
Angga kini sudah berangkat ke klinik meninggalkan istrinya yang masih tidur lelap. Angga masih memikirkan perkataan Mike tadi. dia sungguh bingung apa yang harus dilakukan. Apakah dia akan pulang ke Indonesia dan memaafkan Papanya. Tapi dia juga harus meninggalkan istrinya untuk sementara waktu.
“Ada apa Ngga?” Tanya Andrew yang baru saja masuk ke ruangan Angga.
“Nggak ada apa-apa.” Jawab Angga dengan wajah tak bersemangat.
“Come on brother! Wajah kamu tidak bisa berbohong. Apa ada masalah dengan istri kamu?” Tanya Andrew.
“Bukan!” jawab Angga singkat.
Angga menghela nafas panjang. Kemudian dia menceritakan pada Andrew tntang apa yang sedang terjadi. Angga mengatakan semua yang disampaikan Mike tadi. angga pusing tidak bisa mencari solusi yang baik.
“Mungkin apa yang dikatakan oleh Mike benar Ngga. Tuhan saja bisa mengampuni kesalahan umatnya. Apalagi kita sesama manusia harusnya juga bisa. Terlebih itu pada Papa kamu sendiri. Mau bagaimana pun kesalahan Papa kamu di masa lalu, dia tetap Papa kamu. Tidak ada istilah mantan orang tua atau mantan anak Ngga. Pulanglah selagi kamu bisa melihat Papa kamu masih hidup. Dan maafkanlah kesalahannya. Mungkin setelah itu beliau bisa pergi dengan tenang.” Ucap Andrew panjang lebar.
“Lalu bagaimana dengan Viviane? Aku nggak mau menyebut nama Papaku di depan Viviane. Apalagi aku berniat pulang untuk menemui pria yang pernah menyakitinya. Aku sangat menjaga hati Viviane agar tidak teringat lagi dengan kesalahan Papa.” Ucap Angga.
“Biarkan Viviane tetap berada disini dengan aku. kalau kamu tidak percaya denganku, nanti aku bisa meminta salah satu perawat wanita untuk tinggal sementara di rumah menemani Viviane. Dan untuk alasan kepulangan kamu ke Indonesia, bilang saja ada urusan kantor yang sangat penting dan harus kamu atasi sendiri.” Ucap Andrew.
Akhirnya setelah berpikir lama, Angga menyetujui saran yang diberikan oleh Andrew. Dan nanti setelah pulang dari klinik, Angga akan menyampaikannya pada istrinya.
Sementara itu, siang hari Viviane baru saja membuka matanya. dia melihat sekelilingnya sangat sepi. Viviane tahu kalau suaminya saat ini sedang berada di klinik. Kemudian dia bangun dan mencuci mukanya. Setelah itu dia keluar dari kamar untuk menuju dapur.
Viviane melihat disana sudah ada roti panggang yang pasti suaminya yang telah menyiapkan. Meskipun sudah dingin, Viviane tetap memaknnya. Namun untuk susu, dia lebih suka minum susu hangat daripada dingin. Dan dia harus membuatnya sendiri.
Viviane mengusap perutnya yang masih rata. Dia begitu bahagia dengan kehadiran sang buah hati saat ini. dia juga sangat bersyukur memiliki suami yang sangat mencintai dan menyayanginya. terlebih begitu perhatian terhadapnya.
Setelah menghabiskan roti panggang dan segelas susu hangat, Viviane bergegas keluar rumah untuk bersantai di depan teras sambil menghirup udara luar. Meskipun sudah sangat siang. Tapi tidak masalah bagi Viviane.
__ADS_1
Saat duduk berdiam diri, tiba-tiba saja Viviane teringat dengan Ibunya yang berada di Indonesia. Terlebih Ibunya saat ini tinggal sendirian di rumah tanpa ada yang menemaninya. Viviane sangat merindukan Ibunya. Harusnya saat ini dia tinggal dengan ibunya apalagi dirinya sedang hamil. Pasti ibunya sangat senang sekali menanti kelahiran cucu pertamanya.
Sore harinya setelah membersihkan dirinya sambil menunggu kepulangan sang suami, Viviane bersantai di ruang tengah. Dia tampak sibuk melihat seisi rumah Andrew. Sebenarnya Viviane sangat penasaran dengan kehidupan pribadi Andrew seperti apa. Dan di dalam rumah Andrew juga sama sekali tidak ada foto seseorang ataupun dirinya yang dipajang pada dinding ruangan.
