
Saat ini di ruang kerja Angga hanya ada Angga dan Alfa. Sementara Mike dan Mario sudah keluar dari ruangan Angga atas permintaan Angga juga.
Alfa duduk berhadapan dengan Angga. Tidak ada percakapan diantara mereka berdua beberapa saat. Angga semakin muak dengan situasi seperti ini. Dia tidak tahan jika berlama-lama melihat wajah seseorang yang telah menyakiti istrinya.
“Silakan keluar dari ruanganku sekarang juga jika kau hanya diam saja disini!” usir Angga.
Alfa masih bergeming. Dia sibuk memikirkan bagaimana caranya meminta pada Angga agar mempertemukan dirinya dengan Viviane.
Brak
Angga yang sudah kehilangan kesabarannya, menggebrak meja dengan keras. Dia tidak mengerti apa maksud kedatangan Alfa ke kantornya kalau sejak tadi hanya diam saja.
“Keluar dari si-“
“Ijinkan aku menemui Viviane!” pinta Alfa cepat.
“Sampai kapanpun tidak akan pernah aku ijinkan. Keluar dari ruanganku sekarang juga!” usir Angga lagi.
“Aku mohon. Aku akui aku salah, maka ijinkan aku bertemu dengan Viviane untuk meminta maaf langsung padanya.” Ucap Alfa kemudian.
“Aku sudah katakan tidak akan aku biarkan kamu bertemu dengan Viviane. Kamu tahu apa dampak dari perbuatan kamu? Sampai saat ini pun dia masih trauma atas perbuatan bejat kamu. Jadi tidak ada gunanya kamu datang kesini untuk memohon padaku. Aku nggak akan membiarkan itu semua terjadi.” Jawab Angga.
Alfa tidak menyangka saat mendengar pernyataan Angga bahwa Viviane belum sembuh atas trauma yang menimpanya. Padahal setahu Alfa, Viviane sudah menjalani pengobatan. Tapi kenapa masih belum sembuh.
“Ijinkan aku mengobati Viviane. Aku akan mencarikan seorang psikiater terbaik untuk Viviane. Ini sebagai cara untuk menebus kesalahanku pada Viviane. Aku mohon Ngga!” ucap Alfa dengan nada sendu.
“Aku suaminya. Aku yang akan bertanggung jawab penuh atas istriku. Aku yang akan memberikan pengobatan terbaik untuknya. Silakan keluar dari sini sekarang juga.” usir Angga lagi.
Alfa sangat putus asa. Awalnya dia sedikit senang mendengar bahwa Viviane tinggal di kota yang sama dengannya, namun ternyata sangat sulit untuk bertemu dengannya. Angga juga bersikukuh tidak mengijinkan dirinya untuk menemui Viviane.
“Kamu keluar sendiri atau aku panggilkan security?” ancam Angga.
__ADS_1
“Please Ngga, kalau kamu tidak mengijinkan aku untuk bertemu dengan Viviane, ijinkan Mamaku yang menemuinya.” Ucap Alfa kemudian.
Angga terdiam. Dia mencerna kata-kata Alfa bahwa Mama Alfa ingin bertemu dengan Viviane. Angga tahu kalau saat ini Viviane adalah adik sepupu Alfa. Dan trauma yang terjadi pada Viviane adalah murni kesalahan Alfa. Oaring tuanya tidak ikut terlibat di dalamnya. Dan kalau Mama Alfa meminta untuk bertemu dengan Viviane, itu berarti wanita itu mempunyai niatan baik pada Viviane yang tak lain keponakannya. Angga akhirnya memutuskan untuk mengijinkan Mama Alfa untuk menemui Viviane.
“Keluarlah. Nanti akan aku atur.” Ucap Angga kemudian.
Alfa segera bergegas keluar dari ruangan Angga. Dia menarik sudut bibirnya ke atas. Tidak masalah jika Angga tidak mengijinkannya untuk menemui Viviane saat ini, setidaknya Mamanya bisa menemui keponakannya itu. Dan setelah ini Alfa akan menyampaikan berita ini pada Mamanya.
Sementara itu Angga masih tampak berpikir selepas kepergian Alfa. Benar dia akan mengijinkan Mama Alfa untuk menemui Viviane. Tapi yang Angga bingungkan, bagaimana cara mengatakan pada Viviane kalau Mama Alfa ingin menemuinya. Apakah dia nanti akan mengenalkan bahwa wanita yang ingin bertemu dengan Viviane adalah tantenya yang tak lain Mama Alfa. Bukankah itu akan memeperparah keadaan Viviane?
“Arrgggghhhh” angga menjambak rambutnya frustasi.
Saat ini dia tidak bisa berpikir jernih. Mungkin nanti saja akan dipikirkan lagi caranya. Yang pasti saat ini Angga ingin segera pulang. Karena sejak tadi wajah Viviane terus berputar di dalam otaknya. Apalagi mengingat kegiatanya kemarin saat di pantai. Sejenak Angga meraba bibirnya. bibirnya masih merasakan manis dari bibir Viviane. Ahhh Angga ingin sekali mengulangi kegiatan itu.
