
Tok tok tok!
"Assalamualaikum Budheee …. " Teriak Riska dari luar pagar. Ada titik titik keringat timbul di pucuk hidung mancungnya. Alis Riska berkerut menahan sinar matahari yang menyilaukan.
Mbok Par yang mendengar panggilan itu segera menghentikan aktivitas menyapu ruang tengah, beliau tergopoh-gopoh keluar rumah untuk membukakan pagar.
"Walaikumsalaam, maaf lama bukanya Mbak Riska. Saya tadi sedang nyapu didalam." Ucap Mbok Par sopan.
"Tidak apa Mbok Par. Kok sepi sekali ya … Budhe dan Pakdhe tidak ada dirumah?" Tanya Riska heran karena tidak biasanya rumah itu lengang tanpa aktivitas.
"Bu Rahayu ada di dalam mbak, Pak Rahmat tidak tahu kemana mungkin pergi meninjau tambak. Silahkan masuk Mbak." Ujar Mbok Par mempersilahkan Riska untuk langsung menemui Budhe-nya di halaman belakang.
Mata Riska tertuju pada Si Mbok yang termangu bertopang dagu di bale-bale sambil memandangi burung-burung yang riuh berkicau di dalam sangkar.
"Assalamualaikum Budhe …. " Sapa Riska riang.
"Walaikumsalaam, eh ada Riska kapan sampai? Sini duduk." Si Mbok menyambut Riska sambil menepuk bale-bale di sebelahnya.
Riska tanpa ragu melangkah dan mengambil posisi duduk di sebelah Budhe-nya.
"Riska baru saja sampai kok Budhe. Riska kemari mau bertemu Mbak Julia, ada sesuatu yang harus dilaporkan. Dari kemarin Riska coba hubungi nomornya kok tidak aktif. Jadi Riska samperin kesini saja biar bisa ngomong langsung." Jelas Riska yang belum mengetahui apa yang terjadi.
Si Mbok menghela nafas berat menatap Riska, bahunya yang melorot membuat Riska merasakan ada hal yang tidak semestinya terjadi di rumah itu.
"Julia … tidak ada di rumah Ris. Dia pergi, entah kemana …. " Ucap Si Mbok lirih.
"Maksudnya pergi sebentar untuk beli keperluan atau bagaimana nih Budhe?" Riska masih berusaha memahami situasi.
"Julia kabur Ris setelah cekcok dengan Septian. Budhe sudah tahu ada yang nggak beres diantara mereka beberapa hari ini. Budhe sempat dengar Tian berteriak dan memukul sesuatu tapi Budhe biarkan saja karena tidak mau ikut campur urusan rumah tangga mereka. Budhe pikir mereka bisa menyelesaikan masalah secara dewasa. Kenapa malah jadinya begini." Jelas Si Mbok sambil mengurut keningnya yang pening.
"Ya Allah Budhe … Sabar ya. Terus Mas Tian dimana Budhe? Sudah berusaha cari Mbak Julia?"
"Tian ada di atas. Sepertinya terpukul karena Julia nekad kabur. Semalam juga dimarahi habis-habisan sama Mas dan Mbaknya. Mungkin sekarang sedang menenangkan diri."
"Baiklah kalau begitu Budhe. Nanti Riska hubungi Mas Tian lewat telepon saja. Agak sungkan untuk membahas masalah toko sekarang." Jawab Riska.
Si Mbok mengangguk tanda setuju. Ia kembali menghela nafas berat dan kali ini pandangannya tertuju ke arah buah mangga muda yang bergelantungan. Seakan hal itu mampu menghibur hatinya.
__ADS_1
"Budhe sepertinya lelah, Riska pamit pulang dulu ya biar Budhe bisa istirahat." Ucapnya membaca situasi.
"Makan siang disini dulu ya Ris. Tadi Mbok Par sudah masak." Tawar Si Mbok.
"Nggak usah Mbok, Riska mau ke toko dulu. Ada yang harus dikerjakan." Tolak Riska halus sambil menggelengkan kepalanya dengan sopan.
"Yasudah kalau begitu. Hati-hati dijalan ya." Ucap Si Mbok lemah.
"Baik Budhe. Assalamualaikum."
"Walaikumsalaam."
Si Mbok memandangi punggung Riska yang berlalu. Kemudian sorot matanya menengadah ke langit sambil mengucapkan doa-doa. Semoga Julia berada di tempat yang aman dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan.
***
Riska termangu di ruang kerjanya, sudah beberapa hari toko tidak buka. Karyawan masih diliburkan. Produksi tidak berjalan, sisa stok terancam tidak layak dijual. Malahan sang pemimpin toko kabur entah kemana rimbanya. Dan sang owner toko masih sibuk mengurung diri menata hati.
Riska mendesah berat. Apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan toko? Padahal surat keterangan dari rumah sakit bahwa Bu Karti negatif TBC rasanya bisa membangkitkan semangat untuk kembali berjuang. Mengembalikan nama baik toko yang sempat tercoreng.
