
Meski ia berusaha berdiri gagah, langkah Julia tetaplah gontai. Dengan lesu ia menuruni tangga menuju rumah induk di lantai satu. Suasana pagi ini amat sepi, entah kemana perginya Si Mbok, Bapak dan Mbok Par. Biasanya di pagi hari Bapak sedang asyik menonton TV, Si Mbok membuat sarapan, dan Mbok Par menyapu halaman.
Rumah yang luas terasa kosong dan dingin. Julia terlalu malas untuk mencari mereka untuk minta izin seperti biasanya. Julia bergegas keluar dari rumah menuju pagar yang sudah tidak digembok. Riska sudah menunggu di luar, duduk di motor maticnya.
"Mbak baik-baik saja? Wajah Mbak pucat sekali." Sambut Riska khawatir. Matanya bergerak kesana-kemari menyelidiki keadaan Julia.
"Aku baik-baik saja kok Ris. Ayo kita segera ke toko. Kita harus bicarakan masalah ini." Sahut Julia sambil memasang helm. Ia berpegangan pada pundak Riska dan duduk di boncengan belakang.
"Rapikan roknya mbak, jangan sampai terlilit roda." Riska mengingatkan, sekilas ia melihat ujung gamis Julia yang terjulur ke tanah.
"Oh iya, terima kasih mengingatkan Ris." Julia merapikan rok dan mendudukinya. Efek kurang tidur tingkat kewaspadaannya merosot drastis.
Riska menjalankan motornya dengan kecepatan pelan menuju toko. Sebenarnya ia pun kurang istirahat juga tadi malam. Masalah viralnya kue berisi cicak membuat tidurnya tidak enak dan terus kepikiran.
***
Septian mengintip kepergian Julia dan Riska dari balik gorden jendela. Ada gelenyar rasa bersalah di hatinya karena telah mendiamkan Julia semalaman.
Tapi apa mau dikata, Ia hanyalah manusia biasa yang terguncang karena kekecewaan yang besar. Tak mudah bagi Septian mengalahkan ego-nya.
Septian menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Diliriknya meja makan sudah tersedia nasi goreng dan secangkir teh yang sudah dingin dengan perasaan hampa. Ia tak berminat menyentuhnya.
Dengan langkah enggan Septian menuruni tangga, ia akan berdiskusi pada orang tuanya tentang masalah yang menimpa Julia.
***
Setelah setengah jam berkendara dengan kecepatan setara sepeda onthel, mereka sampai juga. Riska memarkirkan motornya di bawah kanopi toko. Tak lupa ia mengunci cakram motornya. Setelah itu dengan sigap Riska membuka gembok toko.
__ADS_1
Julia sengaja meliburkan karyawan. Toko juga tidak beroperasi hari ini. Kedatangannya berdua dengan Riska ke toko untuk melakukan evaluasi dan introspeksi. Sekaligus ia ingin beristirahat sejenak, menjauh dari rumah dan Septian.
Julia menuju ruang kerjanya di lantai dua, ia melepas sepatu dan kaus kaki. Julia bersegera menuju toilet untuk berwudhu. Setelahnya ia menunaikan solat Dhuha dua rakaat. Memohon petunjuk, kekuatan dan kedamaian. Apa yang bisa manusia lakukan selain bersandar pada Tuhan?.
"Yang sabar ya Mbak. Keadaan seperti ini bukan kemauan kita." Ucap Riska pelan menatap wajah pucat Julia yang terbalut mukena. Ia duduk sejajar lesehan dengan Julia.
"Ini semua salah saya Ris, terlalu gegabah meningkatkan produksi tanpa ada pengawasan ketat. Hingga kita kecolongan tidak bisa menjaga kualitas." Sahut Julia lirih.
Matanya menerawang ke arah langit-langit toko. Dihapusnya titik kristal yang mulai tergenang di sudut mata. Susah untuk bersikap tegar disaat batinnya babak belur menahan perih luka sendirian.
"Semalam Nella, si selebgram itu marah-marah di IG toko kita. Dia bilang namanya ikut tercemar karena menerima endorse dari kita. Netizen menuduh dia asal terima endorse saja." Ujar Riska menyandarkan punggung ke dinding.
"Dan yang harus paling kita khawatirkan adalah izin usaha toko dicabut oleh Dinas Kesehatan Mbak ... Karena laporan netizen sudah sampai ke mereka." Lanjut Riska lagi.
"Tamatlah aku Ris." Desis Julia ikut menyandarkan punggung ke dinding.
