
Bu Kades bangkit dari kursi santai di ruang tengah. Aktivitas menonton sinetron favoritnya terusik oleh suara deru mobil yang memasuki pekarangan rumah. Ia mengintip dari balik tirai ruang tamu, matanya menyipit untuk meyakinkan diri. Ia kenal betul mobil yang terparkir tepat di depan teras adalah milik Pak Rahmat Segoro, sang juragan tambak sekaligus ayah Septian. Namun sebelum ia membuka pintu, ia mengamati dengan cermat sosok di balik kemudi.
"Tidak. Itu bukan Pak Rahmat. Itu Septian. Mau apa dia?" Gumam Bu Kades terkejut.
Jantungnya mendadak berdebar kencang. Perasaan gelisah dan takut menyelimuti hati Bu Kades. Firasatnya mengatakan akan ada hal gempar yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Ia mengambil langkah cepat meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya, cepat-cepat ia berbaring di kasur dan menarik selimut menutupi tubuhnya untuk pura-pura tidur. Setelah apa yang ia lakukan, ia tidak siap harus bertemu Septian. Biar saja hal itu jadi urusan suaminya.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum." Suara Septian yang berat dan lelah menyapa. Energinya terkuras setelah terjebak macet cukup lama setelah menjumpai Nabilla tadi siang. Belum lagi ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum ke rumah Bu Kades. Setelah apapun ia hari itu, ia bertekad untuk menyelesaikan urusannya dengan Bu Kades hari itu juga.
Tak ada sahutan dari dalam rumah, hanya terdengar suara televisi yang samar. Alis Septian berkenyit, ia berbalik ke arah Riska di belakangnya.
"Nggak ada jawaban." Desisnya melapor pada Riska yang setia membuntutinya.
"Coba ketuk sekali lagi. Mungkin mereka sedang makan malam." Riska memberi saran.
"Jam segini?" Septian tampak ragu.
Riska mengangkat bahu. Septian menarik nafas kesal. Ia mengetuk pintu sekali lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Tok tok tok!
"Assalamualaikuuuum!" Ia nyaris berteriak.
"Walaikumsalaam. Sebentar …. " Suara halus khas gadis muda menjawab dari dalam.
"Dian … " Bisik Septian pada Riska. Wajah Septian menyiratkan gurat kesal.
Pintu dibuka perlahan, mata Dian membulat tak percaya menatap sosok Septian dihadapannya. Sudah begitu lama ia tak bertemu dengannya. Memang benar kata orang, pria semakin tua semakin rupawan dan matang. Dian terpesona dengan wujud Septian yang semakin gagah dan tampan, hanya saja sinar mata Septian kali ini berbeda. Lelah dan penuh kemarahan.
"Hai Dian. Boleh saya bertamu?" Septian memecah lamunan Dian yang masih terperangah di hadapannya.
"Eh … maaf. Iya Mas … silahkan masuk." Dian menyadari ia bersikap tak sopan. Alih-alih menyambut tamu, ia malah melongo seperti terhipnotis oleh sosok pria itu.
"Terima kasih, Ibumu ada Dian?"
"A-ada Mas. Silahkan duduk dulu ya, saya panggilkan sebentar." Sahut Dian gugup.
Septian mengangguk. Dian menghilang cukup lama. Septian dan Riska menunggu dalam keheningan, hingga Pak Kades muncul dari ruang tengah dan menyapa mereka dengan ramah.
__ADS_1
"Lho ada Septian. Kapan sampai? Maaf saya tadi baru selesai dari kamar mandi." Pak Kades mengulurkan tangannya pada Septian.
"Tidak apa-apa Pak. Saya juga baru saja sampai." Septian menyambut tangan Pak Kades dengan jabatan yang mantap.
"Apa kabarmu Tian? lama tidak kelihatan."
"Alhamdulillah baik Pak, tapi bisnis saya yang kurang baik." Septian tersenyum.
"Saya turut prihatin dengan kabar yang beredar. Bagi pengusaha pasti kejadian itu merupakan pukulan berat." Ujar Pak Kades tulus.
"Begitulah kira-kira Pak, tapi saya percaya apapun yang menimpa seorang muslim adalah baik. Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa." Jawab Septian bijak.
"Benar sekali, yang penting kamu tetap sabar dan jangan berhenti berusaha. Jadi ada perlu apa Nak Tian kemari, ada yang bisa saya bantu?" Pak Kades melempar senyum tulus.
"Sebenarnya, saya punya urusan dengan Bu Kades. Keperluan yang sangat mendesak …. " Tatap Septian lekat.
***
"Bagaimana ini Bu! Kok ibu malah sembunyi, Dian harus gimana?" Dian mengguncang tubuh ibunya yang terbungkus selimut.
"Sssssttt ... kamu jangan ribut. Pokoknya kalau Septian minta ketemu Ibu, bilang Ibu sakit!" Bu Kades menggeram kesal, ia meletakkan jari telunjuknya di mulut sebagai tanda agar Dian berhenti merecokinya.
