
Setelah itu Alfa dan Mamanya memutuskan untuk menginap semalam di rumah Ibu Viviane. Karena itu juga permintaan dari Rafika sendiri. Mauren akan memikirkan lagi bagaimana caranya nanti untuk bertemu dengan Viviane. Yang terpenting saat ini dia sangat bahagia bisa bertemu dengan adik iparnya.
Mauren dan Rafika sudah tampak akrab meskipun baru beberapa jam bertemu. Alfa yang melihatnya juga ikut merasakan bahagia. Tapi belum sepenuhnya bahagia, karena masih ada rasa penyesalan yang mendalam pada dirinya atas perbuatannya pada Viviane.
Dalam perbincangan antara Mauren dan Rafika, Mauren meminta Rafika agar mau tinggal bersamanya di kota J. karena semua hartanya nanti jiga akan menjadi milik Viviane. Tapi Rafika menolaknya karena dia tidak mau meninggalkan rumah yang menjadi kenangan terakhirnya dengan mendiang suaminya. Mauren dan Alfa saling memandang. Mereka kahirnya tidak mau memaksa Rafika lagi.
***
Sementara itu, kini Angga dan Viviane sudah tiba di pantai. Pantai yang tidak begitu ramai pengunjung dan juga tidak bertepatan dengan hari libur. Jadi Angga memiliki Quality Time bersama sanga istri.
“Kamu senang?” Tanya Angga pada Viviane dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Viviane.
Angga ikut senang saat melihat senyum mengembang dari bibir Viviane. Angga merutuki kebodohannya karena selama membawa Viviane tinggal di kota J, dia tidak pernah berpikir untuk mengajak Viviane jalan-jalan. Meskipun hanya ke tempat sederhana seperti ini, tampak sekali raut wajah bahagia Viviane.
Tapi Angga tetap pada keputusannya yaitu akan mengajak Viviane untuk tinggal di Swiss. Meskipun saat ini Viviane terlihat sudah baik-baik saja, Angga tidak mau jika suatu saat nanti trauma Viviane datang lagi dengan melihat seseorang yang membuatnya sakit.
Kini mereka sedang duduk di tepi pantai, di bawah pohon kelapa. Karena sejak tadi Viviane sibuk bermain air dan pasir pantai, jadi Angga mengajaknya untuk berteduh di bawah pohon kelapa sambil minum softdrink yang sudah ia bawa tadi.
“Vi!” panggil Angga lirih.
“Ya?” jawab Viviane.
“Vi, bulan depan aku akan mengajak kamu tinggal di Swiss.” Ucap Angga.
“Kenapa tinggal disana?” Tanya Viviane heran.
__ADS_1
Angga mengatakan kalau dia akan mengajak Viviane tinggal di Swiss karena untuk mengobati traumanya. Angga meyakinkan pada Viviane agar mau tinggal disana. Angga juga bilang, yang akan membantu mengatasi traumanya itu adalah temannya sendiri.
Viviane tertegun mendengarnya. Dia merasakan cinta Angga begitu besar padanya, bahkan pengorbanannya juga sangat besar. Akhirnya Viviane mengangguk setuju.
“Vi, aku sangat mencintaimu. Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi.” Ucap Angga sambil memegang lembut kedua tangan Viviane.
“Aku nggak akan memaksa kamu untuk menjawabnya sekarang. bagiku yang terpenting saat ini kamu sudah menjadi milikku.” Tambah Angga.
“Terima kasih!” ucap Viviane sambil meneteskan air matanya.
Angga perlahan mengusap air mata Viviane. Wajah mulus Viviane kini tampak memerah karena air matanya terus saja mengalir. Kedua mata mereka saling menatap dalam. Jarak wajah keduanya semakin dekat dan tak berjarak. Angga ingin sekali mencium Viviane tapi dirinya takut jika Viviane akan kembali ingat dengan kejadian buruk itu. Tapi Angga juga masih tidak memberi jarak dengan Viviane. Akhirnya Angga memberanikan diri untuk meminta ijin pada Viviane.
“Vi, bolehkah aku menciummu? Aku janji tidak akan menyakitimu.” Ucap Angga lirih.
Viviane masih bergeming. Angga yang sudah tahu jawabannya perlahan memundurkan wajahnya. Dia tidak akan memaksa Viviane. Dia akan bersabar. Namun perlahan Viviane mengangguk, dan Angga melihatnya. Akhirnya Angga kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Viviane.
