Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 56


__ADS_3

Alfa sangat kecewa sekaligus marah besar saat tahu bahwa Laura tidak mau mengakui anak yang sedang dalam kandungannya adalah anaknya. ditambah lagi saat Laura bilang bahwa anak itu adalah anak hasil hubungannya dengan Angga dan akan segera melangsungkan pertunangan dan disusul pernikahannya dengan Angga.


Alfa semakin membenci Angga karena ternyata Angga masih saja dekat dengan Laura. Alfa tidak percaya atas ucapan Angga yang tidak pernah tertarik dengan Laura. Nyatanya Alfa melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Angga menemani Laura memilih cincin pertunangan di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota J. terlihat juga Laura sedang bergelayut manja di lengan Angga.


Alfa meradang saat mendengar kabar pertunangan Laura dan Angga sedang berlangsung. Alfa yang dulunya sangat menginginkan Laura kini berubah menjadi sangat membencinya. Meskipun Laura tidak mengakui anak dalam kandungannya adalah anaknya, Alfa berjanji akan merebut anak itu dari Laura saat sudah lahir nanti. Bagi Alfa itu adalah balas dendam yang sangat sempurna untuk Laura.


Sedangkan untuk Angga, Alfa juga akan balas dendam padanya. Seperti rencana awal dulu, Alfa akan menggunakan Viviane sebagai alat untuk membalaskan dendamnya pada Angga. Bagi Alfa, Angga sangat serakah. Sudah mendapatkan Laura tapi masih mengharapkan Viviane.


Sore hari sebelum acara pertunangan Angga dan Laura, Alfa segera terbang ke kota B untuk melnjalankan misinya. Hati dan pikiranAlfa sudah tertutup oleh kabut amarah dan balas dendam. Alfa yang perlahan memiliki rasa simpati pada Viviane kini menghilang sudah karena egonya terpengaruh oleh perbuatan Laura dan Angga.


Setelah pesawat yang ia tumpangi mendarat di kota B, Alfa segera mencari keberadaan Viviane. Alfa melihat Viviane sedang berada di sebuah ruko milik orang tuanya. Terlihat penampilan Viviane rapi yang sepertinya wanita itu baru pulang bekerja dan mampir dulu ke ruko untuk menemani dan membantu ibunya berjualan.


Alfa diam di dalam mobilnya sambil memantau keadaan sekeliling ruko milik Ibu Viviane. Setelah keadaan sepi, Alfa akan cepat bertindak.


Tampak Viviane keluar dari ruko untuk membelikan Ibunya makanan yang dijual oleh pedagang keliling yang saat itu lewat di depan. Wajah Viviane terlihat sangat ceria. Sepertinya wanita itu sudah bisa kembali ceria sepeninggal ayahnya beberapa minggu yang lalu.


Setelah selesai membeli makanan, dan si pedagang makanan keliling itu sudah pergi meninggalkan Viviane. Anak buah Alfa yang memakai baju serba hitam dan penutup kepala segera bertindak cepat menculik Viviane.


“Tolong!!!!!!! Ibu tolong!!!” teriak Viviane saat tubuhnya berhasil diseret dan kemudian digendong paksa oleh salah satu orang suruhan Alfa.


Ibu Viviane yang tadi sedang melayani seorang pembeli sangat terkejut saat mendengar teriakan Viviane. Ibu Viviane segera keluar dan mencari keberadaan Viviane namun terlambat. Ibu Viviane melihat ankanya sudah dimasukkan ke dalam mobil dan mobil itu dengan cepat meninggalkan area pertokoan yang dalam keadaan sepi itu.


“Tolong!! Jangan bawa anakku!!” teriak Ibu Viviane meminta tolong sambil menangis.


Karena keadaan area pertokoan yang sepi, jadi hanya beberapa orang saja yang mendengar teriakan minta tolong dari Ibu Viviane. Mereka dengan cepat membantu Ibu Viviane. Ada yang mengejar arah mobil yang membawa kabur Viviane meskipun sangat mustahil. Ada juga yang melaporkannya pada pihak yang berwajib.


Hingga malam tiba, Ibu Viviane masih menangisi anaknya karena belum juga mendapatkan petunjuk dimana keberadaan anaknya. akhirnya Ibu Viviane mengambil ponsel Viviane yang ada di dalam tas. Denagn masih terisak, Ibu Viviane kebingungan harus minta tolong pada siapa. Dan saat menemukan konntak nama Edwin yang tak lain mantan suami Viviane. Tapi niat untuk menghubungi Edwin segera dibatalkan oleh Ibu Viviane. Kemudian Ibu Viviane menscrol daftar nama kontak yang ada dalam ponsel Viviane dan menemukan nama Angga. Dengan cepat disentuhnya tombol warna hijau.


Panggilan pertama tersambung namun tidak juga diangkat. Dan dicobaanya lagi panggilan kedua.


“Iya, halo Vi?” sapa Angga.


“Halo, nak Angga. Ini Ibu. Ibu minta tolong, Viviane diculik.”


“Ap…apaaa???”