"Jangan goyang-goyang. Pusing kepala Ibu!" Bu Kades memegang kepalanya yang mendadak puyeng.
"Ya makanya Ibu bangun, temui Septian!" Gerutu Dian menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Ibu takut sama Bapakmu. Kalau Bapakmu tahu habislah kita." Bisik Bu Kades lirih.
"Bu, kalau Ibu sembunyi seperti ini Bapak malah curiga. Ibu pura-pura tidak tahu saja. Lagian Ibu yakin Septian datang karena masalah itu? Belum tentu kan?"
"Ya terus atas dasar apa dia kemari kalau bukan karena urusan kue itu. Apa kamu nggak ingat terakhir kali dia kemari sama istrinya untuk ngelabrak kamu?"
"Udahlah, pokoknya temui dulu. Sebelum Bapak yang manggil kita." Bujuk Dian.
"Ehm! Kalian ngapain kumpul disini. Ada tamu bukannya dijamu malah ditinggal. Nggak sopan!" Tegur Pak Kades yang telah berdiri berkacak pinggang dihadapan mereka.
"A-nu Dian tadi mau manggil Ibu, tapi kayaknya Ibu sakit Pak?" Dian tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Sakit apa kamu Bu? kok tiba-tiba. Tadi pas nonton TV masih sehat." Pak Kades mendekat dan mengulurkan tangan ke kening istrinya untuk mengecek suhu tubuh Bu Kades yang pura-pura lemas.
"Nggak demam kok. Normal." Ia menarik tangannya dari kening Bu Kades.
__ADS_1
"Dian kamu keluar, suguhkan teh untuk tamu. Bapak mau bantu Ibumu bangkit." Titah Pak Kades.
Dian mengangguk menuruti perintah Bapaknya.
"Boleh nggak saya tidur saja. Saya capek sekali lho Pak." Ucap Bu Kades memelas.
"Kamu ini ... temui saja dulu Septian. Sepertinya mereka nggak lama kok. Nanti setelah ini kamu saya pijitin." Sorot mata pak Kades yang tajam tak bisa dibantah. Bu Kades tak kuasa menolak, semakin ia menghindar maka semakin mencurigakan tingkahnya.
"Sini saya bantu berdiri." Pak Kades menarik tangan istrinya lembut. Bu Kades menurut. Ia bangkit dan merapikan rambut dan dasternya yang kusut. Ia mengikuti langkah Pak Kades dari belakang.
Dada Bu Kades bergemuruh, jantungnya seakan dipukul palu berulang-ulang saat melihat wajah Septian yang menerobos matanya. Datar tanpa ekspresi. Membuat Bu Kades semakin cemas. Atas dasar apa pemuda itu ingin menjumpainya.
Bu Kades mengambil tempat duduk disebelah Pak Kades, menempel seperti meminta perlindungan dari suaminya.
"Bu, geser sedikit … sempit. Disitu kan masih lapang." Bisik Pak Kades memerintah istrinya. Mau tak mau Bu Kades menggeser pantatnya menjauh.
Riska tersenyum geli melihat tingkah Bu Kades yang seperti tikus tersudut. Tampak jelas Bu Kades berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Ujung jari Bu Kades yang tua tampak gemetar, dan beliau terus menerus meremas jemari untuk menutupi rasa cemasnya.
Sesaat kemudian Dian datang membawa nampan berisi seteko teh panas dan sepiring biskuit, meletakkannya di meja tamu. Sebelum Dian beranjak pergi, Septian membuka suara.
"Sepertinya saya juga perlu bicara dengan kamu juga Dian. Bisa saya minta waktu kamu sebentar?"
Wajah Dian memucat, ia mengangguk kaku dan mengambil tempat duduk di kursi tunggal. Seketika suasana tegang merayap di antara mereka. Pak Kades seakan bisa membaca suasana dan bertanya.
"Apakah Dian membuat masalah lagi?"
Septian tersenyum pahit, ia menarik nafas berat dan menghembuskannya perlahan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, jemarinya bertaut di atas perutnya.
"Mohon maaf jika kedatangan saya seakan memberi kesan ada selalu ada masalah antara saya dan Dian. Percayalah Pak, saya orang yang paling tidak suka ada konflik. Saya tidak akan mengusik jika tidak diusik terlebih dahulu. Kali ini bukan hanya Dian yang memberi saya masalah, tapi istri Bapak juga."
Mata Pak Kades membulat lebar, ia menatap ke arah istrinya yang menatap angkuh kearah Septian, seakan mengobarkan permusuhan.
***
Note :.
Hai readers, masih setia ikuti kisah Septian dan Julia?. Moga masih ya, walau author super lelet dalam merangkai cerita.
Hari ini aku senang banget, kerjaan rumah selesai tepat waktu dan anakku sudah bisa main sendiri. Jadi hari ini aku punya banyak waktu luang untuk ngetik dan bisa post dua episode. Semoga berkenan yaaaa ... Jangan lupa like, vote dan komen yaaa. Aku butuh disemangati dan didukung lho.
Annyeong!
__ADS_1