
Hari ini Angga tengah bersiap untuk pulang ke Indonesia. Sebenarnya Angga tidak tega jika harus meninggalkan istrinya di negera ini sendirian. Apalagi saat ini sedang mengandung. Angga masih memikirkan bagaimana jika nanti istrinya mengalami morning sickness dan tidak ada dirinya yang merawat.
“Mas, sudah ditunggu taksi di depan.” Ucap Viviane.
“Iya, Sayang.” Jawab Angga lesu.
Angga akan menuju bandara internasioanl Zurich dengan menaiki taksi. Karena jarak dari rumah ke bandara membutuhkan waktu beberapa jam, jadi tidak mungkin jika dia meminta Andrew untuk mengantarnya. Andrew juga sangat sibuk dengan pekerjaannya.
“Anak Papa yang pintar ya! Jangan buat Mama mual-mual lagi selama tidak ada Papa.” Ucap Angga sambil mengusap perut rata Viviane.
Viviane tertegun mendengar perkataan suaminya. Jujur saja sebenarnya dia juga ingin sekali ikut pulang. Tapi keadaannya benar-benar tidak memungkinkan. Suaminya juga sudah berjanji saat usia kandungannya memasuki trimester kedua, dia akan pulang ke Indonesia. Dan itu tidak akan lama lagi. Jadi Viviane harus bersabar dulu.
“Mas hati-hati ya. Jangan lupa selalu kasih kabar ke aku.” ucap Viviane dan Angga mengangguk.
Setelah acara peluk-pelukan dan berciuman, Angga segera keluar dari rumah dan memasuki taksi yang sudah lama menunggunya. Tampak Viviane melambaikan tangan pada Angga saat taksi itu sudah pergi menjauh. Tanpa sadar air mata Viviane mengalir begitu saja. Dia merasa kesepian. Padahal belum ada lima menit suaminya pergi. Bagaimana nanti jika berhari-hari. Apakah dirinya kuat.
Dan memang benar kata Dylan, jangan rindu. Karena rindu itu berat. Tapi yang paling berat adalah setiap hari bertemu tapi tidak pernah bersatu. ea ea ea😂😂
“Vi! Kenapa menangis?” Tanya Andrew yang baru saja pulang dari klinik.
Viviane masih terdiam. Dia tidak mendengar bahkan tidak menyadari keberadaan Andrew saat ini. Viviane masih menangisi kepergian suaminya ke Indonesia.
“Vi! Apa Angga sudah berangkat?” Tanya Andrew lagi dan
Viviane sangat terkejut.
“Eh, maaf. Aku nggak tahu kalau sudah pulang.” Jawab Viviane.
Viviane masih sibuk mengusap air matanya yang dia rasa tidak bisa berhenti mengalir sejak tadi. namun tiba-tiba saja tangan Andrew terulur dan membantu Viviane mengusap air matanya. Viviane sangat terkejut dengan tindakan Andrew.
“Maaf. Aku nggak ada maksud apa-apa. Jangan bersedih lagi, kasihan janin kamu nanti ikut stress.” Ucap Andrew yang ssudah menurunkan tangannya dari pipi Viviane.
“Terima kasih. Aku mau istirahat dulu.” Jawab Viviane dan segera pergi meninggalkan Andrew.
“Tunggu! Ini aku bawakan makanan untuk kamu Vi. Kamu makan ya. Oh iya, perawat klinik yang akan tinggal disini kemungkinan baru besok akan datang kesini. Jika kamu kebaratan aku di rumah malam ini, aku keluar saja.” Ucap Andrew sambil memberikan paper bag yang berisi makanan.
__ADS_1
“Nggak perlu Ndrew. Ini juga rumah kamu. Kamu tinggal disini saja nggak apa-apa. Dan terima kasih untuk makanannya” Jawab Viviane.
Setelah itu Viviane segera masuk ke kamarnya dengan membawa makanan yang tadi sudah dibelikan Andrew. Sedangkan Andrew juga memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.
Andrew masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu sebelum istirahat. Setelah beberapa saat menyelesaikan ritual mandinya, Andrew berganti pakaian kemudian berbaring di atas ranjangnya. Hari ini dia sangat lelah. Mungkin saat makan malam nanti dia akan bangun.
Tapi sebelumnya, dia mengambil sebuah foto yang ada dalam laci nakasnya.
“Aku ikut berbahagia melihat kamu bahagia. Karena tidak mungkin aku memilikimu.” Ucap Andrew kemudian memasukkan lagi foto itu ke dalam laci.