__ADS_1


Panggilan itu dengan cepat diputus oleh Angga. Ibu Viviane sedikit merasa lega, setidaknya Angga masih simpati terhadap Viviane dan bersedia menolong Viviane.


***


Beberapa saat setelah mendapat kiriman foto Viviane dalam keadaan terikat, Angga dan Mike kini sudah tiba di bandara kota B. Angga bingung harus mencari Viviane kemana. Namun dengan cepat Mike meminta ponsel Angga untuk melacak ponsel seseorang yang tadi mengirim foto Viviane.


Tidak butuh waktu lama, Mike berhasil melacak keberadaan si pemilik ponsel yang mengirim foto Viviane tadi. Mike segera mengajak Angga menuju lokasi tersebut. Mike yakin bahwa Viviane juga berada di tempat itu karena melihat arah jalan yang mereka lalui sangat sepi. Dan jauh dari keramaian kota.


Kini Angga dan Mike sudah sampai lokasi. Tempat itu merupakan bangunan kuno tak berpenghuni. Angga dan Mike kesusahan mencari Viviane mulai dari mana karena bangungan tersebut sangat luas dan tidak ada penerangan sama sekali. Angga dan Mike hanya mengandalkan cahaya dari layar ponselnya untuk mencari jalan.


Bugh


Bugh


Tiba-tiba saja ada orang memukul tengkuk Mike dan Angga dari belakang sampai mereka berdua pingsan di tempat. Dengan cepat si pemukul itu melihat wajah Angga dan Mike menggunakan layar ponselnya.


“Ini yang bernama Angga. Sebaiknya cepat kamu bawa dia ke hadapan boss. Dan temannya ini biar aku amankan dulu.” Ucap salah satu preman yang memukul Angga dan Mike tadi.


Kini Angga sudah duduk di sebuah kursi kayu dalam keadaan tangan dan kaki terikat jadi satu dengan kursi yang ia duduki. Perlahan Angga mulai sadar dari pingsannya dan merasakan tengkuknya sangat sakit akibat pukulan seseorang tadi.


Samar-samar Angga melihat seoarng wanita duduk sama seperti dirinya saat ini yaitu terikat di kursi kayu. Hanya saja wanita itu mulut dan matanya tertutup.


“Vi…Viane!” panggil Angga lirih.


“Ah ternyata sudah sadar kamu brother.” Ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Brengsek kamu!! Lepaskan Viviane!!” umpat Angga marah.


“Tenang dulu. Aku ingin bermain-main dulu dengan orang yang sangat kamu cintai.” Ucap Alfa sinis.


Karena ada suara berisik, akhirnya Viviane juga ikut tersadar dari pingsannya. Namun tidak ada yang bisa dia perbuat karena mata dan mulutnya tertutup.


“Tenang Sayang. Kamu jangan takut!” ucap Alfa sambil mengecup kepala Viviane.


“Kurang ajar!! Jangan macam-macam kamu dengan Viviane!” teriak Angga.

__ADS_1


Alfa perlahan membuka kain penutup yang ada di mata dan mulut Viviane. Kini Viviane dapat melihat keberadaan Angga yang juga sama terikat di kursi kayu.


“Aku sangat benci dengan kamu. Kamu sudah merebut orang yang sangat aku cintai. Kamu harus membayar semua ini!!” teriak Alfa penuh amarah.


“Apa maksud kamu?? Aku tidak pernah merebut milik kamu. Aku tidak pernah mencintai Laura.” Ucap Angga.


“Semuanya sudah terlambat. Karena kamu, Laura tidak mengakui anak yang ada dikandungannya adalah anakku. Sekarang kamu harus membayar semuanya!!” ucap Alfa dan berjalan menghampiri Viviane yang kondisinya sangat lemah.


Srrkkkk


Alfa menarik paksa kemeja putih yang dipakai Viviane hingga semua kancingnya terlepas. Viviane tidak mampu berteriak kencang karena tenaganya sangat lemah.


“Bajingan!! Jangan sentuh Viviane!!” teriak Angga.


Namun Alfa menulikan pendengarannya. Dia bahkan kini merobek kemeja atasan Viviane hingga tersisa penyangga berwarna hitam yang menutupi asset berharga Viviane.


Angga terbakar amarah melihat Alfa melecehkan orang yang sangat dicintainya. Namun Angga juga sangat kesal karena tidak mampu berbuat apa-apa.


Kini tangan Alfa sudah berada tepat di asset berharga Viviane. Alfa meremas kedua benda itu dengan kasar dan bibirnya ******* paksa bibir Viviane.


“Bajingan!! Berhenti sekarang juga!” teriak Angga sambil bergerak berusaha mendekatkan diri pada Alfa yang tengah melecehkan Viviane.


Lagi-lagi Alfa tak mempedulikan teriakan Angga. Justri kini Alfa mengangkat rok Viviane ke atas dan tangannya meraba paha mulus Viviane.


Viviane sudah tak berdaya lagi, air matanya terus mengalir deras mendapatkan pelecehan dari Alfa. Kemudian Alfa mencoba memasukkan tangannya di balik segitiga warna hitam itu.


Brak!!!


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Jgn lupa like, komen, vote, gift nya ya gengs👌👌😘😘


__ADS_2