
"Ris … Tolong hubungi Mbak Nella yang selebgram itu ya. Tanyakan rate card untuk endorse di Instagram." Pesan Julia sebelum pulang meninggalkan toko sore itu.
"Baik Mba." Riska mengangguk.
"Ohya sekalian di list siapa-siapa saja food blogger dan influencer berpengaruh di kota ini ya." Pesan Julia sekali lagi.
"Baik Mba." Riska kembali menekuri ponselnya. Mengecek kandidat influencer yang kiranya dapat meningkatkan aware masyarakat terhadap toko mereka.
Usaha Julia di bulan kedua sudah mulai menunjukkan titik terang. Ia berhasil menggaet pelanggan tetap. Berkat bantuan Si Mbok dan Bapak yang punya pengaruh kuat di desa, nama usahanya kian tersohor.
Produksi meningkat pesat, seiring banyaknya permintaan. Julia aktif menggunakan Instagram sebagai media promosi. Ia bisa sedikit bernafas lega karena pendapatan sebulan ini sudah menutup dua puluh persen modal yang telah Septian gelontorkan.
***
Nella sedang asyik merapikan rambutnya yang hitam kelam teruntai hingga ke bahu. Ia mematut diri di cermin, memastikan dirinya cantik sempurna untuk tampil di story Instagram. Wajahnya yang terpoles makeup minimalis memberi kesan segar.
"Hai guys. Aku dapat kiriman piyama batik dari toko Batikita. Piyamanya super lucu, super lembut, senyaman itu, secantik itu. Wajib beli di Batikita yaaa!" Ocehnya lancar sambil bergaya riang dan ceria.
Kemudian ia beralih duduk ke meja makan yang sudah ia hias dengan cantik lengkap dengan set peralatan makan dari kayu agar terkesan natural. Ia mengarahkan ponselnya ke hidangan yang ada di atas meja. Nella menarik nafas sebelum memulai.
"Kali ini aku dikirimin puding karamel yang legiiiit banget dari toko Rumah Puding. Oh iya aku juga dapat buko pandan dessert khas Filipina yang enaaaak banget. Mmmmmm, manisnya tu tembus hingga ke lazuardi. Cobain yaaaa gaisss!"
Nella memasang ekspresi merem melek saat menyuap puding. Wajahnya amat sangat menikmati, membuat para followernya meneteskan liur.
Hampir sejam Nella sibuk dengan aktifitasnya mereview aneka barang endorse. Awalnya ia hanyalah gadis biasa yang suka posting foto selfie yang cantik. Namun ia lihai menata feed-nya dengan tema dan warna yang menarik. Lama kelamaan ia memiliki banyak pengikut.
Kini ia memiliki lima ratus ribu follower.
Semenjak Instagram meluncurkan fitur story, ia semakin interaktif dengan followernya. Ia rutin memberikan konten review yang kreatif, menarik dan fun. Engagement Instagramnya melonjak pesat.
Ia jadi langganan penggiat usaha online untuk memakai jasanya mereview produk.
Kini, Nella telah mengukuhkan diri sebagai salah satu influencer paling berpengaruh di Yogyakarta. Penghasilannya dari endorse sudah lebih dari cukup untuk hidup mewah di kota itu.
Nella melirik jam dindingnya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Ia menyudahi pekerjaannya. Kemudian ia mengecek email di ponselnya yang satu lagi khusus untuk menerima endorse dari calon klien.
Nella menaikkan alisnya, saat membaca deretan email masuk. Ia membuka satu persatu, membalasnya dengan sabar.
____________________________________________
Dari : OleholehmbakJul@gmail.com
Kepada : nellacantika@gmail.com
Subjek : Minat endorse
Selamat siang Mba Nella.
__ADS_1
Kami dari Gerai Oleh-oleh Mbak Jul, sebuah unit usaha baru di kota ini. Lokasi kami tepatnya di desa Timbulharjo. Melihat dedikasi dan kreativitas anda dalam menciptakan konten yang menarik, kami berminat untuk menggunakan jasa.
Bolehkah kami mengetahui rate card anda untuk konten feed dan story di Instagram? Agar kami dapat melanjutkan kerjasama dengan anda?
Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
____________________________________________
Nella tersenyum riang, dengan jari-jarinya yang lentik ia membalas email.tersebut dengan mengirim format rate card endorsenya.
Nella gadis yang beruntung, berkat kreatifitasnya pekerjaan yang datang dengan sendiri tanpa ia harus bersusah payah keluar rumah menawarkan ijazah Sarjana Ilmu Komunikasi-nya.
***
Pagi yang cerah matahari bersinar dengan semangat. Menawarkan kehangatan yang membara ke permukaan bumi. Julia yang baru saja sampai ke toko membuka helmnya. Ia mengelap peluh yang menitik di dahinya dengan ujung lengan jaket.
Setelah menyapa karyawan toko ia lantas menuju lantai dua, ke ruang kerjanya.
