
Alfa masih tidak mengerti dengan ucapan Viviane yang mengatakan kalau suaminya pergi. Namun dia berusaha menenangkan Viviane terlebi dulu. Setelah beberapa saat kemudian tangis Viviane sudah berhenti meski masih menyisakan isakan kecil.
“Kamu minum dulu biar lebih tenang!” ucap Alfa sambil memberikan segelas air putih pada Viviane.
“Terima kasih Bang.” Jawab Viviane.
Keduanya masih terdiam. Alfa tidak mau memaksa Viviane untuk menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi dalam rumah tangganya. Namun tiba-tiba Viviane yang membuka pembicaraan, kemudian menceritakan semuanya pada Alfa tanpa ada yang terlewati.
Sudah tidak ada lagi air mata yang keluar dari mata Viviane saat menceritakan tentang rumah tangganya. Entah karena sudah lelah menangis atau perasaan Viviane sudah mati rasa terhadap Angga. Viviane hanya bisa pasrah dengan jalan takdir yang telah Tuhan tentukan. Apakah memang dia tidak diperbolehkan oleh Tuhan untuk hidup bahagia dengan pasangannya. Jika pernikahannya dengan Angga akan berakhir, Viviane berjanji tidak akan lagi menjalani hidup berumah tangga. Terlebih saat ini ada makhluk kecil dalam rahimnya. Dia bisa hidup bahagia dengan anaknya kelak meski tanpa suami.
Alfa teriris hatinya mendengar cerita sepupunya. Tapi Alfa sangat salut dengan Viviane yang tidak mudah putus asa. Bahkan dia adalah wanita kuat yang pernah ia temui. Alfa memeluk Vivaine untuk memberi ketenangan.
“Apa kamu mau jalan-jalan?” Tanya Alfa. Taapi Viviane masih terdiam.
“Jika mau, nanti malam kita akan jalan-jalan ke taman kota. Kamu juga belum keluar sama sekali kan semenjak pulang ke Indonesia?” Tanya Alfa.
“Iya aku mau Bang.” Jawab Viviane sambil mengangguk antusias.
Alfa tidak tega meninggalkan Viviane dalam keadaan bersedih seperti ini. dia memutuskan untuk tinggal beberapa hari di kota B. dia akan berusaha mengembalikan keceriaan Viviane. Apapun akan Alfa lakukan demi kebahagiaan Viviane. Untuk Angga, saat ini dia tidak ingin membahas pria yang telah menyakiti Viviane. Mungkin nanti dia akan membalas semua perbuatan Angga karena telah berani menyakiti Viviane.
Selama beberapa hari Alfa tinggal di kota B, selama itu pula Alfa sering mengajak Viviane keluar untuk jalan-jalan melepaskan penat. Alfa juga mengajak Viviane berbelanja keperluannya mulai dari susu ibu hamil, baju-baju hamil, dan beberapa kebutuhan lainnya. Ibu Viviane juga tampak bahagia melihat Viviane yang sedikit demi sedikit sudah ceria. Ibu Viviane sangat berterima kasih pada Alfa yang telah meluangkan waktunya untuk menghibur Viviane.
***
Sementara itu Angga sudah mulai beraktifitas kembali di perusahaannya. Namun pria yang sudah menduduki kursi kebesarannya sebagai CEO itu tampak kurang bersemangat. Bahkan aura dinginnya kembali lagi seperti saat dulu kehilangan Viviane.
__ADS_1
Mike sekarang berganti posisi sebagai asisten pribadi Angga, sama dengan Mario. Pria itu tampak acuh dengan masalah yang tengah Angga hadapi. Dia hanya fokus dengan urusan perusahaan. Untuk urusan pribadi Angga, Mike sudah angkat tangan. Karena percuma saja memberikan nasehat untuk Angga tapi Angga sama sekali tidak menanggapinya.
“Sial!!!” umpat Angga.
Angga mendapat kiriman foto dari orang suruhannya yang bertugas mengintai istrinya. Angga mengumpat saat melihat Viviane yang tampak bahagia bersama Alfa. Meskipun status mereka adalah sepupu, namun entah kenapa Angga tidak terima. Bahkan senyum lebar Viviane tercetak jelas saat sedang bersama Alfa.
“Berani sekali kamu tertawa dengan pria lain saat jauh dengan suami kamu. Apa memang ini semua yang kamu inginkan?” gumam Angga penuh amarah.
Mike yang kebetulan masuk ke ruangan Angga untu meminta tanda tangan pada beberapa dokumen, tidak sengaja ia melihat ponsel Angga yang menampakkan foto istrinya sedang bersama Alfa. Kemudian arah pandang Mike tertuju pada wajah Angga yang sudah memerah menahan amarah.
