
Septian mengajak Julia berkeliling desa untuk mengantar ikan yang baru saja mereka tangkap ke rumah saudara-saudaranya yaitu Mbak Lilis, Mbak Nurma, Mas Kuncoro dan Mas Sakti. Setelah itu barulah mereka pulang ke rumah. Septian dengan sigap memasukkan ikan ke dalam ember dan meletakkannya diatas tungku dapur agar tidak diincar kucing.
Sementara itu Julia langsung bergegas naik ke lantai dua menuju kamar. Ia meraih tas selempang yang tergantung di kapstok pintu kamar. Ia membuka resleting tas dan mengaduk-aduk isinya mencari ponsel yang sejak kemarin belum disentuh.
Terdengar suara langkah kaki Septian naik ke lantai dua, ia tidak langsung masuk kamar tapi menuju kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri dari sisa noda lumpur yang melekat.
"Pantesan nggak berbunyi, baterainya habis." Julia bergumam menyesali keteledorannya.
Pasti Ibu cemas karena dari kemarin ia belum menghubunginya. Ia segera mengambil charger dan mengisi daya ponsel.
"Sepertinya bakal lama terisi, habis total. Apa aku pinjam ponsel Mas Septian saja ya?" pikir Julia.
Ddokk ddokk ddokk!
Julia menggedor pintu kamar mandi untuk minta izin pada suaminya.
"Mas, mas!" panggil Julia mengeraskan suaranya.
Pintu kamar mandi terbuka, hingga tampak sebagian tubuh polos suaminya yang masih berbusa sabun.
"Ada apa?" wajah Septian tampak kesal karena acara mandinya terganggu.
"Maaf, boleh pinjam ponsel kamu nggak? Aku mau nelpon Ibu, baterai ponselku habis." Sengaja Julia membuat wajah memelas agar suaminya iba.
"Pakai saja, ponselku kemarin ada di meja komputer. Passwordnya 551234." Ujar Septian langsung menutup pintu kamar mandi.
"Makasih!" seru Julia gembira.
Ia menuju ruang kerja suaminya, tampak ponsel berwarna hitam diatas meja. Ia meraihnya dan menekan tombol untuk menghidupkan layar. Ponsel itu tidak merespon. Ia tekan sekali lagi, sama saja hasilnya. Layarnya tidak mau menyala.
"Sepertinya habis baterai juga! Doh ribetnya!" Julia mulai kesal.
Ia letakkan kembali ponsel itu dan menuju ke kamar untuk mengecek keadaan ponselnya.
"Sudah 18 persen, lumayan bisa nelpon sebentar!" Ia menghidupkan ponsel dalam keadaan masih tersambung ke charger.
Ditunggunya beberapa saat sampai ponsel loading sempurna. Ia menghidupkan paket data dan seketika pesan masuk ke WhatsApp-nya muncul bertubi-tubi.
Tung tung tung tung tung tung!
__ADS_1
Berisik sekali. Setelah beberapa detik barulah hujan notifikasi masuk mereda. Ia memeriksa pesan yang masuk sekilas. Ada pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Kak Lucy dan Ibu. Dicabutnya charger yang tersambung sebelum ia menekan nomor kontak Ibunya.
"Halo … Assalamualaikum Bu," sapa Julia takut-takut.
"Walaikumsalam, kok tidak berkabar nak!" Suara Ibu menyambar dengan nyaring di telinga.
"Maaf Bu, Julia lupa mengabari karena tadi malam lelah sekali. Julia langsung tidur begitu sampai. Sekarang Julia baru pulang dari kolam ikan. Pas ingat mau nelpon Ibu ternyata ponselnya mati. Sepertinya habis baterai dari kemarin." Jawab Julia pelan, ia merasa bersalah bisa sampai lupa mengabari Ibunya.
"Ya Allah Jul! Ibu telpon Septian dari kemarin juga tak aktif nomornya. Ada apa sih dengan kalian ini. Kalian tidak tahu hati Ibu risau memikirkan keselamatan kalian!" Ibu masih terdengar marah.
"Maaf ya Bu, Julia memang salah sampai lupa tidak mengabari Ibu. Tadi Julia mau nelpon Ibu pakai ponsel Mas Septian. Eh … ternyata mati habis baterai juga." Ia benar-benar merasa bersalah.
"Ya sudahlah yang penting kalian berdua sampai dengan selamat sampai tujuan. Sekarang pikiran Ibu sudah tenang mendengar kalian sampai dengan selamat." Suara Ibu sudah mulai melunak.
"Iya Bu, jangan khawatir lagi ya. Sekali lagi Julia minta maaf."
"Ya Ibu maafkan, istirahatlah lagi. Kalau bisa sering-sering lah mengabari. Kalau tidak sempat nelpon minimal kirim WhatsApp," pesan Ibu agak ketus.
