Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 51


__ADS_3

Dua bulan berlalu.


Pagi ini Laura terbangun dari tidur nyenyaknya. Biasanya wanita itu akan bangun sesuai dengan alarm yang sudah dia setting. Namun karena ada sesuatu yang bergejolak dalam perutnya, membuat Laura terpaksa bangun.


Hueeekk


Laura memuntahkan semua isi perutnya. Perutnya masih terasa mual meskipun sudah muntah berkali-kali hingga wajahnya menjadi pucat.


“Ada apa sih ini perutku mual sekali. Perasaan semalam tidak makan aneh-aneh.” Gumam Laura.


Setelah keadaannya sudah membaik dia segera keluar dari kamar mandi. sekarang yang dirasakan Laura, kepalanya sangat pusing. dia mencari obat Pereda pusing namun dalam kotak obatnya tidak ada. Tiba-tiba saja Laura teringat akan sesuatu. Dia membuka kalender yang ada di ponselnya.


Seketika itu Laura menutup mulutnya karena terkejut. Dari kalender yang dilihat, dia sudah terlambat datang bulan selama satu bulan ini.


“Tidak mungkin!” lirih Laura sambil menggelengkan kepalanya.


Laura mengingat saat bercinta dengan Alfa karena hanya ingin meminta foto bukti Viviane berpelukan dengan Angga. Laura ingat saat setelah selesai bercinta dia meminum obat pencegah kehamilan yang sudah ia persiapkan. Dan dia juga meminumnya lagi sampai obat itu tinggal satu butir. Jadi tidak mungkin kan kalau dirinya hamil karena menyisakan obat itu.


Laura yakin mungkin ini hanya efek dari obat itu saja.


Beberapa saat kemudian Laura sudah turun dari kamarnya dan segera bergabung dengan mama dan papanya untuk sarapan pagi. Namun tiba-tiba saja Laura menutup mulutnya saat mencium bau menyengat dari masakan mamanya. Dia segera berlari ke belakang untuk memuntahkan isi perutnya lagi.


Hhuuueeekkk


“Kamu kenapa Ra?” Tanya Rachel yang ternyata mengikuti Laura.


“Laura nggak tahu Ma, tiba-tiba saja perut Laura mual.” Jawab Laura.


Seketika Rachel terkejut. Apa mungkin anaknya saat ini sedang hamil. Tapi siapa laki-laki yang telah menghamili Laura. Batin Rachel penasaran.


“kamu nggak sedang hamil kan Ra?” Tanya Rachel pelan.


“Nggak lah Ma. Mungkin Laura hanya kecapekan saja. Nanti siang Laura akan periksa saat jam istirahat kantor.” ucap Laura dengan wajah tenang.

__ADS_1


Sesuai yang diucapkan pada Mamanya tadi pagi, kini Laura sudah berada di salah satu rumah sakit. Dia ingin memeriksakan keadaanya karena sejak di kantor tadi bukannya keadaannya membaik, tapi justru semakin parah. Laura memilih dokter spesialis kandungan karena ini berhubungan dengan periode menstruasinya. Dan dia juga membawa obat pencegah kehamilan yang tersisa satu butir.


“Selamat siang Ibu! Ada yang bisa saya bantu?” Tanya dokter wanita dengan ramah.


“Siang Dok. Saya mau memeriksakan kandungan saya. Ehm maksud saya datang bulan saya tidak lancar Dok. Dan bulan ini saya belum mendapati tamu bulanan saya datang.” Jawab Laura.


“Kalau boleh saya tahu, dimana suami Ibu?” Tanya dokter itu lagi.


“Oh, itu ehm suami saya sedang kerja luar kota Dok.” Jawab Laura gugup. Buat apa juga dokter itu menanyakan suaminya. Memangnya kalau masuk ke poli kandungan wajib membawa suami. Begitulah pertanyaan yang ada di dalam benak Laura.


Kemudian dokter itu meminta Laura untuk segera tidur di brankar yang ada di ruangan itu. Dokter mengolesi perut Laura dengan gel dan melakukan pemeriksaan USG.


“Selamat ya Bu, Ibu hamil dan usia kandungan Ibu sudah minginjak 6 minggu.” Ucap sang dokter dengan tersenyum.


