Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 15


__ADS_3

Edwin sangat cemas karena tiba-tiba saja paanggilan videonya terputus. Dia mencoba menghubungi kembali kekasihnya namun ponselnya malah tidak aktif. Dia bingung harus menghubungi siapa lagi.


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu kamar Edwin ada yang mengetuk dan kemudian mamanya masuk.


“ayo kita makan malam dulu. Laura sudah nunggu tuh dari tadi nyariin kamu”


“iya ma sebentar lagi Edwin turun”


Setiap berkunjung ke kota J, keluarga Edwin sering menginap di rumah keluarga Laura. Karena memang rumah keluarga Edwin ada di pulau K. mereka tidak memiliki rumah di kota J.


Saat ini kedua keluarga itu sedang makan malam bersama. Edwin perasaannya sangat tidak enak. Dia mencemaskan keadaan Viviane. Kenapa tiba-tiba panggilannya terputus. Apakah dia tiba-tiba sakit.


“ehm… sepertinya kita harus tinggal menetap disini ma” ucap Nico papa Edwin


“loh kenapa pa?”


“kantor pusat sangat membutuhkan papa dan Edwin. Jadi hanya itu jalan satu-satunya kita harus pindah kesini”


“terserah papa saja kalau gitu. Mama nurut aja”


“nanti papa akan beli rumah buat keluarga kita”


“tinggal disini saja mas nggak apa-apa. Lagian rumah ini kan juga besar” ucap Wilson papa Laura yang tak lain adalah adik Nico.


“tidak. Aku akan tetap membeli rumah. Karena kita tidak sehari dua hari disini. Kemungkinan akan selamanya” balas Nico.


“Pa, kalau urusan pekerjaan disini sudah mulai membaik, Edwin minta ijin untuk pulang dulu” ucap Edwin tiba-tiba.


Mama dan Papa Edwin saling lirik dan sepertinya tahu apa tujuan putranya itu pulang. Akhirnya mereka berdua mengangguk setuju.


Kemudian mereka melanjutkan makan malam. Laura sangat senang mendengar bahwa Edwin akan tinggal menetap di kota ini. Dia akan merasa tidak kesepian lagi dengan hadirnya Edwin yang seperti kakak kandungnya sendiri. Sekalipun nanti Edwin tidak tinggal serumah. Tidak maslah bagi Laura.


**


Keesokan harinya setelah jam pulang kantor selesai seperti biasa Angga pulang langsung pulang ke apartemennya. Tadi siang Mike menghubunginya ingin mengajaknya bertemu. Jadi setelah membersihkan dirinya, Angga segera keluar untuk menemui Mike sekalian makan malam.


Angga sudah berada di sebuah resto sedang menunggu Mike. Tidak lama kemudia Mike datang.


“sudah lama Ngga? Sorry tadi masih nganter mama sebentar”


“nggak. Belum lama juga. nih sekalian kamu pesan makan dulu”


Setelah selesai memilih menu makanan yang dipesan, Mike memberikan daftar pesanannya kepada pelayan resto.


“ada apa?”

__ADS_1


“aku dapat informasi dari orang suruhanku yang ada di pulau K”


“informasi apa?”


“Viviane sekarang sendirian disana karena Edwin sedang berada disini”


“yang benar?”


“iya. Malah semua keluarga Edwin juga ikut kesini”


Kemudian tanpa sengaja pandangan Angga menangkap seseorang yang sangat dia kenal saat sedang memikirkan ide untuk mendatangi Viviane lagi.


“Laura” gumamnya lirih dan Mike juga mengikuti arah pandang Angga


“Edwin??” ucap Mike dan mengejutkan Angga.


Benar. Laura saat ini sedang berada di resto yang sama dengan Angga. Laura saat ini tidak sendirian melainkan dengan sesorang pria yang saat ini dianggap sebagai rival Angga.


“Laura dengan Edwin? Ada hubungan apa mereka berdua?” gumam Angga


“Mike, coba kamu cari tahu ada hubungan apa antara Laura dan Edwin”


Belum sempat Mike mengiyakan apa yang diperintahkan oleh Angga, Laura sudah mengetahui keberadaan Angga.


“mas Angga?” teriak Laura sambil menghampiri meja Angga dan diikuti oleh Edwin.


“malam mas Angga. Mas Angga makan disini juga?”


“hmmm”


“boleh gabung sekalian nggak?”


Dengan terpaksa akhirnya Angga mempersilakan Laura dan Edwin untuk ikut bergabung.


