CINTA SANG JUITA

CINTA SANG JUITA
Pinangan


__ADS_3

Hasrat ini ku ikat di jarimu


Pandanglah itu


Sejauh ini aku datang padamu


Tak ada alasanmu meragu


Kini giliranku bertanya padamu


Sudikah engkau jadi milikku?


***


Jam dinding menunjukkan pukul 10 siang keluarga paman Ridwan -- abang dari Ibunya Julia telah datang beserta keluarganya. Beliau akan menjadi wali dan saksi dari pertemuan Julia dan Septian.


Julia tampak manis dengan gamis berwarna ungu muda, serasi dengan khimar syar'inya. Ia sibuk memeriksa sekeliling rumah memastikan lantai dan perabotan tertata rapi. Rumah kontrakan mereka memang kecil namun penghuninya berusaha menjaga kerapian.


Tak lama menunggu sebuah mobil MPV berwarna hitam tiba di halaman rumah Julia. Paman Ridwan dan Ibunya Julia bersiap menunggu di depan teras. Sementara itu Julia menghambur masuk ke kamar menunggu saatnya untuk dipertemukan.


Julia ditemani Lucy dan Ratna, kakak sepupunya -- anak dari Paman Ridwan. Lucy masih berdiam diri tak banyak bicara. Sebenarnya ia sungguh tidak ingin hadir di pertemuan ini. Tapi ia sudah berjanji pada Ibu untuk mengendalikan diri dan mendukung keputusan adiknya. Bagaimana pun darah lebih kental daripada air. Sudah sepantasnya ia ikut berbahagia untuk saudara kandung.


Julia duduk termenung di pinggir kasur sambil menatap ponselnya. Ia membaca pesan dari Sarah yang berisi ucapan doa agar pertemuan ini lancar. Pikirkan Julia menerawang, alangkah bahagianya jika Sarah dapat menemani di momen penting ini.


"Julia mereka sudah datang, ayo sini!" Ratna mengintip dari jendela.


Julia ikut mengintip di belakang punggung Ratna tampak Tante Tati dan suaminya turun dari mobil. Disusul dengan sosok laki-laki yang ia lihat sebelumnya lewat CV. Ia memakai kemeja warna coklat khaki dan celana panjang hitam semata kaki. Terlihat rapi, gagah dan menawan.


"Gantengnya lagi calon suami kau Jul .… " Ratna berdecak kagum menggoda Julia.


Julia menunduk tersipu malu. Dalam hati ia mengakui sosok Septian memang tampan.


"Assalamualaikum … selamat datang tamu jauh," Paman Ridwan menyambut hangat kedatangan mereka.


"Walaikumsalam, kami tidak dari jauh Pak. Hanya keponakan saya saja yang orang jauh ha ha ha!" jawab Pak Halim riang, beliau adalah suami Tante Tati.


"Mari masuk ke rumah kami, beginilah keadaannya. Anggap saja seperti di rumah sendiri," sambut Ibu Julia mengajak mereka duduk di ruang tamu.


"Alhamdulillah rumahnya nyaman sekali Bu," jawab Tante Tati ramah.


Mereka semua duduk dengan santai di ruang tamu. Suasana agak sedikit canggung, dapat dimaklumi karena ini pertama kalinya kedua keluarga bertemu.


Paman Ridwan sebagai wali Julia memecahkan kecanggungan dengan memulai percakapan.


"Bismillah, saya akan perkenalkan diri saya terlebih dahulu ya Pak, Bu … Nama saya Ridwan abang kandung Ibunya Julia. Posisi saya disini sebagai wali menggantikan Ayah Julia sudah lama meninggal dunia."


Tante Tati dan Pak Halim menganggukkan kepala serius mendengarkan Paman.


"Yang disamping kiri saya adalah istri saya. Dan yang di sisi kanan saya adalah adik saya Diana, Ibunya Julia. Semenjak ditinggal suaminya dia berjuang sendiri menghidupi anak-anaknya. Adik saya ini memang wanita tangguh, kedua anaknya selesai semua sekolah hingga perguruan tinggi," lanjut Paman lagi.


Ibu Julia menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai pengganti salam memperkenalkan diri dari jauh.

__ADS_1


"Ooooh … pantas kalau Julia pekerja keras, sudah sifat turunan dari Ibunya," Tante Tati tersenyum penuh simpati.


