Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 64


__ADS_3

Di dalam pesawat, Angga terus menggenggam tangan Viviane. Karena sejak tadi Angga dapat merasakan kalau istrinya itu tampak gugup. Entah karena apa, Angga tidak mau menanyakannya. Jadi dia memutuskan untuk meenggenggam tangan Viviane untuk memberikan rasa nyaman.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di kota J. Viviane kembali gugup saat baru saja turun dari pesawat. Bayang-bayangnya kembali menghantui pada kota ini. Kota yang telah menorehkan banyak luka.


“Aku mau pulang.” Ucap Viviane lirih dengan suara bergetar.


“Vi, tenanglah. Selama ada aku di sisi kamu, aku jamin kalau kamu akan baik-baik saja. Percayalah.” Ucap Angga sambil mengusap air mata Viviane.


Angga kembali merasakan sakit saat melihat reaksi Viviane seperti itu. Apalagi dengan kota ini. Angga juga tahu kalau kota ini adalah kota yang telah menorehkan banyak luka di hati Viviane. Tapi Angga belum bisa berbuat banyak, karena perusahaannya juga sedang membutuhkannya. Jadi, sementara ini Angga hanya bisa mengajak Viviane tinggal di apartemen baru, sebagai salah satu bentuk kepeduliannya melindungi Viviane.


Viviane mengangguk samar dan sedikit lebih lega setelah Angga memeluknya. Kemudian mereka segera masuk ke dalam mobil yang sejak tadi sudah menunggunya.


“Apa langsung ke apartemen Tuan?” Tanya Mario di balik kemudi.


“Iya, langsung saja.” Jawab Angga.


Mario segera melajukan mobilnya ke apartemen baru milik bosnya. Sementara itu sejak tadi Viviane hanya terdiam dalam pelukan Angga. Angga pun tidak mengajak Viviane berbicara. karena memang mungkin istrinya sedang tidak ingin berbicara.


Sesampainya di apartemen. Mario membukakan pintu mobilnya untuk Angga dan Viviane. Setelah itu Mario segera pamit untuk kembali lagi ke kantor.


“Mario, terima kasih sudah menghandle perusahaan selama ini. Mungkin besok aku usahakan untuk datang ke kantor.” ucap Angga.


“Sama-sama Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu.” Jawab Mario.


Setelah itu Angga mengajak Viviane masuk ke unit apartemennya. Apartemen sederhana dengan ukuran minimalis. Dan terdapat satu kamar tidur, satu ruang kerja, ruang tamu, dan dapur yang jadi satu dengan ruang makan. Angga mempersilakan Viviane masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.


“Istirahatlah dulu. Aku tahu pasti kamu sangat capek. Aku akan ke ruang kerja sebentar.” Perintah Angga dan Viviane mengangguk.


Angga masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mengecek beberapa dokumen yang telah dikirimkan oleh Mario melalui email. Sepertinya ada sedikit masalah dengan perusahaannya yang mengharuskan Angga untuk turun tangan lansung.


Angga sedang berpikir, jika besok dia pergi ke kantor, otomatis Viviane akan di apartemen sendirian. Dan Angga tidak tega meninggalkannya. Namun jika mengajak Viviane ke kantor, sepertinya Viviane juga tidak akan mau. Kemudian Angga memutuskan untuk menghubungi salah satu art yang bekerja di rumahnya untuk menemani Viviane selama dirinya pergi ke kantor.

__ADS_1


Angga keluar daari ruang kerjanya dan berniat melihat Viviane ke kamar. Tapi langkahnya terhenti saat indra penciumannya sedang menangkap bau sesuatu yang sangat menggoda. Angga berjalan ke arah dapur. Dan benar saja, disana ada Viviane sedang membuat spaghetti.


“Kenapa kamu masak? Nanti biar aku saja memesan makanan untuk kita makan malam.” Ucap Angga.


“Nggak apa-apa. Tadi aku nggak bisa tidur dan bingung mau ngapain. Lalu aku pergi ke dapur ternyata ada spaghetti. Jadi aku memasaknya.” Ucap Viviane.


Angga merasa bersalah karena telah membiarkan istrinya sendirian. Angga tadi mengira kalau Viviane segera tidur saat memerintahnya untuk istirahat. Ternya Viviane malah memasak.


“Apa sudah matang?” Tanya Angga kemudian dan Viviane mengangguk sambil menunjukkan dua buah piring yang sudah terisi spaghetti.


“Ya sudah, tunggu sebentar ya. Aku mau mandi dulu sebentar. Setelah itu kita makan bersama.” Ucap Angga.