Riska diliputi kegelisahan, sayang sekali jika usaha yang baru dirintis itu tutup seketika. Ia bisa menerka-nerka berapa total kerugian mereka. Ia mengetuk-ngetuk meja sambil berpikir, namun ia menghempaskan tubuhnya ke kursi saat menyadari ia tidak bisa melakukan sebuah tindakan tanpa ada persetujuan owner. Walau masih berhubungan persaudaraan dengan Septian, tetap saja statusnya adalah bawahan.
Nada dering tanda panggilan masuk berbunyi. Riska mengorek isi tasnya untuk menemukan ponselnya. Begitu ia mendapatkannya ia melihat ada nama Septian muncul di layar.
"Halo. Assalamualaikum." Sapa Riska.
"Walaikumsalaam. Ris tadi kata Si Mbok kamu kerumah ada yang mau disampaikan ya?" Jawab Septian.
"Iya Mas, ini kabar baik. Boleh Riska sampaikan ke Mas Tian saja?" Ucap Riska takut-takut.
"Iya sampaikan ke saya saja, tidak apa-apa."
"Hasil tes pemeriksaan Bu Karti sudah keluar, beliau negatif TBC. Jadi berita yang viral di sosmed itu hoax saja. Seharusnya kita sudah bisa buka toko lagi seperti biasa. Tapi Mbak Julia tidak ada, saya harus bagaimana Mas?" Jelas Riska sambil menunggu instruksi dari Septian.
Septian terdiam sejenak, sebuah rasa bersalah berkecamuk di hatinya. Kemana ia saat istrinya berusaha membuktikan dengan data valid bahwa mereka tak bersalah. Meski terlambat kini waktunya ia turun tangan untuk membereskan kekacauan.
"Saya mau koordinasi ke dinas kesehatan dulu dan BPOM. Saya mau pastikan usaha kita ini sudah terlindungi dengan instansi yang punya landasan kuat untuk mengembalikan kepercayaan konsumen. Nanti kalau semua sudah beres kita mulai produksi lagi. Untuk sementara tolong lihat-lihat kondisi toko, jangan dianggurin begitu saja." Ucap Septian tegas.
__ADS_1
"Baik Mas, Riska tiap hari datang ke toko kok untuk ngecek keadaan." Jawab Riska meyakinkan.
"Bagus, untuk sementara Riska libur dulu ya. Biar Mas tangani masalah yang tadi. Tapi kalau sewaktu-waktu Mas butuh bantuan bisa hadir kan?"
"Bisa dong Mas, Insya Allah."
"Baik. Tentang Julia, dia memang pergi dari rumah tapi sekarang saya sudah dapat kabar dia baik-baik saja. Kalau bisa karyawan tidak perlu tahu apa yang terjadi antara saya dan Julia. Kamu paham kan Ris?" Septian menekankan kalimatnya.
"Paham Mas."
"Ya sudah kalau begitu segini dulu yang perlu saya sampaikan. Kamu boleh pulang." Ucap Septian tegas.
"Baik Mas."
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalaam."
***
Septian meletakkan ponselnya di atas meja setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Riska. Ia bangkit dari kursinya dan beranjak ke tepi jendela mengamati pemandangan desa dari lantai dua kamarnya untuk memberikan rasa lapang pada pikirannya yang penuh. Meski hatinya nelangsa karena ditinggal sang juita. Septian mencoba bangkit kembali.
Pikiran Septian berkelana, ia mencoba memposisikan dirinya sebagai Julia dan memahami segala yang ada dalam otak istrinya itu. Ia terhenyak pada kenyataan bahwa Julia melakukan banyak hal bukan demi membuat dirinya kaya atau haus akan uang. Semua itu murni karena Julia tahu rasanya hidup kekurangan bersama ibunya yang janda dan ia ingin wanita di desa itu mampu mandiri lewat usahanya.
Kali ini ia akan memperbaiki kesalahannya. Ia akan mewujudkan kembali mimpi sang kekasih untuk mempunyai usaha yang bisa memberi kontribusi pada masyarakat, memberdayakan wanita dan Ibu rumah tangga agar memiliki tambahan penghasilan.
Septian tertunduk, mengingat betapa jahatnya ia telah berpikir buruk pada istrinya, memberi stempel tamak pada Julia. Ia menjambak rambutnya penuh penyesalan.
"Maafkan aku cinta … Tunggu hingga aku memperbaiki segala kesalahanku. Lalu akan pergi untuk menemukanmu kembali."
***
Note :
Hola dear readers. Maaf lama update karena author baru saja melewati proses menyapih anak yang ternyata butuh perjuangan. Author sempat demam kemarin dan mood anak yang kacau benar-benar bikin author tidak bisa menyentuh naskah.
Terima kasiiiiih buat yang nungguin kisah Julia dan Septian. Kalau suka beri like, komen, dan vote seikhlasnya ya.
__ADS_1