"Oke bu, siap. Julia pamit dulu ya … Mau mandi badan masih bau habis pulang dari kolam ikan," sahut Julia lagi.
"Ya nak, mandilah dulu. Assalamualaikum."
Septian yang baru saja selesai mandi masuk ke kamar. Ia heran melihat wajah istrinya yang sedih, padahal tadi masih baik-baik saja.
"Kenapa dek?" tanyanya penasaran.
"Itu … kemarin adek ketiduran terus lupa ngabarin Ibu kalau kita sudah sampai. Baru ingat belum ngabarin Ibu waktu di kolam tadi. Pas mau nelpon ponsel kita sama-sama mati kehabisan baterai," jelas Julia dengan mimik muka lesu.
"Oalaaaah, kok bisa ya kita berdua sama-sama lupa." Septian menepuk jidat sadar akan kealpaannya.
"Adek takut Ibu salah paham. Sekalinya aku pergi jauh langsung lupa sama beliau," Julia memainkan jemarinya.
"Ya namanya juga kita kemarin sama-sama capek. Jadi udah nggak peduli sama ponsel. Yang penting kamu udah minta maaf." Septian menenangkan hati Julia, ia juga merasa tidak enak hati pada Ibu mertuanya itu.
"Mulai besok luangkan waktu untuk telpon ibu tiap habis Isya, biar Ibu nggak terlalu merasa kehilangan kamu," sarannya lagi.
Ia paham perasaan Ibu mertuanya yang baru kali ini berpisah dari anak. Apalagi anaknya hanya dua orang. Satu orang lepas dari pandangan tentu amat terasa kehilangan.
"Baik Mas .…" Julia mengangguk setuju. Ia baru saja merencanakan hal itu, ia harus menebus kesalahannya hari ini dengan lebih banyak meluangkan waktu dengan menelpon Ibunya.
__ADS_1
"Sekarang kamu mandi ya dek, biar segar. Oh ya, agenda kita hari ini bakar ikan di bawah. Kalau adek mau sholat atau makan di bawah aja dulu sementara. Karena dari siang sampai sore nanti ada tukang yang mau ngukur untuk bikin dapur di balkon. Nggak apa-apa kan?" jelas Septian sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Nggak apa-apa Mas. Yaudah aku mandi dulu." Julia bangkit berjalan ke arah pintu. Saat ia memutar gagang pintu tiba-tiba Septian menghentikannya.
"Eh tunggu dulu!"
"Kenapa Mas?" Julia membalikkan badan menatap suaminya.
"Kamu bersih-bersih sekedarnya saja dulu. Mandinya nanti aja." Usul Septian sambil senyum misterius.
"Lho kok gitu?" Julia mengernyitkan alisnya. Ia heran dengan sikap suaminya.
Dengan satu gerakan Septian membuka handuk yang melilit di pinggangnya. Ada sesuatu yang bangkit disana.
"Astaga!" Julia terbelalak dan menutup mulutnya yang terkejut. Ia masih belum terbiasa dengan pemandangan benda itu.
"Liat kamu pinggul kamu bergoyang dari belakang tiba-tiba aku jadi mau. Ayolah dek main dulu sebelum pak tukang datang!" Septian merengek seperti anak kecil.
"Tapi kamu kan udah mandi Mas, masa mau mandi lagi!" Mau tak mau senyum Julia merekah melihat kelakuan suaminya.
"Iya nggak apa-apa mandi dua kali, biar resik!" sahut Septian ngotot.
Julia memutar bola matanya, tidak ada gunanya berdebat dengan suaminya yang sedang diburu nafsu.
"Buruan dek, Mas tunggu. Sekarang!" Septian mengeluarkan titahnya.
"Iya iya, sabar Mas. Adek mandi dulu sebentar. Emang kamu mau ngelonin cewek yang baunya asem?" sergah Julia.
"Aku mau kamu wangi, tapi aku udah ndak tahan." Sahut Septian manja.
"Hmmmm, sabar aku mandi kilat dulu. Nggak nyampe lima menit!"
Julia bergegas menuju kamar mandi. Setelah membuka pakaian ia menyiramkan air jebar-jebur dan menyabuni badan secepat mungkin. Belum pernah ia mandi express seperti ini. Hanya sekedar syarat untuk menghilangkan aroma asem ditubuhnya.
Ddook dddoook!
Pintu kamar mandi digedor dari luar. Septian benar-benar tak sabar.
"Ada ada aja sih Mas, nggak bisa ya nunggu aku mandi sebentar saja."
__ADS_1
Julia menggelengkan kepala heran dengan kelakuan suaminya yang kadang ajaib. Dengan terburu-buru ia mengeringkan badan dan melilitkan handuk. Begitu ia memasuki kamar, suaminya telah menunggu dengan senyum menyeringai penuh makna.