat. Dokter menyudahi pertemuan mereka. Julia melangkah gontai keluar dari pemeriksaan. Bahunya benar-benar melorot. Seakan ada beban berat yang tak kasat mata bercokol disana.
Bu Karti terlihat tidak enak hati. Takut-takut ia memberanikan diri untuk bertanya pada Riska. Sebab, wajah Julia yang resah membuatnya tak sampai hati membebaninya dengan pertanyaan.
"Sebenarnya kenapa ya Mba, saya harus diperiksa. Insya Allah saya sehat wal afiat. Saya memang punya alergi serbuk bunga. Hampir semua warga desa tahu. Karena itu saya tidak pernah pelihara tanaman berbunga." Ujar Bu Karti memegang tangan Riska penuh kekhawatiran.
Riska yang terlalu lelah menjelaskan, mengambil ponselnya dari dalam tas dan membuka postingan di IG tentang toko mereka. Menunjukkannya pada Bu Karti.
Bu Karti terbelalak, ia menutup mulut saking terkejutnya melihat foto kue berisi cicak yang menjijikkan dan videonya yang sedang batuk dan megap-megap kesulitan bernapas.
"Kok ada saya disini?" Wajah Bu Karti memerah marah.
"Sumpah demi Allah, saya tidak tahu siapa yang rekam Mbak. Saya juga berani sumpah hari itu saya baik-baik saja. Hanya tiba-tiba batuk sesaat setelah Bu Kades melewati saya." Bu Karti bersuara menjelaskan.
Mata Julia membesar, ia berjengit saat mendengar nama Bu Kades. Menusukkan sebuah rasa tak nyaman di hatinya.
"Kami sama sekali tidak menuduh Ibu sakit TBC. Karena itu kita disini untuk mendapatkan bukti yang akurat. Semoga Ibu mau bekerja sama untuk memudahkan urusan kami." Sahut Julia datar tanpa ekspresi. Batinnya terlalu lelah.
Bu Karti mengangguk pelan. Sepanjang perjalanan pulang, mereka bertiga hanya bisa diam. Sibuk berdialog dengan diri masing-masing. Julia dan Riska pulang setelah mengantar Bu Karti terlebih dahulu. Julia menunaikan sholat Ashar terlebih dahulu di toko. Baru setelahnya ia diantar pulang berboncengan dengan Riska sampai ke rumah.
Ada rasa enggan menguar di hati Julia saat menjejakkan kaki ke menuju rumah. Bahkan dari luar pagar hawa permusuhan yang ditawarkan Septian sangat kuat terasa. Tapi disini di desa asing ini, kemana lagi Julia harus pergi selain pulang?.
Suasana rumah masih lengang. Hanya Mbok Par yang terlihat sedang mengepel teras. Bapak dan Si Mbok entah kemana rimbanya sejak pagi tadi. Julia menyapa Mbok Par sekilas sebelum masuk ke rumah. Ia menaiki tangga ke lantai dua dengan langkah berat.
Hal pertama yang ingin ia periksa adalah tudung saji dan bak cuci piring. Ia ingin tahu apakah suaminya sudah makan. Diluar dugaan, nasi goreng buatannya untuk sarapan masih utuh tak tersentuh. Hatinya mencelos.
"Bahkan kini kamu tak mau makan masakan buatanku lagi."
Ia membuka pintu kamarnya, kosong. Tak ditemukannya jejak Septian disana. Ia ingin sekali berhenti peduli. Berhenti terus memperhatikan Septian. Tapi tidak bisa. Seluruh Indra perasa-nya tak bisa mengingkari ia begitu mencintai suaminya. Ia butuh Septian. Bahkan dimarahi dan dimaki-maki langsung terasa jauh lebih baik daripada dianggap tidak ada sama sekali.
Julia melangkah menuju ruang kerja Septian yang tertutup. Ia mengetuknya pelan. Seakan merayu Septian untuk membuka hatinya.
Tok tok tok!
"Mas, adek pulang."
__ADS_1
"Mas, bisa kita bicara sedikit saja?"
"Mas, aku rindu. Walau sebenci dan semarah apapun kamu padaku. Aku tidak bisa bohong kalau aku ingin melihatmu. Sebentar saja." Batin Julia, betapa sulitnya mengatakan rasa yang sesungguhnya.
Tidak ada jawaban. Tidak ada sahutan. Hanya kekosongan membentang.
Julia mendekatkan telinganya ke pintu, lamat-lamat ia mendengar suara halus ketikan di keyboard. Hati Julia sakit sekali. Sampai kapan ia harus diabaikan seperti ini?
"Sebenarnya aku ini bicara dengan manusia atau batu. Keras sekali ego-mu. Lebih baik kita bertengkar daripada saling mendiamkan seperti ini!" Ucap Julia kencang, berharap Septian mendengar dan berhenti pura-pura tuli.
Julia mulai terisak kesabaran yang ia bangun sejak kemarin malam seketika runtuh. Ia frustasi.
"Buka pintunya Mas. Buka!"
Julia menggedor pintu ruang kerja Septian keras sekali. Ia tak peduli jika Bapak dan Si Mbok tahu mereka sedang bermusuhan. Ia sudah terlalu lelah menutup-nutupi kenyataan.
"Bukaaaaaaaaaa!" Jerit Julia kencang.
"Aku bilang buka Mas, bukaaaaaaaa!" Julia menarik-narik gagang pintu dengan kasar, memaksanya untuk terbuka.
"Lebih baik aku pergi daripada tidak dianggap seperti ini!" Ancam Julia sambil memukul pintu sekuat tenaganya.
Pintu itu masih tertutup. Kokoh dan sombong, seakan mengejeknya yang kacau dan kehilangan akal sehat. Julia menggelosor ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan segala rasa, benci, marah, kecewa dan putus asa.
"Bicaralah padaku Mas, sebentar saja …. " Bisik Julia lirih.
Klik!
Pintu terbuka lebar, dilihatnya Septian dengan ekspresi muram dan lelah. Lingkar matanya menghitam dan rambut berantakan. Entah kenapa dalam waktu semalam Septian terlihat jauh lebih kurus.
Senyum Julia mengembang, betapa ia rindu suaminya. Julia bangkit dari lantai, ia memasang senyum manis dan mendekat. Seketika amarah di dada sirna melihat sang kekasih hati.
"Pergilah dek … Aku tidak tahan melihatmu. Kamu tidak tahu betapa sulitnya aku menahan diri agar amarahku tidak meledak. Aku tidak mau jiwamu lebih tersakiti karena lisanku. Karena itu pergilah … Terserah kemana saja yang kamu mau."
Septian kembali menutup pintu ruang kerjanya. Meninggalkan Julia yang terpaku.
***
Hai dear readers, maaf ya tidak bisa up tiap hari. Saya menulis sambil mencuri-curi waktu. Semoga kalian terhibur.
Kalau suka kisah Julia-Septian dukung aku dengan like, komen dan vote seikhlasnya yaaaa. Terima kasih.
__ADS_1