
Angga melihat arah pandang sahabatnya yaitu melihat istrinya tanpa berkedip. Namun Andrew segera menjawab pertanyaan Angga agar Angga tidak curiga.
“Hai, bagaimana kabar kamu Ngga? Kapan kamu datang?” ucap Andrew.
“Oh semalam aku datang. Terima kasih telah menjaga Viviane selama aku pulang ke Indonesia.” Ucap Angga.
“sama-sama. Lagian aku juga jarang di rumah. Justru Maria yang selalu menemani Viviane. Bukan begitu Vi?” Tanya Andrew.
'‘Iya.” Jawab Viviane singkat.
Setelah itu Angga meminta istrinya untuk menunggu sebentar. Karena dia masih ada urusan pekerjaan dengan Andrew.
Sementara Viviane hanya bisa terdiam. Dia tidak mau melihat Andrew yang sejak tadi selalu mencuri pandang padanya. Entah apa yang maksud Andrew, yang pasti Viviane sudah menegaskan pada mantan pria masa lalunya itu kalau dia sangat mencintai suaminya.
Setelah pekerjaan Angga selesai, dia megajak istrinya pulang. Angga sedikit merasa bersalah karena ternyata pekerjaannya tidak membutuhkan waktu sebentar, hingga membuat iatrinya menunggu lama.
“Sayang, maaf ya nunggu lama. Ayo kita pulang.” Ajak Angga.
“Ndrew aku Pulang dulu. Apakah kamu nanti akan pulang ke rumah?” pamit Angga.
“Iya, hati-hati. Mungkin sementara ini aku akan tinggal di apartemen dulu. Karena masih ada kepentingan lain.” Jawab Andrew sambil melirik Viviane sekilas.
“Ok, baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu.” Ucap Angga dan Andrew mengangguk.
Angga dan Viviane pulang ke rumah dengan menaiki taksi. Viviane tampak bersandar pada pundak suaminya. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya agar tidak lagi bertemu dengan Andrew. Viviane tidak mau suaminya mengetahui masa lalunya dengan Andrew. Viviane tidak mau melukai perasaan suaminya. Pria yang telah berjuang mati-matian demi bisa hidup bersamanya. Bahkan dengan sabar menemaninya saat dirinya sedang terpuruk akibat traumanya.
“Mas, aku ingin pulang. Aku mohon kabulkan permintaanku ini.” pinta Viviane saat mereka sudah sampai rumah.
“Iya, nanti saat usia kandungan kamu memasuki trimester kedua. Ini kan sudah mau jalan 3 bulan. Yang sabar ya.” Ucap Angga.
“Tapi aku maunya sekarang Mas. Lagian kata dokter kandunganku sudah baik-baik saja bukan.” Ucap Viviane dengan muka ditekuk.
“Sabar ya Sayang. Aku nggak mau kamu kenapa-napa.” Bujuk Angga lagi.
“Aku benci kamu Mas!” ucap Viviane dan segera masuk ke kamar.
__ADS_1
Angga menggelangkan kepalanya melihat mood istrinya yang sedang buruk. Angga tahu kalau mood wanita hamil memang berubah-ubah. Tapi Angga sedikit penasaran dengan permintaan istrinya yang tiba-tiba tidak sabar ingin pulang ke Indonesia.
Angga mencoba membujuk istrinya yang sedang merajuk, namun sayang pintu kamar dikunci dari dalam. Akhirnya Angga memutuskan untuk mandi menggunakan kamar mandi luar. Setelah itu dia membuat spaghetti untuk makan malamnya bersama Viviane.
Sedangkan Viviane sangat kesal dengan suaminya karena tidak mau menuruti kemauannya untuk segera pulang ke Indonesia. Viviane tidak mungkin menceritakan keinginannya ingin cepat pulang ke Indonesia gara-gara tidak ingin bertemu dengan Andrew lagi. Viviane sangat menjaga hati dan perasaan suaminya.
Lama mengurung diri di kamar, Viviane merasakan perutnya lapar. Berhubung di kamar tidak ada makanan, dia memutuskan keluar kamar untuk memasak sesuatu. Tapi saat dia meraih kenop pintu yang ternyata tadi ia kuncu, Viviane merasa bersalah. Pantas saj suaminya tidak bisa masuk, pintunya saja ia kunci dari dalam.
Ceklek
Viviane keluar kamar dan matanya mencari keberadaan suaminya tapi tidak ada. Mungkin suaminya sedang keluar karena bosan sendirian di rumah. Terlebih dirinya tadi mengunci diri di kamar.
“Sayang, ayo makan dulu. Aku sudah membuatkan spaghetti untuk makan malam kita.” Ucap Angga tiba-tiba dan membuat Viviane terlonjak kaget.
