
Selesai makan siang, Viviane segera membereskan sisa-sisa makannya. Dia ingin segera pulang tapi suaminya melarangnya. Angga akan menyelesaikan pekerjaannya akan sebentar lagi akan selesai dan akan pulang bersama istrinya.
“Sayang, tadi Alfa menghubungiku.” Ucap Angga tiba-tiba.
“Kenapa Mas?” Tanya Viviane.
“Dalam waktu dekat dia akan kesini. Dia ingin bertemu dengan kamu. Apa kamu tidak keberatan?” Tanya Angga.
Viviane terkejut tapi dia berusaha tidak menampakkannya di depan suaminya. Dia berusaha menguasai emosinya. Dia mengingat kini statusnya adalah adik sepupu Alfa. Jadi apa salahnya jika mengijinkan Alfa datang kesini untuk menemuinya.
“Nggak Mas. Aku nggak apa-apa.” Ucap Viviane sambil tersenyum.
Angga lega akhirnya istrinya sudah bisa berlapang dada menerima masa lalunya. Tapi satu yang Angga masih tidak terima dan sama sekali tidak mau membahasnya. Yaitu tentang kebejatan sang Papa. Sampai saat ini Angga masih belum bisa memaafkan kesalahan Papanya. Bahkan Angga sudah tidak mau menganggapnya sebagai orang tuanya.
Viviane pun juga tidak membahas tentang Papa Angga saat dirinya sudah sembuh dari traumanya. Mungin wanita itu sangat menjaga perasaan suaminya agar tidak memikirkan tentang Papanya.
“Mas!” panggil Viviane yang melihat suaminya terdiam sambil mengemudikan mobil.
“Iya Sayang?” jawab Angga.
“Apa Andrew punya kekasih?” Tanya Viviane.
“Aku juga nggak tahu kalau masalah itu. Aku juga nggak berani menanyakan hal yang bersifat pribadi padanya. Takut dia tersinggung.” Jawab Angga.
“Oh gitu. Ya benar juga sih.” Jawab Viviane.
“Ada apa? Apa kamu menyukainya?” Tanya Angga bernada menggoda.
“Apa sih Mas. Bagaimana mungkin aku bisa berpaling dari seseorang yang telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya buat aku.” jawab Viviane.
“Siapa itu?” Tanya Angga sambil mengerlingkan matanya.
Viviane gemas dengan tingkah konyol suaminya. Kemudian dia mencubit perut Angga dengan gemas pula.
“Awwww…. Sakit Sayang!” pekik Angga pura-pura kesakitan tapi Viviane tak mempedulikannya.
Kini mereka berdua sudah sampai di rumah. Disana ada Andrew yang tampak santai duduk di teras rumahnya sambil memainkan gadgetnya. Angga masuk ke rumah sambil merangkul tubuh istrinya dan tersenyum pada Andrew yang sempat melihatnya sekilas.
__ADS_1
Andrew meletakkan gadgetnya di atas meja kemudian menyesap kopinya. Dia melihat keharmonisan rumah tangga Angga dan Viviane ikut merasakan bahagia. Andrew tahu tentang masa lalu Viviane dan Angga. Itu pun karena Anggta sendiri yang menceritakannya. Mulai dari Viviane yang pernah menjadi wanita ONS, bahkan salah satunya adalah Papa Angga sendiri. Andrew juga tahu tentang Angga yang dulunya seorang cassanova. Dan kini keduanya sudah bersatu dalam cinta dan ikatan yang suci.
Terkadang masa lalu sesorang itu belum pasti menjamin masa depannya kelak. Jika dulu Viviane dan Angga perbuatannya sama-sama bejat, tapi ingat itu semua hanya masa lalu. Tidak ada istilah wanita kotor atau pria kotor. Semuanya akan berubah menjadi baik jika bertemu dengan orang yang tepat.
Kalau seperti Angga dan Viviane yang sudah dicap sama-sama kotor, kini pun masa depan mereka tidak terpaku pada masa lalu itu. Karena semua itu sudah dikehendaki oleh Tuhan.
***
Akhirnya hari yang ditunggupun datang. Semalam Alfa berangkat ke Swiss. Dan setelah perjalanan yang menyita begitu banyak waktu akhirnya Alfa sudah tiba di bandara internasional Zurich. Alfa segera menuju kota dimana Viviane tinggal. Meskipun masih membutuhkan waktu beberapa jam dan menguras banyak tenaga, tapi sama sekali tidak menyurutkan semangat Alfa untuk bertemu dengan Viviane.