Duar


Bagikan disambar petir di siang bolong. Laura sangat tidak percaya dengan hasil pemeriksaan dokter yang mengatakan bahwa dia sedang hamil. Bukankah selama ini dia rutin minum obat itu. Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Laura kembali duduk di hadapan dokter kandungan itu. Dengan ragu Laura memperlihatkan obat yang obat pencegah kehamilan yang ia bawa.


“ehm Dok, selama ini saya dan suami saya sengaja menunda kehamilan dulu. Dan saya mengkonsumsi obat ini. Tapi kenapa saya masih bisa hamil Dok?” Tanya Laura.


“Maaf Ibu, mungkin suami Ibu sudah menginginkan momongan jadi suami Ibu menukar isi obat ini dengan vitamin penyubur kandungan.” Ucap dokter tersenyum.


Deg


Laura benar-benar sangat marah. Dia mengumpat Alfa dalam hati. Niat ingin mengelabuhi Alfa justru dia lebih licik dari dirinya. Setelah itu Laura pergi dengan membawa selembar resep yang sudah diberikan dokter tadi.


Laura meremas resep itu dengan kuat dan membuangnya. Dia tidak percaya saat ini tengah mengandung anak Alfa. Padahal selama ini dia berharap hanya akan hamil anak Angga.


Laura berpikir keras bagaimana caranya agar Angga mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Dia akan meminta bantuan pada papanya. Karena tidak mungkin meminta pertanggung jawaban pada Alfa.


***


Sementara itu Viviane sudah bisa menjalani kehidupannya dengan normal di kota B. meskipun bayang-bayang Edwin masih terngiang-ngiang dalam benaknya.

__ADS_1


Hari ini ada seorang kurir yang datang ke rumah Viviane. Saat ayahnya membukakan pintu, ayahnya sedikit terkejut dengan amplop yang dibawa oleh pegawai pos tersebut. Tapi ayah Viviane tidak banyak bertanya dan segera masuk ke rumah.


“Siapa Yah?” Tanya Viviane.


“Oh ini ada pegawai pos mengantar surat yang ditujukan pada kamu.” Jawab ayah Viviane.


Viviane segera mengambil amplop itu dan segera membukanya. Ternyata isi amplop itu adalah akta cerai dari Edwin. Tangan Viviane gemetar memegang akta cerai itu. Dia tidak menyangka secepat ini Edwin mengurus perceraiannya.


Dalam hati Viviane masih ada sedikit harapan untuk memperbaiki pernikahannya dengan Edwin. Namun ternyata dugaannya salah. Justru Edwin dengan cepat mengurus perceraiannya.


Ayah Viviane tahu kalau itu adalah akta cerai anaknya. tiba-tiba saja ayahnya meremas dadanya. Dia tidak menyangka secepat itu anak kesayangannya menyandang status janda. Bagaimana nanti tanggapan para saudara dan tetangganya saat mengetahui Viviane telah menjadi janda di saat usia pernikahannya masih seumur jagung.


Bruk


“Ayah!!!!” panggil Viviane terkejut saat melihat ayahnya jatuh pingsan.


Ibu Viviane yang tadi berada di dapur pun tak kalah terkejut saat mendengar teriakan Viviane memanggil ayahnya. Dan dengan cepat Viviane dan ibunya membawa ayahnya ke rumah sakit.


Ibu Viviane terus saja menangis saat dokter sedang memeriksa ayahnya. Viviane harus tetap menguatkan ibunya meskipun dirinya sendiri juga butuh kekuatan. Perlahan Viviane menceritakan pada Ibunya kalau ayahnya tadi pingsan setelah melihat seorang kurir datang membawa amplop yang berisi akta perceraiannya dengan Edwin. Ibu Viviane juga sangat terkejut dan tidak percaya bahwa mantan menantunya itu akan mengurus perceraiannya secepat itu.


Ceklek


Seorang dokter laki-laki baru saja keluar dari ruangan dimana ayah Viviane tadi diperiksa dengan diikuti oleh dua orang suster di belakangnya.


“bagaimana keadaan ayah saya Dok?” Tanya Viviane.


“Tuan Mahesa terkena serangan jantung. Dan maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain. Nyawa Tuan Mahesa tidak bisa diselamatkan.” Ucap Dokter dengan hati-hati.


“Ayah!!!!!!!!!!!!”


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2