“Maaf, maaf mengagetkan kamu. Ayo kita makan.” Ajak Angga kemudian.
Angga meraih tangan istrinya dan berjalaan menuju ruang makan untuk segera makan malam. Viviane hanya diam menikmati spaghetti yang dibuat oleh suaminya.
Selesai makan, Angga yang membereskan piring dan gelas yang kotor bekas dirinya dan Viviane. Setelah itu mengajak Viviane menuju ruang tengah.
“Kenapa kamu ingin pulang secepatnya? Apa ada sesuatu yang membuat kamu ingin segera pulang?” Tanya Angga.
Viviane sedikit terkesiap dengan pertanyaan suaminya. Apakah suaminya mencurigainya. Viviane berusaha untuk tetap tenang agar suaminya tidak curiga.
“Apa salah Mas jika aku merindukan Ibu? Sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengan Ibu.” Ucap Viviane sambil menundukkan kepalanya. Dan tanpa terasa air matanya mengalir saat dirinya menyebut nama ibunya.
“Sssstt… sudah jangan bersedih ya. Iya kita akan pulang. Kita tanyakan dulu pada dokter. Apakah kandungan kamu benar-benar sudah kuat untuk melakukan perjalanan jauh.” Bujuk Angga.
“Tapi kalau dokter tidak mengijinkan, apa Mas tetap tidak mau menuruti keinginanku?” Tanya Viviane.
Angga menghela nafasnya panjang. Dia harus mempunyai stok sabar yang banyak untuk mengadapi istrinya yang mudah sekali merajuk. Melihat suaminya terdiam, Viviane beranjak dari duduknya dan segera menuju kamarnya. Namun Angga dengan cepat mencekal lengan istrinya dan menariknya hingga jatuh ke dalam pelukannya.
“Aku benci sama ka-mmmpphhhhhhh”
Angga dengan cepat membungkam mulut istrinya dengan bibirnya. Angga melu mat bibir istrinya dengan rakus. Sudah lama sekali dia tidak mendapatkan vitamin itu.
__ADS_1
Angga masih terus melu mat bibir istrinya, yang semula sangat rakus, kini perlahan ia lakukan dengan lembut. Angga menyalurkan rasa rindunya pada istrinya. Viviane pun lama-lama juga ikut menyeimbangi pagu tan yang dilakukan suaminya. Ciuman mereka kini semakin menuntut.
Tangan Angga pun sudah bergerak aktif bermain pada buah segar kesukaannya. Bahkan tangan itu dengan terampil membuka baju yang dipakai Viviane. Kini mereka berdua sudah sama-sama tidak memakai baju.
“Mas, bagaimana nanti kalau ada yang masuk rumah?” Tanya Viviane sedikit was-was.
“Tenang Sayang. Tidak akan ada yang melihat.” Jawab Angga dengan wajah yang menahan gairah.
Akhirnya kegiatan panas itu mereka lakukan di ruang tengah. Angga sangat hati-hati sekali melakukannya. Dia tidak ingin melukai calon anaknya yang ada di dalam Rahim Viviane.
Viviane pun demikian. Sudah lama tidak mendapatkan sentuhan dari suaminya, dia juga ikut terbakar api gairah.
Desa han yang keluar dari bibir Viviane pun semakin membuat Angga semakin bersemangat. Angga sedikit terkejut dengan tindakan istrinya yang tiba-tiba berganti posisi. Viviane kini berada di atas suaminya dengan posisi Angga setengah duduk di sofa. Perlahan namun pasti Viviane menggerakkan pinggulnya naik turun. Hal itu membuat Angga semakin tak karuan.
Deg
Andrew melihat pergulatan panas yang dilakukan oleh Viviane dan Angga di sofa ruang tengah. Terlebih melihat posisi Viviane yang berada di atas Angga, membuat Andrew semakin sakit. Dia mengingat permainan yang pernah ia lakukan dengan Viviane beberapa tahun silam.
Perlahan Andrew memundurkan langkahnya. Dia yang tadi berniat pulang untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di kamarnya, terpaksa harus dibatalkan karena tidak mau mengganggu kemesraan pasangan suami istri yang sedang di mabuk asmara.
Andrew mengendarai mobilnya sambil memegang dadanya yang sejak tadi terasa berdenyut. Inikah yang disebut sakit tapi tidak berdarah. Tapi rasa sakit di dada Andrew semakin menjadi tatkala dia merasa kesusahan menghirup oksigen.
BRAKKKKKK
.
.
.
*TBC
Yuk jangan lupa like, gift, vote, dan komennya ya. terutama komen kalian nnti yg beruntung author pilih akan dpt pulsa lho!! masih ingat kan cara ikutin GA nya.
Happy reading🤗🤗😘😘
__ADS_1