"Lho, Ibu sudah mengenal Julia sebelumnya?" raut wajah Paman berkerut heran.


"Ya begitulah Pak, Julia sudah lama mengajar privat anak saya semenjak dia masih kuliah. Saya sudah paham betul bagaimana sifatnya. Orangnya pintar, sopan pada orang tua, penyayang dengan anak-anak. Karena itulah saya memperkenalkan keponakan saya ini dengan Julia. Siapa tahu ada kecocokan antara mereka berdua." Jelas Tante Tati.


"Alhamdulillah kalau begitu kesan yang ditangkap oleh Ibu. Nah, sekarang bolehkah saya tahu siapa anak muda yang gagah di depan saya ini dan apa maksud tujuannya hendak berkenalan dengan keponakan saya?" Paman melempar pandangan ke arah Septian.


Septian tampak salah tingkah setelah mendapatkan pujian.


"Perkenalkan nama saya Septian Syaifullah. Saya kemari ditemani oleh Om dan Tante saya yang tinggal di Pekanbaru sini," Ia memberikan gestur menunjuk dengan ibu jari ke arah Om dan Tantenya.


"Asal saya dari Jogja, tujuan saya datang kemari adalah untuk melanjutkan proses perkenalan antara saya dan Julia. Saya ingin bersilaturahmi secara langsung dengan Julia beserta keluarganya." Jawab Septian dengan intonasi halus dan tenang khas suku Jawa.


"Baiklah saya mengerti. Kami pun dengan senang hati menerima Nak Septian untuk berkenalan dengan keluarga kami." Ujar Paman.


"Saya permisi sebentar ya Pak, Bu …. "


Ibu Julia pamit meninggalkan ruang tamu. Ia membuka pintu kamar Julia dan memintanya keluar untuk menghidangkan teh hangat.


"Bismillah …. " Gumam Julia dalam hati. Hanya Allah saja yang tahu bagaimana gugup perasaannya dalam situasi seperti ini.


Dengan hati-hati Julia membawa nampan yang berisikan teh ke ruang tamu. Jantungnya berdegup kencang saat ia beradu mata dengan Septian yang langsung menundukkan pandangan.


Meski hanya beberapa detik tatapan itu meninggalkan debaran tak beraturan di dada dan rasa hangat di pipinya. Orang-orang pasti dapat melihat jelas wajahnya memerah seperti tomat yang ranum.


"Inilah keponakan saya yang bernama Julia itu. Cantik bukan? seperti Ibunya sewaktu muda. Ha ha ha!" Ujar Paman sambil mencolek bahu Septian saat Julia meletakkan cangkir-cangkir teh ke atas meja.


"Lihatlah dia Septian, biar kamu tidak penasaran!" goda Tante Tati.


"Tante … jangan begitu!" jawab Septian pelan semakin menundukkan pandangannya.


Dalam hati sulit bagi Septian mengatur hasrat untuk tidak memandang lebih lama. Wajah gadis itu teramat ayu. Bagaimana ia akan bisa tidur nyenyak jika wajah gadis itu akan membayang-bayanginya nanti malam?.


Namun disaat Julia meninggalkan ruang tamu, ia turutkan keinginan hatinya untuk mencuri pandang.


"Tak apa, dapat melihat ujung jilbabmu pun aku rela."


Ibu Julia mengamati Septian yang tengah mencuri pandang ke arah Julia yang menghilang dari balik ruangan. Tampak jelas anak muda ini sudah jatuh hati pada anak gadisnya. Senyum simpul terulas di bibirnya.


Para tamu menikmati teh hangat sambil berbincang ringan. Paman Ridwan sungguh pandai mencairkan suasana. Tak terasa waktu bergulir cepat menjelang siang. Ibu Julia melirik ke arah jam dinding. Sudah waktunya menjamu makan siang.


"Baiklah karena sudah hampir tengah hari. Bapak Ibu pasti lapar, mari kita makan siang dulu ya …. " Ajak Ibu Julia.


"Aduh repot-repot saja Ibu ini," balas Tante Tati basa-basi.


"Sama sekali tidak repot sudah pekerjaan saya masak setiap hari," ujar Ibu Julia santai.


