CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Nasihat Si Mbok


__ADS_3

Julia turun dari motor tanpa berkata sepatah kata pun. Ia menghembuskan nafas berat dan kakinya melangkah cepat naik ke lantai dua meninggalkan Septian di belakang. Julia merasa lega ia berhasil mengatasi Dian. Namun semua itu terjadi bukan karena ia hebat ataupun tegas. 


"Tidak ada daya dan upaya melainkan berkat pertolongan Allah." 


Hanya satu yang diinginkannya saat ini, sudut kamar untuk bersujud. Begitu kakinya menjejak kamar langsung diraihnya remote AC untuk mendinginkan hawa ruangan dan tubuhnya yang masih panas karena emosi. Dibukanya kerudung dan bergegas mengambil wudhu. Ditunggunya Septian selesai wudhu untuk mengimami shalat zhuhur yang sudah hampir lewat waktu. 


Sungguh problema hidup mampu membuat manusia lalai dari kewajibannya. Di akhir sujud Septian berdo'a agar Allah menguatkan rumah tangganya dari segala ujian dan cobaan. Usai salam, Julia meraih tangan Septian dan menciumnya dengan khidmat.


Air mata Julia tumpah. Septian memeluk istrinya erat-erat, seakan ingin menyalurkan segala kekuatan yang ia punya untuk istrinya.


"Sudahlah sayang semua sudah berakhir. Insya Allah Dian tidak akan mengusik kita lagi. Setelah kejadian ini dia pasti diawasi ketat sama Bapaknya." Ujar Septian sambil mengelus punggung Julia.


Julia menyandarkan tubuh sepenuhnya ke Septian. Ia lepaskan segala sesak dan beban di dada. Saat ini hanya Septian orang terdekat baginya. Hanya padanya lah ia berbagi rasa, suka dan duka.


"Adek nggak nyangka bisa melakukan hal seperti tadi. Dari mana datangnya semua keberanian itu …. " Isak Julia.


"Itu insting seorang istri untuk melindungi rumah tangganya. Keberanian akan keluar sendiri saat kamu merasa terancam. Mas bangga kamu bisa mengontrol diri. Disaat marah kamu bisa berpikir jernih. Kamu melakukannya dengan baik." Septian menghapus air mata di pipi Julia.


"Mas nggak tahu aku gimana geramnya aku pengen nyakar mukanya Dian tadi. Aku cuma bisa istighfar biar tetap waras." Julia sesenggukan.


"Hehehehe, yang penting kan nggak kejadian sayang. Sudah ya sedihnya."


Julia mengangguk menghapus sisa air mata.


Kruyukkkkk!


Penghuni perutnya sudah demo minta makan. 


"Hehehe … adek lapar." 


"Makan yuk, kepala Mas juga udah pusing nih karena telat makan."


"Adek juga tadi udah menggigil kelaparan. Tapi adek tahan-tahan. Hihihi."


Julia mengambil dua piring nasi panas dari magic com. Sedangkan Septian membawa sepiring ayam balado dan tumis kangkung yang sudah dingin ke meja depan TV. Setelah meletakkan piring nasi ke meja, Julia kembali ke dapur mengambil seteko air dan dua gelas kosong.


Mereka berdua makan dengan lahap karena kejadian tadi menguras emosi menghabiskan energi. 


"Jadi kita apakan kue tart dari Dian tadi Mas?"


"Makanan nggak boleh di buang. Ya kita makan saja." Jawab Septian santai tanpa beban.


"Kamu nggak takut kue itu dikasih pelet?"


"Pelet nggak berhasil sama orang yang jaga sholat dan dzikir pagi petang insya Allah. Kamu jangan berprasangka jelek, Dian kurasa nggak seburuk itu. Dia hanya anak labil aja." 

__ADS_1


"Hmmmm mudah-mudahan iya. Terus celana dalam dan singletnya mau diapain? Aku nggak ikhlas kalau kamu pakai pemberian dia." Bibir Julia manyun mengingat hadiah dari Dian.


"Nanti aku kasih Bapak, ukuran pinggang kami sama. Perkara selesai kan?" Septian menaikkan alisnya.


"Iya, hehehe. Kuenya nanti bagi ke si Mbok dan Bapak juga ya …. "


"Iya dong. Masa mau dimakan sendiri. Nggak akan habis."


Julia mengangguk dan fokus menghabiskan makan siangnya yang sangat terlambat. Sebentar saja makanan di piring sudah licin tandas. Septian membantu membawa piring kotor ke dapur, sementara Julia menyiapkan sabun untuk mencuci piring.


Begitulah mereka saling membantu meringankan pekerjaan. Septian bukan sosok yang romantis tapi ia menyentuh hati Julia dengan perhatian-perhatian kecil. Septian, ia adalah sosok suami yang layak untuk diperjuangkan. 


***


Malam ini Julia sedang tidak mood sendirian. Septian sedang asyik ngoding di ruang kerja. Ia baru saja selesai video call dengan Ibunya sebagai rutinitas setiap malam. Julia memutuskan untuk turun ke bawah bergabung dengan si Mbok yang sedang nonton sinetron.


Si Mbok asyik sekali menonton sinetron hingga tidak menyadari kehadirannya. Julia duduk di sebelah mertuanya. Punggungnya bersandar santai ke sofa.


"Bapak mana Mbok?" Sapa Julia.


"Eh kamu Jul. Ada di halaman depan. Sedang cari angin sepertinya." Si Mbok mengalihkan perhatian sesaat kearahnya.


