
Sejak melakukan panggilan video dengan Viviane semalam, pagi ini hati Alfa tampak berbeda dengan biasanya. Senyum manisnya sejak bangun pagi sampai saat sarapan bersama sang Mama masih terukir jelas dan sama sekali tidak luntur.
“Ada apa Al, sejak tadi senyum-senyum senyum sendiri tidak jelas?” Tanya Mauren heran.
“Alfa sangat senang sekali Ma hari ini. apa Mama tahu apa yang membuat Alfa bahagia?” Tanya Alfa balik.
“Kamu ini ditanya malah tanya Mama balik.” Mauren mencebik.
“Semalam, Alfa melakukan panggilan video dengan keponakan Mama.” Ucap Alfa berbinar.
“Keponakan Mama? Siapa?” Tanya Mauren heran.
“Viviane Ma.” Jawab Alfa.
Mama Alfa juga sangat terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka bahwa Viviane sudah berani menghubungi Alfa, orang yang telah memberikan luka pada Viviane. Kalau Viviane sudah mau menghubungi Alfa, itu berarti wanita itu sudah sembuh dan sudah bisa memaafkan kesalahan yang pernah Alfa perbuat. Mauren juga ikut senang akhirnya hubungan persaudaraan itu terjalin erat setelah sekian lama putus. Mauren juga meminta kapan-kapan ingin berbicara dengan keponakannya. Dia juga sangat merindukan Viviane.
Setelah sarapan bersama Mamanya, Alfa segera berpamitan untuk segera pergi ke kantor. Alfa masih memikirkan tentang Viviane. Entahlah perasaan bahagia seperti apa yang saat ini sedang Alfa rasakan. Yang pasti hati pria itu sangat lega.
Alfa sudah sampai kantornya, dia segera memanggi asistennya. Alfa meminta asistennya memesankan tiket pesawat untuk penerbangan ke Swiss. Ya, Alfa memutuskan untuk terbang ke Swiss. Dia akan menemui Viviane secara langsung. dia sudah sangat merindukan wanita cantik yang kini sudah berstatus sebagai adik sepupunya.
Tok tok tok
“Masuk!” perintah Alfa.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” Tanya sang asisten.
“Tolong pesankan tiket untuk penerbangan ke Swiss dalam waktu dekat ini.” perintah Alfa dan diangguki oleh asistennya.
Alfa sudah tidak sabar ingin segera bertemu Viviane. Dia masih ingat saat pertemuan pertama kalinya dengan Viviane. Andai saja saat itu dia tidak ada niatan untuk menjadikan Viviane sebagai alat balas dendam, dia pasti sudah jatuh cinta dengan Viviane. Karena jujur saja saat itu Alfa sudah tertarik dengan wanita itu, terlebih dengan kepribadiannya.
Dan setelah mengetahui kenyataan bahwa Viviane adalah adik sepupunya, masihkah perasaan Alfa sama seperti dulu atau sudah berubah layaknya kakak dan adik. Tidak ada yang tahu kecuali Alfa sendiri.
__ADS_1
***
Sementara itu Angga dan Viviane seperti biasa yang ia lakukan tiap hari. Kalau Angga, dia rutin datang ke klinik untuk membantu Andrew. Sedangkan untuk Viviane, jika tidak ada kegiatan bakti social, dia akan berdiam diri di rumah. Atau kadang dia pergi jalan-jalan sekitar rumah saja.
Sementara Andrew, pria itu sangat santai dengan pekerjaannya. Jika tidak ada hal penting atau urgent, dia akan datang ke klinik dengan santai atau lebih siang. Seperti hari ini.
Hari ini Andrew sengaja tidak datang ke kliniknya karena memang tidak ada jadwal praktek untuknya. Semalam juga dia pulang sangat larut karena teman-temannya mengajak hang out di salah satu club biasa dia bertemu dengan teman-temannya. Dan hari ini dia akan tidur seharian karena rasa pusing masih menderanya akibat terlalu banyak minum.
Sementara Angga sudah berangkat ke klinik dengan membawa mobil Andrew. Karena Angga tahu kalau sahabatnya itu tidak ada jadwal praktek hari ini. dan Angga juga tahu kalau semalam Andrew pulang larut malam.
