
Kini Angga sudah tiba di rumah Viviane. Selama beberapa saat yang lalu dia menempuh perjalanan udara hanya untuk melihat wajah cantik sang pujaan hati, akhirnya keinginan Angga terwujud. Sebelumnya Angga sudah menguaatkan hatinya apabila nanti reaksi Viviane maih sama seperti saat dulu dia baru saja sadar. Dan benar saja, sudah dua jam Angga duduk di ruang tamu rumah Viviane, namun Viviane tak juga muncul walau hanya sekejap menampakkan batang hidungnya.
Dokter Eva tadi juga sempat berbicara dengan Angga setelah selesai melakukan tugasnya yaitu memberi Viviane terapi.
“Tuan Angga tidak perlu khawatir lagi. Nona Viviane sudah mengalami kemajuan yang pesat. Perlahan traumanya sudah bisa diatasi.” Ucap Dokter Eva.
“Terima kasih banyak Dok.” Balas Angga.
“Sama-sama Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit Dokter Eva dan diangguki oleh Angga.
Angga masih setia duduk di ruang tamu meskipun sudah dua jam menunggu Viviane. Ibu Viviane juga sejak tadi masih berada di dalam kamar Viviane, mungkin membujuk Viviane agar mau menemuinya.
Angga berdiri. Dia berniat untuk keluar dari rumah Viviane. Mungkin Viviane saat ini belum mau menemuinya. Jadi dia memutuskan untuk balik ke hotel tempat dia menginap. Nanti malam akan balik lagi dan bila Viviane masih enggan menemuinya, Angga lebih memilih untuk pulang ke kota J saja.
“Ngga!” panggil Viviane lirih.
Angga yang hendak melangkahkan kakinya keluar terpaksa menghentikan langkahnya. Dia mencoba menajamkan pendengarannya. Benarkah suara yang memanggilnya tadi adalah ssuara wanita yang sangat dia cintai. Beberapa saat hening tidak ada lagi suara yang terdengar. Mungkin Angga hanya berhalusinasi. Jadi dia memilih untuk melanjutkan langkahnya.
“Angga!” panggil Viviane lagi.
“Vi?” balas Angga saat badannya sudah berbalik.
Viviane hanya diam sambil membuang mukanya. Angga sangat terkejut ternyata dia tidak sedang berhalusinasi. Ini kenyataan. Viviane sudah mau menemuinya.
“Bagaimana keadaan kamu, Vi?” Tanya Angga saat dia sudah duduk lagi di sofa ruang tamu berhadapan dengan Viviane.
“Baik. Terima kasih.” Jawab Viviane.
“Terima kaih buat apa?’ Tanya Angga bingung.
“Sudah menyelamatkan aku.” jawab Viviane.
Angga mengangguk dan tersenyum. Dia benar-benar sangat bahagia akhirnya perlahan Viviane sudah kembali pulih. Kurang lebih selama satu jam Angga duduk dengan Viviane.
Memang tidak banyak pembicaraan yang mereka lakukan. Angga jugalah yang lebih banyak bertanya pada Viviane hanya untuk mengisi keheningan ruangan itu. Meskipun jawaban Viviane hanya iya dan tidak atau terkadang hanyaa mengangguk dan menggeleng, Angga tak mempermasalahkannya. Yang terpenting bagi Angga adalah Viviane sudah bisa menerima kehadirannya kembali.
***
Beberapa minggu berlalu. Seorang wanita muda dan cantik kini sedang asyik bersenang-senang di sebuah club terkenal di kota J. dia adalah Laura. Semenjak dia keluar dari apartemen Stella, salah satu sahabatnya. Laura memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Karena itu adalah jalan satu-satunya yang menurutnya bagus di saat dirinya sudah diusir oleh orang tuanya sendiri. Setelah menggugurkan kandungannya, keuangan Laura pun menipis karena dipakai untuk membayar mahal biaya aborsi.
__ADS_1
Dan kini Laura sedang berada di sebuah club untuk menemani beberapa laki-laki hidung belang. Laura yang sudah terbiasa hidup bergelimang harta, tidak bisa jika harus mengalami krisis. Jadi setelah seminggu melakukan aborsi dia pergi ke club dan dari situlah Laura memulai pekerjaannya sebagai penjual jasa memberikan pelayanan ranjang pada pelanggannya yang kebanyakan pria berusia di atas 45 tahun.
“Cantik, malam ini tidur di apartemen Om ya” pinta salah satu pelanggan setia Laura yang bernama Kristian.
“Apa sih yang buat Om Kris. Mau sekarang kita pergi ke apartemen Om?” tawar Laura.
Akhirnya Laura pergi dari club bersama pria langganannya untuk memberikan pelayanan yang sangat memuaskan.
