
Septian mencuci bersih gumpalan darah calon buah hatinya. Dengan hati-hati ia membungkus dengan kain bersih dan menguburkannya di halaman belakang rumah diantara bunga kembang sepatu. Sesaat ia diam sejenak di depan gundukan pusara kecil itu. Merenung.
"Tiada daya dan upaya melainkan atas kehendak Allah. Allah Maha Kuasa. Manusia makhluk tak kuasa."
Septian bangkit menepuk celananya yang sedikit kotor terkena tanah. Ia menuju kamar untuk mengemas pakaian dan kebutuhan Julia selama tiga hari dalam sebuah koper. Kemudian ia mengajak Bapak untuk kembali ke rumah sakit.
***
Lewat tengah malam Ibu dan Lucy sampai ke rumah sakit. Diantar oleh kakak ketiga Septian, Mas Sakti. Wajah lelah dan kuyu Ibu menyiratkan sebuah kekhawatiran besar. Sedangkan Lucy tampak kusut dengan kantung hitam di bawah mata tanda penat. Septian turun ke lobi rumah sakit untuk menjemput mereka.
Septian mencium tangan Ibu mertuanya dan mengarahkan mereka menuju lift. Dengan sigap ia membawakan koper dan barang bawaan Ibu mertuanya.
"Julia dirawat di lantai empat Bu." Ujar Septian membuka pertemuan.
"Oh, sudah siuman kah dia Nak?" Tanya Ibu khawatir.
"Sudah siuman selesai dioperasi tadi, sekarang Julia sedang tidur setelah diberi pereda rasa nyeri." Jawab Septian.
Ibu tak lagi melanjutkan percakapan, mereka berdiri hening hingga lift berhenti di lantai empat. Septian berjalan menuju kamar 405 dan membuka pintunya.
"Assalamualaikum." Septian mengucapkan salam diikuti Ibu dan Lucy.
Julia masih terlelap didampingi si Mbok. Sementar Bapak menunggu di lobi bersama Mas Sakti.
"Walaikumsalam." Sambut si Mbok bangkit dari duduknya untuk menyalami besannya.
"Bagaimana perjalanannya Bu?" Tanya si Mbok ramah.
"Alhamdulillah lancar. Tapi ya begitulah … sepanjang jalan pikiran saya tidak tenang sebelum bisa melihat keadaan Julia secara langsung." Ibu menyambut salam si Mbok.
"Beginilah keadaannya Bu. Julia masih dalam pemulihan. Duduk dulu istirahat, cobalah tidur sebentar untuk menghilangkan lelah." Jawab Si Mbok matanya menangkap gelagat kepayahan di tubuh besannya.
"Iya Bu, terima kasih." Ibu dan Lucy duduk di sofa.
"Apa Ibu dan Lucy sudah makan malam?" Ujar Si Mbok penuh perhatian.
"Sudah Bu tadi sempat mampir makan malam dulu sama Mas Sakti sebelum menuju kesini." Kata Lucy sopan.
"Baiklah kalau begitu. Ibu santai saja disini. Saya pamit pulang dulu karena Bapaknya Septian sudah harus istirahat. Beliau juga agak kurang sehat. Insya Allah besok pagi saya akan kembali lagi kemari." Si Mbok undur diri.
"Baik Bu, terima kasih sudah menjaga anak saya." Sahut Ibu.
__ADS_1
"Sudah seharusnya saya menjaga Julia, dia anak saya juga." Senyum si Mbok tulus.
"Saya duluan ya semuanya. Tian jaga istrimu baik-baik. Biar Ibu Julia dan kakaknya tidur dulu." Pesan Si Mbok sebelum berlalu.
"Baik Mbok, bilang sama Mas Sakti pelan-pelan saja mengemudi. Sekarang sudah lewat tengah malam." Jawab Septian.
Si Mbok menanggapi pesan Septian dengan senyum dan anggukan sebelum benar-benar pergi. Si Mbok sebenarnya masih ingin menemani menantunya itu, tapi ia sengaja pulang ke rumah untuk memberikan ruang pada Ibu dan Lucy untuk melepas rindu pada Julia.
Setelah si Mbok pergi, Ibu meraih tangan Julia dan mengusap dahi putrinya yang terasa hangat.
"Kok agak panas badannya Julia ya Tian? Apa dia demam?" Ujar Ibu cemas.
"Iya Bu, Julia memang agak demam karena tubuhnya sedang berjuang untuk pulih. Tapi tidak apa-apa. Perkembangannya akan terus dipantau perawat." Jawab Septian menenangkan.
"Syukurlah kalau begitu. Ibu sepertinya tidak bisa tidur Nak. Kamu tidur saja, biarlah Ibu yang menjaga Julia." Pinta Ibu.
"Tidak usah lah Bu. Biar saya yang menjaga. Ibu tidur saja dulu. Nanti begitu Julia bangun akan saya beritahu." Tatapan Septian memohon meyakinkan. Ia tak ingin Ibu mertuanya jatuh sakit kelelahan.