Akhirnya Angga memutuskan untuk pulang terlebih dulu. Dia ingin melihat wajah cantik isstrinya. Syukur-syukur bisa mengulangi ciuman itu lagi. Duh kenapa pikiran Angga jadi sedikit mesum gini sih. Ingat Ngga, Viviane belum sembuh sepenihnya dari trauma itu.
Kini Angga melangkah keluar dari ruangannya. Disana dia berpapasan dengan Mike dan Mario yang sepertinya akn keluar makan siang.
Mike dan Mario hanya mengangguk. Padakah mereka berdua tadi akan mengajak Angga untuk makan siang bersama dan Mike juga ingin menanyakan maksud kedatangan Alfa tadi. tapi berhubung Angga sudah pamit pulang terlebih dulu, Mike dan Mario akhirnya makan siang berdua saja.
Sementara itu Viviane saat ini sedang berada di dapur. Hari ini Viviane meminta Angga agar melarang Bi Asih datang. Viviane kasihan pada Bi Asih yang sudah tua pasti capek jika bolakbalik datang ke apartemennya. Viviane juga meyakinkan pada Angga bahwa dirinya akan baik-baik saja. Entahlah semenjak pulang dari pantai kemarin, wajah Viviane tampak cerah dan bahagia. Apakah itu gara-gara ciuman Angga kemarin. Viviane menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa dia masih membayangkan ciumannya dengan Angga kemarin.
“Ehm, Vi!” Panggil Angga tepat di belakang telinga Viviane.
Viviane tadi sedang melamun sambil membawa sepiring udang asam manis seketika terkejut saat mendengar suara Angga tepat di belakang telinganya. Alhasil masakan yang masih panas itu lepas dari pegangan tangan Viviane. Angga yang melihatnya dengan cepat menjauhkan tubuh Viviane agar tidak terkena tumpahan masakan itu. Angga membiarkan masakan itu jatuh ke lantai, sementara dia memeluk tubuh Viviane. Modus nih wkwkwk😂😂
Saat tubuh Viviane berada dalam kungkungan Angga, pandangan mereka kini sudah bertemu. Dan lama-lama tidak berjarak. Hembusan nafas mereka saling berhembus menerpa wajah mereka. Inilah yang sejak tadi ada dalam bayangan Angga dan Viviane. Yang ingin mengulang drama ciuman mereka seperti kemarin saat di pantai.
Pandangan Angga semakin berkabut dan seolah meminta persetujuan pada Viviane. Viviane pun yang sudah percaya bahwa Angga tidak akan menyakitinya atau meminta lebih dari ciuman ini, perlahan dia mengangguk sama tanda setuju dengan permintaan Angga.
Perlahan Angga memulainya. Diawali dengan kecupan singkat dan dilanjutkan dengan ******* lembut. Seperti kemarin, Angga juga mulai memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Viviane. Mereka berdua sama-sama terhanyut dengan kegiatan intim ini.
__ADS_1
Perlahan Angga mendorong tubuh Viviane hingga bersandar pada mini bar yng ada di dapur itu. Kedua tangan Viviane memegang erat kedua bahu Angga. Sedangkan kedua tangan Angga menekan tengkuk Viviane dengan lembut untuk memperdalam pagutan itu.
Suara decapan dari kedua bibir mereka kini mengisi keheningan dalam dapur. Mereka berdua semakin menikmatinya. Keduanya seolah saling menghilangkan rasa dahaga yang sudah lama ditahan.
“Enghhh…..”
Suara ******* Viviane akhirnya lolos juga. Angga semakin memperdalam pagutannya. Viviane mengingat kenikmatan dalam ciuman ini yang dulu pernah ia lakukan dengan orang yang sama. Ternyata rasanya masih sama. Di tengah-tengah kegiatan itu, Viviane bersyukur ternyata cinta Angga masih sama besarnya sampai sekarang.
“Maaf!” lirih Angga setelah melepas pagutannya.
Angga melihat bibir Viviane yang sedkikit membengkak akibat ulahnya yang terlalu bersemangat ******* bibir Viviane. Viviane hanya tersenyum menanggapi perminta maafan Angga.
“Aku mencintaimu istriku.” Ucap Angga.
“Aku juga mencintaimu suamiku.”
.
.
.
*TBC
Hai...hai... reader kesayangankuh semua🤗🤗
masih setia kan sama cerita Angga dan Viviane ini. sabar ya jika kalian terkesan menganggap jalan ceritanya lambat. nikmatin aja. karena ini memang mnceritakan ttg perjuangan si babang tamvan Angga. jadi bnyak lika-likunya sebelum menuju happy ending.
Jangan pernah bosan ya😘😘😘😘
jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejaknya. biar auyhor makin semangat. ok👌👌😘😘😘
__ADS_1