CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Julia Bertindak


__ADS_3

"Mas makan yuk, lauknya udah mateng."


Septian terlonjak kaget karena Julia sudah berdiri di depan pintu ruang kerja. Gumpalan kertas di tangannya terlepas.


"Lho ada kue tart, dari siapa?" Julia masuk ke ruang kerja.


Mata Septian bergerak gelisah, ia tak berani menatap manik hitam cemerlang milik istrinya. Walau ini bukan kesalahannya tapi tetap saja ia cemas hal ini akan membuat Julia sedih. 


"Pernikahan baru seumur jagung sudah dapat cobaan seperti ini. Haruskah aku ceritakan kalau kue dan hadiah ini dari Dian?" Gumamnya dalam hati.


"Kunci keberhasilan rumah tangga adalah saling terbuka dan komunikasi yang lancar."


Septian mengingat pesan itu dari sebuah buku dan memutuskan untuk jujur.


"Adek, ayo kita ke kamar tidur. Ada yang Mas mau ceritakan."


Julia mengangguk. Septian memungut kertas berisi pesan dan kotak hadiah dari Dian. Tangannya yang lain menuntun Julia ke kamar dan memintanya duduk di tepi kasur. Dengan hati-hati ia serahkan surat itu ke tangan istrinya.


"Coba baca ini dek …. "


Julia mengangkat alisnya heran, dibukanya remukan surat itu. Dibacanya pelan-pelan dan teliti agar tidak satu huruf pun ketinggalan. Air muka Julia berubah dari heran menjadi memerah.


"Nekat juga si Dian itu. Terus gimana perasaan Mas mendapat surat ini. Senang? Ngerasa punya penggemar? Atau marah kayak yang aku rasakan." Julia mengontrol diri agar tidak meninggikan suara pada Septian.


"Enak saja senang! Mas merasa dilecehkan. Masa aku dikasih hadiah seperti ini." Septian menunjukkan kotak kado yang berisi pakaian dalam.


"Hahahaha aku saja yang istrimu belum sempat membelikan celana dalam. Ini perempuan lain pula yang ngasih ke suamiku. Apa yang dibayangkannya!" Julia tertawa sinis.


Hatinya sakit Septian di beri perhatian yang tidak semestinya dari wanita lain. Tapi ia sadar sekarang ia berhadapan dengan siapa. Seorang gadis sinting yang menyedihkan. Tak ada gunanya marah-marah.


"Cepat ganti baju Mas!" Julia memberi perintah. Suaranya tegas dan berwibawa.


"Kita mau kemana?" Alis Septian berkerut bingung.


"Ke rumah Bu Kades. Sudah aku bilang sebelumnya kalau si Dian itu macam-macam, aku tatar dia. Sekarang waktunya!" Rahang Julia mengeras menahan geram.


"Kamu serius?" Septian menelan ludah. Sadar istrinya sudah tidak bisa diajak kompromi.


"Serius. Cepatlah bersiap!" Desak Julia.


"Ayo kita makan dulu. Masa udah capek-capek masak nggak dimakan." Septian mengalihkan amarah istrinya.


"Sudah hilang selera makanku. Harus kuselesaikan urusan ini dengan si Dian!"


Julia melipat tangan di dada, ia makin tak sabar.


"Kamu yakin? Nggak kita biarkan aja, mungkin dia iseng. Kurang kerjaan atau apalah …. " Septian mengulur-ulur waktu.


"Yakin seratus persen! Ini nggak bisa dibiarkan Mas. Sama aja memberi celah orang untuk mengusik hidup kita. Kita harus kasih tahu yang dia lakukan itu salah, dosa! 


"Ya sudah … tapi kamu jangan buat keributan ya. Malu sama warga sini." Septian menyerah, tekad istrinya sudah tidak bisa dipatahkan.


"Tidak, aku nggak suka drama. Aku cuma mau kasih tahu Bapak Ibu Kades tentang kelakuan anaknya. Apa yang dilakukan Dian itu meresahkan. Sebagai warga aku berhak membuat pengaduan. Toh kita punya bukti." Julia meyakinkan.


