
"Adek … Bangun sholat subuh." Septian berbisik lembut di telinga Julia.
Julia menggeliat dan menarik selimut menutupi kepalanya. Karena tidur di ruangan yang ber-AC membuat rasa kantuknya menjadi-jadi. Ia ingin menambah tidur lebih lama, lima menit saja.
"Mau tidur sampai kapan? Hmmm … Mas tahu kamu lelah. Nanti habis sholat boleh tidur lagi," Septian mengguncang bahu Julia perlahan.
Septian memutar bola matanya putus asa membangunkan Julia, ia beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu. Sengaja air yang ada di wajah dan tangannya tidak dikeringkan ke handuk. Ia merencanakan sesuatu, senyum jahilnya mengembang. Septian membuka selimut yang menutupi kepala Julia.
"Rasakan nih!"
Ia menciptakan air dingin bekas wudhu ke wajah Julia. Tapi Julia tidak bereaksi. Gemas dengan hal itu Septian menggesek-gesek jenggotnya yang basah ke wajah Julia.
"Ewwwwww, apa nih!" Julia membuka mata dan wajahnya berkerut terganggu dengan stimulasi basah dan kasar terasa risih di kulit. Saat ia mengusap wajah yang basah ia merasa ada sesuatu terselip di mulutnya.
"Phuuuiiih … " Julia menghembuskan benda asing berbentuk helaian keriting dan kasar. Ternyata itu janggut Septian yang rontok.
"Kamu kok iseng banget sih Mas, jorok! Julia protes kesal.
"Enak aja jorok, itu jenggot sudah aku cuci pakai sabun pencuci wajah sebelum wudhu. Kamu yang jorok masih ileran dan belekan!" cecar Septian menunjuk wajah kusut Julia.
Julia refleks menggosok tepi mulut dan mata dengan kerah kaos yang dipakainya.
"Ini efek kecapean Mas, nggak biasanya aku sampe ngiler dan belekan gini. Kemarin -kemarin kan nggak begitu," gerutu Julia membela diri.
"Terserah deh. Sekarang cepat wudhu, Mas mau subuhan ke masjid. Kalau aku pulang kamu masih tidur siap-siap ku sentil!" ancam Septian yang sama sekali tidak membuat Julia takut.
Gimana mau takut kalau ngancam-nya sambil cengar-cengir.
Septian sudah turun ke lantai bawah. Julia merasa kantuk-nya sudah hilang total. Ia bergegas bangkit untuk cuci muka, sikat gigi, dan berwudhu. Suhu air yang dingin membuat sekujur tubuhnya menggigil.
"Brrrrrrr ... Duh dingin banget, nanti ajalah mandinya nunggu agak siang. Kalau sekarang nggak kuat," gumamnya.
Begitu masuk ke kamar ia disambut hawa dingin dari AC yang lupa ia matikan. Geligi Julia kontan gemeletuk menahan dingin. Buru-buru dimatikannya AC, tanpa menunggu waktu ia langsung menjalankan kewajibannya sholat subuh.
Setelah itu sambil menunggu suaminya pulang ia membaca Al-Qur'an. Namun hingga ia selesai suaminya tak kunjung pulang. Julia memutuskan untuk menyusul ke lantai bawah. Ternyata Septian sedang berbincang dengan Bapak dan si Mbok di ruang makan.
"Sini sini nduk sarapan ndisik!" seru Si Mbok.
Julia merasa malu, pagi-pagi bukannya bantuin masak malah langsung disodorin sarapan. Julia duduk di kursi makan, di meja sudah tersedia pisang dan singkong goreng. Ada seteko kopi panas yang uap-nya masih mengepul. Julia mengambil cangkir dan menuang kopi panas untuk dirinya sendiri.
"Masih capek-capek nduk?" tanya si Mbok sambil menyuap pisang goreng.
"Lumayan mbok," jawab Julia jujur.
"Mbok panggilkan tukang pijat langganan mau nggak?" Si Mbok menawarkan.
"Nggak usah mbok. Saya gampang geli jadi nggak biasa dipijat. Nanti saya tempel koyo saja," tolak Julia sopan.
Mbok mengangguk-angguk sambil tersenyum memandangi menantunya yang cantik.
"Kalau bisa hari ini sudah bisa langsung dikerjakan ya Pak, tolong hubungi tukang secepatnya," ujar Septian pada Bapak.
"Iya nanti bapak hubungi boss tukangnya, insya Allah!" sahut Bapak sambil menyesap kopinya.
Septian meminta bantuan Bapak untuk mencarikan tukang untuk merenovasi balkon. Karena Bapak berpengalaman untuk urusan seperti ini.