"Oh …. " Sahut Julia singkat.


Si Mbok melirik wajah menantunya yang tampak murung.


"Tidak Mbok. Agak capek saja hari ini."


"Tadi siang pergi kemana kok Mbok lihat kalian pergi terburu-buru." Tanya Si Mbok penasaran.


"Pergi ke rumah kenalannya Mas Septian. Ada hal mendesak yang harus diselesaikan." Julia berbohong, ia sudah berjanji tidak akan menceritakan masalah tadi pada siapapun.


"Urusan kerjaan?" Lirik Si Mbok lagi 


"Ummm iya Mbok." Julia mengangguk.


Si Mbok menghela nafas berat dan dilepaskannya. Naluri keibuannya berkata ada yang tidak beres terjadi pada anak dan menantunya itu. Tapi sebagai orang tua yang sudah melepas anak menikah. Ia tak punya kuasa untuk ikut campur.


"Septian itu orangnya mungkin agak kurang tegas. Karena dia punya sifat nggak enakan. Mbok khawatir sifat itu bisa membuatnya kesulitan di kemudian hari." Mbok membuka percakapan serius.


"Tapi kamu kebalikan Tian, dari pertama kali lihat Mbok sudah bisa menebak sifatmu. Kamu kokoh dan bisa diandalkan. Semoga sifatmu itu bisa nular ke Tian." Mbok melirik ke arah Julia.


"Tapi walau Tian terkesan lembek dia orangnya pantang menyerah. Kalau punya keinginan harus dapat. Jadi Mbok harap ego kalian tidak saling berbenturan." Si Mbok meraih remote untuk mengecilkan volume sinetron.


Diubahnya posisi duduk condong ke arah Julia. Ditatapnya mata Julia lekat-lekat.

__ADS_1


"Menikah itu mudah, mempertahankannya sulit. Ujian pernikahan itu banyak macamnya, ada yang diuji lewat keuangan, lewat anak, lewat kesetiaan. Tidak ada pernikahan yang bebas ujian. Pesan Mbok, bersabarlah menghadapi Tian. Bersabarlah dengan segala ujian hidup. Tidak ada manusia yang sedih dan bahagia selamanya. Semuanya selalu silih berganti. Intinya ikhlas. Cari pertolongan lewat sholat dan sabar."


Julia balik menatap Ibu mertuanya dalam-dalam, rasanya ia ingin memeluk sebagai ucapan terima kasih atas nasihat yang menyejukkan hatinya. Tapi ia urungkan niat, perhatian si Mbok kembali beralih ke sinetron.


"Terima kasih nasehatnya Mbok …. " Ujar Julia.


"Sama-sama, kamu itu sudah jadi anakku. Mbok tidak bisa mencampuri urusan kalian, tapi jika ada masalah carilah solusi dengan kepala dingin."


"Baik Mbok …. " Julia mengukir nasihat itu dalam otaknya.


Tiba-tiba Julia teringat kue ulang tahun dari Dian yang masih tersimpan di kulkas. Lebih baik di habiskan dari pada mubazir sia-sia.


"Ohya Mbok mau makan kue? Mas Septian tadi dikasih kue lho sama temannya." Julia menawarkan.


"Boleh, Mbok biar bikin teh dulu untuk teman ngemil." Sahut si Mbok.


"Julia ambil ke atas dulu ya Mbok."


Si Mbok mengangguk. Dengan langkah riang Julia menaiki tangga, dibukanya kotak kue yang tersimpan di kulkas. Ia potong menjadi beberapa bagian. Satu potong di letakkan di piring kecil. Dan empat potong di letakkannya di piring besar.


Ia membawakan kue di piring kecil ke kamar suaminya.


"Ini buat ngemil," kata Julia meletakkan kue di meja kerja Septian.


"Eh, makasih." Sahut Septian.


"Aku turun lagi ya."


"Nonton sama Si Mbok?"


Julia mengangguk tersenyum, ia terus melangkah untuk mengambil kue di piring besar untuk si Mbok.


"Nanti kalau mas udah selesai ngoding ikut gabung. Tungguin ya!"


"Siaaap!" Sahut Julia sambil turun ke bawah.


Si Mbok sudah membawa tiga cangkir teh, Bapak sudah duduk disamping si Mbok. Acara TV sudah beralih ke tayangan berita. 


"Ini Mbok, Pak … silahkan dinikmati." Julia meletakkan piring di meja depan sofa.


Tidak mengulur waktu tangan Bapak dan Si Mbok langsung meraih potongan kue. Sesaat kemudian mereka sudah larut dalam obrolan seru. Bapak menceritakan kisah cinta di masa mudanya dengan si Mbok. Mbok sibuk memukul-mukul kecil lengan Bapak sambil tertawa geli mengingat kekonyolan di masa lalu.


Tak lama ia melihat Septian turun dari lantai dua sambil melempar ciuman jarak jauh. Julia terkikik geli, ia ingin melakukan hal yang sama namun malu dilihat Bapak dan Si Mbok. Septian turut bergabung dalam obrolan.


Cerita-cerita masa lalu terus bergulir. Ada kejadian sedih dan juga senang. Dari setiap kisah selalu ada hikmah yang dapat diambil. Julia menikmati momen kebersamaan ini.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya ia merasakan kebahagiaan ada di sebuah keluarga utuh yang harmonis.


Untuk pertama kalinya Julia merasakan mempunyai figur Ayah lewat Bapak mertuanya. 


__ADS_2