CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Menghadapi Kenyataan


__ADS_3

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.


(Q.S Ali Imran ayat 139)


***


Tik tok tik tok!


Suara jam dinding berdetak pelan, mengisi kekosongan di ruang makan. Dimana penghuninya sedang berkumpul namun tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Si Mbok bertopang dagu dengan wajah murung. Bapak menatap ke arah meja makan dengan tatapan hampa. Sementara Septian memijat kepalanya yang terasa berat dan pengar karena kurang tidur. Ada bayangan gelap samar di kantung matanya.


"Jadi berapa total kerugiannya Tian?" Ujar Bapak memecah keheningan.


"Mendekati lima ratus juta Pak. Belum termasuk biaya kecil-kecil yang tidak masuk hitungan." Desah Septian berat.


"Kamu masih punya tabungan?" Tanya Si Mbok khawatir. Sinar mata tuanya menelusup kedalam sanubari Septian.


Septian menggeleng lemah. Jemarinya menyisir rambut ke arah belakang dengan resah. Ia tampak lelah dan juga berantakan.


"Semua tabungan Tian alokasikan untuk toko. Habis tak bersisa."


Bapak menunduk dalam-dalam tanda ia menaruh kekhawatiran besar pada anaknya. Ia menghembuskan nafas berat. Ia pernah ada di posisi anaknya. Rugi ratusan juta. Bedanya ia masih punya tabungan dan mental sekuat baja.


Bagaimanapun mandirinya Septian, tetap saja mental dan jiwa bisnisnya belum terasah. Lebih-lebih selama ini ia tak pernah hidup susah dan kekurangan. Perkara mental bisa membuat segalanya jadi berbeda.


"Bapak dan Si Mbok jangan khawatir. Kalau untuk sekedar makan, Tian tidak masih mampu kok. Nanti pelan-pelan bisa nabung lagi. Insya Allah." Jawab Septian meredakan kekhawatiran orang tuanya.


"Jangan dimarahi istrimu ya … kasihan. Tidak ada yang menginginkan kejadian seperti ini." Si Mbok menepuk lembut bahu Septian.


"Apa Ibu tidak malu dengan kejadian ini?" Tatapan Septian nyalang ke arah si Mbok.


"Ya malu, tapi apa mau dikata … Kita hadapi saja, ikhlaskan." Desah si Mbok.


"Tidak semudah itu Bu. Tian geram sekali, kenapa Julia gegabah memperbanyak produksi. Dia melakukan sesuatu diluar kemampuannya. Makanya jadi kecolongan seperti ini. Tian merasa Julia telah dibutakan oleh uang." Septian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.


"Astaghfirullah Tian. Jangan berpikiran begitu, yang Ibu tahu Julia memperbanyak produksi agar bisa membuka lapangan kerja untuk ibu-ibu warga desa kita." Si Mbok mengusap-usap punggung Septian.


"Tapi lihat hasilnya. Bukannya untung malah buntung!"

__ADS_1


"Kok Bapak ndak yakin ya ini salah Julia. Perasaan Bapak … sepertinya kejadian ini sengaja dilakukan oleh orang yang kurang senang dengan usaha kalian. Bapak tidak mau menduga-duga, tapi apa kalian pernah bikin sakit hati warga sini?"


Bapak menatap mata Septian lekat, mencari kebenaran dan kenyataan yang mungkin disembunyikan anaknya.


Septian termangu, kenangan konfrontasi antara Julia, Dian dan Bu Kades berkelebat di benaknya. Tapi Bu Kades adalah istri dari orang yang terpandang di desanya. Ia tak mau menaruh curiga pada Bu Kades. Bukankah masalah antara mereka sudah selesai.


"Entahlah Pak. Tian tidak mau mencurigai siapapun. Mungkin sudah nasib kami mendapat musibah ini." Ucap Septian lirih.


"Tutup saja tokonya sementara hingga isu ini mereda. Kalau perlu buat permintaan tertulis di surat kabar. Kalian tenangkan diri dulu. Mbok mohon tahan lisanmu Tian, jangan kamu sakiti Julia. Hanya kita yang ia miliki disini."


Kata-kata Si Mbok seakan menampar Septian. Ia ingat betul bagaimana tindakannya tadi malam pada Julia. Ia meluapkan kemarahannya dengan kasar pada Julia. Bahkan ia mengabaikan istrinya semalaman.


"Sudah terlambat Bu, aku bahkan sudah menancapkan belati berlumur racun ke hati istriku."


Mata Septian bergerak kesana-kemari, liar, dan resah. Ia menghindari tatapan si Mbok.


"Tian naik ke atas dulu. Mau istirahat." Ucap Septian bangkit dari kursi dan melesat meninggalkan kedua orangtuanya.


Tangan Si Mbok kalah cepat menangkap tangan anak bungsunya itu. Sebagai seorang Ibu, nalurinya menangkap ada yang tidak beres.