***
Setelah melakukan perjalanan yang sangat panjang, akhirnya Angga sudah sampai di Indonesia. Mario sudah menjemputnya di bandara.
“Bagaimana kabar Anda Tuan?” Tanya Mario saat sudah berada di dalam mobil bersama Angga.
“Aku sangat baik. Antar aku ke apartemen dulu setelah itu kita ke kantor.” ucap Angga dan diangguki oleh Mario.
Angga kini sudah berada di apartemennya. Apartemen dimana dia pernah tinggal dengan Viviane saat pertama kali membawa Viviane ke kota J dulu. Angga melihat foto sang istri yang terletak di atas nakas. Dia sangat merindukan Viviane. Mau menghubungi sekarang pun pasti istrinya sedang tidur karena saat ini disana adalah malam hari.
“Hai Ngga!! Bagaimana kabar kamu?” Tanya Mike sambil memeluk sahabatnya.
“Aku baik-baik saja. Kalau kamu? Apa kamu sangat kerepotan menangani perusahaan?” Tanya Angga yang kini sudah duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
“Aku sama sekali nggak kerepotan. Hanya saja aku tidak punya waktu untuk dekat dengan seorang wanita.” Jawab Mike dan membuat Angga tergelak.
Setelah berbincang-bincang seputar perkembangan perusahaan, Angga sangat salut dengan kinerja sahabatnya itu. Perusahaan berkembang sangat pesat.
“Bagaimana kabar Andrew? Apa dia sudah menikah? Aku nggak nyangka wajahnya sekarang berubah” Tanya Mike.
“Aku tidak begitu tahu kalau untuk urusan pribadinya. Kamu tahu sendiri kan sejak dulu dia sangat tertutup. Apalagi sejak kecelakaan yang menimpanya dulu.” Jawab Angga.
Sejak dulu Angga, Mike, dan Andrew memang bersahabat. Tapi karena kesibukan masing-masing, membuat mereka bertiga tidak terlalu dekat lagi. Terlebih Andrew yang memiliki profesi paling berbeda dengan Angga dan Mike. Tapi komunikasi diantara mereka tidak pernah terputus.
“Apa kamu mau ke rumah sakit sekarang?” Tanya Mike kemudian.
__ADS_1
Angga masih terdiam. Dia masih menta hatinya untuk bertemu Papanya. Apakah dia akan memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan Papanya terlebih membuat Mamanya sampai meninggal.
“Sudahlah Ngga, jangan dipikirkan lagi. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Berbesar hatilah kamu untuk memaafkan semua kesalahan Papa kamu.
Akhirnya Angga mengangguk dan mau menemui Papanya hari ini juga ke rumah sakit. Karena memang tujuan utamanya pulang adalah untuk hal ini.
Angga memasuki ruangan ICU setelah menggunakan pakaian steril. Dia melihat sosok pria yang dulu badannya sangat tegap dan berisi kini berubah menjadi sangat kurus. Ditambah dengan beberapa alat medis seperti selang infus, dan beberapa alat medis lainnya yang membelit sosok bertubuh ringkih itu. Matanya tertutp tapi tidak tidur. Pria paruh baya itu mendengar langkah kaki seseorang yang baru saja memasuki ruangannya. Mau membuka mata pun rasanya sudah tidak mempunyai cukup kekuatan.
Hati Angga tiba-tiba merasa ngilu melihat itu semua. Benarkah itu adalah Papanya. Kenapa keadaannya bisa berubah drastis seperti itu? Apakah memang selama di penjara, pria itu tidak cukup mendapatkan asupan gizi dengan baik.
Angga sedikit merasa bersalah karean selama ini dia tutup mata dan telinga atas keadaan sang Papa selama mendekam di penjara. Hati Angga masih tertutup dendam dan amarah atas semua perbuatan Papanya.
Tangan Angga terulur memegang tangan keriput yang hanya tersisa tulang berbalut kulit itu. Air matanya pun mengalir begitu saja saat merasakan hangat tangan Papanya.
“Pa!” panggil Angga lirih.
“Benarkah itu kamu anakku Surya?” Tanya Wijaya dengan suara lirih.
“Iya, Pa. ini Surya.” Jawab Angga dengan suara bergetar.
“Maafkan Papa nak!" ucap Wijaya dengan nafas tersengal.
"Papa minta nanti makamkan Papa dekat dengan makam Mama kamu.” Ucap Wijaya lagi.
Angga sudah tidak bisa lagi membendung air matanya saat mendengar permintaan Papanya yang terakhir itu.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya Like, Komen, Vite, dan Giftnya💕💕
__ADS_1