“Dasar ******!! Kamu memang pantas mendapatkan gelar itu” gumam seorang pria yang seringkali mendapati Laura sedang berada di club dengan menemani beberapa pria hidung belang.
Edwin yang terkadang menghabiskan waktunya di club dengan minum-minuman beralkohol, sudah beberapa kali ini dia melihat adik sepupunya juga berada disana. Namun Laura sama sekali tidak mengetahui keberadaan Edwin.
Setelah itu Edwin memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Karena kepalanya sudah mulai pusing. dia tidak mau pulang dalam keadaan mabuk berat. Jadi lebih baik dia pulang sebelum rasa pusing menyerangnya.
***
Dua bulan berlalu. Hampir seitap weekend Angga selalu berkunjung ke rumah Viviane. Meskipun Viviane masih sedikit bersikap dingin pada Angga, tapi Angga tak mempermasalahkannya. Angga tidak akan putus asa demi mendapatkan cintanya kembali pada Viviane.
Saat ini Angga berada di ruang tengah rumah Viviane. Hari ini Angga melihat perubahan sikap Viviane yang sudah mulai menghangat. Bahkan dua hari yang lalu Viviane mengirim pesan pada Angga yang menanyakan kapan dia akan datang ke kota B lagi. Angga yang saat itu sedang disibukkan dengan urusan kantor mendadak hatinya berbunga-bunga mendapati Viviane lebih dulu mengirimkan pesan padanya. Akhirnya saat weekend tiba Angga memutuskan untuk segera terbang ke kota B.
“Kamu lagi buat apa Vi?” Tanya Angga menghampiri Viviane dan Ibunya yang sedang sibuk di dapur.
Ibu Viviane tersenyum simpul pada Angga. Angga pun juga menanggapi senyuman Ibu Viviane yang terlihat sangat bahagia dengan perubahan Viviane.
“Ibu hari ini nggak pergi ke toko?” Tanya Angga.
“Mungkin nanti sorean Ibu kesana. Disana sudah ada karyawan Ibu yang melayani pembeli.” Jawab Ibu Viviane.
Semenjak kejadian naas yang menimpa Viviane saat itu, Ibu Viviane memilih untuk menjaga dan merawat Viviane sampai pulih. Maka dari itu Ibu Viviane mencari seseorang yang bisa membantunya untuk menjaga toko.
“Aw!!” pekik Viviane saat tak sengaja tangannya menyentuh Loyang yang baru saja ia keluarkan dari oven.
“Ada apa Vi?” Tanya Angga dan sudah menghaampiri Viviane.
Dengan cepat Angga memegang tangan Viviane dan membawa Viviane mendekati wastafel untuk mencuci tangan Viviane yang terkena panas tadi dengan air dingin.
Setelah beberapa saat Viviane merasa tangannya sudah lebih baik, dia melepaskan tangannya yang sejak tadi dipegang Angga.
“Terima kasih.” Ucap Viviane pelan.
__ADS_1
“Iya, sama-sama.”
“Ya sudah ayo kita makan dulu kuenya. Ibu sangat penasaran dengan rasa kue ini.” Ucap Ibu Viviane kemudian.
Kini mereka bertiga sudah berada di ruang keluarga sedang menikmati kue yng baru saja dibuat oleh Viviane. Angga tampak lahap sekali menikmati kue pertama buatan Viviane.
Ting tong
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Sejenak mereka menghentikan kegiatan menikmati kue itu. Kemudian Ibu Viviane berdiri hendak membukakan pintu.
“Ibu tunggu disini saja. Vivi yang bukain pintunya.” Cegak Viviane dan ibunya kembali duduk.
“Pergii!!!!!! Pergi dari sini!!!!” teriak Viviane.
Angga dan Ibu Viviane yang tadi berada di ruang tengah sangat terkejut saat mendengarkan teriakan Viviane sambil menangis histeris. Dengan cepat Angga dan Ibu Viviane menghampiri Viviane.
“Pergi kamu bajingan!!!” teriak Viviane lagi.
“Kamu!!!” teriak Angga.
Angga segera memeluk Viviane untuk menenangkannya. Angga tidak menyangka akan kehadiran seseorang yang telah membuat hidup Viviane hancur. Namun Angga segera menuntun Viviane ke dalam dan meminta Ibunya agar menenangkan Viviane.
Bugh
Bugh
“Bajingan kau!!! Untuk apa kamu datang kesini?” Angga memukuli pria itu membabi buta. Tapi pria itu sama sekali tidak melawan pukulan yang diberikan Angga.
“Pergi dari sini sekarang juga!!” usir Angga lagi. Meskipun selama ini Angga mencari keberadaan pria brengsek itu.
“Vi…Viviane adik sepupuku!” ucap Alfa lirih.
.
.
.
*TBC
__ADS_1