Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 35


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh pasangan pengantin baru itu akhirnya tiba. Kini kedua orang tua Edwin dan Viviane sedang mengantar kepergian anak-anak mereka ke bandara. Pesawat pribadi milik keluarga Edwin sudah menunggu kedua insan yang sedang berbahagia itu untuk mengantarnya pergi ke Madrid.


“Hati-hati ya nak nanti disana!” ucap Ibu Viviane.


“Baik, Bu!” jawab Viviane dan Edwin bersamaan.


“Kalian disana nanti hanya berdua saja, jadi Ayah harap kalian bisa saling menjaga, jangan bertengkar karena sedikit kesalahpahaman. Jadilah pasangan yang saling jujur dan menerima apa adanya.” Lanjut Ayah Viviane.


“Baik, Ayah. Kami akan melakukan sesuai yang apa Ayah ucapkan.” Jawab Edwin.


Kemudian mereka berpelukan untuk mengucapkan salam perpisahan. Meskipun hanya beberapa hari di negara orang. Karena setelah mengantar dari bandara, kedua orang tua Viviane juga harus segera kembali ke kota B. kemudian Edwin dan Viviane menghampiri Mama dan Papanya.


“Satu pesan Mama. Jangan lupa bawa oleh-oleh buat kami semua yang ada disini.” Ucap Mama Edwin.


“Mama, tenang saja. Kami akan membawa banyak oleh-oleh.” Jawab Viviane sambilo tersenyum.


“eits, bukan itu maksud Mama. Mama minta nanti setelah kalian pulang dari honeymoon, kalian membawa kabar bahagia yaitu calon cucu kami. Begitu kan Pa?” tambah Mama Edwin lagi sambil melirik ke arah suaminya dan mendapat balasan anggukan kepala.


Seketika wajah Viviane merona merah karena malu dengan permintaan Mama mertuanya.


“Ma, kalau untuk itu kan Tuhan yang memutuskan. Bukan kita.” Ucap Edwin kemudian.


“Tapi kalau usaha kalian sangat giat dan sungguh-sungguh pasti kalian akan mendapatkan apa yang Mama inginkan.”


“Sudah-sudah! Lebih baik kalian segera berangkat. Itu sudah ditunggu.” Jawab Papa Edwin kemudian.


Akhirnya setelah berpamitan. Kini Edwin dan Viviane sudah berada di dalam pesawat dan siap untuk terbang k eke Madrid. Edwin sangat bahagia sekali melihat wajah istrinya yang terlihat sangat antusias dengan kepergiannya ke Madrid untuk bulan madu ini. Viviane pun tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada suaminya karena mau menuruti keinginannya yang sejak dulu ingin pergi ke Madrid. Viviane tidak tahu bagaimana bisa suaminya itu bisa mengerti akan keinginannya untuk pergi ke negara yang memiliki banyak destinasi wisata yang sangat menarik dan terkenal di dunia.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di Madrid Barajas Airport, Spanyol. Setelah itu sepasang pengantin baru itu segera menuju hotel dimana mereka akan menginap.


“Apa kamu capek sayang?” Tanya Edwin pada Viviane.


“Ehm… sedikit Mas. Tapi aku senang sekali.” Jawab Viviane.


“Baiklah, nanti kita istirahat dulu ya, baru nanti malam kita akan keluar.”


“Iya, Mas.” Viviane mengangguk patuh.

__ADS_1


Akhirnya mobil yang ditumpangi Edwin dan Viviane sudah tiba di salah satu hotel bintang lima yang berada di pusat kota Madrid. Viviane membelalakkan matanya tak percaya dengan kemewahan hotel yang akan dia singgahi beberapa hari ke depan.


“Mas, apa kamu nggak salah reservasi hotel?”


“Memangnya kenapa sayang?”


“Ini terlalu mewah Mas. Bagaimana kalau uang kamu habis hanya untuk sewa hotel mewah seperti ini?” Tanya Viviane dengan polosnya dan membuat Edwin tergelak.


“Kamu tenang saja. Ini semua kado pernikahan dari Papa. Jadi tidak perlu khawatir uangku akan habis.”


Setelah maasuk ke dalam kamar hotel, lagi-lagi Viviane dibuat takjub dengan kemewahan yang ada dalam kamar itu. Sungguh ia seperti mimipi menjadi sultan saat ini. Tapi ini kenyataan (dalam dunia halu wkwkwk).