Ibu Julia kembali mengetuk pintu kamar dan menyuruh anak-anak gadisnya untuk menghidangkan makan siang. Paman mengarahkan para tamu pindah ke ruang tengah untuk duduk lesehan.


Lucy, Julia dan Ratna sibuk menata aneka makanan dan lauk pauk, Ibu Julia turut memperkenalkan Lucy dan Ratna kepada tamu-nya. Kedua keluarga makan siang sambil mengobrol topik ringan.

__ADS_1


"Bagaimana Nak rendangnya, enak tidak?" tanya Ibu Julia pada Septian.


"Enak Bu … Tapi agak terlalu pedas buat saya," jawab Septian jujur sambil menyeka keringat di dahinya.


"Ya memang beginilah masakan khas Sumatera, pedas banyak rempah. Membuat badan hangat. Kami pakai cabai dari Bukittinggi karena itu pedasnya mantap!" gurau Ibu Julia.


Julia merasa kasihan melihat Septian kepedasan, ia akan mencatat hal ini. Calon suaminya tidak kuat makan pedas.


"Kalau buat saya rendangnya mantap Bu, seperti masakan rumah makan Padang. Walau saya orang Jawa tapi lidah saya, lidah Sumatera. Doyan pedas!" seloroh Tante Tati yang disambut acungan jempol oleh suaminya.


Saat semua orang larut dalam gurauan, Septian tak kuasa menolak dorongan hatinya untuk memperhatikan Julia. Diamatinya gadis molek yang sedang menikmati makan siang sambil menunduk malu-malu.


Septian melirik dan menyimpan setiap sudut wajah Julia di otaknya. Wajah oval yang dibingkai khimar, hidung mancung, wajah bersih merona meskipun tanpa makeup. Sepasang mata yang dinaungi bulu mata lentik. Wajah itu mampu membuatnya mabuk dalam perasaan. Hingga sebuah panggilan membuatnya tersadar.


"Septian kenapa lama sekali makannya. Kita semua sudah selesai lho!" tegur Pak Halim mencolek lengannya.


"Eh iya Om, maaf … Ini sudah selesai kok." Buru-buru Septian mencuci tangan di mangkok yang telah disediakan.


"Jangan melamun, fokus!" Pak Halim kembali mengingatkan.


Setelah makan siang usai, Julia dan kakaknya merapikan piring-piring dan bekas makanan. Para tamu sudah kembali duduk di ruang tamu.


"Terimakasih banyak atas jamuan makannya Bu, sungguh lezat dan nikmat sekali," kata Tante Tati memuji dengan tulus.


"Ah biasa saja kok Bu, terimakasih pujiannya." Ibu Julia tersenyum simpul.


"Jadi bagaimana kelanjutannya nih Septian, adakah yang mau kamu sampaikan?" pancing Pak Halim.


Septian mengubah posisi duduknya, ia terlihat sedikit tegang. Sepertinya ia memang akan menyampaikan sesuatu.


"Bolehkah saya bicara langsung dengan Julia Bu?" jawab Septian meminta izin.


"Boleh .... "


Ibu Julia memanggil anaknya yang sedang merapikan piring di dapur. Ia meminta Julia untuk menemui Septian. Julia dan Septian duduk berhadapan saling berpandangan. Julia menggenggam tangan Ibunya erat-erat menanti apa yang akan terjadi.


Septian menarik nafas dalam dan mulai berbicara.


"Saya datang dari jauh membawa niat baik. Tante dan Om saya menjadi saksi keseriusan saya untuk memperistri dek Julia. Apakah dek Julia bersedia menerima pinangan saya?"


Pinta Septian dengan suara bergetar sambil meletakkan sebuah kotak beludru merah berisi sebentuk cincin emas.



Julia sudah menunggu hal ini terjadi dalam hidupnya. Tapi tetap saja ia tak kuasa menyembunyikan rasa. Ia menatap Ibunya dalam-dalam seakan meminta restu. Ibu Julia tersenyum lembut mengusap tangannya dan mengangguk sebagai isyarat persetujuan.


"Atas restu Ibu, saya bersedia menerima pinangan kakak .… "


"Alhamdulillah!" semua kompak mengucapkan hamdalah.


Senyum Julia terkembang menumbuhkan bunga-bunga bermekaran di hati Septian.

__ADS_1


__ADS_2