"Betul kata Tian Bu. Kita istirahat saja dulu. Kepala Lucy sudah sakit karena kurang tidur." Kata Lucy membujuk Ibu sambil memijat pelipisnya.
"Baiklah kalau begitu." Ibu duduk merebahkan diri ke sofa di sebelah Lucy. Tubuh mereka tak dapat berbohong, beberapa menit kemudian mereka telah kompak mendengkur.
Septian tersenyum melihat Ibu dan kakak iparnya sudah tidur nyenyak. Kehadiran mereka berdua akan menghibur hati istrinya.
***
"Mas, tolong. Adek haus!" Kali ini Julia menggoyang tangan Septian lebih keras hingga tangannya tak lagi menopang pipi.
"Hah apa? haus? Sebentar …. "
Sekonyong-konyong Septian terkejut bangkit dari lelapnya. Ia tidak sengaja ketiduran saat menunggu Julia. Dalam keadaan limbung dan nanar Septian melangkah menuju nakas untuk mengambil air.
Brukkkk!
Septian jatuh tersandung kaki kursi, lututnya menghempas lantai.
"Aduh!" Pekik Septian membangunkan semua orang.
"Mas! Hati-hati …. " Julia menjerit panik, tanpa sadar ia berusaha bangkit dari kasur.
"Ada apa Nak ?" Ibu bangun terduduk.
__ADS_1
"Kenapa sih?" Wajah Lucy berkerut karena tidurnya terganggu.
"Maaf mengagetkan .... " Ujar Septian meringis mengelus lututnya yang terbentur lantai.
"Mas ini, bikin aku takut aja. Duhhh .… " sahut Julia mengelus luka operasinya yang nyeri karena perutnya menegang saat berusaha bangkit untuk mengecek keadaan Septian.
"Maaf, maaf." Septian nyengir sambil berusaha bangkit dari jatuhnya.
"Jul, sudah bangun kamu nak?" Ibu beralih bangkit mendekati Julia.
"Ibu … kakak kapan datangnya? Julia kangen." Mata Julia berbinar cerah menatap kedua sosok yang ia rindukan.
"Tadi Nak jam dua belas lewat. Waktu kamu tidur. Ibu juga rindu sekali." Sahut Ibu membelai rambut Julia.
"Mana yang sakit nak?" Tanya Ibu penuh kasih.
"Yang ini Bu ... Perih sekali." jawab Julia nyaris merengek menunjuk perut bagian bawah.
"Gimana keadaan kamu dek? Kok bisa sih kamu hamil tapi nggak tahu." Lucy mendekat sambil bersungut-sungut.
"Iya kak Qadarullah … Julia juga tidak tahu kenapa bisa sampai begini. Tapi kata dokter hormon HCG-ku rendah karena itu kehamilan tidak terdeteksi. Dan aku juga tidak merasakan tanda-tanda hamil seperti pada umumnya. Cuma telat datang bulan aja, aku pikir telat mens biasa." Jawab Julia menjelaskan dengan wajah memelas.
"Hmmm, berarti memang janin kamu sudah bermasalah sejak awal." Gumam Lucy mengambil kesimpulan.
"Ya sudah takdir Allah pasti baik. Mungkin ini ketetapan Allah yang paling baik untuk kamu dan anakmu. Sabar ya, kamu bisa melewati ini." Lanjut Lucy bijak.
"Tapi sekarang Julia hanya punya satu saluran buluh rahim saja kak. Apa masih bisa hamil?" Julia mengadukan rasa gundah dihatinya.
"Insya Allah bisa. Tidak usah pikirkan itu dulu. Fokus pemulihan, makan yang sehat, tenangkan pikiran. Kamu masih muda kok, masih banyak kesempatan." Jawab Lucy tegas menghalau aura negatif di diri Julia.
Julia menggangguk-angguk, ia menerima nasihat dari Lucy. Ia tidak boleh membebani diri dengan keinginan untuk cepat-cepat punya anak. Pulih dan sehat seperti sedia kala adalah yang utama.
"Nih minum dulu, katanya tadi haus." tertatih-tatih Septian menyodorkan segelas air.
"Hehehe makasih ya Mas. Gara-gara ini kamu sampai jumpalitan." Julia tersenyum geli.
"Sama-sama, tadi aku terbawa suasana hening. Semua orang tidur, aku jadi ikut ketiduran. Pas kamu manggil aku jadi kelabakan." Septian menggaruk kepalanya.
"Ya sudah kamu memang kelihatan capek sekali. Tidurlah dulu Nak. Biar gantian Ibu dan Lucy yang menemani Julia." Ibu tersenyum melihat wajah polos Septian.
Septian mengangguk, kali ini ia tidak membantah permintaan Ibu mertuanya. Tubuhnya memang lelah sekali. Ia menghempaskan tubuhnya yang panjang ke sofa dan tertidur.
__ADS_1
"Kasihan suamiku. Semua orang jadi ikut repot karena aku." Batin Julia dalam hati.