
Beberapa jam lagi pesawat yang Angga dan Viviane tumpangi akan sampai di Indonesia. Selama itu pula keduanya masih berdiam diri, tanpa ada salah satu dari mereka yang membuka obrolan. Bahkan saat pesawat transit beberapa kali, Viviane pun enggan berbicara dengan suaminya. Begitupun Angga. Namun Angga masih memperhatikan kesehatan istri dan anak dalam kandungan Viviane.
Kini pesawat yang mereka tumpangi sudah tiba di bandara kota B. ya, Angga akan mengajak istrinya pulang ke rumah ibu Viviane. Pria itu paham kalau saat ini istrinya sangat merindukan ibunya. Sedangkan Viviane sedikit terkejut.
Antara senang dan sedih. Senang karena akan bertemu dengan ibunya. Sedih karena suaminya akan memulangkannya pada ibunya. Apakah suaminya memang berniat meninggalkannya setelah mengetahui kenyataan pahit itu, dan mengembalikan pada ibunya. Tiba-tiba saja Viviane merasakan sesak di dadanya. Air matanya pun mengalir begitu saja.
Angga yang melihat istrinya menitikan air mata, sebenarnya tidak tega. Dia ingin segera mengusap air mata itu dan memeluk tubuh istrinya. Namun dia masih enggan melakukan itu semua karena masih ingat dengan mendiang sahabatnya, Andrew. Bahkan Angga berpikir kalau saat ini istrinya masih bersedih mengenang kepergian Andrew.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam saat mereka berdua tiba di sebuah rumah yang sangat Viviane rindukan. Sudah malam begini pasti ibunya sudah telelap dalam tidurnya. Kepulangannya yang mendadak ini pun Viviane tidak memberi kabar pada Ibunya. Entah bagaimana sambutan ibunya nanti.
Angga mendorong koper sambil memencet bel rumah.
Sedangkan Viviane terduduk di kursi yang ada di teras. Jujur saja dia sangat lelah, dan ingin secepatnya tidur. Untung saja kandungannya tidak bermasalah saat diajak perjalanan jauh.
Setelah beberapa kali memencet bel, dan menunggu lama akhirnya pintu terbuka dengan menampilkan sosok wanita paruh baya dengan rambut yang sudah memutih. Wanita itu terlihat masih linglung. Antara sadar dan tidak sadar saat melihat Angga sedang berdiri di hadapannya.
“Ibu!!!!” teriak Viviane segera menerobos dari balik punggung Angga dan memeluk ibunya.
“Vivi? Benarkah ini Vivi anak ibu?” Tanya Ibu Viviane dan Viviane mengangguk.
Mereka berdua saling memeluk erat, melepas rindu yang selama ini terhalang oleh jarang, ruang, dan waktu.
“Vivi kangen ibu. Vivi butuh ibu.” Ucap Viviane sendu.
Seketika hati Angga mencelos. Dia seperti tetampar saat mendengar ucapan istrinya. Apakah kehadirannya belum cukup membuat istrinya bahagia. Seolah dirinya tidak dibutuhkan.
“Sudah, ayo masuk dulu. Ini sudah malam. Ibu juga kangen sama kamu.” Ucap Ibu Viviane.
Angga mencium tangan ibu mertuanya dengan takzim setelah itu masuk ke dalam rumah sambil mendorong kopernya. Disana Viviane sudah duduk sambil bergelayut di lengan ibunya.
__ADS_1
Sedangkan Angga segera masuk ke dalam kamar. dia membiarkan istrinya melepas rindu dengan sang ibu.
Angga memilih membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, setelah itu tidur. Karena dia juga merasa lelah. Entah lelah fisik atau hatinya. Yang pasti dia ingin segera tidur.
Sementara Viviane masih setia memeeluk ibunya. Dia tidak ingin menceritakan masalahnya dengan ibunya. Ibunya menanyakan perihal kepulangannya yang tanpa memberi kabar, Vivinae hanya menjawab kalau ingin memberi kejutan pada ibunya.
Ibu Viviane meminta anaknya untuk segera istirahat karena sudah malam dan tidak baik buat kandungannya. Ibunya juga membuatkan teh hangat untuk Angga dan meminta Viviane membawanya ke dalam kamar.
Viviane masuk ke dalam kamar sambil membawa teh untuk suaminya. Namun dia melihat suaminya sudah tidur pulas dengan posisi membelakanginya. Kemudian Viviane segera membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, dan segera tidur.