Beruntung Riska sudah menghidupkan pendingin ruangan. Hawa sejuk menyapa kulitnya, mengalirkan rasa lega. Ia melepas jaket dan menyampaikannya ke kursi.
"Mau teh botol dingin mbak?" Tawar Riska yang peka melihat wajah Julia yang merah berkeringat.
"Boleh …. " Julia melempar seuntai senyum.
Tak lama Riska datang sebotol teh.
"Iya, nggak biasanya sepanas ini." Julia melonggarkan peniti di dagu kerudungnya. Agar udara sejuk menyentuh lehernya yang gerah.
"Pakai mobil dong mba, biar ga kepanasan." Usul Riska.
"Mobilnya siapa? Motor saja saya nggak punya, ini pinjam punya Mas Septian Ris." Julia terkekeh.
"Pakai mobilnya Pakdhe Rahmat mbak, atau minta antar Mas Septian. Masa boss kemana-mana sendirian naik motor." Sahut Riska.
"Nggak lah Ris, saya segan sama mertua. Sudah banyak dibantu. Masa jarak sedekat begini aja pakai mobil. Lagian Mas Septian juga ada kerjaan di rumah. Saya nggak enak kalau sering-sering minta bantuannya. Naik motor sendiri itu enak lho, saya jadi nostalgia waktu masih gadis dulu." Julia senyum-senyum menjelaskan.
Riska menatap Julia dengan penuh kekaguman. Pantas saja Julia disayang dan dicintai oleh keluarga Bude-nya. Sifat dan kepribadian Julia sangat dewasa, rendah hati dan bersahaja.
"Sudah ada balasan dari Nella yang selebgram itu Ris?" Ujar Julia sebelum menyeruput teh botolnya.
"Sudah mbak, ini tarifnya." Riska melampirkan print email dari Nella.
"Untuk satu unggahan di feed Instagram fee-nya dua ratus lima puluh ribu. Untuk satu sesi story, seratus ribu. Cukup murah ya." Julia membaca balasan email dari Nella.
"Iya Mba, Nella memang tidak pasang tarif mahal. Tapi kontennya selalu maksimal. Karena itu ia laris sekali." Jawab Riska.
"Kalau begitu saya mau endorse dia untuk tiga postingan di feed, dan tiga sesi postingan story ya Ris. Produknya, bakpia, gudeg kering, dan bolu tape." Ucap Julia.
__ADS_1
Riska mengangguk dan sigap mencatat ucapan Julia.
"Transfer pakai dana khusus untuk promo ya Ris." Julia mengingatkan.
"Baik Mba." Riska mengangguk.
"Saya mau ke belakang, ngecek produksi. Tolong diurus ya Ris." Julia menghabiskan teh botolnya dan turun ke lantai satu.
***
Di bagian belakang ruang display toko adalah ruangan khusus untuk produksi. Julia menyapa ibu-ibu yang sedang asyik bekerja sambil mengobrol. Walau udara panas, mereka tetap semangat. Julia memastikan pekerjanya bekerja sesuai standar kebersihan.
Julia berharap dengan meningkatnya omzet penjualan, ia bisa memberikan bonus pada karyawannya yang punya kinerja baik. Usaha ini adalah jalannya untuk membuka pintu rezeki bagi sesama. Bukan untuk memperkaya diri sendiri.
Setelah puas mengamati kinerja karyawan produksi ia kembali naik ke lantai dua untuk kembali bekerja. Untuk sesaat Julia terbenam dalam pikirannya yang penuh dengan strategi untuk memajukan usaha. Ia tenggelam dalam laporan pemasukan dan pengeluaran.
Drrrrrt drrrttt drrrttt.
Ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk dari Septian.
"Halo Assalamualaikum." Sapanya.
"Walaikumsalam, masih di toko dek?" Sahut Septian dari seberang.
"Iya Mas kenapa?" Tanya Julia.
"Ini Bapak baru pulang dari tambak, bawa udang besar-besar masih hidup. Pulang doong. Masakin aku udang untuk makan siang." Rengek Septian.
"Masya Allah manjanya kamu Mas." Julia tersenyum geli.
"Pulang ya dek. Mas tunggu, ini udangnya sudah aku bersihkan. Kamu tinggal masak aja." Pinta Septian memelas.
"Mau dimasak apa sayang? biar nanti aku mampir ke warung untuk beli bumbu pelengkapnya." Jawab Julia lembut.
"Mau dibakar dan dimasak saus Padang ya."
"Siaaaap Mas. Ya sudah, aku pulang sekarang. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Septian mematikan panggilan.
Julia bangkit membereskan arsip dan dokumennya. Ia memakai jaket dan tas ranselnya.
"Lho sudah mau pulang Mbak?" Riska terbengong heran di meja kerjanya. Tidak biasanya Julia pulang cepat.
"Ada tugas dari Boss besar di rumah, disuruh masak. Saya duluan ya." Jawab Julia nyengir sambil berlalu.
Riska hanya bisa bergeleng-geleng kepala melihat Julia yang menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Benar-benar istri teladan deh Mbak Jul. Patuh banget sama suami." Batinnya.