
Hari ini seperti biasa Viviane sibuk dengan pekerjaannya. Setelah pertemuannya terakhir dengan Angga atau lebih tepatnya saat Angga berpamitan padanya, Viviane merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan hatinya. Entah apa itu, yang pasti hanya Viviane sendiri yang tahu.
Mungkinkah dalam hati Viviane selama ini belum sepenuhnya menghapus nama Angga. Seseorang di masa lalunya yang tiba-tiba hadir kembali. Memang dulu mereka berdua saling mencintai. Mereka berdua sama-sama bisa menerima masa lalu masing-masing. Mereka berdua juga sudah menjalani hubungan yang serius untuk menuju pernikahan. Namun dulu, sebelum badai keras menghantam dan menghancurkan hubungan mereka. Dan sekarang, Viviane sudah mempunyai Edwin. Kekasih yang sangat baik hati dan selalu memperlakukannya dengan lembut.
Viviane tidak mau membedakan antara perlakuan Edwin dengan Angga. Karena dia tidak mau mengingat lagi semua tentang Angga. Yang ada akan mengingatkannya juga tentang kebejatan papanya. Yang Viviane tahu perbedaannya hanya satu. Sejak menjalin hubungan dengan Edwin, Edwin tidak pernah melakukan sesuatu yang diluar batas. Bahkan berciuman dengannya pun belum pernah. Hanya mencium kening saja. Bisa dikatakan hubungannya dengan Edwin adalah hubungan yang sehat. Viviane pernah mendengar perkataan dari Edwin sesaat setelah dirinya menceritkan masa lalunya.
“aku berjanji. Tidak akan menyentuhmu sebelum kita benar-benar sah di mata hukum dan agama. Itu adalah sebuah komitmenku untuk kamu Vi. Dengan kamu menceritakan masa lalu kamu, bukan berarti aku juga akan melakukannya sebelum kita resmi menikah. Itu sama saja aku ikut merusak kamu”
Viviane yang mendengar pernyataan dari Edwin seketika air matanya mengalir deras. Dia tidak percaya akan menemukan pria sebaik Edwin. Apakah memang ini sebuah petunjuk bahwa memang Edwin adalah jodohnya? Viviane juga tidak tahu. Hanya Tuhan lah yang maha mengetahui. Yang terpenting saat ini dia harus bisa menjaga hubungannya dengan Edwin.
Tok tok tok..
“masuk”
Viviane tersadar dari lamunannya kala mendengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
“mas Edwin?”
“kenapa kaget begitu? Kaya’ lihat hantu saja”
“nggak gitu. Tumben mas Edwin datang ke ruanganku. Aku takut dilihat sama karyawan yang lain”
“tenang saja. Mereka semua sudah aku hipnotis agar tidak ada yang tahu saat aku masuk ke ruangan kamu” Viviane tertawa dengan candaan Edwin.
“kita makan siang diluar ya, aku tunggu di mobil”
Viviane melongo tidak percaya tentang apa yng baru saja dikatakan oleh kekasihnya. Datang ke ruangannya hanya untuk mengajak makan siang diluar. Dan setelah itu pergi begitu saja. Viviane menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah konyol kekasihnya. Apa gunanya ponsel diciptakan kalu kita masih susah payah untuk menemui seseorang. Bukankah Edwin bisa hanya dengan menggunakan ponsel canggihnya dan menghubungi Viviane untuk mengajak makan siang. Tidak ingin terlalu lama berada di ruangannya, Viviane segera keluar dari ruangannya dan mengahmpiri Edwin yang sudah menunggunya.
Saat ini mereka berdua sudah berada di sebuah resto yang tidak jauh dari kantor. setelah memesan beberapa menu makan siang beserta minumnya, kini nViviane dan Edwin tinggal menunggu pesanannya datang.
“sayang, nanti malam mama mengundang kamu makan malam”
“apa???” Viviane sangat terkejut
“ck… kamu ini dari tadi kaget terus”
“ehm… maksud aku kenapa mama kamu mengundang aku makan malam?”
“ya karena mama dan papa ingin kenal kamu lah”
“apa??”
“kamu ini kenapa sih?” Edwin sudah mulai badmood saat melihat ekspresi Viviane.
“maaf. Tapi aku takut. Aku belum siap”
__ADS_1
“takut kenapaa? Mamaku nggak gigit jadi tenang aja. Daan kalau papa, bukannya kamu sudah bertemu dengan papa tempo hari?”
Akhirnya Viviane hanya mengangguk pasrah setelah dibujuk oleh Edwin. Sebenarnya dia takut dan belum siap jika bertemu dengan kedua orang tua Edwin. Entahlah baying-bayang masa lalunya yang buruk tiba-tiba membuatnya tidak percaya diri akan diterima baik oleh kedua orang tua Edwin. Dan Edwin seperti mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya, dia mencoba untuk menenangkannya.
“kamu tenang saja, mama dan papaku orang baik. Pasti mereka akan menerima kamu. Bagi mereka adalah yang terpenting kebahagiaan anaknya” Viviane hanya mengangguk.
Akhirnya makanan yang mereka pesan datang. Mereka segera makan siang dan sambil ngobrol santai. Setelah makan siang, mereka berdua kembali lagi ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Kini waktunya telah tiba. Sejak tadi Viviane sibuk di depan meja riasnya. Dia bingung sendiri dengan penampilannya. Apakah sudah pantas untuk menemui orang tua Edwin dengan pakaian seperti ini.
“sayang, sudah apa belum?” Tanya Edwin di balik pintu kamar Viviane.
