
Laura sudah tahu kalau Alfa tidak mungkin mau menerimanya kembali setelah penolakannya. Kini Laura semakin bingung harus pergi kemana. Stella mau menolong saja dia sangat bersyukur meskipun harus sembunyi-sembunyi dari orang tuanya. Karena orang tua Stella sudah mendengar kabar tentang Laura. Jadi tidak menutup kemungkinan jika orang tua Stella melarangnya untuk bergaul lagi dengan Laura.
“Maafkan aku Ra, aku nggak bisa nolong kamu. Aku harap besok kamu segera pergi meninggalkan apartemenku, karena Mama besok akan datang kesini. Aku juga nggak mau kamu mendapatkan amukan dari Mamaku.” Ucap Stella dengan berat hati.
***
Sementara itu Edwin saat ini sedang terdiam di dalam kamarnya. Dia sangat menyesali perbuatannya setelah melihat bukti nyata kejahatan Laura yang telah menjebak Viviane. Andai saja dulu dia tidak terbawa emosi, dia pasti akan mendengarkan ucapan istrinya dan mencari bukti siapa yang menjebak istrinya. Tapi sekarang hanya tinggal penyesalan mendalam. Nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah menceraikan Viviane.
Edwin tidak menyangka dengan perbuatan Laura padanya. Edwin sangat membenci Laura.
Dering ponsel Edwin berbunyi. Dia melihatnya ternyata ada panggilan dari sahabatnya yaitu Anton. Edwin menerima panggilan itu.
“Ya ada apa?” Tanya Edwin.
“…..”
“aku sudah nggaak butuh terapi apapun.”
“…..”
“aku sudah bercerai dengan Viviane.”
Tut tut tut
Edwin segera memutuskan panggilannya dengan Anton. Anton mengatkan bahwa dia sudah mendapatkan informasi untuk dia terapi. Tapi Edwin menolaknya. Buat apalagi dia melakukan terapi itu, semuanya sudah terlambat karena orang yang sangat dia cintai sudah pergi dari hidupnya. Lebih tepatnya dirinyalah yang sudah mengusir orang itu.
***
Sementara itu di salah satu rumah sakit swasta di kota B, Angga masih setia menemani Viviane yang sejak semalam masih menutup matanya rapat. Angga sudah meminta pada dokter agar segera bertindak. Namun dokter sudah mengatkan bahwa akan dilakukan observasi jika pasien sudah bangun dari tidurnya. Dan dokter juga mengatakan bahwa Viviane saat ini tidak sedang pingsan. Dia hanya tertidur.
Pertanyaan Angga pada dokter, kenapa Viviane bisa tidur selama itu. Doker bilang kemungkinan pasien sedang mengalami gangguan psikologis jadi membuatnya sangat enggan bangun dari tidurnya.
Ceklek
Pintu ruang rawat Viviane terbuka. Disana ada Mike yang baru saja datang dan disusul dengan Ibu Viviane yang terlihat sangat cemas.
__ADS_1
“Nak Angga, apa yang terjadi dengan Viviane?” Tanya Ibu Viviane.
“Viviane hanya sedang butuh istirahat Bu.” Jawab Angga.
Kemudian Ibu Viviane mengahampiri anaknya yang sedang tertidur pulas denga selang infus menancap pada pergelangan tangannya. Ibu Viviane sangat sedih melihat keadaan anaknya. setelah kepergian ayahnya, Ibunya sudah bisa melihat anaknya kembali ceria. Tapi ternyata kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Viviane kembali mengalami kepahitaan dalam hidupnya. Apalagi dalam keadaannya yang seperti ini, semakin membuat hati Ibu Viviane semakin teriris.
“Bu, Maafkan Angga. Semua ini salah Angga Bu.” Ucap Angga sambil berlutut di hadapan Ibu Viviane.
“Nak Angga bangunlah. Jangan seperti ini. Ini bukan salah Nak Angga. Justru kalau bukan Nak Angga yang menolong Vivi, mungkin Vivi tidak akan selamat. Dan Ibu pasti akan kehilangan dia.” Ucap Ibu Viviane.
Akhirnya Angga mengajak Ibu Viviane untu duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Angga menceritakan semua kejadian yang telah menimpa Viviane. Angga mengakui kalau semua yang terjadi dengan Viviane adalah akibat dari kesalahnnya.
Ibu Viviane menutup mulutnya sambil berderai air mata saat mendengarkan penjelasan Angga. Kenapa lagi-lagi Viviane mengalami pelecehan seperti ini. Dulu dia mengalami pelecehan yang dilakukan oleh Papa Angga. Sekarang Viviane kembali mengalami pelecehan itu.
