
Hari ini Angga dan Viviane sedang berada di dalam pesawat untuk penerbangan ke Indonesia. Pesawat yang baru saja take off dari bandara internasional Zurich itu akan membawa Angga dan Viviane pulang ke Indonesia. Dan mereka tidak akan menginjakkan kakinya lagi di negara ini.
Semenjak perjalanan menuju bandara sampai bandara, bahkan sampai mereka berdua sudah duduk manis di bangku pesawat, baik Angga maupun Viviane sama-sama terdiam. Tidak ada satupun dari mereka yang memulai obrolan. Mereka berdua sedang memikirkan tentang sebuah takdir yang bagi mereka sangat tidak masuk akal.
#Flashback on.
Setelah pergulatan panas yang dilakukan Angga dan Viviane di ruang tamu, Angga segera menggendong istrinya ke kamar untuk beristirahat. Angga mengecup kening istrinya yang sudah terlelap lebih dulu. Kemudian Angga segera menyusulnya kea lam mimpi.
Baru saja Angga menutup matanya dan bersiap terbang ke alam mimpi bersama sang istri. Tiba-tiba saja terdengar bel pintu rumah berbunyi. Angga melirik jam yang ada di kamarnya yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Angga segera bangun karena penasaran dengan orang yang datang bertamu.
Cklek
Angga membuka pintu dan dia sedikit terkejut karena di hadapannya saat ini ada 2 orang polisi.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Angga.
“Apakah benar ini alamat rumah Tuan Andrew Sebastian?” Tanya salah satu anggota polisi.
“Iya benar.” Jawab Angga.
Polisi itu memberikan dompet yang diduga milik korban kecelakann yang baru saja terjadi. Dan Angga menerima dompet itu kemudian melihat kartu identitas dalam dompet itu. Benar itu milik Andrew. Angga semakin cemas mendengar kabar bahwa sahabatnya kecelakaan.
Pihak kepolisian meminta Angga untuk ikut ke rumah sakit untuk memastikan bahwa korban kecelakaan itu benar Andrew atau bukan. Salah satu anggota kepolisian itu juga mengatakan bahwa korban kecelakaan tunggal itu tewas di lokasi kejadian. Tubuh Angga sangat lemas. Dia berharap itu bukan Andrew.
Angga memilih datang ke rumah sakit sendiri dan tidak membangunkan itrinya yang sedang tidur lelap. Angga juga tidak ingin membuat istrinya khawatir.
Perjalanan ke rumah sakit hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Angga segera menuju kamar jenazah untuk memastikan korban kecelakaan itu benar Andrew atau bukan. Tubuh Angga merosot ke lantai. Tulang-tulangnya lemas seketika setelah membuka kain penutup jenazah itu.
__ADS_1
Angga tidak percaya kalau pemilik wajah pucat dengan mata yang tertutp rapat itu adalah sahabatnya. Orang yang selama ini telah berjuang banyak membantu kesembuhan istrinya.
“Andrew!!! Kenapa ini bisa terjadi pada kamu? Aku belum siap kehilangan sahabat terbaik seperti kamu.” Lirih Angga disamping jenazah Andrew.
Percuma saja Angga bertanya seperti itu. Toh mayat Andrew tidak bisa bangun lagi. Angga begitu menyesal karena belum sempat membalas budi pada kebaikan Andrew selama ini. namun yang pasti Angga mendoakan kepergian sahabatnya agar selalu bahagia di sisi Tuhan.
Setelah pihak rumah sakit mengurus jenazah Andrew, Angga memutuskan untuk pulang dulu. Dia akan memberitahukan pada Viviane.
Viviane yang mendengar kabar meninggalnya Andrew sama terkejutnya dengan Angga. Bahkan wanita yang tengah hamil 2 bulan itu sampai menitikan air matanya. dia tidak menyangka bahwa umur Andrew tidak panjang. Viviane juga merasakan kesedihan mendalam saat ditinggal Andrew. Entah sedih karena selama ini Andrew adalah orang yang berjasa dalam penyembuhannya atau ada hal lain.
Pagi harinya jenazah Andrew sudah dimakamkan di salah satu pemakaman terdekat. Banyak pelayat yang datang mengucapkan belasungkawanya atas kepergian Andrew. Terutama dari rekan kerjanya dan pegawai kesehatan di kliniknya.
