
Indra penciuman Julia terusik dengan semerbak aroma yang menggiurkan. Ia melepaskan diri dari selimut lembut yang nyaman memeluk tubuhnya. Diliriknya ke arah jam dinding yang menunjukkan lewat pukul tujuh pagi. Ia lekas bangkit dan menggelung rambut panjangnya yang berantakan.
Julia mengikuti aroma wangi yang berasal dari dapur. Dilihatnya Septian tengah sibuk berkutat dengan wajan dan spatula. Tetap dengan pakaian kebangsaannya, kaos dalam dan sarung goyor.
"Maaf telat bangun Mas." Julia melongok dari pintu.
"Nggak apa-apa aku ngerti kamu lagi mens. Nikmati jatah libur sholatmu." Septian melempar senyum, tangannya sibuk mengaduk tumisan bawang merah putih, cabe rawit dan tomat.
"Hehe iya. Mas lagi masak apa? Mau aku bantu?" Julia menawarkan bantuan.
"Nggak usah, sudah hampir selesai. Tadi bikin nasi goreng bawang merah untuk sarapan. Terus sekarang bikin tumis sarden kalengan untuk lauknya."
Julia mendekat dan memeluk suaminya dari belakang. Dihirupnya aroma wangi dari tubuh Septian yang sudah mandi pagi. Julia berjinjit agar setara dengan Septian.
Cup!
Satu ciuman singkat mendarat di pipi kanan Septian.
"Terima kasih ya." Ujar Julia bergelayut manja.
"Sami-sami. Nih pipiku berat sebelah. Yang kiri belum." Septian menyodorkan pipi kirinya.
Julia senyum-senyum geli jual mahal, tak urung ciumannya kembali mendarat di pipi kiri Septian.
"Bibirku enggak nih?" Septian menyodorkan bibirnya.
"Nggak ah, aku belum gosok gigi." Julia menggelengkan kepala sok imut.
Cup!
Bibir Septian sudah mendarat di bibir Julia.
"Bodo amat belum sikat gigi!" Septian terkekeh.
"Mas ih …. " Julia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sebal Septian tidak mempedulikan larangannya.
"Nggak ada aroma apapun kok. Serius!" Septian mengangkat jari telunjuk dan tengah membentuk simbol peace.
"Alhamdulillah, Mas mau kopi?" Julia mengalihkan obrolan.
"Mau dong, yang kental ya … pake gula aren dikit aja." Pinta Septian.
__ADS_1
"Siap Boss."
Langkah Julia terasa ringan memulai pagi ini. Dengan cekatan ia mengambil panci kecil dan merebus segelas air di tungku kompor yang nganggur. Ia menakar dua sendok makan kopi dan satu sendok gula aren yang sudah sisir dan disimpan dalam toples jauh-jauh hari.
Sambil menunggu air mendidih ia mengambil sebutir lemon dari kulkas. Membelahnya dua bagian dan diperas airnya hingga menjadi satu sloki kecil. Setelah itu ia menambahkan dua sendok madu mentah ke dalam perasan lemon. Jadilah honey lemon shot yang baik untuk menjaga daya tahan tubuh.
Septian memindahkan nasi goreng ke dalam piring dan tumis sarden ke mangkuk kaca. Ia membawa sarapan mereka ke meja ruang depan. Sarapan sambil nonton berita pagi adalah rutinitas Septian.
Julia menyeduh kopi dengan air yang sudah mendidih. Aroma kopi yang wangi dan nikmat menguar ke penjuru ruangan. Dibawanya kopi ke depan beserta dua gelas air putih. Julia duduk di sebelah Septian bersiap menikmati sarapan pagi dengan suka cita.
***
Usai sarapan mereka memulai kegiatan masing-masing. Septian menuju ruang kerja untuk mulai ngoding ditemani secangkir kopi buatan Julia.
Julia mencuci piring bekas sarapan, setelah itu ia mandi pagi agar tubuhnya resik dan segar untuk memulai pekerjaan rumah tangga. Usai mandi pagi Julia memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci dan membiarkan mesin itu bekerja untuknya.
Sambil menunggu pakaian dicuci ia membereskan rumah, menyapu, mengelap debu dan mengepel lantai. Setelah itu ia membuka kulkas memilih bahan masakan yang sudah disiapkan dalam wadah-wadah plastik. Food preparation kata orang sekarang.
Julia memutuskan untuk masak tumis sayur kailan dan hati ampela ayam balado. Sengaja ia masak dalam porsi besar agar cukup untuk makan malam. Urusan masak dan mencuci pakaian selesai sebelum pukul sebelas siang.
Ia memutuskan membuat secangkir teh dan istirahat di kamar menunggu waktu makan siang. Julia duduk di meja rias. Ia mengambil buku agendanya dan memeriksa langkah-langkah yang harus ia lakukan untuk memulai bisnis baru.
