Cinta Sang Mantan Cassanova

Cinta Sang Mantan Cassanova
Eps 38


__ADS_3

“Sayang, maafin aku!” ucap Edwin sambil menggenggam tangan istrinya.


“Mas, sudah ratusan kali loh kamu minta maaf. Aku sudah katakana, nggak apa-apa. Kesehatan Mas yang lebih penting.” Balas Viviane.


Ya, Edwin dan Viviane sekarang sedang berada di dalam pesawat pribadi keluarga dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Rencana bulan madu mereka yang semula lima hari, kini terpaksa harus pulang lebih awal di hari ketiga. Bukan tanpa masalah. Semenjak kemarin Edwin merasakan kondisi badannya tiba-tiba kurang fit, dan nyatanya sampai tadi pagi badan Edwin masih hangat. Viviane yang melihat kondisi suaminya memaksanya agar mau pergi ke rumah sakit. Tapi Edwin tetap tidak mau. Akhirnya Viviane hanya membelikan obat saja. Dan siangnya Viviane mengemasi barang-barangnya untuk segera pulang ke Indonesia.


Sebenarnya Edwin tidak mau pulang. Dia merasa sangat bersalah karena telah mengacaukan bulan madunya sendiri dengan istrinya lantaran kondisi badannya yang tiba-tiba drop. Edwin berulang kali meminta maaf pada istrinya, dan berjanji akan mengganti bulan madu mereka di lain hari jika badannya sudah benar-benar fit.


Kini Viviane sedang tertidur di samping suaminya. Edwin yang melihat wajah lelah istrinya merasa kasihan. Dia kesal dengan dirinya sendiri karena telah menjadi suami yang lemah dan menyusahkan istrinya.


Beberapa jam perjalanan panjang telah mereka lalui, akhirnya mereka tiba juga di negara Indonesia. Edwin segera mengajak istrinya untuk pulang ke apartemen saja. Dia tidak mau pulang ke rumah orang tuanya, karena nanti orang tuanya akan khawatir tentang keadaannya.


“Mas, istirahat saja dulu. Aku mau mandi dulu.” Ucap Viviane sesaat setelah mereka sudah masuk ke dalam unit apartemen. Dan Edwin hanya mengangguk.


Kemudian Viviane segera masuk ke dalam kamar mandi. dia mengisi bathtub dengan air hangat. Dia ingin berendam sejenak untuk menghilangkan sejenak rasa capeknya setelah perjalanan bulan madunya yang begitu panjang.


Beberapa menit kemudian Viviane keluar dari kamar mandi dengan memakai bathropenya. Harus semerbak shampoo tercium hingga ke hidung Edwin. Edwin yang tadinya tidak tidur dan hanya berbaring, seketika duduk dan memandang istrinya.


“Sayang, kemarilah.” Ucap Edwin.


Viviane berjalan mendekat ke arah suaminya. Sedetik kemudian Edwin menarik tangan Viviane hingga reflek Viviane terduduk di pangkuan suaminya. Edwin menghirup wangi aroma dari tubuh istrinya. Dia ingin sekali menggauli istrinya sekarang juga. namun harus ia tahan. Karena sejak tadi kepalanya sangat pusing.


“Mas!!” Panggil Viviane karena suaminya hanya terdiam.


“Iya, Sayang?”


“Mas, kita periksa ke rumah sakit ya. Aku khawatir dengan keadaan Mas.” Bujuk Viviane.


“Nggak usah Sayang. Ambilkan ponselku saja. Aku akan menghubungi Anton saja.”


“Siapa dia Mas?”


“dia temanku sekaligus dokter keluarga.”

__ADS_1


Akhirnya Viviane mengambilkan ponsel suaminya yang akan menghubungi dokter Anton. Setelah itu Viviane segera berganti pakaian. Beberapa saat kemudian terdengar bel apartemen berbunyi. Viviane segera membukakan pintu dan benar yang datang adalah dokter Anton.


“Selamat sore kakak ipar!” sapa Anton dengan tersenyum pada Viviane.


“Ehm selamat sore juga dok.” Balas Viviane dan membuat Anton tergelak.


“Panggil saja Anton nggak usah pakai embel-embel “dok” ok!”


“Baiklah. Silakan masuk Anton.” Jawab Viviane kaku.


Kini Viviane mengantar Anton masuk ke dalam kamarnya agar segera memeriksa keadaan suaminya. Terlihat Edwin sedang berbaring di atas tempat tidur.


“Wah pengantin barunya sakit nih. Pasti kebanyakan bertarung ya?” goda Anton saat melihat sahabatnya sedang terbaring di atas tempat tidur. Edwin hanya memutar bola matanya malas, sedangkan Viviane sangat malu dengan ucapan yang dilontarkan oleh Anton.


