Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 84


__ADS_3

Lidah Angga terasa kelu. Namun air matanya tidak berhenti mengalir. Dalam lubuk hatinya dia sudah memaafkan semua kesalahan Papanya. Tapi dia tidak bisa menucapkan kata-kata lagi. Dia masih memegang tangan keriput yang sudah tidak bertenaga itu.


“Sekarang Papa sudah bisa pergi dengan tenang.” Ucap Wijaya lirih.


Sedetik kemudian alat pendeteksi jantung itu menunjukkan bahwa Wijaya sudah meninggal.


“Pa!!! Angga sudah memaafkan Papa. Semoga Papa tenang disana dan bisa bertemu dengan Mama.” Lirih Angga.


Kini Angga telah duduk di antara makam mendiang Mama dan Papanya. Angga menaburkan bunga pada makam yang masih basah itu. Angga tidak menyangka akan kehilangan kedua orang tuanya. Memang dulu saat kehilangan Mamanya, dia sangat terpuruk. Tapi saat ini, saat Papanya juga ikut menyusul kepergian Mamanya ditambah lagi dirinya sudah memaafkan semua kesalahan Papanya, Angga juga merasakan kehilangan sosok ayah yang pernah menyayanginya.


“Semoga Mama dan Papa bahagia disana.” Ucap Angga dan segera pergi meninggalkan makam.


Angga pulang ke apartemennya diantar oleh Mario. Dia ingin menenangkan dirinya dulu. Dia membutuhkan waktu untuk sendiri.


**


Sejak kepulangannya ke Indonesia sampai Papanya meninggal, Angga sama sekali tidak memegang ponselnya. Dia masih berduka mengingat kepergian Papanya yang sudah lama tidak pernah ia jumpai. Bahkan Angga lupa tidak menghubungi istrinya.


***


Sementara itu di Swiss, Viviane tampak cemas memikirkan suaminya yang sampai saat ini tidak ada kabar. Ponsel yang beberapa hari yang lalu dibelikan Angga, disana hanya ada no ponsel suaminya. Viviane tidak bisa menghubungi siapapun selain no suaminya tapi sayangnya ponsel Angga tidak aktif.


“Nona makan dulu, dari tadi pagi Nona belum makan.” Ucap perawat yang menemani Viviane.


“Aku nggak lapar. Bawa saja kesana makanan itu.” Tolak Viviane.


“Tapi anak dalam kandungan Nona sangat membutuhkan asupan gizi.” Ucap perawat itu.


Tapi Viviane tetap tidak mau makan. Dia memikirkan Angga. Viviane takut terjadi hal buruk dengan suaminya. Bahkan pikiran buruk Viviane kalau suaminya akan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


“Vi, tolong makanlah sedikit saja.” Ucap Andrew yang baru saja masuk ke kamar Viviane saat melihat perawat keluar dengan membawa makanan yang masih utuh.


“Aku nggak lapar.” Lagi-lagi jawaban sama yang diberikan oleh Viviane.


“Apa kamu nggak kasihan dengan anak kamu? Kamu nggak lihat perjuangan suami kamu sampai membawa kamu kesini? Kamu jangan egois Vi. Kamu jangan berpikiran Angga meninggalkan kamu. Itu tidak mungkin.” Ucap Andrew dengan nada tegas. Kemudian pergi meninggalkan Viviane.


“Maaf. Iya aku mau makan.” Jawab Viviane lirih menghentikan langkah Andrew.


Kemudian Andrew kembali lagi dengan membawa makanan itu. Andrew akan menyuapi Viviane tapi Viviane menolaknya. Viviane makan sendiri dengan Andrew yang masih duduk di kursi dekat tempat tidur Viviane dengan pandangan yang sulit diartikan.


Andrew sebenarnya tahu kalau Papa Angga meninggal. Dan Angga tidak menghubungi istrinya mungkin pria itu masih berduka dan tidak ingin menunjukkan raut muka sedihnya di hadapan sang istri. Melalui Mike, Angga menitipkan Viviane pada Andrew agar tetap menjaga kesehatannya.


Tiga hari berlalu. Viviane masih berusaha tegar walau sampai saat ini suaminya belum menghubunginya. Tapi Andrew sudah meyakinkan kalau Angga baik-baik saja. Mungkin karena urusan perusahaannya yang membuat Angga lupa menghubungi istrinya.


Viviane mencoba untuk tetap tenang. Menyadari ada makhluk kecil yang bersemayam dalam rahimnya membuat Viviane perlahan menghilangkan rasa sedihnya.