"Baiklah, kamu ganti baju. Mas panaskan motor dulu. Kalau udah selesai langsung turun ke bawah." 


Julia langsung melaksanakan perintah suaminya tanpa bicara apapun lagi. 


***


Septian memacu motornya dengan kecepatan sedang. Julia diboncengan belakang sama sekali tidak membuka percakapan. Diam seribu bahasa. Septian menerka-nerka apa yang dalam otak istrinya. Apa yang akan disampaikannya nanti. 


Dalam hati ia merasa enggan datang ke rumah Pak Kades untuk membahas hal ini. Baginya urusan ini adalah hal remeh yang harusnya diabaikan. Tapi istrinya berkeras untuk menanggapi hal ini secara serius. Mau tak mau ia ikuti saja, ia berharap Julia bisa menanggapi masalah ini dengan dewasa.

__ADS_1


Kurang lebih lima belas menit berkendara, mereka sampai di kediaman Pak Kades. Rumah berwarna hijau muda yang cukup luas dengan tanaman bougenville merambat di terasnya. Pintu ruang tamu terbuka, tanda ada penghuninya di rumah.


Julia dan Septian turun dari motor. Julia memberi kode pada suaminya untuk mengucapkan salam. Sementara itu Julia mengambil kotak hadiah Dian yang disangkutkan di stang motor. 


Dada Septian berdebar kencang karena ini pertama kalinya dia punya masalah besar yang harus dihadapi. Dengan membaca bismillah ia memasuki teras Pak Kades. Semoga tidak terjadi keributan.


"Assalamualaikum …. " Sapa Septian


"Walaikumsalaam … siapa ya?" Sapa Pak Kades dari balik sekat.


"Ini saya Septian, anaknya Pak Rahmat Segoro."


"Oh iya iya, silahkan masuk, langsung duduk saja." Pak Kades keluar mengenakan kaos dalam dan sarung. 


Septian dan Julia masuk ke ruang tamu dan duduk di tempat yang dipersilahkan. Bu Kades mengintip dari gorden pintu kamar, penasaran dengan siapa yang datang. Matanya terperanjat heran, ada keperluan apa kedua pengantin baru itu bertamu. Mau tak mau ia keluar untuk membuatkan teh demi kesopanan.


"Maaf siang-siang mengganggu waktu istirahatnya Pak." Septian berbasa-basi.


"Oh tidak menggangu, saya tadi sedang santai nonton TV. Ada yang bisa saya bantu?" Sahut Pak Kades ramah.


"Kami datang untuk bersilaturahmi Pak," jawab Julia sopan.


"Oooh saya terima kunjungan baiknya. Bagaimana rasanya tinggal di desa ini mbak?" Tanya Pak Kades pada Julia.


"Alhamdulillah nyaman, tenang dan damai Pak. Saya suka suasana desa yang tidak terlalu sibuk seperti di kota." 


"Syukurlah semoga betah tinggal disini ya."


"Iya Pak, terimakasih."


Julia menyenggol kaki suaminya sebagai kode untuk menyampaikan maksud tujuan mereka. Septian berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Pertama-tama saya mau mohon maaf jika kehadiran kami mengganggu bapak. Sebenarnya kedatangan kami kesini untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin kurang enak didengar." Ujar Septian pelan.


"Silahkan sampaikan saja Mas. Sebagai kepala desa, sudah semestinya saya menampung masukan dari warga." Pak Kades menanggapi dengan suara tenang.


Julia meletakkan kado dan surat yang telah remuk ke atas meja.


"Mohon maaf, Bapak atau Ibu silahkan baca surat ini." Kata Julia.


Dengan sigap Bu Kades menyambar surat itu dan membacanya. Dalam sepersekian detik air muka berubah. Memerah dan air matanya menetes.


"Saya tidak percaya anak saya melakukan ini! Jangan memfitnah!" Seru Bu Kades.


"Maaf Bu, kami tidak memfitnah. Kami datang kemari membawa bukti. Paket kado ini baru saja kami terima beberapa jam yang lalu." Sahut Julia mengontrol intonasi suaranya agar tetap rendah.


"Kami hanya ingin meminta penjelasan dari Dian." Sambung Septian.