“Sayang, ayo kita mandi dulu. Airnya hangatnya sudah aku siapkan.” Ucap Edwin tiba-tiba sambil memeluk istrinya dari belakang.


Viviane tersentak kaget. Karena saat itu dia sedang melihat pemandangan indah kota Madrid dari balkon kamarnya.


“Mas, kamu menyiapkan air hangat buat kita? Lain kali jangan seperti itu Mas. Ini kewajiban seorang istri buat suaminya. Maafkan aku, karena aku tadi masih melihat keindahan kota ini jadi lupa akan tugasku.” Ucap Viviane meras bersalah.


“sudahlah, aku nggak mempermaslahkannya. Ayo lebih baik kita segera mandi. setelah itu kita istirahat.”


Kemudian mereka berdua berjalan menuju kamar mandi. mereka segera mandi bersama. Mereka tidak melakukan hubungan seksual. Hanya saling memandikan saja. Karena keduanya sama-sama masih jet lag.


Malam pun tiba. Sesuai dengan janjinya pada sang istri, Edwin kini mengajak Viviane untuk pergi ke Plaza de Espana. Plaza de Espana merupakan sebuah persimpangan diantara jalan tersibuk di Madrid. Walaupun tempat wisata favorit iniberada di pusat kota yang sibuk, akan tetapi tetap dapat menemukan orang yang bersantai di bawah pohon. Apalagi saat malam hari seperti ini. Terlihat sangat indah sekali dengan lampu-lampu yang menghiasi setiap sudutnya.


Viviane menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menikmati udara segar di kota Madrid pada malam hari. Dia memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari keramaian agar bisa bermesraan dan bercanda dengan suaminya.


“Apa kamu nggak lapar sayang?” Tanya Edwin.


“Iya, sebentar lagi Mas. Aku ingin mengambil beberpa foto kita dulu disini. Setelah itu kita makan malam.”


“Baiklah.”


Viviane tidak akan melewatkan moment indah itu begitu saja. Dia mengambil beberapa foto dirinya juga suaminya di Plaza de Espana. Karenabelum tentu dia akan datang lagi ke kota ini. Jadi sangat disayangkan jika tidak membawa kenang-kenangan beberapa foto.


Selesai berfoto, akhirnya perut keduanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Mereka berdua segera pergi restaurant terdekat untuk makan malam. Kini Edwin sudah tiba di restaurant bersama istrinya. Pelayan restaurant datang dengan membawa buku menu. Edwin dan Viviane memesan beberapa makanan dan minuman. Setelah itu pelayan memintanya untuk menunggunya sebentar.


“Mas, aku ke toilet dulu ya.”

__ADS_1


“Iya, Sayang. Apa perlu aku antar?”


“Nggak usah Mas. Aku bisa sendiri.”


Akhirnya Viviane pergi ke toilet sendiri. Namun saat sedang berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang tidak sengaja menabraknya, dan membuat Viviane hampir saja terjatuh. Beruntung, orang itu segera menangkap tubuh Viviane.


“Aw… “ teriak Viviane pelan saat merasa dirinya akan terjatuh.


“I’m sorry miss”


“Ok, never mind.”


Pria yang menabrak Viviane itu terpesona dengan Viviane. Dan setelah mereka berdua sudah sama-sama berdiri, pria itu menanyakan sesuatu pada Viviane.


“Ehm, Sorry. Are you from Indonesia?” Tanya pria itu.


Viviane hanya mengangguk. Pria itu terkejut. Setelah itu mengajak Viviane untuk berkenalan. Pria itu bernama Rian. Tapi dia sedikit kecewa karena saat mengetahui kedatangn Viviane ke Madrid bersama suaminya. Tidak ingin membuat suaminya menunggu terlalu lama akhirnya Viviane segera ke toilet dan setelah itu kembali ke suaminya.


Entahlah mungkin hari ini adalah nasib sial Viviane. Saat akan mendekati meja suaminya, ada anak kecil yang sedang berlari sambil membawa es krim menabrak Viviane.


Viviane segera membantu anak laki-laki kecil itu yang tengah menagis. Dan Edwin pun mendatangi istrinya.


“sayang, kamu nggak apa-apa?” Tanya Edwin pada Viviane, karena baju Viviane penuh dengan noda es krim.


“Aku nggak apa-apa Mas.”


“Axel!! Are you ok?” teriak seorang wanita menghampiri anak laki-laki yang menabrak Viviane tadi.


“Grace???”


“Edwin???”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2