Setelah menyajikan spaghetti, Viviane membuatkan teh hijau buat Angga. Jauh dalam lubuh hati Viviane, dia masih teringat masa lalunya saat Angga datang ke apartemennya dulu, dia selalu membuatkan the hijau. Tapi Viviane hanya mengingat itu saja. Tidak mau meneruskan ingatannya selain tentang Angga. Viviane harus bisa mengobati dirinya sendiri dengan tidak mengingat kenangan pahit itu lagi. Dia juga tidak mau terlalu membebani Angga dalam menyembuhkan traumanya.


Tidak lama kemudian Angga sudah menyelesaikan ritual mandinya. Dia sudah berada di meja makan bersama Viviane. Angga melihat ada teh hijau di samping piring yang tersaji sepaghetti itu. Angga tersenyum tipis, ternyata Viviane masih mengingat kebiasaannya dulu.


“Ayo kita makan sekarang. Aku sudah sangat lapar.” Ajak Angga kemudian.


Selesai makan, Viviane membereskan piring bekas makannya dan mencucinya. Sedangkan Angga masih setia menunggu di meja makan.


Setelah itu Angga mengajak Viviane untuk bersantai di ruang tamu. Angga meminta Viviane duduk di sampingnya. Dan Viviane pun menurut.


“Vi, besok aku harus ke kantor. karena ada sedikit urusan yang mengharuskan turun tangan langsung.” ucap Angga.


“Iya.” Jawab Viviane singkat sambil menundukkan kepalanya.


Entah kenapa Viviane tampak gelisah saat Angga akan meninggalkannya. Meskipun hanya pergi ke kantor. dan itu pun juga tidak akan lama. Tapi Viviane berusaha untuk tidak egois. Dia sudah berjanji tidak akan membebani Angga terlalu berat.


“Kamu jangan khawatir. Besok sebelum aku ke kantor, ada art yang akan kesini untuk membersihkan apartemen sekaligus menemani kamu. Maaafkan aku ya Vi! Aku janji tidak akan lama. Jika urusan kantor sudah selesai, aku akan segera pulang.” Ucap Angga.


“Kamu jangan meminta maaf. Aku nggak apa-apa kok. Kamu juga tidak perlu menyuruh art untuk membersihkan apartemen ini. Aku bisa membersihkannya sendiri.” Balas Viviane.

__ADS_1


“Bukan begitu Vi. Aku meminta art datang kesini tujuan utamanya bukan untuk bersih-bersih. Aku hanya memintanya untuk menemani kamu agar tidak sendirian. Kamu tenang saja, Bi Asih orangnya sangat baik. Beliau seumuran dengan Ibu.” Ucap Angga kemudian.


Viviane akhirnya mengangguk setuju. Sebenarnya dia juga sedikit takut jika sendirian berada di apartemen ini. Setidaknya ada yang bisa diajak bicara, Viviane sudah merasa cukup lega.


Setelah itu Angga mengajak Viviane masuk ke kamar. Karena tidak baik untuk kesehatan Viviane jika tidur terlalu malam.


Viviane merebahkan tubuhnya terlebih dahulu dengan posisi telentang. Angga melihatnya jadi merasa gelisah. Jika saat tidur di kamar Viviane tempo hari, posisi Viviane membelakanginya, dan juga sudah terlelap lebih dulu. Tapi sekarang beda. Viviane telentang dan masih belum menutup matanya. Angga bingung. Dia takut Viviane akan salah tingkah saat dirinya ikut tidur dalam satu ranjang yang sama.


Akhirnya Angga memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dulu. Siapa tahu, setelah keluar dari kamar mandi, Viviane sudah terlelap. Namun ternyata ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Menurut Angga tadi dirinya sudah berada di kamar mandi cukup lama, hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dan mengira Viviane sudah tidur. Tapi tidak. Viviane masih berada di posisi yang sama dengan mata yang belum terpejam.


“Kenapa belum tidur?” Tanya Angga berusaha untuk tidak gugup.


“Aku menunggu kamu.” Jawab Viviane lirih.


Angga bingung dengan kata-kata Viviane bahwa dia menunggunya. Menunggu apa maksudnya.


“Nggak apa-apa, kamu tidur dulu aja. Aku akan keluar seben-“


“Apa aku boleh minta sesuatu?” Tanya Viviane cepat dan Angga mengangguk.


“Bolehkah aku memeluk kamu sebelum tidur?.” Jawab Viviane sambil membuang muka.


Angga tersenyum tipis. Tanpa menjawab permintaan Viviane, dia segera naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya sambil memeluk Viviane.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2