Jam dinding dalam kamar menunjukkan pukul 2 dini hari namun Viviane sama sekali belum bisa menutup matanya. entah kenapa dia merasa sakit dengan perbuatan suaminya yang sejak kemarin mendiamkannya. Dia menangis dalam diam.
Keesokan paginya Angga bangun lebih dulu saat waktu masih pagi jam 6. Dia melihat istrinya yang masih terlelap dengan posisi yang sama, membelakanginya. Angga melihat raut wajah istrinya yang sembab dan masih ada sisa air mata yng membasahi pipinya. Entah Angga masih saja berikiran kalau istrinya masih menangisi kepergian Andrew. Dia terlalu terbakar api cemburu mengingat kebaikan Andrew selama membantu menyembuhkan istrinya.
“sampai kapan kamu masih menangisi kepergiannya. Meskipun kamu menganggap Andrew hanya masa lalu kamu, dan sama sekali tidak mencintainya. Tapi aku masih tidak terima. Karena kamu telah menyembunyikan semuanya dariku.” Gumam Angga sambil melihat wajah istrinya.
Kemudian Angga masuk ke kamar mandi setelah itu dia sudah berpakaian rapi. Dia keluar dari kamar dan menjumpai ibu meruanya sedang memask di dapur.
“Maaf Bu, Angga segera balik ke kota J karena ada pekerjaan yang sangat penting. Angga titip Viviane ya Bu.” Ucap Angga.
“Kalian baik-baik saja kan?” Tanya Ibu dengan wajah khawatir.
“Kami baik-baik saja Bu. Semalam Angga sudah bilang dan berpamitan pada Viviane. Angga tidak tega membangunkannya karena sepertinya dia masih terlelap.” Ucap Angga berusaha tidak gugup karena telah membohongi ibu mertuanya.
“Apa tidak sarapan dulu?” tawar Ibu.
“Maaf Bu, nanti saja. Kaarena pesawatnya sebentar lagi take off.” Jawab Angga kemudian mencium tangan ibu mertuanya dan segera pergi.
Viviane mengerjapkan matanya saat sinar matahari yang menembus jendela kamarnya menyorot matanya. dia yakin kalau sekarang sudah siang. Semalam dia baru bisa tidur jam 3. Pantas saja dia bangun kesiangan.
__ADS_1
Viviane melihat sisi tempat tidurnya kosong. Suaminya tidak ada di sampingnya. Mungkin sudah bangun dan sedang bersantai di luar. Kemudian Viviane bangun dan mencuci mukanya. Setelah itu dia keluar kamar.
“Anak ibu sudah bangun? Apakah masih kelelahan?” Tanya Ibu dan Viviane menggelengkan kepalanya.
“Ayo kita sarapan dulu. Ini sudah jam 8 loh! Sudah lewat jam sarapan.” Ajak Ibu Viviane.
Viviane tersenyum dan duduk di meja makan. Disana sudah tersedia beberapa menu makanan kesukaannya. Ibunya sangat tahu kalau dirinya sedang merindukan masakan khas rumahan. Tapi pandangan Viviane menyapu ke seluruh ruangan mencari keberadaan suaminya.
“Suami kamu tadi tidak mau sarapan terlebih dulu, katanya buru-buru.” Ucap Ibu yang seolah mengerti apa yang sedang dicari anaknya.
“Buru-buru?” Tanya Viviane bingung.
“Iya, buru-buru ada pekerjaan penting katanya. Padahal masih jam 6 tadi. bukankah Angga sudah bilang semalam sama kamu?” Tanya Ibu.
Hati Viviane kembali merasa sakit. Bahkan suaminya tega membohongi ibunya. Apakah suaminya masih tidak percaya dengan fakta yang sudah ia katakan tentang Andrew. Apakah suaminya berniat meningalkannya. Air mata Viviane luruh begitu saja.
“Vi kenapa manangis? Ada apa nak? Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Ibu Viviane khawatir.
Viviane tidak mampu lagi berucap. Dia terus menangis. Menangisi nasibnya yang sebentar lagi akan ditinggalkan oleh orang yang dia cintai.
“Ibu!!! Vivi benci dengan diri Vivi Bu!!! Lebih baik Vivi mati saja Bu!!” teriak Viviane pilu yang sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya.
“Nak jangan seperti ini. ingat ada calon cucu ibu dalam Rahim kamu.” Ucap ibu Viviane menenagkan.
.
.
.
__ADS_1
*TBC