Taksi yang ditumpangi Alfa kini sudah berhenti tepat di rumah sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Angga. Setelah membayar, taksi itu segera pergi. Kemudin Alfa melihat jam tangannya sudah menunjukkan waktu dini hari.
Dia tadi sempat beristirahat sebentar sebelum menuju kota Marcote. Dia tidak tahu kalau akan memakan perjalanan yang cukup lama untuk sampai rumah ini.
“Apa sebaiknya aku mencari hotel saja.” Gumam Alfa.
Kemudian Alfa melangkah pergi meninggalkan rumah dimana Viviane tinggal. Namun tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti tepat di depan rumah. Yang ternyata adalah mobil Andrew.
“Siapa yang anda cari tuan?” Tanya Andrew sedikit curiga karena melihat wajah Alfa adalah warga negara asing.
“Memangnya anda sedang mencari siapa dan dimana alamatnya?” Tanya Andrew penuh selidik.
“Alamatnya sih di rumah ini. tapi sepertinya teman saya saya memberikan alamat karena bukan dia yang saya temui melainkan anda.” Jawab Alfa.
“Siapa teman Anda?” Tanya Andrew lagi.
“Angga. Dia berasal dari Indonesia.” Jawab Angga.
Andrew terdiam. Dia segera mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Dia mengirim pesan pada Angga untuk segera keluar rumah. Kalau Angga tidak membuka pesannya berarti Andrew akan mengusir Alfa.
Cklek
Angga keluar dari rumah tanpa membalas pesan Andrew. Dia melihat heran wajah temannya yang menyuruhnya untuk keluar. Tapi Angga tidak melihat Alfa. Karena Alfa sedang berdiri dengan posisi membelakanginya.
“Ada apa?” Tanya Angga.
“Angga?”
__ADS_1
“Alfa?”
Ucap Angga dan Alfa saling bersautan. Andrew kini sudah lega karena ternyata Alfa tidak membohonginya. Setelah itu Andrew mempersilakan Alfa untuk masuk.
“kenapa kamu bisa baru sampai jam segini?” Tanya Angga saat sudah duduk di ruang tamu.
“Aku tadi istirahat sebentar. Dan tidak tahu kalau menuju kota ini membutuhkan waktu yang lama.” Jawab Alfa.
“Ya sudah, ayo aku antar kamu untuk istirahat dulu. Besok saja kamu bertemu dengan istriku. Aku nggak enak kalau membangunkannya.” Ucap Angga dan Alfa menurut.
Keesokan paginya Viviane bangun terlebih dulu. Dia segera masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Setelah itu dia pergi ke dapur untuk membuat roti panggang. Entah kenapa dia merasa sangat lapar saat baru bangun tidur.
Sambil membuat roti panggang, Viviane juga membuatkan dua cangkir kopi untuk suaminya dan juga Andrew.
“Kenapa kamu nggak bangunin aku sih Sayang?” Tanya Angga sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
“Maaf Mas, aku tadi sangat lapar. Jadi aku buru-buru langsung ke dapur dan membuat roti panggang.” Jawab Viviane sambil mengaduk kopi.
“Kenapa buat 2 cangkir? Harusnya 3.” Ucap Angga.
“Mas tahu sendiri kan kalau aku nggak suka minum kopi.” Jawab Viviane.
“Siapa juga yang menyuruh kamu minum kopi. Aku minta minta kamu membuat 3 cangkir kopi buat suami kamu yang tampan ini, Andrew, dan sama dia.” Ucap Angga sambil menunjuk arah meja makan yang sudah ada 2 orang pria sedang duduk.
Viviane sangat terkejut dengan keberadaan Alfa di dalam rumah ini. ia sedikit gugup saat melihat wajah pria yang sudah lama tidak pernah ia jumpai.
Sementara Alfa sejak tadi melihat kemesraan Viviane dan Angga juga ikut bahagia. Dan saat melihat keterkejutan Viviane saat melihatnya, Alfa hanya bisa tersenyum. Setelah itu dia berdiri dan menghampiri Viviane sambil memberanikan diri untuk merentangkan kedua tangannya. Viviane menoleh pada suaminya seolah meminta jawaban. Dan Angga mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Viviane segera berhambur memeluk Alfa.
“Vi, maafkan aku!” ucap Alfa sambil memeluk erat tubuh Viviane.
.
.
.
*TBC
__ADS_1