"Jadi berapa orang yang tinggal dirumah ini mbok? tanya Julia penasaran.
__ADS_1
"Lima orang nduk, Bapak, si Mbok, Septian, kamu, dan Mbok Par yang bantu-bantu ibu disini," jawab si Mbok.
"Kalau dulu ramai yang tinggal disini, sewaktu Mas dan Mbaknya Septian belum menikah. Sekarang sepi karena semua sudah pada berkeluarga." tatapan Ibu menerawang memandangi rumahnya yang luas tapi hanya sedikit penghuninya.
"Makanya Bapak minta Septian tinggal disini untuk menemani kami. Tapi Mas dan Mbaknya Septian tinggal di sekitar sini kok, ndak jauh. Nanti sore biasanya mereka suka ngumpul disini," sahut Bapak.
"Nanti kalau hari lebaran baru ramai. Anak, cucu, saudara jauh semua suka nginap disini. Riuh sekali. Nanti kamu lihat sendiri, jangan kaget ya Nduk," si Mbok terkekeh.
Julia merasa senang membayangkan berkumpul dan berkenalan dengan keluarga besarnya Septian. Karena biasanya Julia selalu merayakan lebaran hanya bertiga saja dengan Ibu dan Kakak.
"Matahari sudah tinggi, yuk kita jalan-jalan keliling desa. Biar kamu akrab dengan suasana disini," ujar Septian menghabiskan kopinya.
"Bentar, aku bantu mbok cuci piring dulu," jawab Julia mengumpulkan cangkir kotor membawanya ke bak cuci piring.
"Sudah tinggalkan saja Jul, nanti biar Mbok Par saja yang cuci. Nggak apa-apa, santai saja," sahut si Mbok.
"Yuk!" Septian memberi kode pada Julia untuk mengikutinya. Julia mau tak mau mengikuti suaminya ke halaman depan.
"Tunggu disini, aku mau panasin motor sebentar," saran Septian.
Julia mengangguk, ia mendaratkan bokongnya ke lantai teras, sambil mengamati suasana desa yang sangat damai dan tenang itu. Ia mengamati rumah Septian yang megah.
"Aku tidak tahu kalau petani bisa se-sukses ini. Selama ini petani identik dengan hidup susah. Nyatanya keluarga Septian cukup makmur," gumam Julia.
Septian mengeluarkan motor matic-nya dari garasi dan menepuk jok-nya.
"Silahkan naik nduk ayu, pegangan pinggangku yang kencang." titah Septian.
Julia naik ke motor dan duduk menyamping sambil memeluk pinggang suaminya. Ia merapikan ujung gamisnya agar tidak beterbangan. Setelah dirasa nyaman, Septian menjalankan motornya perlahan melewati jalan desa. Septian menyapa siapapun yang ia lewati, ia masih memegang teguh sopan santun dan tata krama.
"Mas, serem lewat sini. Suasananya horor, mana masih gelap!" Julia merapatkan pelukan.
"Nggak apa-apa, sebentar lagi juga terang. Nikmati aja deh jalan-jalannya," Septian mengusap punggung tangan Julia untuk menenangkannya.
Motor melewati jembatan batu yang dibawahnya mengalir sungai kecil yang sangat jernih. Julia terpukau melihat air yang mengalir tenang itu.
"Mungkin kalau mancing disitu, bisa dapat banyak ikan," Julia melontarkan isi pikirannya.
"Kamu suka mancing dek?" tanya Septian.
"Nggak, aku belum pernah mancing. Nggak ada yang ngajak," sahut Julia.
"Kalau gitu yuk kita mancing!" Seru Septian bersemangat.
"Pagi-pagi begini, yang benar aja. Kita nggak punya alat-alatnya!" seru Julia mengalahkan deru angin yang mengaburkan suaranya.
"Tenang aja deh. Nanti kamu tahu sendiri." Balas Septian sambil menarik gas kemudi, memacu motor bergerak lebih kencang.
***
Kurang lebih sepuluh menit, mereka sampai di sebuah lokasi yang memiliki kolam-kolam besar. Ada sebuah rumah semi permanen di bagian depan kolam. Septian menepikan motornya di samping rumah, ia turun dan mengajak Julia menuju rumah itu.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum!" Sapa Septian.
"Walaikumsalaam," sahut seorang pria paruh baya dari dalam sambil membuka pintu. Wajah pria itu terkejut dengan kedatangan Septian.
__ADS_1
"Lho kok pagi sekali datangnya Mas," sambut Bapak itu sambil tersenyum.
"Hehehehe … Iya Pakde sekalian ngajak istri jalan-jalan. Pengen mancing katanya. Kenalkan Pakde … ini bojoku," jawab Septian sopan.