Sejak tadi Edwin sudah datang ke apartemen kekasihnya untuk menjemputnya. Viviane mengatakan bahwa dirinya masih bersiap. Jadi Edwin menunggu di ruang tamu. Edwin melihat jam tangannya, sepertinya Viviane sangat lama dari biasanya saat dirinya mengajak makan malam diluar.
Ceklek
“mas, bagaimana penampilanku?” Tanya Viviane ragu
“astaga sayang… dari tadi kamu di dalam kamar hanya memiikirkan penampilan?” Viviane hanya mengangguk lemah
“kamu ini. Yang ngajak makan malam hanya orang tuaku bukan presiden. Jadi kamu tidak perlu mempedulikan penampilan kamu”
“tapi mas, setidaknya aku harus berpenampilan yang pantas saat di depan orang tua kamu”
“mau pakai baju apa pun kamu pasti pantas dan masih cantik”
Kini Edwin sudah sampai di rumahnya. Viviane sangat terkejut dengan bangunan mewah bak istana di hadapannya kini yang membuat dirinya semakin menciut. Apakah pantas dirinya bersanding dengan Edwin. Keluarganya sangat terpandang. Bagaiman nanti pendapat orang tua Edwin yang mengetahui bahwa dirinya dari keluarga yang jauh berbeda dengan Edwin.
“sayang… please jangan gugup. Yang rilex ya?”
Edwin sudah mengajak Viviane masuk ke dalam rumah. Tepat di ruang tamu mama dan papa Edwin sudah menunggunya.
“malam Ma, Pa.. perkenalkan ini Viviane. Kekasih Edwin yang sudah Edwin ceritakan pada Mama dan Papa”
“Selamat malam Tuan, Nyonya?” Viviane menunduk hormat
“malam juga. tidak perlu seformal itu. Kamu sedang tidak berada di kantor” ucap Nicolas Papa Edwin
“ehmm iya maaf Om, Tante”
“saya Sonya mamanya Edwin. Dan saya pikir kamu sudah tahu kan nama Papa Edwin?”
“i..iya tante”
“ya sudah ayo kita ke meja makan saja, sudah waktunya makan malam juga”
__ADS_1
Setelah itu mereka berempat menuju ke ruang makan. Disana sudah tersedia berbagai macam menu makanan. Viviane sangat heran dengan menu sebanyak itu. Memang yang makan hanya orang empat, tapi menunya buat lebih dari empat orang. Apakah masih ada tamu yang lain yang diundang. Begitu pertanyaan Viviane dalam hatinya.
“ayo nak Viviane dimakan, mau pilih menu yang mana terserah. Itu tadi mamanya Edwin yang memasak sendiri. Mamanya Edwin nggak tahu makanan kesukaan nak Viviane apa, jadi masak berbagai macam menu seperti ini” Viviane melongo tak percaya tentang apa yang baru saja diucapkan oleh Papanya Edwin.
“habisnya anak Papa yang nakal ini ditanyain juga tidak mau menjawab. Apa makanan kesukaan kamu” lanjut Sonya, mama Edwin yang semakin membuat Viviane semakin tak percaya.
“sudah jangan dilihatin makanannya. Kamu tenang saja masakan mama ini nggak ada racunnya” goda Edwin yang sontak membuat Viviane memelotkan matanya.
Akhirnya mereka berempat makan malam. Viviane merasa sedikit lega bahwa ekspektasinya berbeda dengan realita. Orang tua Edwin benar-benar orang baik dan menerimanya.
“ehm… jangan lama-lama ya Ed” ucap Sonya di sela-sela makannya
“apanya ma?”
“ya sama Viviane. Kamu tahu kan mama dan papa sudah tua. Dan ingin segera menimang cucu”
Uhukkkk
Seketika Viviane tersedak makanannya saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh mama Edwin.
“pelan-pelan dong sayang makannya” Edwin memberikan air minum
“nak Viviane nggak usah gugup begitu. Memang benar apa yang dikatakan sama mamanya Edwin. Niat baik itu harus disegerakan” tambah Nico, Papa Edwin
“papa dan mama tenang saja, nanti Edwin akan bicara sendiri dengan Viviane” lanjut Edwin
Mereka berempat menikmati makan malam dengan bahagia layaknya keluarga yang utuh. Kedua orang tua Edwin juga bahagia akhirnya putra mereka satu-satunya membawa dan memperkenalkan seorang wanita. Orang tua Edwin juga sangat suka dengan pribadi Viviane yang sangat ramah.
Setelah makan malam selesai, Edwin mengantar Viviane pulang ke apartemennya. Viviane sudah tidak gugup lagi seperti saat sebelum berangkat tadi.
"sayang, mama dan papa menginginkan agar kita segera meresmikan hubungan kita”
“tapi mas, apa ini tidak terlalu cepat?”
Edwin mengernyitkan keningnya. Dia menepikan mobilnya sebentar.
“apa kamu tidak mencintaiku? Apa kamu tidak percaya padaku? Apa kamu masih mencintai seseorang di masa lalumu?” Tanya Edwin tiba-tiba.
Entahlah Edwin merasa sesak saat mendengar Viviane mengatakan apakah hubungannya tidak terlalu cepat untuk diresmikan. Edwin jadi berpikir bahwa Viviane tidak benar-benar mencintainya.
“mas.. aku mencintaimu, aku mempercayaimu, dan aku tidak mencintai pria lain selain kamu. Yang aku minta hanya satu. Kamu beritahu dulu masa laluku pada orang tuamu. Aku takut mereka tidak menerimaku karena masa laluku itu”
.
.
__ADS_1
.
*TBC