"Bahkan Mas Septian sudah angkat tangan Ris. Beliau tidak mau ikut campur, dia menyerahkan segalanya padaku. Beliau tidak peduli lagi." Suara Julia bergetar, tercekat.
"Jadi saat ini … apa yang harus saya lakukan untuk meredam kemarahan netizen Mbak?" Tanya Riska takut-takut.
Julia menarik nafas berat, ulu hatinya terasa sakit. Kerongkongannya terasa masam dan mual.
"Tolong buat permohonan maaf di Instagram dan pernyataan kalau toko kita tidak beroperasi sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Perihal gaji karyawan biarlah saya yang urus. Kamu cukup laporkan jumlah yang harus aku bayarkan." Ucap Julia pelan menahan rasa tidak nyaman di tubuhnya.
"Jadi Mbak akan menyerah begitu saja?" Riska menatap Julia yang tampak layu.
"Aku punya pilihan apa Ris? Aku sudah mengecewakan banyak pihak. Aku sudah membuat malu keluarga Mas Septian. Aku sudah membuat mereka rugi ratusan juta. Rasanya aku malu sekali menghadapi keluarga Mas Septian yang sudah banyak membantu. Kenapa aku tidak ikut mati saja bersama anakku waktu itu. Biar aku tidak membawa petaka untuk orang disekelilingku!"
__ADS_1
Tangis Julia meledak, ia menutup kedua wajahnya dengan tangan yang terbalut mukena. Rasanya ia sudah tercebur paling terdalam paling terdalam di dunia. Ini adalah momen terendah dalam hidupnya. Begitu gelap dan terhimpit. Rasanya tak ada tangan yang mampu menolong.
"Astaghfirullah hal adzim Mbak. Eling! Ini bukan seperti Mbak Julia yang kukenal." Riska memeluk Julia erat-erat.
"Hu hu hu … Ris, aku nggak mau pulang ke rumah. Aku malu pada keluarganya Mas Septian. Aku harus bagaimana?"
Julia menyandarkan diri sepenuhnya pada Riska. Tubuhnya tak lagi memiliki kekuatan untuk menopang.
"Mbak, harus kuat. Aku tahu keluarga Mas Septian pasti kecewa, tapi yang namanya keluarga adalah tempat kita kembali. Mbak nggak boleh melarikan diri. Walau pahit di awal, mereka pasti akan memaafkan." Riska menepuk-nepuk lembut punggung Julia.
"Sebenarnya Riska curiga ini perbuatan orang yang tidak suka dengan Mbak Julia. Dari mana orang itu bisa dapat video Bu Karti batuk-batuk? Tuduhannya sakit TBC pula. Itu jelas fitnah Mbak, tidak ada buktinya!"
"Dan kalaupun dia curiga Bu Karti mengidap TBC, seharusnya dia kroscek ke kita dulu. Bukan langsung di viralkan seperti ini. Jelas orang ini ingin menghancurkan Mba!" Ucap Riska geram.
"Aku sudah lelah sekali Ris, aku nggak berani menaruh curiga ke siapapun. Aku hanyalah pendatang di desa ini. Semua ini murni salahku." Isak Julia tersedu-sedu.
"Bisa jadi kue isi cicak itu juga kerjaan orang yang sama. Karena Riska tidak yakin kalau karyawan kita bertindak ceroboh. Kan mereka mengerjakannya sama-sama. Kalau ada kesalahan pasti diingatkan sesama rekan." Lanjut Riska mendesis kesal.
"Ris … Boleh aku tidur sebentar saja sampai zhuhur. Kepalaku sakit sekali Ris. Rasanya aku juga mau muntah." Wajah Julia menjadi lebih pucat dari sebelumnya.
"Baik Mbak. Biar Riska buat permohonan maaf dulu ke sosial media. Kalau perlu Riska buat iklan di surat kabar. Mbak tidur saja dulu, nanti Riska bangunkan pas azan zuhur." Ucap Riska penuh perhatian.
"Terima kasih Ris." Sahut Julia.
Ia merebahkan diri di sajadah. Dengan berbantalkan tas ransel Julia mencoba menenangkan pikirannya. Tanpa perlu menunggu waktu lama Julia jatuh terlelap.
Riska mengamati Julia dari balik laptopnya. Iba sekali hatinya melihat seorang sosok pemimpin yang biasanya selalu ceria dan optimis kini begitu hancur, lemah, putus asa.
__ADS_1
"Kuatlah Mbak. Kita bisa lewati ini."