"Saya Julia Pakde," Julia menangkupkan tangannya di dada sebagai pengganti salam.
"Oalaaaah, ini tho orangnya." Ujar Pakde tersenyum lebar sambil melakukan salam serupa.
"Mau pakai pancing atau serokan?" tanya Pakde pada Septian.
"Pakai serokan saja Pakde, kalau mancing saya kurang sabar," jawab Septian terkekeh.
"Sik Yo … saya ambil dulu serokan sama embernya," Pakde masuk ke dalam rumah dan kembali keluar sambil membawa barang yang di maksud.
"Ini, silahkan dilanjutkan. Saya juga mau ngecek kolam lele sekalian ngasih makan," sahut Pakde sambil menutup pintu rumah.
Septian mengangguk dan menggandeng tangan Julia menuju kolam ikan gurame.
"Itu tadi Pakde Nyoto, orang kepercayaan Bapak untuk mengurus usaha ternak ikan ini. Disini ada ikan lele dan gurame." jelasnya pada Julia.
"Ooooo … Jadi kolam-kolam ini kepunyaan Bapak," Julia membulatkan mulutnya berbentuk huruf O.
"Bukannya di curriculum vitae, kamu tulis pekerjaan Bapak adalah petani?" tanya Julia merasa heran. Ia berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan langkah kaki Septian yang besar-besar.
"Bapak memang petani kok. Bapak masih sering ke sawah menanam padi, sesekali memetik kelapa untuk dijual. Tapi kadang dibantu juga sama orang lain," jawab Septian santai. Mereka telah sampai di sebuah kolam yang tenang seperti tidak ada kehidupan.
"Ini awalnya usaha sampingan, ternyata sukses. Usaha ini membawa berkah untuk hidup kami," jelas Septian lagi.
Julia memandang hamparan kolam yang luas. Dikejauhan nampak Pakde Nyoto sedang menabur pakan ikan. Sedetik kemudian kolam itu beriak berkecipak, ikan-ikan muncul di permukaan berebut makanan.
"Masya Allah, banyak yang belum aku ketahui tentang keluargamu Mas," bisik Julia melempar pandangan ke wajah serius Septian
"Pelan-pelan, nanti kamu juga tahu kok. Kedua Mas-ku yang tertua sudah diamanahi Bapak untuk mengurus kolam. Aku tidak minat di usaha ini. Aku hanya berkunjung sesekali saja kalau sedang butuh hiburan." Septian mulai menyerok kolam, namun tidak ada ikan yang nyangkut hanya lumpur yang terjaring.
"Harusnya kita pancing pakai pakan, biar ikannya keluar semua baru di serok!" usul Julia bersemangat.
"Pinter kamu!" puji Septian. Ia berlari menuju kolam Pakde Nyoto untuk meminta segenggam pakan. Setelah dapat ia langsung berlari ke kolam tempat Julia menunggu.
"Nih sudah dapat, tolong adek tabur pakannya. Biar mas yang nyerok." Septian menyerahkan pakan ikan yang baunya tidak enak itu pada istrinya.
"Siap-siap ya," Julia memberi aba-aba. Seketika ikan-ikan langsung menggelepar berebut pakan yang ia tabur.
Septian menyerok dengan seluruh kekuatan. Ada beberapa ekor ikan yang tersangkut di dalam serokan. Dengan cekatan Septian memasukkan ikan ke dalam ember.
"Ayo lagi-lagi, mumpung ikannya masih bermunculan!" Seru Julia gembira.
Septian makin bersemangat menyerok ikan hingga ikan-ikan kembali bersembunyi dan kolam menjadi tenang.
"Coba hitung dapat berapa?" Julia melongok ke dalam ember.
"Tujuh belas ekor. Lumayan nanti kita bagi-bagikan ke Mas dan Mbakku. Sisanya dibakar ya. Aku pengen makan ikan bakar," jawab Septian tersenyum puas.
"Nanti adek buatkan ikan bakar yang enak," balas Julia bersemangat.
Setelah mengemas ikan dalam kantong plastik. Septian dan Julia pamit ke Pakde Nyoto. Motor kembali bergerak perlahan membelah jalan desa. Kali ini matahari kian tinggi. Aktivitas warga sudah semakin menggeliat. Julia menikmati suasana pagi ini. Hingga tiba-tiba ia tersadar.
"Gawat, aku lupa mengabari Ibu. Bahkan aku belum sempat membuka handphone dari kemarin. Astaghfirullah semoga Ibu tidak khawatir!" jerit Julia dalam hati.
__ADS_1