“Maaf, aku ke dapur dulu buat minuman.” Pamit Viviane kemudian.


Beberapa saat kemudian setelah membuatkan minuman untuk Anton, Viviane berniat masuk ke dalam kamarnya. Tapi ternyata, Edwin dan Anton Nampak berjalan keluar menuju ruang tamu.


“Mas? Sudah selesai?” Tanya Viviane.


“Bagaimana keadaan Mas Edwin dok? Eh maksudku Anton?”


“Kakak ipar nggak perlu khawatir. Edwin hanya kelelahan saja. Aku tadi sudah menyuntikkan obat dan membawakan beberapa obat. Kakak ipar tenang saja, besok pasti Edwin sudah strong lagi dan siap bertempur lagi.” Ucap Anton frontal. Dan Edwin langsung meninju lengan Anton karena ucapan vulgarnya.


Beberapa hari berlalu. Kini keadaan Edwin sudah kembali sehat. Kini Edwin mengajak istrinya untuk datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Dan membawakan beberpa oleh-oleh yang sempat dibeli Viviane saat di Madrid.


Kebetulan saat ini di rumah orang tua Edwin juga ada Laura beserta mama dan papanya yang memang sedang berkumpul bersama. Mereka semua terkejut dengan kedatangan Edwin dan Viviane.


“Wah ada pengantin baru yang baru pulang dari honeymoon nih.” Goda Rachel, mama Laura.


Viviane hanya tersenyum menanggapi ucapan tante Rachel. Kemudian mereka berpelukan. Terlihat sekali semua orang sangat bahagia melihat Edwin dan Viviane. Berbeda dengan Laura. Laura yang biasanya paling antusias dengan kedatangan Viviane, kini berubah jadi dingin. Viviane heran dengan perubahan sikap Laura. Tapi dia diam saja. Mungkin Laura sedang bad mood. Begitu pikir Viviane.


“Mama tunggu ya oleh-olehnya.” Ucap Sonya pada Viviane.

__ADS_1


“Ini, maaf Ma Viviane hanya bisa membelikan oleh-oleh ini.” Jawab Viviane.


“Ish.. bukan itu. Tapi cucu buat Mama dan Papa.”


Seketika semua orang tergelak saat mendengar pernyataan Sonya.


“Mama sudah nggak sabar menimang cucu dari kalian.” Ucap Sonya antusias.


“Tante jangan khawatir. Menantu tante kan sudah berpengalaman. Pasti sebentar lagi tante akan menimang cucu.” Ucap Laura tiba-tiba sambil tersenyum sinis ke arah Viviane.


Semua orang yang tadinya terlihat sedang tertawa kini terdiam seketika saat mendengar penuturan Laura. Mereka semua bingung mencerna ucapan Laura.


“Apa maksud kamu Sayang?” Tanya Mama Laura.


“lebih baik kita segera makan malam saja. Edwin kesini tadi berniat numpang makan disini loh.” Potong Edwin cepat.


Entah kenapa Edwin merasa geram dengan ucapan Laura yang terlihat menyinggung istrinya. Edwin tidak ingin memperkeruh masalah dengan ucapan Laura. Jadi dia lebih memilih mengalihkannya untuk mengajak makan bersama.


Kemudian mereka semua tertawa mendengar ucapan Edwin. Mereka semua segera menuju meja makan.


Sedangkan Viviane sangat terkejut mendengar ucapan Laura. Kenapa Laura mengatakan hal yang tanpa sengaja melukai hatinya.


Sebenarnya ada apa dengan Laura yang tiba-tiba berubah padanya. Apa yang telah ia ketahui. Viviane tiba-tiba merasa khawatir jika Laura mengetahui bahwa dirinya pernah mempunyai hubungan dengan Angga yang saat ini menjadi kekasihnya. Dan apa tadi Laura bilang saat dirinya sudah berpengalaman. Apa yang sudah Laura ketahui.


Viviane terlihat tidak nyaman saat sedang makan. Dia kepikiran dengan ucapan Laura. Sedangkan Laura hanya tersenyum sinis saat melihat kekalutan dari wajah Viviane.


“Ayo dimakan Sayang! Semua makanan ini sangat bagus buat kesuburan kandungan kamu lho!” ucap Sonya pada Viviane yang terlihat masih terdiam.


Edwin memegang tangan istrinya agar tidak sedih lagi. Edwin tahu istrinya sedang memikirkan ucapan Laura tadi. Tapi Edwin berusaha tetap tenang. Dia akan menanyakan langsung maksud dan tujuan Laura tentang ucapannya tadi.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2