Viviane berjalan menuju sebuah lemari kecil yang ada dalam ruangan itu. Tidak ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Hanya beberapa buku yang tersusun rapi pad arak lemari itu. Viviane sangat yakin kalau itu buku yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Tangan Viviane terulur untuk mengambil sebuah benda yang mirip buku dan sepertinya itu sebuah album foto. Viviane membukanya perlahan. Disana ada foto sepasang suami istri berwajah bule. Viviane yakin kalau itu adalah kedua orang tua Andrew.
Ceklek
“sedang apa Vi?” Tanya Andrew yang baru saja masuk rumah.
Viviane terkejut saat kedatangan Andrew secara tiba-tiba. Dan dengan cepat Viviane mengembalikan album foto itu pada tumpukan buku dimana dia tadi mengambilnya.
“Oh, maaf. Aku hanya melihat-lihat saja. Aku penasaran dengan buku-buku itu.” Jawab Viviane gugup.
“Oh ya sudah. Bagaimana keadaan kamu hari ini? apakah masih mual?” Tanya Andrew.
“Sebentar lagi pasti sampai. Aku tadi pulang duluan karena habis ini ada acara. Ya sudah aku ke kamar dulu.” Ucap Andrew kemudian.
Dan benar saja, setelah Andrew masuk ke dalam kamarnya, Angga sudah sampai rumah. Viviane menyambut kedatangan suaminya dengan senyum cerah di wajahnya. Angga pun mengecup kening istrinya sekilas kemudian menunduk mengecup perut Viviane yang masih rata.
“Bagaimana keadaan dia hari ini? apakah menyusahkan Mamanya?” Tanya Angga.
“Hari ini dia sangat pintar. Aku sama sekali tidak mual setelah bangun tidur tadi.” jawab Viviane.
Setelah itu Angga dan Viviane masuk ke dalam kamar. angga menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan Viviane menyiapkan baju untuk suaminya.
Viviane kini membuatkan kopi untuk suaminya dan diletakkan di meja ruang tengah. Sambil menunggu suaminya, Viviane menyalakan tv.
__ADS_1
“sayang, aku kangen banget.” Ucap Angga tiba-tiba memeluk istrinya.
Wangi tubuh Angga setelah mandi, menguar memenuhi indra penciuman Viviane. Viviane sangat suka sekali dengan bau segar dan harum dari suaminya. Tanpa sadar akhirnya mereka berdua sudah menyatukan bibir masing-masing seolah melepaskan rindu. Padahal setiap hari mereka bertemu dan tidur bersama. Hanya saja selama ini Angga sama sekali belum melakukan kegiatan suami istri dengan Viviane lantaran takut dengan kandungan Viviane yang masih lemah.
Mereka yang awalnya berciuman penuh kasih sayang, lama-lama ciuman itu semakin panas dan menuntut. Tangan Angga sudah tidak bisa lagi dikondisikan. Dia meraih dan mere mas dengan pelan pada kedua bukit milik Viviane.
“Aku keluar dulu, mungkin sampai malam.” Ucap Andrew tiba-tiba tanpa melihat apa yang sedang dilakukan Angga dan Viviane.
“Opps Sorry.” Ucap Andrew kemudian dan segera pergi meninggalkan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu.
Angga dan Viviane masih terengah-engah sekaligus terkejut karena terpergok oleh Andrew. Selepas kepergian Andrew, Angga meminum kopi yang sudah dibuatkan oleh Viviane tadi untuk menormalkan rasa keterkejutannya.
Setelah itu Angga memegang lembut tangan istrinya. Dia akan menyampaikan kabar bahwa dirinya harus pulang ke Indonesia karena ada masalah urgent di perusahaannya. Angga meyakinkan pada istrinya kalau tidak akan lama. Dan segera pulang kalau urusannya sudah selesai.
“Sayang jangan khawatir, nanti salah satu perawat klinik akan tinggal disini menemani kamu kalau kamu keberatan tinggal berdua dengan Andrew.” Ucap Angga.
“Mas janji ya tidak akan lama? Dan nanti setelah usia kandunganku sudah memasuki trimester kedua kita akan pulang ke Indonesia.” Pinta Viviane.
“Iya Sayang!” jawab Angga.
.
.
.
*TBC
__ADS_1