Kali ini ia ingin membangun usaha yang mana produksi, pengawasan, administrasi dan distribusinya dilakukan oleh orang lain. Kali ini ia ingin bertindak sepenuhnya sebagai owner. Sehingga meskipun ia berhalangan, bisnis itu tetap bisa berjalan.
Julia sadar bisnis barunya ini butuh modal besar. Dan Septian sudah bersedia menggelontorkan uang dengan jumlah besar. Maka tugasnya adalah merencanakan eksekusi sebaik mungkin, agar tidak mengecewakan suaminya.
Ia sudah memikirkan beberapa oleh-oleh andalan untuk dipasarkan. Gudeg kering, bakpia, peyek udang rebon, pisang sale, dan bolu berbahan dasar singkong.
Ia berencana menyewa sebuah ruko di pasar kecamatan. Untuk produksi ia akan merekrut ibu-ibu PKK. Agar ibu-ibu di desanya bisa berdaya dan mempunyai penghasilan sendiri. Ia ingin keberadaannya di desa itu memberi arti.
Julia sibuk mencoret-coret buku agenda hingga sebuah tepukan lembut di bahu menyadarkannya.
"Mas jangan ngagetin dong!" Julia tergagap.
"Serius amat dek. Sampai mas masuk kamar aja nggak sadar." Sahut Septian.
"Iya lagi fokus mikirin bisnis oleh-oleh itu Mas." Julia menunjukkan isi coretan di buku agendanya.
"Mas mau ke masjid dulu sholat zhuhur ya." Septian mengusap pipi Julia.
"Ya Allah sudah zhuhur aja. Adek lupa ingatkan Mas makan siang." Julia menepuk jidatnya, merasa bersalah.
__ADS_1
"Nggak apa, nanti pulang sholat kita makan bareng. Udah ya, Mas pergi dulu." Septian membelai rambut Julia sebelum pergi.
Julia mengangguk dan menatap Septian keluar kamar.
***
Usai makan malam, Septian dan Julia bersantai di ruang TV. Julia memanfaatkan momen ini untuk membahas urusan bisnis barunya. Kening Septian berkerut membaca rencana bisnis Julia. Ia letakkan buku agenda Julia di meja.
"Menurut Mas lebih baik adek mengambil barang dari vendor lain, agar tidak repot urusan produksi. Jadi posisi kita disini sebagai penyedia tempat saja. Barang kita pasok dari orang lain. Itu lebih simpel." Septian memberi masukan.
"Itu nggak sesuai dengan niat adek untuk memberdayakan ibu-ibu disini Mas. Selain itu adek ingin membangun brand. Jadi produk oleh-oleh itu semua brand kita."
Julia menolak masukan Septian.
"Iya tapi sulit lho kamu harus bikin percobaan dulu, uji sampel, cek kualitas agar layak jual. Apa kamu sudah sehat betul untuk melakukan itu semua?" Septian mencari keyakinan di mata Julia.
"Mas meragukan aku?" Julia menatap Septian tajam, tersinggung.
"Bukan ragu. Aku khawatir kamu tidak siap dan lelah menghandle ini semua. Ini perkara besar lho. Kita baru merintis jadi sebaiknya memulai dari yang mudah dulu sebelum membangun brand." Lanjut Septian.
"Justru itu Mas, akan jauh lebih bagus bagi kita membangun brand di awal agar kita bisa tahu ternyata begini lho perjuangan membangun usaha, jatuh bangun." Julia melipat tangannya di dada, kesal.
"Mas cuma nggak ingin kamu terluka membangun usaha. Ayolah dek, apa nafkah dariku kurang? Sampai kamu harus sudah payah begini. Bisnis itu sulit lho, tidak terprediksi. Mentalmu harus kuat." Suara Septian seakan memohon agar Julia kembali mempertimbangkan usulannya.
"Ini bukan masalah nafkah mas. Nafkah darimu lebih dari cukup. Ini masalah potensi. Adek nggak bisa diam tanpa kegiatan. Dan juga bisnis ini peluang bagi adek diakui di masyarakat sini. Dianggap berarti." Jelas Julia lagi
Septian terdiam menghela nafas berat. Ia tidak melanjutkan adu argumen dengan istrinya.
Ia dalam kebimbangan, satu sisi ia bahagia melihat Julia kembali bersemangat. Apa pilihannya saat ini selain mendukung Julia? Toh uangnya ada. Ia tak punya alasan menolak.
Julia pasti marah jika ia tahu dirinya khawatir kalau Julia tak sanggup melawan terjalnya dunia bisnis. Julia tidak suka apabila kemampuannya diragukan.
"Terserah kamu saja. Jangan lupa setelah kamu bersih dari mens segera sholat dan berdo'a mohon petunjuk dari Allah." Ujar Septian membelah keheningan.
"Baik Mas, yang penting sekarang Mas ridho." Desak Julia setengah memaksa.
Septian terdiam sejenak.
"Mas ridho, tapi kamu harus siap dengan segala konsekuensinya."
Tatap Septian tajam menusuk. Julia membalas tatapan itu dengan anggukan penuh keyakinan.
__ADS_1