Setelah pemakaman selesai, Angga kembali mengajak istrinya pulang. Angga melihat Viviane yang masih terlihat sembab di matanya. Angga memaklumi itu karena Andrew lah orang yang berjasa dalam menyembuhkan istrinya.
Dua hari sepeninggal Andrew, Viviane masih tampak murung. Wanita masih merasa bersalah karena belum sempat membalas perbuatan baik Andrew. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Andrew sempat menyatakan cinta padanya.
“Sayang ayo makan dulu. Ingat kesehatan anak kita lebih penting.” Ucap Angga.
“Sudah ya jangan bersedih lagi. Aku juga sama merasa kehilangan Andrew. Lebih baik kita doakan saja agar dia tenang di sisi Tuhan.” Ucap Angga dan diangguki oleh Viviane.
Selesai makan, Angga mengajak istrinya duduk di sofa yang ada di tengah. Angga tampak berpikir kalau keberadaannya disini sudah tidak begitu penting. Dia akan memutuskan mengajak istrinya pulang ke Indonesia.
Angga mencoba mencari informasi tentang keluarga atau kerabat dekat Andrew untuk menanyakan perihal pengelolaan kliniknya nanti. Angga tahu kalau kedua orang tua Andrew sudah meninggal tapi, untuk keluarga atau kerabat dekat yang lainnya Angga tidak kenal.
Angga masih ingat saat pihak kepolisian memberikan dompet milik Andrew. Angga berpikir mungkin dalam dompet itu ada sesuatu petunjuk tentang keluarga Andrew. Angga mengambil dompet Andrew dan membukanya. Disana ada kartu identitas dan beberapa kartu kredit milik Andrew. Namun Angga sangat terkejut saat ada sebuah foto seorang wanita yang terselip di dalam dompet itu. Yaitu foto istrinya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, foto itu bukan foto baru tapi sudah sangat lama. Wajah Angga seketika memerah penuh amarah.
“Ada hubungan apa selama ini kamu dengan Andrew?” Tanya Angga dengan nada tegas.
__ADS_1
Viviane yang sedang diam melamun terkesiap dengan ucapan tegas cenderung marah dari suaminya. Viviane melihat Angga tengah memegang foto dirinya. Dia juga tidak tahu dan tidak ingat pernah memiliki foto seperti itu.
“Apa maksud kamu Mas?” Tanya Viviane heran.
“Jangan berkelit. Cepat katakan ada hubungan apa kamu dengan Andrew?” Tanya Angga lagi.
Deg
Viviane tidak menyangka suaminya bakal mengetahui masa lalunya dengan Andrew dulu. Viviane menarik nafasnya panjang mencoba untuk tidak ikut tersulut emosi. Kemudian dia menceritakan semuanya pada Angga tentang masa lalunya bersama Andrew.
Angga mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana mungkin sahabat baiknya pernah memiliki hubungan dengan istrinya. Memang itu hanya masa lalu dan Andrew juga sudah tiada. Namun hati Angga tetap sakit. Sakit mengetahui kenyataan pahit itu.
Setelah itu Viviane pergi meninggalkan suaminya yang masih terdiam di ruang tengah. Viviane sudah meminta maaf pada suaminya, namun sepertinya Angga masih sangat marah.
Tidak lama kemudian ada tamu yang diyakini dari kantor notaris. Angga mencoba menormalkan emosinya. Orang yang mengaku sebagai pengacara Andrew itu memberikan sebuah surat wasiat pada Angga. Angga sebenarnya heran kenapa pengacara itu memberikan surat wasiatnya padanya, sedangjan dirinya sama sekali tidak ada hubungan darah dengan Andrew.
Angga membaca surat wasiat itu. Dalam suratnya, pertama yang diucapkan Andrew adalah perminta maafannya karena mencintai istrinya. Andrew meminta agar Angga tidak menyalahkan Viviane, karena semua itu kesalahannya.
Angga kembali melanjutkan membaca surat wasiat itu. Andrew telah mewariskan semua harta kekayaannya pada anak Angga dan Viviane. Andrew meminta Angga untuk tidak menolaknya.
Angga mengusap wajahnya kasar setelah pengacara Andrew meninggalkan rumah. Saat ini yang terpenting adalah membawa istrinya pulang ke Indonesia agar Viviane tidak mengingat lagi tentang Andrew. Meskipun tadi istrinya sudah mengatakan tidak pernah mencintainya. Tapi tetap saja membuat hati Angga sakit.
#Flashback off.
.
.
__ADS_1
.
*TBC