Bapak memberi kode dengan tangannya agar Si Mbok menahan diri untuk mengejar Septian.


***


Riska sibuk dengan urusannya meng-handle amukan warga net di sosial media. Sesekali ia mengangkat panggilan masuk di ponsel kantor. Dengan sabar ia meminta maaf pada pelanggan yang marah menuntut penjelasan.


Tangannya sibuk mengetik rancangan kalimat untuk permohonan maaf secara tertulis dan pengumuman yang akan di sampaikan lewat sosial media dan surat kabar. Sayup-sayup adzan zhuhur berkumandang dari masjid ke masjid. Diliriknya Julia yang masih terlelap. Begitu pulas dan damai.


Riska beranjak dari meja kerjanya dan memesan dua bungkus Nasi Padang kesukaan Julia lewat aplikasi. Riska turun ke lantai satu menunggu pesanannya datang. Kurang dari dua puluh menit makanan telah sampai.


Setelah membayar, Riska kembali naik ke lantai dua untuk membangunkan Julia.


"Mbak … bangun, sudah zhuhur." Riska berlutut dan mengguncang pelan bahu Julia.


"Emmmmh! " Julia mengerjapkan matanya yang silau menerima cahaya matahari lewat jendela. Ia duduk merenggangkan ototnya yang kaku.


"Saya sudah beli nasi Padang untuk lunch. Mbak mau makan dulu atau sholat dulu?" Tanya Riska.


"Sholat dulu saja Ris. Kalau kamu lapar makan duluan nggak apa-apa kok." Sahut Julia sembari bangkit menuju dispenser. Haus, ia butuh minum.

__ADS_1


"Kalau begitu Riska ikut sholat juga deh Mbak. Kita jamaah saja biar bisa makan bareng." Ujar Riska menatap Julia minta persetujuan.


Julia menjawab dengan anggukan dan senyum dikulum.


Riska menuju toilet untuk berwudhu dan disusul Julia.


Mereka menunaikan sholat bersama. Di penghujung rakaat terakhir, Julia sujud lebih lama. Ia menitipkan doa yang ia daraskan di kaki bumi. Semoga malaikat berkenan membawa doa-doanya naik ke langit menembus hingga ke Arasy.


***


Sambil makan siang, Julia dan Riska masih membahas tentang kelangsungan toko.


"Riska sudah buat permohonan maaf di IG dan surat kabar. Yang di surat kabar akan naik cetak besok pagi. Dan juga saya sudah buat pengumuman toko kita tutup sementara waktu." Lapor Riska.


"Baik, masih ada lagi yang komplain?"


"Yang marah-marah dan mengumpat kita di IG banyak. Tapi yang keukeuh minta kita tanggung jawab ya cuma si Nabelle itu Mbak. Dia DM minta uang untuk pengobatan. Katanya takut tertular penyakit TBC. Sebeeeel aku!" Ucap Riska tampak gemas sekali.


"Abaikan saja dia dulu tidak usah ditanggapi. Kita kan sudah minta maaf secara pribadi, orang model begitu lama-lama memeras kita."


"Betul kata Mba, dia cari kesempatan dari musibah orang lain."


"Habis ini agenda kita ke rumah Bu Karti ya. Kita bawa beliau ke rumah sakit untuk buktikan apa memang beliau sakit TBC. Ini harus diluruskan biar pelanggan kita tidak resah." Julia memutuskan.


"Baik Mbak, biar saya yang nelpon Bu Karti setelah makan."


"Terima kasih ya Ris. Kamu mau nemenin Mbak melewati masa sulit ini. Kalau izin toko ini akhirnya dicabut oleh Dinas Kesehatan ... Mbak doakan kamu dapat kerjaan yang lebih baik daripada ini."


Julia menatap wajah polos Riska yang tampak terkejut. Riska, betapa Julia menyayangi dan menyukai gadis yang ringan tangan dan gigih dihadapannya. Ia bagai mendapatkan sosok adik di tempat asing ini.


"Mbak … jangan ngomong begitu. Riska masih betah lho kerja sama Mbak."


"Maaf ya Ris, Mbak nggak tahu bisa kasih kamu gaji atau nggak bulan depan. Kalau Riska mau cari kerjaan lain, Mbak persilahkan." Ucap Julia lirih.


Riska terdiam, ia tak bisa memberikan janji untuk setia pada Julia. Karena kenyataannya ia pun butuh penghasilan. Namun, ia akan mencoba bertahan lebih lama untuk menemani Julia. Bukan karena uang tapi karena rasa sayang pada Julia yang telah dianggapnya sebagai kakak.


Riska dan Julia menghabiskan makan siangnya dalam keheningan. Masalah ini tidak hanya membolak-balik kehidupan Julia. Namun juga semua pekerjanya yang terputus sumber pendapatannya.


Sungguh sebuah kenyataan yang pahit!.

__ADS_1


__ADS_2