Pertama Angga mengecup bibir Viviane. Meskipun hanya kecupan singkat, Angga merasakan bibir Viviane sedikit bergetar. Bukannya berhenti, Angga justru mengulanginya lagi. Kini tidak hanya kecupan yang diberikan Angga. Dia ******* bibir Viviane dengan lembut. Meskipun Viviane massih terdiam, Angga tetap melakukannya dengan lembut. Setelah mengulumnya, Angga mencoba memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Viviane. Dan Viviane juga membuka sedikit bibirnya seolah mengijinkan Angga untuk mengeksplor ke dalam rongga mulutnya.
Tangan Angga memegang kedua tangan Viviane dan menuntunnya agar melingkar di lehernya, dan Viviane pun menurutinya. Bibir Angga masih terus ******* bibir Viviane. Bahkan lidah mereka kini sudah saling bertaut, meskipun Angga yang lebih mendominasi.
“Engghhhh….”
Satu suara lenguhan terdengar dari Viviane saat ciuman Angga semakin menuntut. Dan itu sangat membuat Angga semakin bergairah. Angga menginginkan lebih dari ini. Namun akal sehatnya masih bekerja dengan baik. Dia akan tetap bermain dengan bibir Viviane saja. Dia takut jika Viviane tiba-tiba ketakutan saat dirinya melakukan yang lebih dari ini.
Pertautan bibir dan lidah antara Angga dan Viviane berlangsung cukup lama. Akhirnya Angga melepaskan ciuman itu saat merasakan Viviane sudah akan kehabisan pasokan oksigen. Wajah Viviane memerah dengan nafas terengah-engah. Angga mengusap bibir Viviane dari sisa salivanya. Kemudian mengecup kening Viviane.
__ADS_1
“Terima kasih” ucap Angga.
Kemudian Angga menarik tubuh Viviane agar tidur di pangkuannya. Dan Viviane pun menurut begitu saja.
Semilir angin pantai yang sejuk membuat kedua sejoli itu semakin menikmati kebersamaan mereka. Dan tanpa Angga sadari, kini Viviane sudah tertidur di pangukannya. Saat Angga tahu, dia tersenyum tipis. Dia bersyukur akhirnya bisa memberikan rasa nyaman pada Viviane.
Waktu sudah sore. Perlahan Angga membangunkan Viviane untuk diajaknya pulang. Viviane merasa malu sekali karena selama itu dia tertidur di atas paha Angga.
“Nggak perlu malu gitu. Nanti di apartemen kamu bisa melanjtkannya lagi jika mau.” Goda Angga dan Viviane tak mempedulikannya karena malu.
Keesokan harinya Angga pergi ke kantor. sebelumnya dia sudah berpamitan pada Viviane. Angga juga tidak mengkhawatirkan Viviane karena ada Bi Asih yang menemaninya.
Kini Angga sudah berada di kantor. tepatnya di ruang kerjanya. Disana sudah ada tiga orang laki-laki sedang duduk di sofa. Yaitu, Angga, Mario, dan Mike. Sesuai dengan yang direncanakan Angga. Hari ini Angga memngtakan pada Mario bahwa bulan depan dirinya akan tinggal di Swiss bersama sang istri. Dan Angga akan menyerahkan perusahaannya sementara pada Mike. Angga berharap Mario dapat bekerjasama dengan Mike dengan baik. Dan Mario pun mengangguk patuh.
Setelah itu Angga memberitahukan pada Mike tentang pekerjaan apa saja yang perlu dilakukannya. Sebenarnya Angga tidak perlu melakukan itu semua karena Mike adalah pria yang sangat cerdas dan pintar. Hanya saja dia akan sedikit memberi pengarahan pada Mike.
Saat mereka bertiga sedang berdiskusi, tiba-tiba pintu ruangan Angga ada yang mengetuk. Ketiga pria itu saling memandang seolah penasaran siapa orang yang mengetuk pintu itu. Padahal Angga sudah berpesan pada skretarisnya agar melarang siapapun masuk ke dalam ruangannya.
“Masuk!” ucap Angga kemudian. Dan pintu terbuka.
“Kamu???”
.
.
__ADS_1
.
*TBC