“Kenapa tuh muka? Keruh sekali.” Ucap Mike sedikit mengejek.
“Apa kamu suka temanmu ini menderita?” jawab Angga.
“Menderita? Bukankah kamu sendiri yang menciptakan penderitaan itu? Ingat! Jangan sampai kau menyesalinya saat Viviane sudah mati rasa dengan kamu.” Ucap Mike dan
Angga memijit kepalanya yang terasa pusing. dia memikirkan perkataan Mike baru saja. Apa benar ini semua salahnya. Apa benar Viviane seperti itu karena salahnya juga.
“Arghhhhh!” teriak Angga sambil meremas kuat rambutnya.
Kemudian Angga memutuskan untuk keluar dari ruangannya.
Dia akan pulang ke apartemennya karena moodnya sangat buruk hari ini. terlebih setelah mengetahui istrinya sedang tertawa lebar dengan Alfa. Angga tidak peduli dengan urusan kantornya. Percuma saja dia berada di kantor tapi suasana hatinya sangat hancur berantakan.
Beberapa saat kemudian Angga sudah sampai di apartemennya. Dia masuk ke dalam unit apartemennya, dimana dulu dia tinggal bersama istrinya. Angga masuk ke dalam kamarnya, dia membuka lemari dan mengambil salah satu baju milik Viviane yang masih tersimpan rapi disana. Angga menghirup wangi aroma baju itu, wangi aroma istrinya. Jujur saja Angga sangat merindukan Viviane. Tapi egonya masih besar dan mengalahkan hatinya.
__ADS_1
“Apa aku harus menjemputnya? Bagaimana kalau dia marah denganku? Ahhh biarkan saja. Disana dia juga bahagia. Dia bisa bahagia tanpa aku. tapi dia tidak memikirkan aku yang sama sekali tidak bahagia tanpa dia. Tega kamu Vi” gumam Angga.
Entah siapa yang bisa menyadarkan Angga atas sikap egoisnya. Dia seolah lupa kalau istrinya saat ini tengah mengandung anaknya. bukankah seorang wanita hamil itu harus menjaga hatinya untuk tidak bersedih agar janin dalam kandungannya tidak mendapatkan efek buruk jika sang ibu terus bersedih. Rasanya pengetahuan Angga masih kurang mengenai wanita hami.
Tanpa terasa perut Angga terasa lapar. Dia tadi belum sempat makan siang. Jadi mau tidak mau dia harus keluar apartemen untuk mengisi perutnya. Dia ingat kalau mengahadapi masalah juga memputuhkan energy. Tapi entah menemukan solusinya atau tidak jika energy sudah terisi.
Angga masuk ke dalam salah satu rumah makan yang jauh dari kata mewah. Lebih tepatnya sederhana. Tapi dijamin higienis. Angga juga tidak pernah pilih-pilih soal makanan. Lagi pula resto itu yang paling dekat dengan apartemennya.
Setelah memesan makanan, Angga menunggunya sebentar.
Tiba-tiba pandangan Angga menuju pada pengunjung yang sepertinya pasangan suami istri. Angga tadi sempat melihat ke luar kalau sepasang suami istri itu menaiki sepeda motor butut. Dan ternyata si wanita dari pasangan itu tampak perutnya agak buncit yang dapat dipastikan sedang hamil.
Angga terus melihat pasangan itu. Suaminya begitu sangat perhatian dengan istrinya. Meskipun istrinya masih bisa berjalan normal dan belum begitu kesusahan. Saat makanan pesanan Angga datang, dia masih melihat pasangan itu. Bahkan si lelakinya tampak menyuapi istrinya, dan istrinya tersenyum malu.
Angga tiba-tiba teringat dengan istrinya. Bukaankah Viviane sekarang tengah mengandung anaknya. Angga bahkan sampai lupa kalau istrinya sedang hamil. Angga benar-benar merutuki kebodohannya karena telah melalaikan wanita yang tengah hamil. Bukankah Viviane juga ingin merasakan seperti kebanyakan wanita hamil lainnya.
“Maafkan aku Vi!” lirih Angga.
Angga segera bergegas meninggalkan resto setelah membayar makanannya. Pikirannya saat ini dipenuhi dengan Viviane. Dia ingat saat dulu diketahui istrinya sedang hamil, wanita itu bahkan terlihat begitu lemas karena morning sickness. Bagaimana keadaannya sekarang.
.
.
.
__ADS_1
*TBC