Hari ini perawat yang ditugaskan menemani Viviane akan pergi ke klinik karena ada pekerjaan. Andrew juga sejak pagi terlihat sangat sibuk dan sudah berada di kliniknya. Sekarang Viviane sedang menyibukkan diri membuat roti panggang yang menjadi makanan favoritnya semenjak hamil. Dia juga membuat susu sendiri. Biasanya suaminya yang membuatkannya. Viviane sedikit bersyukur janin dalam kandungannya sama sekali tidak berulah semenjak ditinggal Papanya pulang ke Indonesia.


Puas membaca buku, Viviane tampak bosan. Mau tidur siang pun dirinya tidak ingin tidur. Dia bingung mau apa lagi karena benar-benar merasa bosan. Kemudian Viviane melihat-lihat buku Andrew yang tersusun rapi dalam lemari yang ada di ruang tengah. Viviane baru ingat kalau dulu dia penasaran dengan album foto milik Andrew.


Viviane mengambil album itu lagi dan melanjutkan untuk melihat-lihat semua foto yang ada di dalamnya. Di halaman awal ada sepasang foto suami istri yang dia tahu kalau itu adalah foto kedua orang tua Andrew. Tapi Viviane tidak tahu dimana keberadaan kedua orang tua Andrew.


Lembar berikutnya Viviane melihat ada foto anak kecil berwajah bule yang mirip dengan foto sepasang suami istri di halaman depan tadi. Viviane heran dengan foto anak kecil itu karena sama sekali tidak mirip Andrew. Lembar berikutnya masih sama ada foto anak kecil bersama kedua orang tuanya terlihat sangat bahagia.


Namun di lembar terakhir ada foto yang sosok pemuda yang membuat tubuh Viviane bergetar. Dia melihat foto itu dengan teliti. Viviane heran kenapa ada foto itu. Dia menggelengkan kepalanya tidak mungkin foto pemuda itu ada hubungannya dengan Andrew.


“Vi! Apa yang kamu lakukan?” Tanya Andrew dengan suara tegas saat baru saja masuk rumah.


“Ndrew! Katakan padaku ada hubungan apa kamu dengan pria ini? apa kamu mengenalnya?” Tanya Viviane dengan suara bergetar.

__ADS_1


Andrew mengusap wajahnya dengan kasar. Kepulangannya lebih awal hanya untuk memastikan keadaan Viviane baik-baik saja ternyata diluar dugaannya. Viviane telah mengetahui semuanya. Semua yang berusaha ia sembunyikan dari wanita itu.


“Kenapa kamu diam? Katakan, apa kamu mengenal Sebastian?” Tanya Viviane dengan air mata berurai.


“Iya aku kenal dengan Sebastian. Tepatnya Andrew Sebastian.” Jawab Andrew tegas.


Tubuh Viviane merosot lemah. Dia tidak menyangka bahwa Andrew adalah Sebastian. Orang yang sama. Pria yang pernah menjadi partner ONSnya dulu saat Viviane masih menjalani studi S2 nya di Singapore. (Yang lupa baca di novel Mencintai Kekasih Sahabatku).


“Maafkan aku Vi. Aku baru tahu kalau kamu istri sahabatku sendiri. Dulu setelah kepulanganku ke Swiss aku mengalami kecelakaan dan membuat aku harus melakukan operasi plastik. Dan setelah keadaanku membaik, aku kembali lagi ke Singapore untuk mencari kamu tapi sayangnya kamu sudah pulang ke Indonesia.” Ucap Andrew.


Viviane masih terdiam sambil terisak. Mengapa takdir mempermainkannya seperti ini. Viviane tidak percaya kalau Sebastian adalah Andrew dan orang yang selama ini telah menyembuhkannya.


“Kedatanganku kembali ke Singapore dulu karena aku ingin menjalin hubungan yang serius dengan kamu Vi. Tapi sayangnya Tuhan tidak menghendakinya. Dan saat pertama kali Angga mengajak kamu ke Swiss membuatku sangat terkejut ternyata kamu adalah istri Angga. Maafkan aku Vi, tapi perasaanku sejak dulu tidak pernah berubah.” Ucap Andrew lagi.


“Apa maksud kamu?” Tanya Viviane menghentikan tangisnya.


“Aku mencintaimu.”


.


.


.


*TBC


dag


dig

__ADS_1


dug 😂😂😂


Menjelang end. jgn lupa jejaknya ok👌👌😘😘🤗🤗


__ADS_2