“mas Angga kenalin ini Mas Edwin kakak sepupuku” ucap Laura


Kemudian Angga, Mike dan Edwin saling berjabat tangan memperkenalkan diri. Setelah pesanan makanan mereka berempat datang, mereka segera makan. Angga diam-diam memperhatikan Edwin yang kini telah menjadi rivalnya. Angga dapat melihat sendiri bahwa Edwin adalah pria yang sangat perhatian dan penyayang. Itu dapat terlihat dari sikapnya pada Laura. Sejenak Angga merasa tidak percaya diri akan membuat Viviane kembali padanya. Namun dia kembali teringat bahwa dia mempunyai cinta yang sangat tulus untuk Viviane.


Setelah makan malam, mereka berempat memutuskan untuk pulang.


Angga bingung dengan pikirannya sendiri. Mulanya dia akan mendatangi Viviane dan akan memberitahu siapa Edwin yang sebenarnya yang dia kira bukan pria baik-baik karena terlihat sedang berjalan dengan Laura. Namun ternyata hubungan Laura dan Edwin hanya sepupu jadi Angga mengurungkan niatnya untuk mendatangi Viviane.


**


Beberapa hari kemudian Edwin memutuskan untuk pulang ke pulau K. meskipun pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan dia tetap akan pulang. Edwin sudah menyerahkan urusan pekerjaan sementara pada asisten pribadinya.


Edwin sangat cemas sekali dengan Viviane. Pasalnya sejak terakhir percakapannya sampai sekarang ponsel Viviane susah dihubungi. Mau meminta bantuan pada Jessica juga tidak bisa karena dia sedang ada kerjaan di luar kota. Dan yang membuat Edwin sangat terkejut hingga memutuskan untuk pulang karena mendapat kabar dari kantornya bagian HRD bahwa Viviane mengundurkan diri.

__ADS_1


Setelah perjalanan beberapa jam akhirnya Edwin tiba juga di kampung halamannya. Dia segera menuju apartemen kekasihnya. Dia ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengan kekasihnya.


Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Edwin berjalan menuju unit apartemen Viviane setelah sebuah taksi mengantarnya.


Ting tong


Ceklek


Pintu terbuka dan menampilkan wajah cantik seorang wanita dengan baju tidur berwarna navy. Tapi tunggu dulu, wajah wanita iyu memang cantik, tapi raut mukanya sangat menyedihkan karena terlihat sembab seperti habis menangis dalam waktu yang cukup lama.


“sayang” panggil Edwin lirih


Viviane segera menutup pintunya setelah sadar siapa orang yang ada di hadapannya kini.


“tunggu” Edwin sedikit mendorong pintu yang akan ditutup oleh Viviane dan dengan cepat Edwin masuk.


“sayang ada apa? Apa yang terjadi?” Tanya Edwin sambil memegang kedua bahu Viviane.


Sementara itu Viviane hanya diam tapi badannya bergetar dan air matanya sudah menganak sungai. Edwin menarik tubuh Viviane ke dalam pelukannya untuk menenangkan kekasihnya.


“lepaskan!! Untuk apa kamu datang lagi? Pergi!!!”


Namun Edwin tidak mempedulikan teriakan Viviane. Dia semakin mempererat pelukannya karena Viviane terus memberontak.


“kenapa aku harus pergi? Ada apa?”


“Pergi!!! Buat apa mas Edwin hadir kalau hanya membuat luka baru di hidupku??”


“apa maksud kamu? Aku sama sekali tidak mempunyai niat untuk memberi kamu luka”


“lebih baik mas Edwin pergi sekarang. Orang tua mas Edwin sudah menolakku jadi tidak mungkin kita lanjutkan hubungan kita ini”


Edwin semakin tidak mengerti dengan maksud Viviane. Orang tuanya menolak? Memangnya Viviane dapat berita dari mana. Akhirnya Edwin mencoba menelaah kata-kata Viviane. Dia teringat terkahir berbicara pada Viviane saat dia menceritakan bahwa orang tuanya sudah mengetahui masa lalunya. Dan saat itu dirinya ingin meminta maaf lantaran tidak bisa menceritakan secara langsung tentang apa yang sudah dikatakan orang tuanya. Tapi saat itu Edwin belum selesai bicara, Viviane tiba-tiba memutuskan panggilannya. Dan apa gara-gara itu?


“sayang dengarkan aku dulu!”


“Pergi sekarang juga!!”


Bruk


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy reading🤗🤗


__ADS_2