“maafkan Angga Bu. Angga berjanji akan menebus semua kesalahan Angga. Tolong ampuni kesalahan Angga Bu. Angga akan membahagiakan Viviane.” Ucap Angga kembali berlutut di hadapan Ibu Viviane.
Ibu Viviane merasakan sesak di dadanya. Memikirkan semua kejadian yang menimpa Viviane selalu berkaitan dengan Angga. Tapi kalau dipikir lagi, itu semua bukan kesalahan Angga. Angga hanya dikambing hitamkan saja.
“Nak Angga bangunlah. Ibu tidak bisa menyalahkan Nak Angga atas kejadian ini. Jadi Nak Angga jangan menyalahkan diri sendiri. Ibu juga ijinkan Nak Angga untuk membahagiakan Viviane.” Ucap Ibu Viviane kemudian.
Angga berdiri memeluk tubuh Ibu Viviane yang sudah dia anggaap seperti ibu kandungnya sendiri. Dia sangat lega krena Ibu Viviane tidak menyalahkannya.
“Nghhh… air”
Tiba-tiba saja terdengar lenguhan Viviane dan meminta air. Ibunya segera berdiri dan menghampiri anaknya untuk mengambilkan segelas air putih.
“Ini Vi, minum dulu.”
Setelah minum, Viviane mengedarkan pandangannya. Dia merasa asing dengan tempatnya saat ini.
“Bu, Vivi dimana?” tanyanya.
“Kamu di rumah sakit Vi. Semalam Nak Angga telah menyelamatkan kamu.” Jawab Ibunya.
“Vi, kamu sudah sadar?” Tanya Angga tiba-tiba.
__ADS_1
Viviane terkejut dengan kehadiran Angga tiba-tiba. Setelah itu dia mengingat kejadian semalam yang telah menimpanya. Air mata Viviane mengalir deras saat teringat pelecehan yang dia alami.
“Pergiiii!!!! Pergi kamu!!!” teriak Viviane histeris.
“Vi, tenang jangan seperti ini. Nak Angga yang telah menyelamatkan kamu semalam.” Ucap Ibunya.
“Pergi!!! Gara-gara kamu aku kembali mendapatkan pelecehan. Pergi jauh dari sini!!!” Teriak Viviane lagi.
Deg
Hati Angga sangat sakit mendengar teriakan Viviane. Bahkan sangat sakit saat Viviane menyalahkan kalau semua kejadian ini adalah kesalahannya. Angga tidak kuat melihat Viviane yang terus-terusan berteruak histeris sambil mengusirnya. Akhirnya Angga memilih keluar dari ruangan itu dan memanggil dokter.
“Yang sabar Ngga. Mungkin Viviane masih shock dengan kejadian yang menimpanya.” Ucap Mike mencoba menenangkan Angga.
“Apakah memang semua ini salahku Mike? Aku nggak kuat. Aku nggak bisa jika Viviane memintaku pergi meninggalkannya. Aku sangat mencintainya Mike.” Ucap Angga frustasi.
“Tenangkan pikiran kamu dulu. Kita tunggu dulu bagaimana hasil pemeriksaan dokter.” Ucap Mike.
Kini Viviane sudah sedikit lebih tenag setelah Angga keluar adri ruangan. Kemudian dokter masuk untuk memeriksa keadaan Viviane.
Viviane kembali beristirahat setelah mendapatkan suntikan penenang yang diberikan oleh suster. Ibunya sedikit lebih tenang dengan keadaan Viviane yang sudah kembali tidur.
“Bagaimana keadaan Viviane Dok?” Tanya Angga yang kini sudah berada di ruangan dokter.
“sejauh ini keadaan fisik pasien sudah membaik. Tapi tidak untuk psikisnya. Pasien sepertinya sedang mengalami trauma akan suatu kejadian yang pernah menimpanya sebelumnya, dan kembali mengalami kejadian yang sama.” Ucap Dokter menjelaskan.
“Lalu bagaimana solusinya Dok?” Tanya Angga.
“Saat ini pasien hanya membutuhkan psikiater untuk mengatasi traumanya. Dan lebih baik jauhkan pasien dari orang-orang yang dianggap memicu rasa traumanya itu kembali.”
Angga sangat sedih mendengar penjelasan dokter. Tadi saja Viviane berteriak histeris saat melihat keberadaannya. Jadi apakah dia harus pergi menjauhi Viviane lagi, agar Viviane sembuh dari traumanya. Angga menggelangkan kepalanya pelan. Dia bertekat tidak akan pergi jauh dari Viviane lagi. Mungkin hanya sementara waktu dia tidak akan menampakkan diri di hadapan Viviane.
.
.
__ADS_1
.
*TBC