Pak Kades mengambil surat dari tangan istrinya. Wajahnya berubah kuyu setelah membacanya. Dengan tangan gemetar Pak Kades membuka kado yang dikirim oleh anaknya dan menarik nafas berat kecewa setelah melihat isinya.


"Panggil Dian kemari Bu!" Pak Kades menggertak istrinya.


Bu Kades terkesiap dengan wajah tak rela ia menuruti perintah suaminya. Ia masuk melewati ruang keluarga dan mengetuk pintu kamar Dian. Terdengar suara teriakan Bu Kades yang disusul bunyi tamparan dari dalam kamar. Suasana begitu tegang menanti apa yang akan terjadi berikutnya.


Bu Kades datang menarik paksa tangan Dian dan mendudukkannya di hadapan Julia dan Septian.


"Lihat itu baik-baik! Itu tulisanmu kan. Otakmu kemana sampai berani-beraninya ngirim begituan!" Bu Kades membentak Dian.


"Bu … Tenang dulu. Kasih kesempatan Dian bicara." Pak Kades menahan tangan istrinya agar tidak main pukul.


Dian bungkam, matanya kosong menatap kado yang ada di meja. Tangan Dian terkepal kuat gemetar. Pipi kirinya merona merah tercetak telapak tangan bekas tamparan Bu Kades. Sulit membaca ekspresi wajah cantiknya yang membatu.


"Cepat bicara jangan bikin malu orang tua!" Bentak Bu Kades tak tahan dengan Dian yang mematung.

__ADS_1


"Memang saya yang kirim surat dan kado itu. Puas!" Sambar Dian melengking.


"Bukannya Ibu juga suka dengan Mas Septian. Ibu yang sejak awal mendorong saya untuk mendekati dia!" Tangan Dian menunjuk ke arah Septian.


"Sekarang cinta untuknya sudah bercokol di hati dan kepala. Tidak semudah itu membuang perasaan yang sudah menjalar. Bukannya dalam agama tidak salah pria beristri dua! Dimana letak kesalahan saya!" Lanjut Dian dengan suara serak bergetar campur tangis.


Bu Kades menutup mulut seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya. Sementara Pak Kades bersandar lemas di kursi, seluruh kekuatannya seakan hilang. Septian membuang pandangan dari wajah Dian yang nelangsa. Hanya Julia yang menatap Dian dengan wajah serius.


"Cinta tidak salah. Yang salah caramu menggoda suamiku diam-diam. Kalau niatmu baik tidak seperti ini caranya." Sahut Julia datar.


"Memangnya kalau aku melakukannya baik-baik, mbak akan izinkan suamimu menikahi aku?" Mata Dian mendelik tajam ke arah Julia.


"Aku tidak punya kuasa jika suamiku berkehendak untuk mendua. Tapi aku harus tahu atas dasar apa suamiku mau menikah lagi." Jawab Julia tenang.


"Yang aku tahu sifat adil hanya milik Allah. Manusia tempatnya salah dan khilaf. Kita harus tahu kapasitas diri sebelum mengambil keputusan. Jika suamiku siap datang ke hadapan Allah dengan keadaan rusuk miring sebelah. Maka aku mempersilahkannya!" Sambung Julia tegas.


"Sekarang adek tanya sama Mas, dihadapan Bapak Ibunya Dian. Apa kamu mau memenuhi keinginan Dian? Apa kamu mau menerima cintanya? Lebih baik kita terbuka di awal daripada menanggung sakit di belakang." Mata Julia menatap Septian lekat-lekat, meminta jawaban jujur.


Septian diam sejenak, Ia salut dengan ketegasan istrinya dalam bersikap. Sebagai laki-laki ia merasa dicintai dengan sempurna. Septian menghela nafas berat sebelum menjawab.


"Saya tidak bersedia. Dari awal menikah saya niatkan untuk setia. Menjadi laki-laki bukan berarti saya bebas menikah berkali-kali. Tapi sebagai laki-laki saya punya tujuan. Kemana pernikahan saya akan bermuara, surga atau neraka. Menikah adalah ibadah terlama. Saya tidak mau gagal dalam menjalankan ibadah ini." Jelas Septian mantap.