“Sayang, aku pergi dulu ya.” Pamit Angga pada Viviane.
“Iya, Mas. Nanti siang aku akan kesana membawakan makan siang untuk kamu.” Ucap Viviane.
Angga tersenyum kemudian mengecup kening istrinya sekilas. Setelah itu segera pergi ke klinik.
Selepas kepergian suaminya, Viviane memilih menyibukkan diri di dapur. Dia akan membereskan sisa makanan yang masih tertinggal di meja makan. Dia juga akan membuat cake untuk dibawa ke klinik nanti selain membawakan makan siang pastinya.
Viviane menggelengkan kepalanya pelan. Sambil memasukkan adonan kue yang sudah ia tuang ke dalam Loyang ke microwave.
“Lagi buat apa Vi?” Tanya seseorang tiba-tiba dan sangat mengejutkan Viviane.
Seketika Viviane hampir menjatuhkan Loyang yang ia pegang itudan adonan kue itu juga hampir tumpah ke lantai. Tapi gerakan gesit Andrew mampu mengamankan adonan kue itu. Namun entah bagaimana bisa, saat ini kedua tangan Andrew sedang memegang kedua tangan Viviane. Kedua pasang mata itu juga sempat saling menatap.
Deg deg deg
Detak jantung Andrew berdetak tak menentu saat melihat mata Viviane.
“Ah, maaf mengagetkanmu.” Ucap Andrew segera melepas genggaman tangannya.
“Iya, nggak apa-apa. Makasih adonan kue itu tidak jadi tumpah.” Jawab Viviane.
__ADS_1
Andrew yang tadinya akan mengambil gelas di sebelah Viviane ia urungkan, karena jantungnya masih tidak menentu. Dia memilih duduk di meja makan menjauhi Viviane. Dan kebetulan disana sudah tersedia kopi. Andrew hafal pasti Viviane lah yang telah menyediakannya.
“Aku tadi hanya memasak sup. Apa kamu ingin dimasakkan sesuatu ndrew?” Tanya Viviane sambil sibuk dengan masakannya.
“Nggak usah Vi. Ini saja, aku pasti akan memakannya apapun yang kamu masak.” Jawab Andrew.
“Apa kamu harri ini tidak ke klinik?” Tanya Viviane dan Andrew menggeleng sambil menyesap kopinya.
“Ya sudah, nanti siang aku akan ke klinik membawakan makan siang buat Mas Angga.” Ucap Viviane kemudian.
Andrew hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan Viviane. Pria itu akhirnya menikmati sup yang telah dimasak oleh Viviane. Kebetulan sekali, karena semalam dia banyak minum dan pagi ini masih merasakan pusing kepalanya. Kini sudah tersedia sup yang pasti akan mengurangi rasa pusing di kepalanya.
Andrew masih menikmati sup buatan Viviane. Dia memikirkan sahabatnya yang sangat beruntung memiliki istri seperti Viviane. Andai saja dia bisa memiliki kekasih yang kepribadiannya mirip dengan Viviane. Dia pasti akan sangat beruntung.
***
Viviane sudah mempersiapkan bekal makan siangnya untuk ia bawa ke klinik. Dia akan pergi mengguakan taksi. Setelah selesai, Viviane segera keluar rumah karena taksi yang dia pesan sudah berhenti tepat di depan rumah.
Beberapa menit perjalanan akhirnya Viviane sudah sampai di klinik. Kedatangannya sudah disambut hangat oleh sang suami. Angga tampak senang melihat kedatangan sang istri yang begitu perhatian padanya dengan membawakan makan siang.
“Ayo Mas kita makan dulu. Sudah jamnya makan siang kan?” ajak Viviane.
“Meskipun belum jamnya, aku pasti akan segera makan. Karena tiba-tiba saja aku lapar saat melihat kedatangan istri cantikku ini.” ucap Angga dan wajah Viviane bersemu merah.
Setelah itu mereka segera makan siang dengan bekal yang sudah dibawa oleh Viviane dari rumah.
.
.
.
__ADS_1
*TBC