Dian menutup mata saat mendengar jawaban Septian. Diremasnya tangannya kuat-kuat. Hatinya begitu pedih dan hancur karena langkahnya untuk mendapatkan hati Septian telah tertutup. Hanya air mata yang mengalir sebagai wakil kepiluan hatinya.


Julia bersyukur dalam hati suaminya tidak terpancing godaan Dian. Sejak awal ia percaya pada suaminya, hanya saja sebagai wanita hatinya butuh diyakinkan.


"Jadi jelas ya Mbak Dian. Saya dengan kerendahan hati memohon tolong jangan ulangi lagi perbuatan seperti ini. Mbak Dian cantik, masih muda dan berpendidikan. Masa depanmu masih panjang, jangan Mbak rusak dengan sikap tercela seperti ini. Saya doakan Mbak akan mendapatkan jodoh yang baik, insya Allah." Julia melembutkan suaranya memohon pada Dian.


Dian membuang muka dari Julia, nuraninya mengakui bahwa yang dilakukannya salah dan rendah. Tapi ego masih bercokol di dada. Ia tidak mau mengakui kebenaran yang disampaikan Julia.


"Saya selaku orang tua mohon maaf atas kekhilafan anak saya. Mohon dimaafkan, dan kalau bisa masalah ini hanya kita yang diruangan ini yang tahu. Tolong jangan disebar karena ini menyangkut harga diri kami." Pak Kades memohon.


"Bapak tenang saja. Sejak awal kami tidak kepikiran memberi tahu orang lain. Karena masalah ini adalah aib bagi saya. Rumah tangga kami baru hitungan minggu tapi sudah mendapat ujian. Bapak pasti tahu betapa sedih dan malunya saya sebagai seorang istri. Saya jamin masalah ini tidak akan keluar kemana-mana. Insya Allah." Sahut Julia meyakinkan.


"Terima kasih banyak atas kebaikan hati Mbak Julia sudah memaafkan anakku. Mungkin ini ada andil saya sehingga anak saya berbuat seperti ini. Saya sebagai ibu juga turut mohon maaf." Bu Kades membuka suara.


"Saya sudah memaafkan Bu. Harapan saya hal ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Kita sama-sama wanita, sudah sepantasnya kita saling menjaga dan memahami." Jawab Julia bijak.


Bu Kades mengangguk pelan, mengamini apa yang dikatakan Julia.


"Sepertinya masalah kita sudah selesai. Saya juga mohon maaf kepada dek Dian. Tidak bisa menerima hadiah dari kamu." Septian menyodorkan hadiah ke arah Dian.


"Tidak usah dikembalikan. Melihatnya membuat hati saya sakit. Kalau tidak suka buang saja!" Jawab Dian ketus.


Julia dan Septian berpandangan. Pak Kades memberi kode agar Septian membawa pulang hadiah itu.


"Baiklah sekali lagi kami mohon maaf. Kami pamit pulang dulu ya Bapak Ibu."


Julia bangkit sambil menangkupkan kedua tangannya di dada diikuti Septian.


"Kami undur diri dulu Pak, Bu …. " Susul Septian tidak mau memperpanjang urusan.


"Iya silahkan. Sekali lagi kami mohon maaf atas kejadian ini. Hati-hati di jalan." Sahut Pak Kades mengantar Julia dan Septian ke teras.


Bu Kades dan Dian masih termenung di ruang tamu. Bingung dan cemas terhadap reaksi Pak Kades setelah kepergian Julia dan Septian. Dian segera menghapus air matanya, ia tegakkan kepala siap menerima amukan dan pelajaran dari Bapaknya. 


Melihat tatapan cinta antara Julia dan Septian tadi ia mengerti tak mungkin berada di antara mereka berdua. Ia tersadarkan cintanya sesat, salah alamat. Detik itu juga ia bertekad menghapus nama Septian dari memorinya.


Note:


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa-i, At-Tirmidzi)


Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “…kemudian jika kamu khawatir tidak mampu berbuat adil, maka nikahilah satu orang saja…” (QS. An-Nisa: 3)

__ADS_1


__ADS_2